Sosok


Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke -170, Wartapaja mempublikasi  catatan sejarah Depati Tjakraninggrat VIII (KA.Rahad) sebagai tokoh pendiri Kota Tanjungpandan. Catatan yang ditulis oleh Komunitas Telinsong Budaya ini bersumber dari berbagai pustaka untuk dijadikan kajian dalam rangka memajukan budaya Belitong.

Sejak Ki Ronggo Udo memasuki wilayah Pulau Belitung abad ke-15 dengan menyusuri Sungai Buding,di Pulau Belitung sudah bermukim sekumpulan masyarakat. Karena ada penduduk Ki Ronggo Udo dapat membangun sebuah “kerajaan kecil” yang berpusat di Badau. Pada masa ini istilah Depati belum berlaku.
Salah satu bukti kekuasaan ke-dipati-an adalah munculnya gelar-gelar Kiai Agus yang belum dikenal diawal-awal pemerintah kerajaan Badau dan berlakunya berbagai titah  yang dicanangkan Depati Tjakraninggrat. Beberapa titah terurai dalam beberapa pasal  sebagai berikut :

PASAL A
Peraturan mengenai keturunan Depati meliputi :

  • Kiai Depati Tjakraninggrat adalah Raja Belitong
  • Gelar K.A (Kiai Agus) untuk keturunan laki-laki dan NA (Nyi Ayu) untuk keturunan perempuan 
  • Sebutan Awang untuk bujangan dan Dayang untuk sebutan perempuan
  • Mak dan Ayah keturunan kedua kali dari sebelah perempuan, tetapi  yang menjadi ahli waris Kiai Depati Tjakraninggrat keturunan sebelah laki-laki, yaitu Kiai Agus dan Nyi Ayu untuk perempuan  yang berhak menerima pusaka (hak) Kiai Depati  untuk keturunan pendahulu berhak mendapatkan pangkat Depati dengan gelar Tjakraninggrat,

Jika Depati wafat harus diangkat lebih dahulu pengganti yang baru dari anak keturunan tertua dengan sebutan punggawa, tetapi jika belum ada boleh anak lelaki lain yang diangkat Kiai Depati, jika tidak ada anak laki-laki, maka harus diangkat saudara laki-laki Depati atau anak saudaranya atau cucunya atau cucu Depati tertua dari sebelah laki-laki yang bernama Kiai Agus. Tetapi jika semuanya tidak ada, anak perempuan atau saudara perempuan yang bergelar Nyi Ayu dapat diangkat menjadi Depati Belitung.

Proses pengangkatannya dipilih dan ditetapkan oleh Ngabehi- Ngabehi dari Depati Tjakraninggrat  bersama punggawa dan seluruh Pegawai Negeri Belitung serta rakyat yang tua. Jika Depati Tjakraninggrat tidak berada ditempat maka  lelaki yang sudah bergelar punggawa atau anak laki-laki Depati dapat menggantikan Depati untuk menjalankan segala kewajiban Depati Tjakraninggrat

 PASAL B
 
  • Anak laki-laki dan perempuan pada orang tua perempuan, atau anak awang disebut Awak. Orang tua perempuan disebut umak Untuk orang tua laki-laki dipanggil Aya
  • Jika saudara kandung menyebut nama Kiai Agus atau Nyi Ayu begitu saja, tetapi adeknya memanggil Kak pada saudara laki-laki yang lebih dua darinya
  • Jika Bapak saudara tua memangilnya Awak dan yang muda Paman
  • Untuk Umak saudara tua panggilannya Awak  yang muda panggilnya Bibi.

PASAL C

Perangkat kebesaran Depati  meliputi :

 

  • Bendera Ular-Ular, Payung yang serba kuning digunakan pada saat kelahiran atau wafat 
  •  Untuk anak Depati terutama yang bergelar Pungawa menggunakan Bendera ditengah kuning

 

PASAL D

(Pesta Perayaan Perkawinan atau Gawai) Jika Depati mengawinkan anak atau cucunya dengan sebuah pesta perayaan disertai dengan berkhatam Al Quran begitupun pada saat bersunat. Peraturan adat yang berlaku dalam perayaan adalah sebagai berikut :

  • Apabila hendak melaksanakan perayaan, Depati memanggil para Ngabehi Distrik,Qoriah, Batin, Lurah, Mandor dan dukun–dukun kampung ke tanah pusaka Depati (rumah Depati), Jika semua sudah berkumpul Depati mentitahkan (menyampaikan) hajat untuk  dijalankan sesuai dengan adat
  • Para Ngabehi dan Pegawai Negeri mengatur segala pekerjaan,  mengerahkan rakyat, membuat Balairung untuk tempat gong, kelinang, gendang dan sebagainya
  • Apabila sudah pekerjaan direncanakan dan peralatan sudah disiapkan, Depati bertitah (menentukan) hari atau batas waktu selesainya semua pekerjaan
  • Para Ngabehi dan Pegawai Negeri  mempersembahkan aneka rupa persembahan seperi daging rusa, kijang, pelandok (kancil), ayam atau beraneka macam sayuran serta beras cerai dan ketan
  • Pada sore harinya dukun kampung melakukan selamat kampung. Jika sudah selesai maka  gong, kelinang dan gendang dipukul serta ditiupkan serunai di sebuah Balai. Di halaman ramai masyarakat menari sebagai tanda bahwa Gawai sudah dimulai.
  • Para Ngabehi dan Pegawai Negeri serta rakyat yang diundang berkumpul di Majelis Balai Raja, disana disediakan makan dan mimum yang pantas dan bersuka ria bermain aneka rupa permainan, ada yang memukul gedang, menari dan banyak juga yang berjudi sabung ayam
  • Apabila penganten pergi mandi, pergi ke pelaminan atau pergi bertemu penganten perempuan dirumahnya atau pergi berkhatam atau bersunat  maka akan diarak disuatu tempat  dengan bentuk seperti burung merak atau bentuk lain yang indah diarak keliling kota dengan gong dan gendang serta bunyi-bunyian lain yang sudah disediakan sebelumnya diserta sejumlah perangkat kerajaan dan dipasangkan meriam atau lila dan senapan sebagaimana sudah diatur sebelumnya.
  • Jika penganten hendak mandi bersiram maka terlebih dahulu diletakan diatas timbangan yang telah diatur sesuai adat dengan dililit kain kuning. Kemudian dibacakan doa-doa. Penganten didudukan diatas timbangan  sebelahnya ditaruh uang ringgit dan bujong berisi air mandi penganten kira-kira seperempat jam lamanya, lantas berangkat ketempat yang lain, buat bersalin pakaian yang akan digunakan untuk bersiram. Setelah menyiram penganten dan kaum lelaki dan perempuan bersimbur-simburan air sesuka mereka, aturan ini akhirnya bukan saja diikuti oleh anak cucu Depati tapi juga menjadi adat masyarakat

Perangkat kebesaran seperti gong, bendera, meriam, kelinang dan gendang dibunyikan pada saat perayaan hari besar, lebaran haji ataupun awal puasa sekaligus menjadi simbol kegembiraan masyarakat

Perjalanan Hidup  KA.Rahad (1 juli 1838 – 24 Nov 1854)

Pusat pemerintahan berada di Balok Lama dan Balok Baru Tebing Tinggi, kemudian Depati Tjakraninggrat V dan saudara mudanya ikut memimpin negeri, saudaranya yang muda ini disenangi rakyat, karena Depati Tjakraninggrat V sifatnya agak keras,  kemudian Depati Tjakraninggrat VI memindahkan pusat pemerintahan ke Cerucuk  sampai pada masa kepemimpinan Depati Tjakraninggrat VII. Pusat pemerintah di Cerucuk kian hari bertambah ramai karena kemudahan akses pelayaran. Seperti halnya kebanyakan Raja Melayu, Depati pun memiliki tanah pusaka.

Setiap tanggal 1 Juli tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah rutin berziarah ke makam KA.Rahad yang terletak di Desa Kembiri. Namun jarang sekali Makam KA.Hatam yang bergelar Depati Cakraninggrat VII (orang tua KA.Rahad ) yang berada di dekat Sungai Cerucuk diziarahi terutama pada saat peringata Hari Jadi Kota Tanjungpandan.

Pada tanggal 17 Mei 1812, Inggris resmi menjajah  Belitung, namun tidak pernah berada di Belitung. Melalui Mayor Gourt, Inggris kemudian mengangkat Raja Akil dari Siak sebagai kepala (penguasa) pulau Belitung tetapi ia pun tidak tinggal di Belitung dengan maksud memutuskan hubungan antara K.A Mohammad Hatam dengan Raden Keling yang bertempat tinggal di Toboali Bangka yang karena suatu sebab tidak disukai Inggris.

Pada masa Depati Tjakraninggrat VII ( Kiai Agus Mohammad Hatam)  tepatnya tahun tahun 1824 Pemerintah Barat mulai memberi tulage tiap-tiap bulan f.150,-. Namun kemudian dihilangkan. Jumlah uang sebesar itu berasal dari hasil penambangan timah disisihkan. Perusahaan Belanda juga memberikan sejumlah dana pembangunan untuk masyarakat yang lebih dikenal dengan Bevolkingfonds Billliton. Dana tersebut antara lain dimanfaatkan untuk mendirikan Sekolah Teknik Pertukangan dan Teknik Mesin (Ambacht Cursus) di Manggar

Tahun 1813 Raja Akil yang waktu itu belum pernah datang ke Belitung datang ke Cerucuk. Ia langsung menjalankan siasat liciknya untuk menjatuhkan kekuasaan Kiai Agus Mohammad Hatam. Dalam Syair Perang Palembang Nomor 1,31 dan 32, sifat Raja Akil digambarkan :                               

                        Akisah pertama mula

                        Pangeran Muhammad membuat cela

                        Raja Akil demikian pula

                        Beserta dengan kafir segala

 

                        Holanda semuanya  banyaklah lari

                        Diusir hulu balang kesana kemari

                        Raja Akil siap pencuri

                        Didalam rakit melindungi diri

 

                        Itulah Raja yang sangat hina,

                        Ditanah Melayu tidak berguna,

                        Ditanah Belitung membuat pesona

                        Masuk kompeni pergi melanda

Raja Akil menjalin persahabatan dengan saudara sepupu dan ipar KA. Mohammad Hatam sebagai bagian dari siasat liciknya. KA. Mohammad Hatam dibunuh pada saat sedang tidur tetapi  KA Rahad , putra Raja Balok VII ini berhasil lolos dan luput dari serangan pasukan aliansi Raja Akil. Masa pemerintahan KA Hatam dari 1785 hingga 1813 atau kurang lebih 27 tahun.  Sementara itu, K.A. Rahad yang saat itu berumur 15 tahun beserta saudara-saudaranya melarikan diri dan membuat tempat kediaman di daerah Sungai Mending (Kembiri).

KA.Hatam dimakamkan di komplek makan Cerucuk atau disebut Situs Kota Tanah Cerucuk.  Terdapat 14 makam yang merupakan makam keluarga Raja Balok. Diantara makam-makam tersebut terdapat dua makam Raja Balok, yaitu KA Mohammad Hatam yang bergelar Depati Tjakraninggrat VII (1758-1815) dan Ki Agus Mohammad Saleh yang bergelar Depati Tjakraninggrat IX (1856-1873).

KA Hatam didampingi istrinya Nyi Ayu Embi yang menurunkan 3 (tiga) putera dan 5 (lima) puteri yakni :

  1. K.A. Ancun
  2. Nyi Ayu Ketak
  3. Nyi Ayu Kunut
  4. Nyi Ayu Kuni
  5. Nyi Ayu Nerulit
  6. K.A. Rahad
  7. K.A. Mohamad Saleh
  8. Nyi Ayu Kuning

 Sepeninggalan Depati Tjakraninggrat VII,  diangkatlah Ki Agus Rahad sebagai Depati Tjakraninggrat VIII untuk melanjutkan pemerintahan. KA.Rahad memerintah pada tahun 1821 hinggga 1854 yang berkedudukan di Kota Tanah Cerucuk, namun baru dilantik pada tanggal  1 Juli 1838. (tanggal tersebut selanjutnya dijadikan Hari Jadi kota Tanjungpandan).

Beliau  memindahkan Pusat Pemerintahan dari Kota Tanah Cerucuk ke Tanjung Gunung (Hotel Dian sekarang). Selain memindahkan pusat pemerintah Ki Agus Rahad berperan dalam mengubah Sistem Tambang Sumur Palembang menjadi Sistem Parit yang berpusat di Air Siburik dan Lesung Batang. Dan di masa GMB beliau membentuk sebuah Yayasan Rakyat Belitung.

Asisten Residen JLE Schepern dalam laporan politiknya mengakui bahwa wibawa dan pengaruh Ki Agus Rahad  memang besar dilingkungan rakyat Belitung. Itulah sebabnya ketika Belanda mulai membangun kekuasaan di Belitung tanpa mengindahkan hak-hak yang sah Ki Agus Rahad dan para bangsawan Belitung lainnya, kekacauan melanda pulau ini.

Depati Tjakraninggrat VIII Kiai Agus Rahad bertempat tinggal di  Tanjung-Gunung. Tempat dimana  Kiai Agus Rahad bersembunyi dari tragedi pembunuhan Romo-nya. Beliau sempat terkena tikaman, tetapi beruntung lukanya  tidak berbahaya. Sejak saat Tanjung-Pandan dikembangkan dan menjadi  pusat Belitung saat itu. Bekas-bekas upaya beliau membangun daerah dapat dilihat dari hidupnya pohon-pohon manggis, durian, dan kelapa-kelapa, yang ditempati Veldpolitie sekarang ini. 

Pada 1838 Ki Agus Rahad menetap di Tanjung Simba. Asisten Residen JLE Schepern dalam laporan politiknya mengakui bahwa wibawa dan pengaruh Ki Agus Rahad  memang besar dilingkungan rakyat Belitung. Bangsa asing dalam waktu-waktu tertentu mengirim wakil-wakil mereka untuk mengamati Pulau Belitung. Belanda mulai membangun kekuasaan di Belitung tanpa mengindahkan hak-hak yang sah Ki Agus Rahad dan para bangsawan Belitung lainnya, kekacauan melanda pulau ini. 

Pada tahun 1822, bala tentara Hindia Belanda mendirikan benteng pertahanannya di Tanjung Gunung (bagian selatan Tanjungpandan sekarang). Keberadaan benteng di Tanjungpandan menunjukkan upaya Belanda melindungi kepentingannya di Pulau Belitung. Benteng Kuehn adalah benteng yang didirikan pertama kali oleh tentara Hindia Belanda yang berfungsi sebagai markas tentara sekaligus benteng pertahanan untuk mengawasi situasi perairan di sekitar Tanjungpandan. Benteng ini difungsikan sejak tahun 1823 – 1826. Sayangnya kondisi benteng hingga saat ini, hanyalah terlihat sisa pondasi saja.

Tepat 1 Juli 1838, Ki Agus Rahad akhirnya dilantik sebagai Depati Tjakraninggrat VIII. Ini merupakan bentuk pengakuan Belanda. Tanggal tersebut selanjutnya dijadikan Hari Jadi kota Tanjungpandan. Berdasarkan officieel Pemerintah Barat didalam tahun 1835, Kiai Agus Rahad ditetapkan sebagai Depati Tjakraninggrat (Wettige Depati). Kemudian didalam tahun 1838 diberikan lagi tulage f.600,– bersama 81½ picol beras dan 90 picol garam, tiap-tiap tiga bulan sekali mengambilnya dari Tuan Kongsi  Toboali (Bangka) yang dianggap keperluan bagi perahu-perahu  Kruis, dan menjaga keamanan Pulau Belitung, yang sering didatangi musuh-musuh, perampok, dan lanun, bajak sulok dan lain-lain.

Selain mengembangkan pusat pemerintah K.A.Rahad berperan dalam mengubah Sistem Tambang Sumur Palembang menjadi Sistem Parit yang berpusat di Air Siburik dan Lesung Batang. Dan di masa GMB beliau membentuk sebuah Yayasan Rakyat Belitung. Pada masa pemerintahan Kiai Agus Rahad, wilayah  pemerintahan dibagi kedalam 6 (enam) distrik, yaitu  : 

  1. Tanjung-Pandan, dibawah Depati Tjakraninggrat
  2. Sijuk, dibawah wewenang Ngabehi Jinal
  3. Buding, dibawah wewenang Ngabehi Awang
  4. Badau, dibawah Ngabehi Rachim
  5. Belantu,  dibawah  wewenang Ngabehi Draip
  6. Lenggang, jadi satu dengan Distrik Tanjung-Pandan. Distrik Lenggang dikuasakan kepada saudara Kiai Agus Lusoh. Peraturan tersebut ditetapkan Depati Tjakraninggrat  VI, didalam tulisan “Titah Depati” pada Kiai Agus Munti menjadi Punggawa wakil Kiai Depati Belitung.

Diserahkan  sebidang tanah yang terletak di District Lenggang kepada rakyatnya didalam batas itu, kemudian hasil dari pengolahan tanah dikenakan pajak  termasuk hutan di distrik tersebut.  Hal ini untuk diberikan kembali ke pegawai-pegawai pemerintahannya karena mereka  tidak mendapat gaji dari Pemerintah Barat. Pemberian sebidang tanah di Distrik Lenggang pernah  diterima Depati Tjakraninggrat VII yang tak lain ipar Kiai Agus Munti anak Depati Tjakraninggrat V,  dan berhak memungut hasil bumi dan hasil hutan di distrik tersebut, serta mengatur rakyat untuk bekerja di ladang milik Depati.

Pada tahun 1852 konsesi Belanda diberikan dan Belitung dipisahkan dari Bangka. Dalam soal administrasi dan kewenangan penambangan timah, pemisahan ini adalah hasil desakan J.F Loudon (Kepala pemerintah pusat di Batavia). Hal ini untuk mencegah kebijaksanaan pengaruh buruk dari Residen Bangka yang iri melihat pertambangan timah yang berkembang dengan pesatnya di Belitung.

Ki Agus Rahad meninggal tahun 20 April 1854  dalam usia 54 tahun    (menurut pihak ahli waris pada usia 64 tahun).  KA .Rahad mempunyai seorang putri bernama Nyanyu Kubu dari perkawinannya dengan Dayang Sawuk. Karena tidak mempunyai putera, beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Ki Agus Mohammad Saleh. Konon beliau ingin dikuburkan ditengah-tengah Pulau Belitung Berdasarkan cerita rakyat tersebutnya pencarian terhadap makam KA.Rahad mulai dilakukan. yang diperkiraan berada di Air Kurik (Kembiri, Membalong)

Kuburan beliau saat ini berada di Dusun Air Labu Desa Kembiri. Disampingnya terdapat makam istrinya. Karena tidak berputra Ki Agus Rahad digantikan dengan adiknya Ki Agus Mohammad Saleh yang kawin dengan Njai Tjiduk  dan bertempat tinggal di Air Berutak. Selama hidupnya beliau telah mengalami banyak kejadian yang pahit dan  tragis, beliau meninggal pada permulaan perubahan-perubah besar dalam Pulau Belitung (fithrorozi)

Sejak militer mengambil peran, perjalanan hidup berbangsa dan bernegara banyak yang diambil alih oleh militer bahkan nama-nama jalan diganti dengan tokoh-tokoh militer, sebagian besar pejuang kemerdekaan tetapi sebagian lagi karena ada pertentangan politik dan dianggap menentang pemerintah atau sering disebut makar.

Sebelumnya menjadi Jalan Angkasa misalnya dulu mengabadikan nama seorang tokoh. Tapi konon tokoh tersebut diindikasi terlibat dengan organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia maka nama jalan di Jakarta Pusat itu pun diganti.

Nama –nama jalan itu membangkitkan daya ingat orang atas jasa-jasa dimasa hidup. Namun beberapa nama bahkan tidaklah tidak pernah diabadikan dalam bentuk apapun meski perannya juga besar seperti peran Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono dalam sejarah perjuangan masyarakat Belitung.

Marsidi Judono adalah orang Indonesia pertama yang berani bicara soal keluarga berencana (KB). IUD pertama dipasangnya pada 1956. Padahal, ”Secara politis Presiden Soekarno tidak setuju KB, walaupun secara pribadi ia prihatin terhadap kesehatan kaum ibu,” katanya.

 

Tingginya angka kematian bayi membangkitkan jiwa pelayan kesehatan masyarakat ini salah satu motif untuk menggerakkan Keluarga Berencana ” masyarakat umumnya cenderung memiliki banyak anak, untuk cadangan,” ujar Marsidi Judoni, pendiri Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 1957, itu. PKBI inilah yang menjadi cikal bakal Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang ada sekarang. Untuk jasa- jasanya di bidang KB, Oktober 1982, ia menerima Certificate of Merit for Outstanding Contribution to Reproductive Health Care dari World Academy of Sciences.

Meski bergelar dokter, beberapa teman-temannya di Simpang Tige (Belitung Timur kini) memanggilnya Kek Dukun. Secara geografis Simpang Tige berada ditengah-tengah kekuasaan administrasi, yakni Belitung timur (Oost Hook) dan Belitung Barat. Banyak waktu dihabis bapak dari dua anak disana.


Anak kedua dari 10 bersaudara ini berayahkan seorang asisten wedana di masa sebelum Perang. Jabatan ayahnya itu memberinya peluang masuk sekolah khusus untuk anak Eropa (ELS) di Ponorogo. Pendidikan menengah dan tinggi ditempuhnya di Jakarta, sampai meraih predikat Arts (dokter), 1936. Baru 1951, bekas anggota Jong Java dan Indonesia Muda ini mengambil keahlian di bidang kebidanan dan penyakit kandungan pada Universitas Amsterdam, Negeri Belanda. Soal KB didalaminya pada lembaga riset KB Margaret Sanger, New York, AS, 1956.Sebagai dokter pertama kali bertugas di Tambang Timah Bangka. Pada awal Kemerdekaan, Judono pernah menjabat Wakil Kepala Daerah Belitung, sambil merangkap Kepala Dinas Kesehatan setempat.

(Didi) panggilan kecil Marsidi .P.S Yudono ,memiliki dua anak. Seorang bergelar sarjana hukum, seorang lagi sarjana ekonomi yang juga doktor. Si bungsu cukup dikenal sebagai tokoh nasional yakni Billi Joedono. Satrio “Billy” Budihardjo Joedono lahir di Pangkalpinang, Bangka pada 1 Desember 1940 pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan (1993-1995) sebelum Departemen Perdagangan dijadikan satu oleh Presiden Soeharto dengan Departemen Perindustrian menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) pada tahun 1996, serta menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan 1998-2003

Mantan kepala pemerintahan nasional RI di Belitung 1945 ini meninggalkan Pulau Belitung tahun 1952. Kembali ke Jakarta, ia menempati posisi Lektor Kepala FK UI, 1952-1958, dan selama 11 tahun berikutnya menjadi guru besar di UGM, Yogyakarta. Sejak 1977 Judono diangkat sebagai penasihat ahli Kepala BKKBN Pusat, setelah tujuh tahun menduduki jabatan Deputi Ketua.


Rambutnya sudah tidak ada yang berwarna hitam. Giginya juga telah banyak yang palsu. ”Hampir setiap orang ingin berumur panjang, tetapi jarang yang mau berusaha,” katanya. ”Saya ini tidak merokok dan tidak minum alkohol, bukan karena saya haji, tetapi karena ingin sehat dan berumur panjang.” Waktu 24 jam sehari ia bagi untuk tiga kegiatan: bekerja, tidur, dan istirahat, masing-masing selama delapan jam. Dia selalu melakukan olah raga lari pagi selama 30 menit setiap hari, dan berenang tiga kali seminggu.Setelah sekian lama meninggalkan Belitung, pada bulan Oktober 1985 untuk pertama kalinya kembali  mengunjungi tanah kelahiran keduanya. Bersama mantan Sekwilda Idris Sadi (1967-1972), ia  diundang ke DPRD untuk menghadiri serah terima jabatan Bupati Belitung dari Soemarsono ke Kristyanto. Mereka berdua membicarakan kemungkinan ditentukannya Hari Kebangkitan Rakyat Belitung seperti yang dituturkannya dalam Surat yang dikirimkan ke Bupati H.Kristyanto di Tanjungpandan.
 

Sebagaimana Bapak ketahui, sejak beberapa tahun yang lalu, dalam sambutan pada Halal Bihalal Masyarakat Belitung di Jakarta, disinggung gagasan untuk menentukan tanggal 21 Oktober  sebagai hari bersejarah rakyat Belitung yang akan menjadi hari kebanggaannya, Lantas mengapa 21 Oktober, karena pada tanggal 21 oktober 1945 kapal perang Belanda H.M.S. Tromp dengan kedok mewakili “Allied Force” (sekutu-red) berlabuh di Tanjung Pandan untuk melucuti tentara Jepang, namun sebenarnya ingin menduduki Pulau Belitung.

Karena  Kepala Daerah Belitung, K.A. Joesoef tidak berada di tempat maka saya selaku wakilnya menyerahkan secara simbolis tentara Jepang kepada komandan HMS Tromp. Kedatangan kapal Belanda menimbulkan reaksi para pemuda Kampung Parit. Kampung Ujung. Pada malam harinya mereka berkumpul untuk melawan tentara Belanda.

 

Mengenang Masa Berjuang

Judono mengisahkan perjalanannya berkeliling ke beberapa tempat seperti Tanjung Pandan, Simpang Tiga dan Buluh Tumbang, Manggar hingga Gantong mengenang masa-masa berjuang dulu bersama teman-teman dekatnya. 

Dari dokumen yang memuat gagasannya mengenai kemajuan Belitung tidak menampak keinginan untuk mengedepankan kekuasaan terhadap materi. Sebagai pelayan masyarakat dirinya cukup dikenal hingga ke pelosok kampung. Ingatannya sejenak beralih ke pengalaman menarik ketika tentara Jepang membangun lapangan udara di Buluh Tumbang tahun 1945, sebagai dokter saya menolong penduduk yang lengan kirinya putus digigit buaya.

Judono tidak meninggalkan rumah pribadi di Belitung, ketika berkunjung ke Belitung dia menginap di Wisma Timah dibelakang penginapan NV GMB yang dulu menghadap ke pantai. Namun ia sempatkan meninjau rumah yang didiami dari tahun 1943-1947 di Tanjungpandan dan rumah di Manggar  yang ditempatinya tahun 1951  

Tanggal 9 Juli 1989, Judono mengunjungi kampong Simpang Tige dan mencari teman-teman seperjuangannya, namun sahabatnya yang dulu menjabt Lurah Simpang Tige, M.Ali  sudah meninggal dunia lebih dulu. “Simpang Tige adalah desa tempat saya dan kawan-kawan seperjuangan menyelenggarakan PAMURI (Panitia Musyawarah Rakyat Indonesia) bulan Mei 1947 di Balai Kelurahan Simpang Tige.  Lurah M.Ali bersama anak-anaknya Djalil Ali dan Razak Ali, adalah pejuang” ” ujar Judono yang masih sempat menemu  Razak Ali yang tinggal di Kampong Bange’. Razak Ali mantan DPRD yang menjadi pengusaha perkebunan sempat tidak mengenali tokoh perjuangan masyarakat Belitung ini. Tapi Judono punya cara mengulang sejarah. Di tengah kampong seperti ini akan sulit membangkitkan semangat kebersamaan dengan menyebut dirinya professor, tetapi ketika memperkenalkan diri dengan Ki’ Dukun, Razak Ali  pun tersentak. Keduanya berpelukan melepas rindu.

Sore harinya Judono mengunjungi penjara yang dijadikan bangunan Lembaga Pemasyarakatan Tanjungpandan, tempat sel tahanan selama beberapa jam sebelum dipindahkan di sebuah rumah di depan rumah Mayor Textor, komandan serdadu NICA. Kawan lain yang ikut ditahan pada waktu itu (1947) adalah oleh NICA adalah Burhan, Mohommad Saad, Abdul Kadir Mahidin dan K.A. Fattah dan Haji Mas’ud yang nama-namanya tercantum dalam risalah “ Setahun Kenang-Kenangan Indonesia Merdeka di Belitung 17-8-1945 hingga 17-8-1946 “ yang disusun Almarhum Elias.

Selama ditahan NICA, Judono bersama kawan seperjuangannya di masa revolusi dibantu oleh The A Ho, pemilik Gedung Bioskop Tanjungpandan yang ketika berkunjung ke Belitung masih sempat bertemu. Lewat The A Ho dan H.Mas’ud, Judono akhirnya berangkat ke  Jawa untuk bergabung dengan Republik melawan NICA. Waktu itu H.Mas’ud merupakan salah seorang dari sedikit pengusaha pribumi Belitung yang ditugasi mencari dana dukungan.

 

Bangunan Sejarah Yang Hilang

Usai menghadiri seminar ilmiah di Kampus Universitas Indonesia, penulis sempat menyela pembicaaran dua ekonom Indonesia,  Prof. Dorojatun Kunjorojakti dan Prof Billy Judono saat menuruni tangga kampus. Sahabat ditinggalkan, Prof Billy memilih bernostalgia dengan Europesche Lagere School Tanjungpandan yang dulu tempat tempat dia menimba ilmu dan kini digunakan untuk  SMPN 1 Tanjungpandan. Menurut Judono, anaknya juga pernah menimba ilmu di   “Algemene Lagere School “  yang dijadikan Sekolah Rakyat. “Disitu dulunya Didi (Prof.Billy) sekolah, letaknya di depan Mesjid Jami’ sekarang sudah tidak ada lagi “ kata Judono. Orang Belitung mengenalnya sebagai Sekolah Melayu yang terbuat dari papan berlantai semen.

Banyak bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi dirinya dan bagi Belitung tentunya yang sudah hilang. “Pos Polisi didepan kantor GMB dikenal dengan nama Hopwa (dari bahasa Belanda Hooftwacht atau Pusat Penjagaan), sekarang sudah tidak ada lagi.  Begitupun bagian depan klinik sudah menjadi bagian belakang. Tanah kosong dibagian belakang klinik dahulu menghadap ke gunung (permukaan yang tinggi) sekarang sudah penuh bangunan baru seperti rumah Kawilasi, Mesjid dan Gereja baru“ ujar Judono saat itu. Rumah Ir. Verschure, Kepala GMB 1946  yang terletak di belakang Museum Tanjungpandan. Orang Belitung menyebutnya Tuan Kuase. Gunung yang dimaksud Judono sebetulnya hanya permukaannya saja yang tinggi, bangunan ini sudah dibongkar yang ada hanyalah sisa pondasinya, konon bangunan ini angker.

”Kami tidak melihat rumah sakit Pemerintah Daerah sementara rumah-rumah milik UPT Belitung yang tidak dihuni dibiarkan tidak terpelihara. Kami juga mengunjungi Puskesmas  dulunya belum ada. Poliklinik lama Billiton Fonds (milik GMB) sedang diganti dengan poliklinik UPT Belitung yang baru juga melayani rakyat” begitulah Judono mengungkapkan keresarhan hilangnya bangunan-bangunan penting yang mengingatkan kewajiban pemerintah terhadap masyarakatnya.

Di Manggar, tidak berbeda dengan Tanjungpandan. Judono  mendapati Rumah Kepala GMB Manggar Ir. M. Van der Marel diganti menjadi rumah Kawilasi Manggar. Kini sebagian bangunan dirubah untuk keperluan rumah dinas Bupati Belitung Timur. Rumah Kepala GMB ini masih terpelihara dibandingkan dengan bangunan pembangkit listrik Electricshe Centrale (EC) yang hanya meninggalkan pondasi.

Saat keberangkatannya  kembali ke Jakarta, Judono semakian  menaruk harapan besar terhadap kemajuan Belitung di masa datang, dengan melihat potensi dan perkembangannya waktu itu. “ Begitu juga Kota Gantong mengalami banyak kemajuan, kampungnya  bersih dan rumah dari tembok (permanen) bisa dijumpai sepanjang jalan. Rumah sakit GMB lama diganti dengan rumah sakit baru.  Gantong yang kecil juga memiliki Lapangan golf.  Kini tokoh perjuangan masyarakat ini sudah meninggalkan Belitung dan dunia ini. Semoga, keresahannya terhadap bangunan sejarah yang hilang tidak terulang. Bagaimanapun masa lalu menjadi pijakan kita, siapa lagi yang peduli kalau kepada kita yang ditinggalkan. Kepada kitalah Belitung akan mewujudkan harapan besar Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

 

Tulisan ini sebagian dikutip dari Suara Masyarakat Belitung  Nomor 4, Juli-Sept 1989 dan Nomor 5, 12 Juli 1989 (fithrorozi)

Biodata

Nama : Prof. Dr (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

Lahir : Magetan, Jawa Timur, 31 Oktober 1908
Agama : Islam

 

Pendidikan :

·     SD, Ponorogo (1924)

·     SMP, Jakarta (1928)

·     SMA, Jakarta (1929)

·     Geneeskundige Hogeschool, Jakarta (1936)

·     Ginekologi Gemeenteliyke Universiteit Amsterdam Obst (1951)

·     Ahli Keluarga Berencana di Margaret Sanger Research New York (1956)

·     Antoni van Leeuwenhoekhuis Amsterdam (Kanker Instituut) (1965)

·     Radium Hemmet Kankerinstituut Stockholm, (1965)

·     L’Institut Gustave-Roussy Institut Kanker Villejuif, Paris (1965

 

Karir

·     Asisten Bagian Kebidanan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta (1936-1937)

·     Dokter Umum Bangka Tin Winning (1937-1942)

·     Dokter Umum Mitsubishi di Belitung (1942-1945)

·     Dokter di Tanjungpandan (1945-1948)

·     Asisten Gemeentelijke Universiteit Amsterdam (1948-1951)

·     Dokter Ahli GMB Billiton (1951-1952)

·     Lektor Kepala Kebidanan FK UI (1952-1958)

·     Guru Besar UGM (1958-1968) 

·     Staf Ahli Menteri Kesehatan (1968-1969)

·     Deputi Kepala BKKBN (1969-1977)

·     Penasihat Ahli Kepala BKKBN sejak  1977

“ Assholatuhairum Minannaum…..Sholat lebih baik daripada tidur”. Adzan subuh dari Mesjid Jamiek Fathul Qorib terdengar jelas, membangunkan dan mengajak warga kampung yang lelap tidur untuk sholat. Dikejauhan tampak temaram sinar lampu. Aktivitas dirumah ini sudah dimulai sebelum adzan subuh memanggil,  mengumandangkan firman Allah SWT. Begitulah cara penghuni rumah menghiasi suasana seisi rumah.

 

Baru ketika bunyi adzan terdengar, suara lantunan Kalimatullah penghuni rumah pun berhenti. Menjelang tanah benderang, Yusri menghidupkan motor tahun produksi lama, tetapi karena perawatan tak kalah “klimis” dengan motor keluaran terbaru.

Rumah yang menghadap jalan hotmix mulus ini tampak Asri, meski tidak bercat mentereng tetapi kesan bersih terlihat jelas bagi siapapun yang lewat. Boungenvile, bunga yang selalu semarak dimusim kering menjadi ciri khas yang selalu dipelihara penghuninya. Seolah memberi makna bahwa hidup adalah pengabdian. Penghuninya terkesan mengerti teknik membuat rumah dan memiliki daya seni yang tidak biasa dimiliki orang kebanyaan.

 

Ada ungkapan pesimis “ tukang rumah tidak memiliki rumah seperti tukang jam yang tidak punya jam” ternyata tidak terbukti. Seperti mendidik anak kami pun harus memahami kelebihan dan kekurangan.

Tekun mencicil menampikkan kenyataan bahwa membangun rumah harus memegang duit banyak. Ikhlas menerima keadaan tapi percaya bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak merubahnya.

 

Dia menyadari betul merawat itu mendidik diri menjadi disiplin. Hari itu Yusri bersama anak buahnya akan menyelesaikan pekerjaan akhir sebuah rumah.

Ditengah-tengah kondisi sulit mencari pekerjaan dan persaingan lapangan kerja dengan para buruh bangunan dari luar Belitung. Bapak tiga anak ini justru tidak pernah berpaling dari pekerjaan awalnya. Keahliannya membangun rumah adalah warisan dari orang tuanya sementara sang ibu  dikenal ramah dan terbuka. Sosok perempuan yang ulet dan pekerja keras.

 

Kini, Yusri  anak semata wayang pasangan Pak Yus’adu dan Mak Yok, disegani di banyak podium kompetisi Musabaqoh Tillawatil Quran mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga kecamatan. Dirumahnya berjejer trophy –trophy kejuaraan berbagai tempat yang sudah terkumpul sejak remaja. Tapi jangan ditanya, berapa jumlah piagam dan  trophy yang dikumpulkan. Yusri tidak dingat seluruhnya apa dan dimana prestasi pernah ia diraih, yang diingatnya hanyalah bagaimana ilmu itu bisa diamalkan dan diwariskan kepada anaknya nanti.

Semasa hidup, kedua orang tua Yusri  sudah terbiasa memandang simbol-simbol prestasi anaknya. Tapi soal Yusri kini bergelar haji, kedua orang  tuanya hanya tersenyum bangga di alam kubur. Di usia yang relatif muda Yusti melengkapkan Rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Begitulah hidup, Tuhan akan memberikan sesuatu dari sudut yang tidak pernah kita ketahui.

 

Perkawinan Yusri dengan Hamsiani dikarunia tiga orang anak. Nurbaiti lahir pada tanggal 29 Juni 1997, disusul adiknya  Miftahur Rizki yang lahir pada tanggal 3 Mei 2003 dan yang terakhir Ikhwanul Hafidz yang lahir pada tanggal 30 April 2007. Di antara waktu Magrib dan Isya, Yusri bersama Istri, mengajarkan anaknya membaca Al-quran. Tubuh mungil Nurbaiti tidak semungil suaranya. Orang tuanya membimbing Nurbaiti belajar membaca Al-Quran dengan disiplin hingga berhasil menjuarai kompetisi di ajang MTQ kecamatan dan kabupaten.

Pada tahun 2008, keduanya berhasil meraih predikat pertama di MTQ Tingkat Kabupaten. Bagi Yusri Yus’adu predikat juara tingkat anak-anak selalu diraihnya sejak tahun 1983 hingga 1987.  Namun Yusri tidak ingat lagi secara persis kapan dan dimana saja perlombaan pernah diikutinya. Pada tahun 1990 menoreh prestasi di tingkat Remaja atau kelompok umur 15-20 tahun. Dan sejak  tahun 1994 mulai mengikuti dan menjuarai lomba tingkat Dewasa .

Tapi bagi Nurbaiti kiprah dalam MTQ Tingkat Kabupaten Tahun 2008 ini di Mesjid Al-Ihram Tanjungpandan merupakan kompetisi yang pertama. Bimbingan dan disiplin yang diterapkan orangnya akhirnya membuahkan hasil.  Si Cilik ini pun mulai diperbincangkan orang banyak karena prestasinya menjuarai Lomba Menghafal Al-quran  1 (satu) juz.  Meski baru pertama kali berkompetisi, Nurbaiti berhasil meraih predikat pertama pada MTQ tingkat Kabupaten Belitung. Prestasi yang diraihnya mengantarkan Nurbaiti ke jenjang lomba yang lebih tinggi. Karena prestasinya  Nurbaiti kecil bersama 30-an anggota kafillah Musabaqah Tillawatil Qur’an (MTQ) Kabupaten Belitung  mengikuti MTQ Tingkat Provinsi yang diselenggarakan di Toboali termasuk bapaknya. Jarang….jarang sekali, begitu tanggapan seorang warga yang bangga kepada pasangan bapak-anak ini. Biasanya orang tua hanya menjadi pendamping anaknya berkompetisi, bahkan sering berpindah-pindah sekolah karena mengikuti orang tua berkarir. Tapi anak beranak ini lain dari keluarga kebanyakan, justru karena kompetisi mereka bisa bersama.

 

Bagi kafilah yang berhasil mendapatkan predikat pertama pada MTQ Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, akan diikutsertakan pada MTQ Nasional yang akan diselenggarakan dari tanggal  14 hingga 24 Juni  di Banten dan Titik bersama sang bapak terpilih. Secara intensif Titik panggilan Nurbaiti, mengikuti bimbingan dari senior. Tetapi namanya anak-anak, Titik lebih nyaman dibimbing orang tua sendiri sekaligus guru pribadi dibandingkan di bimbing oleh kakak-kakak seniornya. Pasangan juara bapak-anak  mungkin yang tidak dimiliki peserta dari kafilah–kafilah lain di ajang MTQ tingkat Provinsi maupun Nasional.

 

Yusri sudah mengikuti MTQ tingkat  Nasional sejak tahun 2002, tetapi bagi Nurbaiti yang pertama kali dan  pertama pula menginjakkan kakinya ke tanah Jawa untuk mengikuti  MTQ Nasional kateori 1 (satu) juz putri. MTQ Nasional ke-22 yang berlokasi di Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Kecamatan Curug, Kota Serang direncanakan akan diselenggarakan pada mulai 17 Juni hingga 24 Juni dan Nurbaiti berharap pergi bersama ayah dalam balutan prestasi. Yusri berkisah Selama mengikuti MTQ Tingkat Nasional, baik qori maupun qoriah kafilah Babel belum pernah masuk sepuluh besar

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), yang kali pertama terselenggara secara Nasional di kota Makassar pada 1968, telah menyuguhkan nuansa kehangatan spiritualitas dan pesona budaya keagamaan khas Indonesia. Bagi umat Islam Indonesia, MTQ tidak hanya menjadi cermin kesalihan spiritual, namun lebih dari itu amat kental dengan gambaran aktivisme sosial keagamaan.  Di sisi lain, penyelenggaraan MTQ, terutama pada level regional telah membangkitkan gairah dan motivasi yang kuat bagi generasi muda untuk senantiasa memelihara kesucian dan meningkatkan kecintaan terhadap kitab suci al-Qur’an lewat budaya membaca, menghafal, memahami, serta berupaya mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan yang sesungguhnya, baik sebagai individu maupun sebagai warga negara.

Orang tua merupakan faktor utama mendidik anak karena orang tua punya peran untuk merubah anak, pada saat dilahirkan anak itu putih tinggal orang tuanya yang mau menjadikannya Nasrani, Majusi atau Yahudhi seperti Hadist Rasulullah. Antara waktu magrib dan isya, keluarga ini berkumpul sembari mendidik anak membaca Al-quran. Rumah awal segala aktivitas, yang dia percayai sebagai tempat yang ideal mendidik anak, mewarisi ilmu dan amal. “Sudah kewajiban kepala keluarga untuk mendidik anak dan menjaga keharmonisan rumah tangga” kata Yusri polos.

 

Yusri memahami sifat anak yang selalu meninginkan pembuktian. “Jangan berjanji kepada anak, karena anak hidup dalam dunia nyata, semua yang diberikan menuntut bukti. Jadi jangan mengiming-imingkan anak yang masih kecil dengan  dosa atau pahala untuk memotivasinya  beribadah” jelas Yusri. Sebenarnya Yusri bukanlah guru ngaji, kalau bisa menghantarkan anaknya meraih gelar prestasi semata-mata karena tugas sebagai pemimpin keluarga yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anaknya.

“Pendidikan dasar itu penting, seperti halnya teknik dasar membaca qur’an mestinya dilakukan sejak usia dini, seperti cara penyebutan huruf dan irama.   Kalau salah ucap harus langsung diperbaiki. Jangan membiarkan kesalahan berlanjut meski terkesan kecil, tidak monoton memberikan pendidikan kepada anak” ujar Yusri. Orangtua harus mengerti kelebihan dan kekurangan anak, tidak terlalu memaksa dan harus benar seperti kemauan Sang Guru. Ketika menghadiri acara Perkawinan ataupun “Betamat Qu’ran” Yusri sering mendengar pengucapan dan irama yang kurang pas didengar

 

Senada dengan Sang Bapak, Nurbaiti mengakui selama ini dia lebih banyak belajar dirumah dibimbing Bapak. Titik, panggilan Nurbaiti belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an  sejak umur 6 tahun atau SD kelas 1. “ Ndak ade se nok susah kalo kite nak belajar ” kata Titik. Namun Yusri menyadari anak harus mengenal dunia lain agar wawasannya berkembang dan wadah untuk  mengukur kemampuan diri sendiri. Karena itulah sesekali Yusri menyuruh anaknya mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Faturrahman yang dipimpin Haji Jamil Zainal. Pondok pesantren ini pun telah banyak menghasilkan qori-qoriah berprestasi.  Maksud Yusri tak lain untuk memacu anaknya bersaing sekaligus meningkatkan  disipilin. “ Maklumlah masa anak-anak adalah masa untuk bermanja apalagi dengan orang tua.” Kata Yusri, Kekhawatiran anak tidak disiplin selalu saja ada.  

 

Menunaikan Kewajiban Haji

Ilmu yang dititipkan orang tuanya terbukti bermanfaat dalam menyiasati kekurangan  “Seingat aku lum isak (pernah) megang duit sampai lima juta”, kata Yusri.  Istrinya memahami kondisi suami, karena pengertian dan saling mendukung akhirnya rumah tempat mendidik tiga anak akhirnya terbangun.

“Kamek ini hanye pekerja harian, ndak dapat berbuat ape-ape”. Merubah keadaan berarti merubah usaha, semakin sulit keadaan semakin giat kita berusaha. Tidak ada yang dipersalahkan, menyalahkan keadaan menunjukan kita baru saja mengawali kesalahan kita sendiri.

 

Di masyarakat Yusri dikenal sebagai petugas penyelenggara perkawinan.  Yusri mengakui   beratnya tanggung jawab menjadi saksi pernikahan yang menyaksikan manusia merubah sesuatu yang haram menjadi halal.. Selain di lihat manusia kesaksian ini diketahui oleh Allah SWT. 

 

Pada tahun 2008 ini Yusri  mendapatkan berkah dari perjalanan hidup, prestasi dan pengabdiannya di masyarakat.  Bagi Yusri yang kini bergelar Haji menganggap Haji itu bukan sekedar gelar  tapi bukti kekuasaan Tuhan terhadap sebuah keikhlasan, bersyukur menjalani hidup. Yusri Yus’adu tidak menyangka impiannya pergi ke Haji bisa terwujud bahkan dirinya dipercaya memimpin rombongan Kloter XIII yang diberangkatkan dari Embarkasi Palembang. Yusri mengenang pengalaman di tanah Suci. Panjangnya antrian untuk mendapatkan  makanan menguji kesabaran. Alhamdullilah tidak ada kendala. Haji Yusri memimpin 46 jemaah lain yang berasal dari Kabupaten Belitung, Bangka Tengah dan Bangka Selatan (fithrorozi)

Lalu lalang kendaraan melintasi jalan hotmix mengalahkan suara kicauan burung-burung dibalik pohon. Kegaduhan itu ditimpali dengan diskusi jalanan pekerja tambang inkonvensional diatas motor, siap membongkar humus yang menutupi mineral timah. Bukan bermaksud melawan arus, segerombolan orang-orang ini  berjalan kaki sebagian bahkan tanpa alas, melintasi jalan lain tak ber-hotmix diantara belukar menuju kebun. Jika diawal krisis moneter 1997, sebagain masyarakat kota menjadi miskin, penduduk desa Membalong meraup untung dari hasil perkebunan. Keuntungan ini tidak diraih dengan cepat seperti George Soros mengalihkan nilai tukar uang. Para petani sekian lama bercengkrama dengan tanah, mendewasakan anak bersama dengan cengkraman akar batang lada di tiang-tiang penopang sebelum akhirnya berhasil. Keberhasilan petani ternyata tidak hanya dinikmati keluarga tetapi penyuluh pertanian yang selama ini menjadi tempat bertanya.

Keberhasilan petani menjadi indikator keberhasilan penyuluh pertanian, senang rasanya melihat petani dengan pendidikan seadanya itu bisa mengakses teknologi pertanian. Dari sekian banyak petani. Warta Praja mengamati wanita berjilbab yang membalik-balik tangan dengan cangkulnya.

Bagaimana Bu kabarnya?….Saya panggil Ibu atau Mbak …?, yang disapa pun sambil tersenyum mengucap lafadz Alhamdulillah baik. Mau panggil apa saja boleh kok.., mau mbak atau ibu sama saja. Tidak tampak kesan kaku, gaya pergaulannya seperti kebanyakan petani. Tapi perempuan ini justru bukan petani. Karena pekerjaan, perempuan ini bersikap layaknya petani yang tak jauh dari urusan humus, selalu berupaya agar lahan tetap subur. Tak segan mencangkul meski bukan lahan garapanya. Itu karena untuk memberikan contoh saja. di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanjung Rusa di sela-sela acara orientasi Penyuluh Pertanian THL – TB. Peraih predikat Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional Tahun 2007 ini sungguh bersahaja namun bicaranya antusias kalau sudah mendiskusikan kondisi pertanian Belitung.

Sri Suyatmi, meraih gelar Ahli Madya bidang penyuluh Pertanian menghabiskan waktunya di lahan pertanian justru ketika para warga Membalong lainnya tertarik membalik tanah dalam volume dan luasan yang cukup besar untuk mendapatkan bahan galian timah. Perhatian Warta Praja terhadap sosok perempuan penyuluh ini diawali dari perbincangan

Boleh ngobrol Mbak, yang ditanya malah bingung,….tentang apa ya …?, Saya ini ndak ada apa-apanya lho …. “. Sri menjawab datar. Padahal hampir sebagian besar petani Membalong mengenal perempuan ini karena keramahan dan kemampuannya menjelaskan hal ihwal pertanian.

Terpilihnya Sri Suyatmi,Amd.PP menjadi Penyuluh Teladan berawal  dari permintaan Kepala UPTD BIPP, Annyta,S.P agar Sri panggilan akrabnya ibu muda ini mengisi  biodata dan nomor rekening Bank di bulan November 2007 yang lalu. “ Yang saya tahu waktu itu ada 3 orang  petani yang dipanggil untuk urusan yang sama ” ujarnya berkisah. Tak terpikirnya ada kejadian apa setelah tu. “ Di awal bulan Februari 2008 seperti biasa saya ke Tanjungpandan, bermaksud menabung, menyisihkan  pendapatan untuk “berjaga-jaga”. Ternyata kolom saldo buku tabungan saya di Bank bertambah, jumlahnya lumayan,  saya pun kaget.  Ternyata 3 orang petani yang bertemu di bulan Januari yang lalu ini juga mendapatkan rezeki yang sama. Mereka adalah Pak Murtama dari dusun Air Nangka, Desa Simpang Rusa, Pak Edi Supriyadi, petani Dusun Air Kundur, Desa Membalong, dan Pak Musdiyanto, petani dusun Karang Asem, Desa Perpat.

Keluarga Petani
Sri hijrah ke Belitung, dua orang yang dikenalnya hanyalah Pak Temu dan Pak Muharjo, Dua orang ini datang ke Belitung sebagai transmigran spontan dari Palembang.  Terakhir Pak Temu malah kembali ke Jawa meninggalkan kampung Transmigrasi Prepat, Kecamatan Membalong yang didulu ikut dirintisnya. Kanwil Departemen Pertanian di Palembang di tahun 1985 mencari tenaga honor bidang penyuluh. Masa-masa itu saya hidup menumpang mengandalkan gaji honor sebesar 12.000 sebulan itu pun di rapel sampai tiga bulan.  Di Belitung saya sempat menumpang di rumah Pak Jelidin (adik Mantan Kades Prepat, Abdul Rahman). Kebetulan saya memiliki pendidikan penyuluh. Setelah lulus test tenaga honor di  Palembang kembali saya ditugaskan ke Membalong. Selama tiga bulan saya mengikuti Orientasi Kegiatan Penyulush di Balai Penyuluhan Pertanian di Perawas tahun 1985.

Bagi perempuan lajang merantau ditempat orang seperti pengalaman seorang petualang. Berkah menunaikan tugas mempertemukan saya ke warga Transmigran tempat saya mengabdikan ilmu. Tahun 1986 jodoh mempertemukan saya dengan mantan pacar saya sekarang ( Itu lho bapaknya anak-anak, ucapkan Sri melalui telpon celular). Pacaran dulu, ya gitu, pertemuan kami di lahan pertanian.

Dari tukar menukar ilmu, tukar menukar pengalaman sampai akhirnya tukar menukar perhatian, begitulah perjodohan itu mengalir. Pada awalnya masyarakat Membalong khususnya dan Belitung pada umumnya pun enggan bertanam palawija. Transmigran jawa hanya menonton masyarakat bertanam lada. Dari mata turun kehati, petani pun bertukar pengalaman. Karena keterbukaan masyarakat lokal hubungan antara pendatang tidak pernah menimbulkan masalah. Pada saat pemerintah merencanakan menerima warga transmigran tak kurang dukun kampung menangantisipasi agar sejumlah pantangan yang biasa berlaku di Membalong tidak sampai menganggu hubungan silaturahmi masyarakat seperti yang diungkapkan Dukun Kampong Pangkallang.

Sri yang dilahirkan di Sleman, 15 Oktober 1965 dan sang suami Muhammad Idris yang berasal dari Magelang memang tidak mengetahui seluk beluk Pulau Timah ketika datang pertama kali, tetapi ketiga anaknya sejak kecil bergaul dengan masyarakat Belitung bukan karena timah tetapi karena tanah dan profesi orangtuanya yang akrab dengan tanah dan tani. Siti Rodiah (20 tahun) anak pertama mereka mengikuti jejak orang tua menimba ilmu Fakultas Pertanian Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta (kini  menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta), anak kedua siswa, Umi Toyibah (18 tahun) saat ini bersekolah di SMAN Membalong dan yang terakhir Ihsan Tohiran (6 tahun) baru saja memasuki SDN Membalong. Kenangan Sri di tahun 1985 masih tersimpan baik dalam ingatannya. Saat itu penyuluh sulit mencari dan mengajak masyarakat untuk bertani. “ Saat ini bantuan pemerintah diperlukan untuk memotivasi masyarakat ” kenang Sri.

Kalau dulu mencari sekarang membina. Permasalahan pertanian yang paling menonjol adalah masalah pasar, dulu masalah modal. Kalau masalah lahan tidak begitu sulit di Membalong ini”, kata Sri  yang saat ini telah membina 10 kelompok Tani di Desa Prepat.

Pada awalnya tanaman cabek, katuk (Belitong :cangkok manis) dan sayuran hanya menjadi tanaman selingan diantara kebun lada masyarakat. Namun kini tanaman pertanian sudah mulai dikembangkan, karet dan palawija sudah mulai ditanam masyarakat lokal. Meski demikian masih ada lahan tidur yang belum bisa digarap.

Sri memahami kendala di lapangan. Bantuan alat/mesin pertanian memang sering diberikan, tetapi jika operator alat–alat pertanian masih terbatas, tidak beberapa lama mesin pun rusak. Ini kendala kita menerapkan teknologi pertanian di lapangan. Kami berharap bantuan ini dapat diikuti dengan bimbingan teknis, jadi tidak hanya sekedar menyerahkan fisik alatnya saja. Apalah arti barang kalau kita tidak bisa dimanfaatkan, malah bisa menjadi pemborosan

Mengolah Lahan PodsolikSebagian besar lahan pertanian di Belitung berjenis podsolik merah kuning.” Memang tidak tidak semua lahan di Belitung cocok untuk lahan Pertanian. Oleh karena itu saya berharap masyarakat dapat mensiasati lahan Belitung dengan berbagai kreativitas “ kata Ir.Darmansyah Husein yang berjodoh dengan insinyur pertanian yang saat ini setia mendampingi beliau mengabdi sebagai Bupati Belitung.

Pemerintah Kabupaten memetakan dan membagi potensi wilayah kedalam beberapa kawasan. Kawasan Pelabuhan dan Industri berada di Kecamatan Badau, Sijuk diprioritaskan bagi pengembangan wisata, Kecamatan Tanjung Pandan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Kecamatan Selat Nasik sebagai kawasan pengembangan perikanan dan kelautan begitu juga Membalong diharapkan dapat meningkatkan potensi lahan pertaniannya dengan ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan.

Pengalaman sebagai penyuluh, membuat Sri paham bagaimana mensiati keadaan. Nurani dan naluri Sri yang terpatri di bumi Belitong tidak hanya menyuarakan pesan petani. Sebagai penyuluh Sri mengharapkan perkembangan teknologi  pertanian dapat dimanfaatkan rekan-rekan petani yang dibimbingnya. Petani ini itu tidak hanya mengurusi persoalan lahan, tetapi juga modal usaha, pendapatan keluarga. Bahkan sejak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuka Posko Agribisnis di Prepat, Sri juga berkecimpung didunia peternakan karena peternakan dan pertanian merupakan bidang usaha yang berperan penting dalam pengembangan agribisnis. Kotoran ternak yang dihasilkan meningkatkan nilai tambah peternak dan meningkatkan pendapatan petani selain lahan petani juga semakin subur.

Dampak Alat Mesin Pertanian (Alsintan) dapat dilihat dari perbandingan produksi antara pola tradisional dan dengan penggunaan teknologi . Produksi padi varietas Ciherang tahun 2006 sebelum disentuh teknologi  menghasilkan kurang lebih 4,0 ton/hektar dengan tata tanam tidak beraturan  dan sistem tegel (seperti  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dari program Prima Tani, bahkan dapat menghasilkan 5,76 per hektarnya. Itupun masih dibawah potensi  rata-rata dan dapat ditingkatkan 8,5 ton tiap hektar.

Alsintan berupa huller (penggiling padi) rusak, 2 hand tracktor rusak, untungnya trasher atau mesin perontok padi saat ini masih beroperasi. Sebaliknya 1 unit dryer atau mesin pengering padi belum dioperasikan secara optimal karena terkendala dengan ketersediaan operator yang bisa menggunakannya.

Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya tidak lain untuk kesejahteraan manusia itu sendiri, tinggal manusia berusaha. Tidaklah Tuhan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak berusaha merubahnya. Apa yang dilakukan pemerintah tidak akan optimal tanpa usaha masyakat dan berbagai pihak, tentunya bantuan itu penting, hanya saja bagaimana kita memanfaatkan bantuan. Ada yang yang berbentuk bantuan “pancing” namun ada juga yang berbentuk “ikan”. (Fithrorozi/Yasa)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.