Sosok


Lalu lalang kendaraan melintasi jalan hotmix mengalahkan suara kicauan burung-burung dibalik pohon. Kegaduhan itu ditimpali dengan diskusi jalanan pekerja tambang inkonvensional diatas motor, siap membongkar humus yang menutupi mineral timah. Bukan bermaksud melawan arus, segerombolan orang-orang ini  berjalan kaki sebagian bahkan tanpa alas, melintasi jalan lain tak ber-hotmix diantara belukar menuju kebun. Jika diawal krisis moneter 1997, sebagain masyarakat kota menjadi miskin, penduduk desa Membalong meraup untung dari hasil perkebunan. Keuntungan ini tidak diraih dengan cepat seperti George Soros mengalihkan nilai tukar uang. Para petani sekian lama bercengkrama dengan tanah, mendewasakan anak bersama dengan cengkraman akar batang lada di tiang-tiang penopang sebelum akhirnya berhasil. Keberhasilan petani ternyata tidak hanya dinikmati keluarga tetapi penyuluh pertanian yang selama ini menjadi tempat bertanya.

Keberhasilan petani menjadi indikator keberhasilan penyuluh pertanian, senang rasanya melihat petani dengan pendidikan seadanya itu bisa mengakses teknologi pertanian. Dari sekian banyak petani. Warta Praja mengamati wanita berjilbab yang membalik-balik tangan dengan cangkulnya.

Bagaimana Bu kabarnya?….Saya panggil Ibu atau Mbak …?, yang disapa pun sambil tersenyum mengucap lafadz Alhamdulillah baik. Mau panggil apa saja boleh kok.., mau mbak atau ibu sama saja. Tidak tampak kesan kaku, gaya pergaulannya seperti kebanyakan petani. Tapi perempuan ini justru bukan petani. Karena pekerjaan, perempuan ini bersikap layaknya petani yang tak jauh dari urusan humus, selalu berupaya agar lahan tetap subur. Tak segan mencangkul meski bukan lahan garapanya. Itu karena untuk memberikan contoh saja. di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanjung Rusa di sela-sela acara orientasi Penyuluh Pertanian THL – TB. Peraih predikat Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional Tahun 2007 ini sungguh bersahaja namun bicaranya antusias kalau sudah mendiskusikan kondisi pertanian Belitung.

Sri Suyatmi, meraih gelar Ahli Madya bidang penyuluh Pertanian menghabiskan waktunya di lahan pertanian justru ketika para warga Membalong lainnya tertarik membalik tanah dalam volume dan luasan yang cukup besar untuk mendapatkan bahan galian timah. Perhatian Warta Praja terhadap sosok perempuan penyuluh ini diawali dari perbincangan

Boleh ngobrol Mbak, yang ditanya malah bingung,….tentang apa ya …?, Saya ini ndak ada apa-apanya lho …. “. Sri menjawab datar. Padahal hampir sebagian besar petani Membalong mengenal perempuan ini karena keramahan dan kemampuannya menjelaskan hal ihwal pertanian.

Terpilihnya Sri Suyatmi,Amd.PP menjadi Penyuluh Teladan berawal  dari permintaan Kepala UPTD BIPP, Annyta,S.P agar Sri panggilan akrabnya ibu muda ini mengisi  biodata dan nomor rekening Bank di bulan November 2007 yang lalu. “ Yang saya tahu waktu itu ada 3 orang  petani yang dipanggil untuk urusan yang sama ” ujarnya berkisah. Tak terpikirnya ada kejadian apa setelah tu. “ Di awal bulan Februari 2008 seperti biasa saya ke Tanjungpandan, bermaksud menabung, menyisihkan  pendapatan untuk “berjaga-jaga”. Ternyata kolom saldo buku tabungan saya di Bank bertambah, jumlahnya lumayan,  saya pun kaget.  Ternyata 3 orang petani yang bertemu di bulan Januari yang lalu ini juga mendapatkan rezeki yang sama. Mereka adalah Pak Murtama dari dusun Air Nangka, Desa Simpang Rusa, Pak Edi Supriyadi, petani Dusun Air Kundur, Desa Membalong, dan Pak Musdiyanto, petani dusun Karang Asem, Desa Perpat.

Keluarga Petani
Sri hijrah ke Belitung, dua orang yang dikenalnya hanyalah Pak Temu dan Pak Muharjo, Dua orang ini datang ke Belitung sebagai transmigran spontan dari Palembang.  Terakhir Pak Temu malah kembali ke Jawa meninggalkan kampung Transmigrasi Prepat, Kecamatan Membalong yang didulu ikut dirintisnya. Kanwil Departemen Pertanian di Palembang di tahun 1985 mencari tenaga honor bidang penyuluh. Masa-masa itu saya hidup menumpang mengandalkan gaji honor sebesar 12.000 sebulan itu pun di rapel sampai tiga bulan.  Di Belitung saya sempat menumpang di rumah Pak Jelidin (adik Mantan Kades Prepat, Abdul Rahman). Kebetulan saya memiliki pendidikan penyuluh. Setelah lulus test tenaga honor di  Palembang kembali saya ditugaskan ke Membalong. Selama tiga bulan saya mengikuti Orientasi Kegiatan Penyulush di Balai Penyuluhan Pertanian di Perawas tahun 1985.

Bagi perempuan lajang merantau ditempat orang seperti pengalaman seorang petualang. Berkah menunaikan tugas mempertemukan saya ke warga Transmigran tempat saya mengabdikan ilmu. Tahun 1986 jodoh mempertemukan saya dengan mantan pacar saya sekarang ( Itu lho bapaknya anak-anak, ucapkan Sri melalui telpon celular). Pacaran dulu, ya gitu, pertemuan kami di lahan pertanian.

Dari tukar menukar ilmu, tukar menukar pengalaman sampai akhirnya tukar menukar perhatian, begitulah perjodohan itu mengalir. Pada awalnya masyarakat Membalong khususnya dan Belitung pada umumnya pun enggan bertanam palawija. Transmigran jawa hanya menonton masyarakat bertanam lada. Dari mata turun kehati, petani pun bertukar pengalaman. Karena keterbukaan masyarakat lokal hubungan antara pendatang tidak pernah menimbulkan masalah. Pada saat pemerintah merencanakan menerima warga transmigran tak kurang dukun kampung menangantisipasi agar sejumlah pantangan yang biasa berlaku di Membalong tidak sampai menganggu hubungan silaturahmi masyarakat seperti yang diungkapkan Dukun Kampong Pangkallang.

Sri yang dilahirkan di Sleman, 15 Oktober 1965 dan sang suami Muhammad Idris yang berasal dari Magelang memang tidak mengetahui seluk beluk Pulau Timah ketika datang pertama kali, tetapi ketiga anaknya sejak kecil bergaul dengan masyarakat Belitung bukan karena timah tetapi karena tanah dan profesi orangtuanya yang akrab dengan tanah dan tani. Siti Rodiah (20 tahun) anak pertama mereka mengikuti jejak orang tua menimba ilmu Fakultas Pertanian Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta (kini  menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta), anak kedua siswa, Umi Toyibah (18 tahun) saat ini bersekolah di SMAN Membalong dan yang terakhir Ihsan Tohiran (6 tahun) baru saja memasuki SDN Membalong. Kenangan Sri di tahun 1985 masih tersimpan baik dalam ingatannya. Saat itu penyuluh sulit mencari dan mengajak masyarakat untuk bertani. “ Saat ini bantuan pemerintah diperlukan untuk memotivasi masyarakat ” kenang Sri.

Kalau dulu mencari sekarang membina. Permasalahan pertanian yang paling menonjol adalah masalah pasar, dulu masalah modal. Kalau masalah lahan tidak begitu sulit di Membalong ini”, kata Sri  yang saat ini telah membina 10 kelompok Tani di Desa Prepat.

Pada awalnya tanaman cabek, katuk (Belitong :cangkok manis) dan sayuran hanya menjadi tanaman selingan diantara kebun lada masyarakat. Namun kini tanaman pertanian sudah mulai dikembangkan, karet dan palawija sudah mulai ditanam masyarakat lokal. Meski demikian masih ada lahan tidur yang belum bisa digarap.

Sri memahami kendala di lapangan. Bantuan alat/mesin pertanian memang sering diberikan, tetapi jika operator alat–alat pertanian masih terbatas, tidak beberapa lama mesin pun rusak. Ini kendala kita menerapkan teknologi pertanian di lapangan. Kami berharap bantuan ini dapat diikuti dengan bimbingan teknis, jadi tidak hanya sekedar menyerahkan fisik alatnya saja. Apalah arti barang kalau kita tidak bisa dimanfaatkan, malah bisa menjadi pemborosan

Mengolah Lahan PodsolikSebagian besar lahan pertanian di Belitung berjenis podsolik merah kuning.” Memang tidak tidak semua lahan di Belitung cocok untuk lahan Pertanian. Oleh karena itu saya berharap masyarakat dapat mensiasati lahan Belitung dengan berbagai kreativitas “ kata Ir.Darmansyah Husein yang berjodoh dengan insinyur pertanian yang saat ini setia mendampingi beliau mengabdi sebagai Bupati Belitung.

Pemerintah Kabupaten memetakan dan membagi potensi wilayah kedalam beberapa kawasan. Kawasan Pelabuhan dan Industri berada di Kecamatan Badau, Sijuk diprioritaskan bagi pengembangan wisata, Kecamatan Tanjung Pandan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Kecamatan Selat Nasik sebagai kawasan pengembangan perikanan dan kelautan begitu juga Membalong diharapkan dapat meningkatkan potensi lahan pertaniannya dengan ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan.

Pengalaman sebagai penyuluh, membuat Sri paham bagaimana mensiati keadaan. Nurani dan naluri Sri yang terpatri di bumi Belitong tidak hanya menyuarakan pesan petani. Sebagai penyuluh Sri mengharapkan perkembangan teknologi  pertanian dapat dimanfaatkan rekan-rekan petani yang dibimbingnya. Petani ini itu tidak hanya mengurusi persoalan lahan, tetapi juga modal usaha, pendapatan keluarga. Bahkan sejak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuka Posko Agribisnis di Prepat, Sri juga berkecimpung didunia peternakan karena peternakan dan pertanian merupakan bidang usaha yang berperan penting dalam pengembangan agribisnis. Kotoran ternak yang dihasilkan meningkatkan nilai tambah peternak dan meningkatkan pendapatan petani selain lahan petani juga semakin subur.

Dampak Alat Mesin Pertanian (Alsintan) dapat dilihat dari perbandingan produksi antara pola tradisional dan dengan penggunaan teknologi . Produksi padi varietas Ciherang tahun 2006 sebelum disentuh teknologi  menghasilkan kurang lebih 4,0 ton/hektar dengan tata tanam tidak beraturan  dan sistem tegel (seperti  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dari program Prima Tani, bahkan dapat menghasilkan 5,76 per hektarnya. Itupun masih dibawah potensi  rata-rata dan dapat ditingkatkan 8,5 ton tiap hektar.

Alsintan berupa huller (penggiling padi) rusak, 2 hand tracktor rusak, untungnya trasher atau mesin perontok padi saat ini masih beroperasi. Sebaliknya 1 unit dryer atau mesin pengering padi belum dioperasikan secara optimal karena terkendala dengan ketersediaan operator yang bisa menggunakannya.

Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya tidak lain untuk kesejahteraan manusia itu sendiri, tinggal manusia berusaha. Tidaklah Tuhan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak berusaha merubahnya. Apa yang dilakukan pemerintah tidak akan optimal tanpa usaha masyakat dan berbagai pihak, tentunya bantuan itu penting, hanya saja bagaimana kita memanfaatkan bantuan. Ada yang yang berbentuk bantuan “pancing” namun ada juga yang berbentuk “ikan”. (Fithrorozi/Yasa)

Motor kuning Pak Pos maju mundur, kesana kemari bertanya tapi tidak ada yang mengenal nama Sulaiman, yang dicari pun “cuek bebek”, maklum saja dikampung dia biasa dipanggil Tulek. Menggunakan nama panggilan bagi warga Gang Perai justru lebih akrab seperti menyendir banyak nama kampong yang di-Indonesia-kan, Aik Seruk menjadi Air Seru, Kampong Parit jadi Kampung Parit. Mungkin karena pembangunan, nama jalan pun dirubah, “jalan ini dulunya dikenal dengan Gang Perai sebelum berubah menjadi Jalan Ali Uyup”.

Jalan Ali Uyup dikenal warga kampung lain bahkan pendatang dari luar Belitung karena dokter-dokter tradisionalnya, mulai dari Afuk-tukang urut dengan pasien bermobilnya, Tupon-peracik cacing untuk obat Typus, Pak Abu-suntik, pensiunan mantri kesehatan yang melayani pengobatan panggilan, Nek Nereme-tukang pijat kura untuk bayi, dan tidak ketinggalan dengan Mak Bos, tukang cabut gigi. Dulu waktu masih menjadi Desa Air Saga, di Tanjungpendam juga dikenal tiga serangkai Dr.Oce-Kik Enjit- Kik Sagap. “Kalo mau medis silahkan berobat ke Dr.Oce yang tak lain anak perintis pertimahan di Indonesia, MEA.Apitule, kalo mau ramuan akar kayu ke Kik Enjit, kalo mau menghalau gangguan mahkluk halus (pedara’an : bahasa Belitong) minta jampi saja ke Kik Sagap “ kata warga menerangkan alternatif pelayanan kesehatan di kampungnya dengan bangga.

Siapa sangka warga desa Tanjungpendam dikenal luas orang banyak mengalahkan dokter-dokter Puskesmas Air Saga. Dari cerita kebingungan pak pos tadi, Warta Praja mengamati sosok tambun perempuan yang dipanggil Mak Bos yang sedang mengemasi ambong pempang dibantu suaminya, Tulek. Perempuan multidimensi ini tidak hanya berprofesi sebagai tukang cabut gigi, tapi juga dikenal sebagai tukang memandikan jenazah, tukang tindik dan tak jarang dipercaya melakukan sunatan bagi anak perempuan.

Karena kesibukan berdagang itu, kelakar Mak Bos dan Pak Tulek dua tahun terakhir masyarakat pun jadi tahu diri meminta pertolongan. Kesibukan sehari-hari wanita yang bernama asli Junainah adalah sebagai perae (penjualan kebutuhan dapur keliling). Sebutan Mak Bos, jangan dikonotasikan dengan kekayaan materi, pasangan Tulek-Mak bos dengan satu anak menempati rumah ukuran tidak lebih dari 4×4. Rumah yang diklafisikasikan Badan Pusat Statisik masuk dalam golongan rumah tangga miskin. Tetapi karena kekayaan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat sebutan Mak Bos justru semakin mempertegas pelayanan optimal kepada masyarakat. Ilmu jangan terlalu tinggi nanti tidak membumi bukankah agama kita menginginkan ilmu yang bermanfaat kata warga lain menimpali pembicaraan. Yang lain malah mengeluh banyak dokter berilmu tinggi tetapi ongkosnya juga melangit. Tapi kalo dibutuhkan, Mak Bos rela tidak meraup untung sehari berjualan.

Pelayanan optimal

Di KTP tertulis Junainah. Anak ketiga dari tiga belas bersaudara ini memiliki kepandaian mencabut gigi, menyunat anak perempuan dan memandikan jenazah diturunkan dari orang tuanya. Umak (Belitong: Ibu) pada awalnya mempraktekkan cara memandikan jenazah dengan media perantara, baru kemudian didampingi sebelum akhirnya dilepas. Wanita pemandi jenazah perempuan merupakan profesi yang langka, Mak Bos justru menjalani di umur yang relatif muda, 35 tahun. Awalnya Junainah, nama asli Mak Bos tidak pernah berpikir menjadi pelayan masyarakat seperti sekarang ini. Kepandaiannya berawal dari harapan orang tua, agar kelak anak-anaknya bisa merawat dan mengurusi jenazah jika meninggal. Segala urusan rahasia tubuh semestinya hanya keluarga yang tahu. Untuk anak laki-laki ditambah dengan menjadi imam sholat (jenazah). Profesi pemandi jenazah di dusun Perai, Desa Tanjungpendam awalnya dilakukan oleh Cik Jakdiah. Karena alasan umur, profesi pemandi jenazah dilimpahkan ke yang lebih muda sebelum Cik Jadiah meninggal dunia. Pelimpahan jabatan ini di lakukan di Mesjid Jamiek Fathul Qorib.

Seperti memandikan jenazah, kepandaian mencabut gigi juga diturunkan dari orangtua. Awalnya ayah Mak Bos menurunkan kepandaian mencabut gigi ke kakaknya. “tapi ndak tahu ngape, kakak menyerahkan ke aku agik”. ungkap Junainah. Menurut Junainah modalnya hanya memasrahkan diri kepada Tuhan, tanpa melakukan amnestesi (pembiusan), Mak Bos membutuhkan waktu 5 hingga 10 menit sebelum gigi dicabut. Mak Bos tidak hirau dengan berbagai istilah Maal Praktek, amnestesia dan istilah medis lain. Niat membantu menjadi dasar menolong dan Mak Bos selalu berdoa kepada Allah SWT dalam setiap kali melayani warga. Hingga saat ini memang tidak ada yang menuntut karena indikasi kelalaian karena memang Mak Bos sekedar membantu meski dia sendiri kehilangan kesempatan membantu suaminya mencari nafkah.


Berae Lintas Kabupaten

Setengah empat subuh mak bos mulai bangun, dengan modal 1,5 juta perharinya. Selesai sholat subuh perempuan gemuk namun cekatan pergi ke pasar belanja barang-barang dagangan seperti tomat, ikan, kunyit, sayuran dan apa saja yang bisa dijual. Dengan modal sebesar itu, tak pelak ambong pempang pun penuh muatan.

Jam delapan pagi motor cina pun dipanaskan, menjalani lawatan perdagangan. Bangek adalah nama kampong tujuan “ Urang kampong Bangek sampai Aik Ruwak la kenal dengan klakson aku”, ujar Mak Bos mendeskripsikan areal pemasarannya dan kesetiaan pelanggannya. Karena kenyakinan dan untuk menjaga perputaran modal, Mak bos mentargetkan barang-barang dagangan harus terjual. Kalo tidak habis Mak Bss memperpanjang jalur pemasarannya hingga ke kampong Liring, Desa Renggiang. Itu berarti lintas kabupaten, Mak Bos, yang dikomentari hanya tersenyum, tidak hirau dengan istilah-istilah ekonomi kerakyatan yang sering didengung-dengungkan di televisi.

Penjual kebutuhan rumah tangga sehari-hari yang menekuni profesi sejak dua tahun yang lalu, memang tidak banyak menikmati acara hiburan televisi. Biasanya jam sembilan malam baru tiba dirumah, karena esok harus keliling lagi, Mak Bos harus istirahat. Toponim Perai, nama dusun tempat Mak Bos tinggal ini tidak sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Perai (libur) berdagang kalo tidak karena hari libur, pasti karena panggilan memandikan jenazah dari warga atau ada kepentingan mendesak warga yang harus dilayani. Karena kebutuhan warga, Mak Bos menunda rezeki, jika keuntungan per hari 10% dari modal 1,5 juta berarti jumlah keuntungan tertunda sebesar Rp.150.000. Itu hanya dugaan, yang pasti Mak Bos harus membayar arisan Rp.100.000 dan mengangsur motor cina sebesar Rp.400.000 sebulan yang sudah dia kredit dua tahun yang lalu atau seumur dengan pengalamnnya berae keliling kampong.

Istilah berae (mobile traditional trading) dulunya dilakukan dengan sepeda kumbang, seiring perkembangan jaman pedagang keliling sekarang banyak yang menggunakan motor bahkan mobil dengan telepon gengam dalam menjajakan dagangannya. Infrastruktur jalan yang dibangun pemerintah hingga ke kampung-kampung ini membuat peluang usaha disektor informal ini meningkat. Pendatang dari luar Belitung pun bahkan menjual bakso dengan motor begitu pula pengumpul besi bekas. Mak Bos tidak takut bersaing, menurutnya setiap orang sudah diatur rezeki oleh yang diatas. Karena wilayah pasarnya berada di Kabupaten Belitung Timur, kerapkali dia bertemu dengan rekan seprofesinya dari Manggar membawa hail tangkapan ikan yang masih segar tentunya. Mungkin karena banyak warga yang bekerja di TI (tambang inkonvensional Red) dan PT (perkebunan sawit Red), peluang usaha seperti kami selalu terbuka, ungkap Mak Bos berargumen. Bahkan sayuran seperti mentimun, kacang panjang, cabe yang dulunya dihasilkan warga kampung kini dibeli urang darat (sebutan masyarakat yang identik dengan petani). Tak jarang saya menggunakan lampu motor untuk memperjelas timbangan saya. Mak Bos mengunakan klakson sebagai kode promosi dagangannya.

Diakhir kelakar, Mak Bos berharap ada bantuan permodalan dari pemerintah untuk usaha kecil seperti dirinya.Biar Kepak di Tulang Tapi Nyaman di Dulang (Fithrorozi).

 

 

 

Selain dalam pentas seni budaya tradisional seperti Maras taun, Lagu Belitong disajikan dalam instrumen modern seperti Orkes Melayu. Pengertian orkes melayu sering dihubung-hubungkan dengan Semenanjung Malaka atau Malaya (kini Malaysia). Bentuk sajian musik ini diterima sebagai suatu perkawinan yang memadukan antara alat-alat baku musik barat, seperti biola, akordeon, harmonium, gitar, banjo dan lut ; dengan gendang, rebana atau terbangan, Alat-alat ini digunakan untuk iringan nyanyian berciri laras pentatonik 1-2-3-4-7 (Sidik Jatmika : 2002). Menurut Ensklopedi Musik, Penerbit Cipta Adi Pustaka ,1992. Di kalangan orang Betawi (Melayu Jakarta) juga ada istilah Melayu Joged, yang dipakai dalam kesenian tradisional Betawi, yaitu berupa lagu pengiring tari dan samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”jurus”. Ada pula istilah Melayu Lenggo, yaitu bagian dalam permainan musik tradisional Betawi, samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”saliwe”.

Pendidikan kesenian sering dihadapkan pada persoalan tidak jelasnya batasan antara mata pelajaran kesenian dan budaya (bahasa ) sehingga terjebak dengan persepsi seni adalah seni, budaya adalah budaya. Keaslian sebuah karya ini yang mendasari sebutan Pencipta meskipun terkesan terlalu berlebihan karena Pencipta yang sesungguhnya adalah Tuhan, apalagi sebuah karya rawan ditiru. Kemiripan lagu Kembang Melati dengan lirik lagu Bumi Musi Rawas, menimbulkan pertanyaan seberapa jauh seniman memadukan dan berkreasi dengan nilai-nilai sendiri.

Bumi silampari Bumi silampari
Bumi yang cindo
Tanah Musi Rawas tanah Musi Rawas
Nan aku cinte…………………

Potongan liriklagu Bumi Musi Rawas ini memiliki kemiripan dengan irik lagu Bunga Melati

Bunga Melati, bunga melati
Dari Belitong……..

Untuk mengenal lagu-lagu Belitong, Warta Praja mengupas sosok Abdul Hadi budayawan sekaligus pencipta lagu-lagu Belitong yang berupa untuk memperkuat karakter Budaya Belitong .
Abdul Hadi, anak SD mana yang tidak mengenal namanya, Ketenarannya menunjukkan keberhasilan pendidikan dalam mengangkat nilai lokal dalam. Abdul hadi dilahirkan di Tanjungpandan, 1 Januari 1935. Selain sebagai pencipta lagu, Abdul Hadi adalah guru sekolah dasar perusahaan tambang timah. Jabatan terakhir beliau, Kepala Sekolah SD,beliau telah memberikan ketajaman melihat kearifan tradisi dan pengetahuan lokal. Pemahaman itu didapatkan melalui hubungan kemasyarakatan yang dialaminya secara langsung.

Pak Hadi, sapaan murid SD UPT Bel III Air Ketekok, Tanjungpandan waktu itu adalah sosok yang mencintai budaya kampung halaman. Tak jarang keluar ungkapan istilah Belitong ketika beliau mengajar, “ Keremut “ komentar melihat muridnya menulis terlalu kecil. Bagi murid yang memiliki kepandaian menyanyi tak segan beliau jadikan mitra untuk menguji coba lagu ciptaannya. Alasan ini pula yang membuat lagu-lagu beliau mudah dicerna anak-anak usia sekolah dasar namun tidak terkesan menggurui.

Kawan-kawan banyak ragam bua bang utan
Bua kayu, bua akar, bua la utan
Sepat kelat masam manis kuang demakan
Cube dedengar benar-benar kan kusebutkan
Rukam, kiras, jemang, rangkas, keremuntingan
Landi’ melak, tungking kijang, bua sisilan
Kelinsutan, kelincakan, kelebantuian
Usa ragu usa takut silekan makan

Lirik “Bua Utan” diatas menyiratkan keinginan kuat memperkenalkan sumberdaya (tanaman) Belitong. Seorang peneliti dari IPB bahkan menjadikan lagu Abdul Hadi sebagai rujukan dalam menyusun laporan ilmiah Doktoralnya . Lagu, juga sangat potensial sebagai media sosialisasi dan edukasi. Lagu Kayu Kayan memberikan pemahaman generasi sekarang mengenai tanaman khas Belitung berikut fungsi dan kegunaan, begitu juga dengan Bua Utan memberikan penekanan pentingnya identifikasi terhadap keanekaragaman hayati yang masih ada di Pulau Belitung

Dimasa itu pengetahuan masyarakat terhadap keberagaman hayati belitong memang tidak selangka masa kini. Bisa jadi masih banyak orang yang memahami kegunaan untuk obat misalnya tetapi pendokumentasian sumberdaya hayati lewat lagu menjadikan etnobiologi tanaman Belitong dikenal luas hingga kini. Lagu Kayu Kayan memperkenalkan jenis tanaman hutan Belitong yang sekarang semakin sulit ditemukan. Seandainya Almarhum Abdul Hadi bisa hidup hingga kini bukan mustahil lagu-lagu beliau akan berbicara akan menyentuh aspek fisiologi tumbuhan, fitopatologi (penyakit tumbuhan) dan manfaat bagi kesehatan.
Kebanyakan dari kita yang hidup di era beton bertumbuh, besi penyebar sinyal HP sekarang ini menyepelekan alam.

Jemang samak pelawan kayu marak de tunu
Mendiraman mensirak kayu urang beramu
Nyato seruk pelempang idang urang mengikat
Medang lubang bedare kayu ubat besedu
Bakau nyire teruntum, kayu tumbo de sungai
Renggadaian berumbun kayu tumbo de amau
Akar ijau berebat, idang urang mengikat
Semuenye kusebut agar muda de ingat

Lirik lagu terkadang berbentuk alur cerita dan hanya sedikit karyanya yang menggunakan bahasa Indonesia. Lagu berbahasa Indonesia umumnya bersifat promosi atau untuk memperkenalkan keindahan alam Belitong ke dunia luar seperti yang termuat dalam lirik lagu Gunung Tajam dan Tanjung Kelayang . Kata-kata Belitong biasanya beliau catat dalam buku kecil, setiap kata tertulis tanggal penulisannya . Ada keinginan kuat mengemas kata-kata Belitong itu menjadi Kamus Bahasa Belitong, sayangnya beberapa hari setelah itu Abdul Hadi guru sekaligus Budayawan Belitong menghembuskan nafas terakhir.
Tentu masih banyak perjuangan Sang pendidik yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Satria Tumbang Ganti ini yang belum selesai, karena itu jangan berhenti ” Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, dan jadikan ilmu yang kita miliki berguna bagi orang sekitar kita”. Jangan sampai, kisituk endak kisinek endak buang tangga berayun kaki, sebagaimana nasehat Abdul Hadi dalam lagu Mira-Mira Pinang.(Fithrorozi)

« Halaman Sebelumnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.