Jangan tanya umur, keriput kulit, rumah tinggal. Tak kan ditemukan. Tapi soal nama, siapa yang tak kenal Kik Berak. Sudah puluhan tahun Kik Berak menjadi simbol pergaulan, tempat curhat kepenatan hidup urang kampong. Tokoh dan cerita kepiawaian Kik Berak terkenal disetiap kampong. Kenapa bisa, jawabnya karena Kik Berak tak pernah kehabisan akal membual. Kik Berak selalu lahir kembali pada orang atau generasi yang berbeda. Kalau ditulis mungkin akan jadi fiksi, kalau berjanji mungkin akan munafik. Tapi siapa peduli dengan kelihaian Kek Berak bercerita, semua tahu Kek Berak berbohong. Hanya orang yang termakan seni gosip (folklore) Kik Berak saja yang akan memakinya, karena enggan berfikir panjang dan selalu mementingkan makna yang tersurat
“ Kaluk nak blajar nanam menggale nok benar, cubak liwat jalan hotmix depan ume aku . ….biar itongan puloan meter dari ume, menggale aku to nyunggai-nembus aspal, mun sala-sala ngadang rude ketangin mikak. Tapi jan khawater, aku la masang rambu-rambu “ HATI-HATI ADA MENGGALA KIK BERAK”. Kate-kate Pengumuman Kik Berak setega dinasionalisasi. Ndak ade kata Menggala dalam bahasa Indonesia, tapi karene Kik Berak ndak tahu Singkong belau pakai Menggala.
Ndak kan nyemperak de bandar mikak” kate Kik Berak. Kik nok kami bingong, ngape la menggale ikam dak dikekat kerak. “Pedahal ume–ume kamek banai ki macam urang ngelimbang timah, dak bepulin. Tiap ari besaing kan kerak itu la” kate Deris nyelak kelakar Kik Berak.
Ndak batak sikit Kik Berak bingong, ndak kan ngerut kening kalok gak ngenjawab pertanyaan Deris. Pigangan Kik Berak semue pertanyaan ade jawaban. Soal benar ndak nye itu urusan kesekian.
Kik Berak mulai masang muke serius. “Aku ndak perlu pagar beduri ki macam penjare kalok hanye nguser kerak. Mikak tahu sendiri, menggale jak nak tumbo bebas, kerak pun kitu juak. Usa hanye mikak saja ndak nak dipenjare. Sekarang ini dunie ilmu pengetahuan, koran la jadi pelampun pagi, ukan agik macam aku gik mudak dulu. Teliat kan koran hanye untuk ngembungkus jajak ruti …… ukan ndak nak tahu negeri urang, tapi mimang dak tahu dirik. La gede lum nak sekula. Mun sekarang ayam baru ngelelam jak la pandai bace ape agik urang. Dak pecayak aku mun de Belitung agik ade nok butak urup, mun butak utun ye ade ……”, Kik Berak berusahe meyakinkan majelis. Mun kitu kiape menurut ikam………
“Karne ilmu pengetahuan la jadi ciri urang kampong kite, la jadi dara daging …. Renyekla urang menamba pengetahuan.Kitu juak mun ade larangan ye ndak kan digawekan. Jaman aku duluk mun dak ditakutek kan antu kayu are ndak kan begerak ”.
Mak…kik gak tapak ngeluer ikam ne…. Jadi ape rahasie nanam menggale tek. Ki macam burong ndak kenak pulut, Kik Berak malar ngeruce. Lamak kelamaan keluar cakap nok ditunggu.
Kuncinye terletak de papan pengumuman “ Tapi terus terang Pengumuman mimang hanye berlaku bagi kampong nok la jago macam kampong kite, nok la bebas buta urup, lakuang dipastikan pandai bepikir. “ Jadi dak temasok nok buta utun ye ke Kik”, mejelis pun jadi tenggangu sikit kan pertanyaan Repek.
“ Urusan buta-ngembutak banyak macam dikampong kite, usa kao kaitkan kan kao rajin ngembutak Pek…., itupun ngembutakkan dirik name e . usa kan dibace, bekace jak dak keliatan mun urang itu butak.
Cubak liat ume aku, tiap jalor menggale la aku pasang pengumuman, pukoknye macam Pemerinta masang papan di kebun percontohan. La benar la pemerinta itu biar, kebun itu dibuat pengumuman juak. Aku pun kitu juak, ternyate benar. La uda aku pasang pengumuman “ JANGAN DIGANGGU INI KEBUN KEK BERAK”, ndak ade kerak nok datang, segan ngengangguk ume, tapi ade la sikok dua kerak butak utun , berayun-rayun di papan penguman. Tapi hanye sampai disituk aja. Sua kerak-kerak betingger itu miker ……jangan-jangan la ki macam ume pemerinta tadik, gak sekedar cunto aja…percume dikekat la pasti dak berisik.
Begitulah Kik Berak, jawabannya selalu ditunggu. Cerdas membual, siap bersilat lidah. Bagi orang yang tidak mengerti makna tersirat akan selalu mengganggap Kek Berak berdosa. Tapi Kik Berak punya keyakinan berbohong itu harus konsisten, sekali berbohong tetap berbohong. Wajah dan kata disesuaikan, air muka serius dan yang diutarakan juga lugas jadi tak terkesan culas . Suasana bualan itu sudah melekat kumat, bahkan orang kampong kesepian kalau Kik Berak tidak membual, meski hanya semalam.
Raut muka serius Kik Berak , tak lebih dari spanduk kampanye yang akhir-akhir ini bertebaran menjelang Pemilu. Tak pernah diusik orang, dibiarkan dihalaman, bahkan tanpa izin pemilik tanah, tetap saja terpasang janji–janji masa depan. Anggap saja itu warna-warni kehidupan, bukankah memberikan harapan kepada orang lain itu juga beramal. Soal kebenaran sang kandidat bisa membawa aspirasi rakyat itu nomor dua. Bukanlah semua orang butuh kemakmuran dan kemajuan seperti yang dijanjikan. Keinginan ini tersirat dari kelas masyarakat rendah hingga kalangan elit berduit. Sebut Kik Berak bisa jadi panggilan dari nama Kik Ibrahim. Diturunkan dengan rumus bahasa urang kampong menjadi Berahim lantas diperas lagi menjadi Berak. Tapi siapapun tokohnya jika sudah pintar membual, urang kampong tak segan memanggilnya Kik Berak. (Fithrorozi, Komunitas Telinsong Budaya) Dimuat pada Kolom Ngenjungak, Harian Pos Belitung, Minggu, 8 Feb 2009.
Telinsong Belitong
Februari 9, 2009
Juni 3, 2008
Hubungan yang kuat antara manusia dan alam bukan saja melahirkan konsep perlindungan dan pemanfaatan tetapi juga pengobatan. Pak Said yang tinggal di Jl.Mat Yasin Tanjungpandan misalnya mampu menarik perhatian masyarakat yang mengeluhkan rasa sakit amandel dengan kapur dan daun sirih. Sugesti pengobatan satu sisi meringankan biaya pengobatan medis tetapi disisi lain meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap si tokoh. Istilah biaya pengobatannya diganti dengan istilah pekeras, jasa pengobatan tanpa tarif itu diberikan sembari berjabat tangan. Bahkan hal ini diikuti etnis Tionghoa yang berprofesi sebagai tai pak (dukun) atau mereka yang mendapat keahlian dari lelulur seperti Afuk-Jl.Ali Uyup Tanjungpandan yang memijat pasien berbagai penyakit ataupun Pak Amrullah (66)-Pangkallalang yang mampu menangani pasien ambien selama 27 tahun. Penggunaan tanaman (herbal) sebagai obat tentunya tidak mengatasi penyakit dengan instan tetapi jika diagnosa dengan tepat tentu tidak banyak uang yang dihaburkan percuma. Kepercayaan yang diberikan kepada mereka bukan karena pendidikan formalnya tetapi karena hasil yang sudah terbukti, pemasarannya pun dari mulut ke mulut seperti akar-akar kayu yang digunakan Almarhum Kek Enjit untuk mengobati kanker dan penyakit internis lain (Fithrorozi/Komunitas Telinsong Budaya)
Mei 2, 2008
Dalam wilayah perdukunan Belitong dikenal istilah tali utan dan utan riding. Tali utan merupakan daerah sepadan sungai yang tidak boleh dikelola atau bersifat larangan oleh penguasa wilayah yakni dukun kampong. Hal ini dimaksudkan agar keberagaman hayati di kawasan tersebut terpelihara. Sedangkan Utan riding adalah kawasan hutan yang membatasi dua atau lebih wilayah budidaya seperti antar ume (ladang). Hutan semacam ini kemudian menjadi hutan larangan atau hutan lindung yang disebut masyarakat dengan istilah Utan Pemali’. Luasan utan riding bisa berupa hamparan atau semacam jalur (koridor). Koridor memungkinkan satwa hutan seperti pelandok dapat melintas tanpa diganggu aktivitas manusia. Dengan menerapkan pantangan atau larangan terhadap kawasan lindung, koridor ini menjadi kawasan tangkapan air (Fithrorozi/Komunitas Telinsong Budaya)
April 1, 2008
Belum ada yang dapat memastikan, asal-usul orang-orang Suku Laut, Suku Juru, Suku Sawang atau Suku Sekak. Konon mereka berasal dari Kepulauan Sulu, Mindanau, Filipina Selatan, jika dilihat dari kebiasaan, tradisi dan cara hidup yang mirip dengan Suku di pulau-pulau di Lautan Teduh itu.
Sebagai suku pengembara, mereka berpindah-pindah dari pulau ke pulau lain menelusuri teluk dan tanjung, dari Brunei ke Kalimantan Utara kemudian ke Tanah Semenanjung (Malaysia) dan menyebar ke pulau-pulau di Kepuluan Riau terus ke selatan menuju Pulau Bangka dan Belitung.
Pada tahun 1871 orang laut berjumlah 2796 jiwa, terbagi dalam beberapa suku, yang dikepalai oleh kepala suku yang disebut Ma’. Dulunya tiap terdiri beberapa ratus jiwa antara lain suku Parak, Suku Kepang, suku Pakau, suku Belantu dan sebagainya. Orang laut itu mempunyai bahasa sendiri tetapi tidak mengenal tulisan. Tutup kepala menjadi salah satu cirri berpakaian mereka. Orang laut atau suku sawang sebetulnya enggan disebut suku sekak karena berkonotosi jorok dan tidak punya perhitungan. (fithrorozi,Komunitas Telinsong Budaya)