Opini


Oleh Sadeli Ilyas

Umumnya, orang suka beranggapan bahwa dia cukup mengenal dirinya. Memang, siapakah yang lebih mengenal diri selain diri kita. Karena anggapan inilah, orang selalu tidak mau mempelajari tentang diri alias introspeksi diri.

Dalam sebuah literatur, Imam Al Gazali menulis “Kenalilah dirimu, niscaya engkau akan mengenal Rabb-mu”. Artinya, setelah kita mengenal diri, dalam pengetian dari mana datangnya diri, mau kemana diri, maka dengan begitu kita akan mengenal Rabb (Pencipta) kita, menjalankan perintahNya, lantas kita pun ditetapkan untuk mengenal dan berkomunikasi dengan diri orang lain. Akan tetapi, sebelum kita mengenal diri orang lain wajib kita mengenal diri atau mempelajari tentang diri dengan tujuan memperbaiki diri.

Makna mengenal diri adalah mempelajari tentang kekurangan diri dalam pengertian menyadari eksistensi manusiawi secara holistik, bahwa ia itu hidup dan eksist di tengah-tengah orang lain, dan bahkan hidup dalam alam dan lingkungan makhluk lain. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa seseorang baru dikatakan benar-benar hidup setelah ia benar-benar pula mengetahui dan menyadari dan siapa dirinya, dan apa tujuan hidup di tengah alam ini.

Proses pengenalan diri atau introspeksi diri merupakan suatu bimbingan atau pendidikan, dikategorikan sikap yang bertanggung jawab. Hal demikian dapat dirunungkan dalam kehidupan sehari-hari, bekerja atau berinteraksi sosial dengan orang-orang di lingkungan kita dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Ternyata, apa yang perbuat tidak selalu dapat diterima orang lain, sementara kita beranggapan sudah bernilai maksimal.

Untuk itu kita seyogianya mempertanyakan apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita, baik itu sikap, kemampuan, ideologi, dan bahkan aspirasi kita. Sebab, biasanya kita selalu mempunyai gambaran diri terlalu baik dengan apa saja yang dipunyai orang lain. Bahkan, kita sangat pandai berpura-pura seperti sedang action di depan kamera. Hanya ingin memperlihatkan yang baik-baik saja, pantang memperlihatkan yang buruk. Kekonyolan ini, tentulah sangat bertentangan nurani setiap manusia.

Sikap terpuji
Merenung bukanlah suatu kerugian, karena perilaku tersebut diharapkan membuat kita sadar. Kita diperintahkan menoleh ke belakang, mengoreksi diri secara tuntas. Kepribadian menuntut kita, bahwa tindakan terpuji adalah tiada jeleknya jika kita berterus terang akan kesalahan diri, dengan konsekuensi ingin merubah yang salah menuju kepada yang lebih baik.

Manfaat introspeksi diri akan membawa kita jauh ke suasana baru. Karena spirit perubahan tradisi atau kebiasaan lama yang mungkin bernilai buruk (tercela), lambat laun bisa hilang. Rasanya memang sulit merubah kebiasaan karena pengaruh alamiah kepribadian. Tetapi jika memang itu bernilai buruk, dan dapat kita tinggalkan sebaiuknya kita paksakan juga membuangnya, jika tidak berarti kita tetap saja terbuai dalam arus konservatif alias mempertahankan perilaku buruk kita.

Introspeksilah dirimu, sebelum engkau ekstrospeksi diri orang lain. Makna kata tersebut, sadarkanlah diri, pelajari diri dan binalah diri sebelum engkau mengkritik orang lain. Orang lain akan mengejek diri kita, jika kita menasihati orang lain, sementara diri kita bergelimang keburukan. Artinya, jika pandai berbicara sementara realisasi tidak ada akan menjadi bahan omongan orang yang mendengarnya. Suami/istri merintah anak-anaknya belajar sementara mereka tidak memberi contoh yang baik, misalnya ketika anaknya sedang belajar pesawat TV dimatikan, sementara kedua orang tua ikut membaca majalah atau koran. Selalu seorang ayah memerintahkan agar anaknya melaksanakan sholat, sementara ayahnya sendiri tidak mengerjakan sholat. Padahal mengerjakan perintah tersebut handaknya disertai dengan realisasi nyata.Ini merupakan contoh yang bertangung jawab.
“Mengapa engkau suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu sendiri melupakan kewajiban (dirimu sendiri) yang telah kamu nasihatkan kepada orang lain, ….Apakah kamu tidak punya pikiran” (Al-Baqarah : 42-43).

Dewasa ini tidak sedikit orang atau golongan yang tidak ambil pusing tentang perbuatan koreksi diri ini. Ucapannya berisi untuk memelihara perdamaian, dan persaudaraan tetapi tingkah lakunya selalu membuat tidak amannya suasana. Tampaknya, ada pula kecenderungan di masa sekarang di mana orang selalu ingin melupakan hal-hal yang prinsip dalam kehidupan seperti terabaikannya nilai-nilai moral dan agama karena lebih mengejar dunia dan materi. Padahal unsur keagamaan yang seharusnya dijunjung tinggi dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, kini dianggap sebagai suatu hambatan untuk maju.

Maka dari itu, dalam kondisi yang bagaimanapun juga kita mesti pegang teguh prinsip agama “Dinul Islam” dengan pengertian mempelajari dan mengamalkan, lalu menyampaikan kepada orang lain. Jadikan agama sebagai nilai dasar kehidupan agar kita terhindar dari bencana dunia dan akhirat. Melalaikan perintah Allah, berarti kita mengundang murka dan bencana. Kita saksikan tiga tahun terakhi ini banyak sekali bencana di berbagai daerah yang kita dengar dan saksikan melalui media televisi, seperti terjadi gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya. Sementara rakyat makin tertindas, kesewenangan para pemimpin, hedonisme, dan barbarisme makin diperlihatkan. Semua itu harus segera diakhiri dan tinggalkan dengan berusaha dengan kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing.

Kita wajib merubah segala apa yang mencelakakan kita, dan perubahan itu tentu akan mempengaruhi nasib kita sendiri menuju kebaikan yang hakiki. Perubahan merupakan kultur budaya manusia agar mampu meninggalkan kebiasaan yang tidak menguntungkan.

“Dia (Allah) tidak akan merobah nasib sesuatu kaum atau golongan apabila kaum atau golongan itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya” (Ar-Ra’du, 11)

Menyadari akan pentingnya mawas diri dari kekurangan, tentulah memerlukan pengorbanan. Mengamalkan introspeksi diri merupakan langkah revolusioner yang dapat membawa diri kita menuju kesempurnaan. Perbuatan koreksi diri merupakan pengakuan yang paripurna

fitrorozi-sketsaOleh Fithrorozi

Gunawan terperanggah melihat tagihan kartu kredit kreditnya membengkak 3 kali lipat dari perkiraannya semula. Sebagai pegawai jasa pelayanan perbankan yang bekerja lebih dari 15 tahun, sudah tidak wajar Gunawan tidak bisa menata kelola kredit yang dimiliki. Kemudahan memiliki kartu kredit membuat bapak dua anak ini terbiasa menggesek uang plastik itu untuk keperluan membangun rumah, cicilan motor, keperluan sekolah hingga belanja dapur.

Jasa perbankan pemberi kartu kredit menutup mata dengan kemampuan keuangan Gunawan dan banyak pengguna kartu kredit dan ketika mereka bisa melunasi hutang pokok dan bunga, perbankan terus merayu. “ jangan takut pak, kami bisa menaikkan batas kredit bapak”. Tetapi kini Gunawan terpuruk, perbankan pun balik menggertak pelanggan yang dulu dielus-elusnya dengan dengan otot besar sang debt collector. Ancaman kekerasaan hingga penyitaan aset tak pelak membuat keluarga Gunawan ciut, anak-anaknya dihantui rasa takut. Gunawan tak menyangka urusan percaya-mempercayai (perdata) akan berujung resiko pidana dari pihak bank. Kini dalam pikiran, sikap dan usaha gunawan tidak perlu lepas dari dari upaya melunasi kredit, seperti kuli tambang yang terjerat candu. Sesungguhnya hidupnya, matinya hanya untuk melunasi hutang.

Kenapa perbankan memilih orang tak mampu

Lagi, kredit menjadi petaka manusia. Kali ini bukan menghantam individu seperti Gunawan, tetapi negara. subprime mortage, yaitu perbankan di Amerika Serikat memberikan kredit rumah kepada orang-orang yang tidak bonafid atau tidak layak memperoleh kredit seperti halnya Gunawan. Keluarga muda yang ingin mendapat rumah dengan memanfaatkan kredit konsumtif namun tidak macet ditengah jalan menjadi pangkal petaka dunia. Dan laju pertumbuhan kredit konsumtif ini meninggalkan kucuran kredit produktif yang ditinggal jauh kebelakang.

Sementara investor tak kalah berperan membangun kubah racun seperti ledakan bom atom dikarenakan para investor asing banyak menanamkan modalnya di luar negeri dalam bentuk saham.Para investor asing menjual saham-sahamnya di Bursa Efek di Indonesia karena mereka membutuhkan uangnya di negara masing-masing. Saham-saham yang diperdagangkan dengan mekanisme judi ini memberikan indeks semu namun tidak mampu membuat output yang melibatkan tenaga kerja yang banyak, Karena itu tingginya pertumbuhan ekonomi tidak mampu menurunkan angka pengangguran. Struktu ekonomi ditopong oleh sector keuangan yang tidak mampu menggerakan sector riil. Parahnya usaha dengan skala kecil yang mampu membangun rantai produksi merasa tidak dipercaya oleh perbankan sebagai pemilik modal. Mereka kalah dengan pengusaha berdasi yang menitipkan “uang samping” dari belakang. Padahal dasi-dasi ini menutup ketidakmampuan mereka membayar dan menggunakan uang pinjaman. Tak jelas usaha mereka, tak perlu diawasi karena kesan pertama mereka begitu menggoda.

Uang tidak lagi alat tukar begitupun fungsi intermediasi perbankan tidak memberi ruang gerak usaha karena uang-uang tersebut hanya diperdagangkan ditangan-tangan kapitalis, pemodal besar. Peran perbankan bukannya mendorong usaha rakyat tetapi malah memakan riba dari para kapitalis yang asyik berjudi.

Uang rupiah hasil penjualannya dibelikan dollar, yang mengakibatkan nilai rupiah semakin terpuruk. Akibatnya biaya produksi yang menggunakan bahan baku impor meningkat. Biaya bahan baku yang tinggi selanjutnya menekan biaya tenaga kerja, hingga gaji buruh tak kunjung naik diatas batas minimum. Sementara bahan baku yang kita ekspor pun tidak banyak memberikan manfaat bagi daerah. Karena ini itu Gubernur mengeluarkan maklumat untuk memperkuat daya tawar daerah dikancah perang harga di pasar dunia. Berpegang pada maklumat itu, penambang resah karena usahanya dibatasi meski Gubernur menegaskan dalam Rakor Gubernur dan Bupati di Pangkalpinag ini hanya bersifat himbauan.

Krisis moneter tahun 1998 secara kebetulan mendorong kenaikan harga lada dalam rupiah tetapi ini bukanlah hasil dari penguatan daya tawar, tetapi lagi-lagi ini simpul keterkaitnan perekonomian daerah pulau seperti Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah harga yang tidak dikendalikan dari daerah. Wajar jika Gubernur mengajak pelaku usaha untuk meningkatkan daya tawarnya meski pasar yang dihadapi itu adalah pasar global.

UKM Benteng perhatian dalam era krisis

Usai KTT Asia-Eropa (ASEM) ke-7 yang dihadiri 43 kepala negara/pemerintahan dan dua organisasi internasional yang berlangsung 24-25 Oktober 2008 di Beijing China,yang menyepakati bahwa para anggota harus mengupayakan sistem moneter dan kebijakan ekonomi yang kuat guna menghadapi krisis finansial serta demi meyakinkan pasar.

Sumber pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh tingkat konsumsi, investasi, belanja pemerintah (APBN/APBD) dan perdagangan luar negeri (ekspor dan impor). Sayangnya hambatan investasi tidak saja disebabkan oleh factor keuangan tetapi konflik sehingga investasi tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain konsumsi masyarakat pun rendah akibatkan rendahnya pencipataan lapangan usaha dan terbatasnya lapangan kerja. Sehingga wajar dalam pembahasan di Gedung DPRD dan Rakor Gubernur dengan Bupati se-Provinsi Bangka Belitung, 3 Desember yang lalu di Pangkalpingan, Gubernur mengangkat persoalan krisis ekonomi dunia sebagai bagian pembahasan rancangan anggaran pendapatan dan belanja. Karena komoditas perdanganan utama yakni timah mengalami penurunan yang tajam.

Presiden Yudhoyono menegaskan, sistem ekonomi Indonesia sudah teruji sejak krisis moneter sepuluh tahun lalu. Salah satu sumber ketahanan itu adalah kemampuan UKM meningkatkan daya serap produk lokal dan menciptakan pasar sendiri. Pasar terbentuk dari keinginan yang kuat untuk menciptakan produk dalam negeri justru berangkat dari persoalan tradisi lokal. Sayangnya sebagian masyarakat masih saja terpengaruh citra serba hebat produk asing. Sehingga produksi lokal diabaikan masyarakat pembeli.

Dalam hal ini baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat diharapkan tidak saling menyalahkan. Pemerintah berperan dalam menggerakan lapangan usaha dengan meningkatkan efektifitas belanjanya, sementara usaha berperan dalam menarik muatan produk lokal sehingga perputaran uang yang disalurkan lewat APBN atau Dana Alokasi Umum tidak dilarikan kembali ke pusat.

Karena itu sistem ekonomi Indonesia yang teruji hendaknya berpijak pada usaha desentralisasi fiscal yang efektif . Dengan jumlah penduduk yang begitu besar semestinya kita mampu menciptakan pasar domestik sebagai mesin transaksi andal.

Bercermin dari rendahnya kemampuan perbankan konvensional dalam mendorong usaha kerakyatan, sudah saatnya kita mengalihkan kembali pola bagi hasil yang menjadi penyaluran kredit digunakan secara optimal oleh pelaku usaha. Rasa memiliki usaha oleh pelaku usaha dan pemberi modal ini akan memimalisir prktek-prktek riba (catutan) dalam dunia usaha.

Peran pemerintah
Rantai kapitalisme menawarkan kemudahan-kemudahan membuat mesin kapitalisme berputr yang didukung oleh teknologi informasi yang realtime sehingga orang tidak susah membawa uang tunai, antri membayar tagihan listrik bulanan. Kemudahan ini merambah ke perilaku berkonsumsi. Gaya hidup konsumtif inilah yang merubah mental masyarakat yang senang berhutang. Gaya hidup kredit membangun citra amanah manusia modern, kemana pun belanja orang percaya dirinya memiliki banyak simpangan. Namun batas-batas (kredit) yang ditetapkan tak jarang dilanggar baik oleh pemberi kredit (perbankan) mamupun pemegang kredit itu sendiri.

Dengan mempertimbangkan perilaku konsumsi masyarakat, hambatan investasi dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan komoditas ekspor yang tidak memiliki daya tawar yang kuat. Oleh karena itu pemerintah daerah mesti mengambil peran. Pertama, pada awal tahun anggaran 2009 nanti, pemerintah daerah diharapkan segera merealisasikan belanja pembangunannya.. Dengan segeranya pemerintah membelanjakan dana pembangunan tersebut, roda perekonomian akan dapat berjalan. Dengan catatan transaksi keuangan yang terjadi didaerah menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.Selain itu, Kedua. Pemerintah Daerah diharapkan dapat mendesak pihak perbankan di daerah untuk menjalankan fungsi intermediasi agara kredit usaha masyarakat menjadi modal usaha yang efektif. Ketiga, pemerintah harus memahami kondisi permodalan sehingga kredit usaha tidak terjerat dengan bunga bank yang berkepanjangan, Jaminan likuiditas keuangan usaha masyarakat ini dilakukan dengan kemudahan proses dan cepatnya waktu pencairan yang mereka ajukan

Dalam rapat paripurna yang dihadiri oleh seluruh menteri kabinet Indonesia bersatu (KIB), kalangan dunia usaha dan juga pimpinan media massa nasional, di gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (13/10/08), Presiden menegaskan 10 langkah yang harus ditempuh semua pihak untuk menghadapi krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat (AS), sehingga tidak berdampak buruk terhadap pembangunan nasional sebagaimana di kutip dari Harian Kompas (6/10).

Pertama, Terus memupuk rasa optimisme dan saling bekerjasama sehingga bisa tetap menjagar kepercayaan masyarakat.

Kedua,Pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen harus terus dipertahankan antara lain dengan terus mencari peluang ekspor dan investasi serta mengembangkan perekonomian domestik.

Ketiga,Optimalkan APBN 2009 untuk terus memacu pertumbuhan dengan tetap memperhatikan social safety net dengan sejumlah hal yang harus diperhatikan yaitu infrastruktur, alokasi penanganan kemiskinan, ketersediaan listrik serta pangan dan BBM.

Keempat, Kalangan dunia usaha diminta tetap mendorong sektor riil agar dapat bergerak. ”Bila itu dapat dilakukan maka pajak dan penerimaan negara bisa terjaga dan juga tenaga kerja dapat terjaga.  BI dan perbankan nasional harus membangun sistem agar kredit bisa mendorong sektor riil. Pemerintah juga akan menjalankan kewajibannya untuk memberikan insentif dan kemudahan secara proporsional.

Kelima, Semua pihak agar lebih kreatif menangkap peluang di masa krisis antara lain dengan mengembangkan pasar di negara-negara tetangga di kawasan Asia yang tidak secara langsung terkena pengaruh krisis keuangan AS. ”Kita harus mendorong produk kita agar kompetitif dan memiliki daya saing yang baik,” katanya.

Keenam, Galakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat. ”Kepada para menteri saya minta untuk memberikan insentif dan disinsentif agar penggunaan produk dalam negeri dapat meningkat, kalau perlu juga akan dikeluarkan instruksi agar pengadaan barang dan jasa di departemen mengutamakan produk dalam negeri,” kata Presiden.

Ketujuh, Perkuatan kerjasama lintas sektor antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia perbankan serta sektor swasta. ”Cegah timbulnya ketidakpercayaan dan saya ingatkan semua pihak memiliki peran yang penting,” ujarnya.

Kedelapan, Semua kalangan diminta menghindari sikap ego sentris dan memandang remeh masalah yang dihadapi. ”Hilangkan budaya ego sentris dan juga kebiasaan ’bussines as ussual’,” tegasnya.

Kesembilan, Berkait dengan tahun politik pada 2009, semua pihak diminta memiliki pandangan politik nonpartisan serta mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan maupun pribadi termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik.

Kesepuluh,Semua pihak diminta melakukan komunikasi yang tepat dan baik pada masyarakat.  Tak hanya pemerintah dan kalangan pengusaha serta perbankab.

Oleh H.N.Dewantara Rachim

Siapa yang tidak tahu Laskar Pelangi? Saya rasa semua urang Belitong di Jakarte sudah menonton film ini. Dan sampai sekarang, saya lum juak bace bukunye. Demam buku dan film merebak ke semua hal. Ketenaran buku itu bahkan sampai dicontek desain kover oleh buku ‘Rumah Pelangi’. Semangat buku yang bercerita tentang pendidikan, pun juga menggerakkan kru warnaislam untuk menggelar acara Lebaran Bareng Anak Yatim dengan salah satu acara yaitu nonton Laskar Pelangi, Sabtu 4 Oktober 2008 lalu.

Apa yang awalnya oleh Andrea Hirata ditulis sebagai catatan pribadi, bukan sebuah buku yang mau dipublikasikan, akhirnya menjadi fenomenal. Disebabkan keisengan temannyalah, yang mengirimkan naskah buku itu ke penerbit yang lalu oleh penerbit itu disetujui untuk diterbitkan. Dan yang menakjubkan, baru beberapa minggu sudah cetak ulang dan terus sampai sekarang. Keberkahan buku itu kini tidak saja dituai Andrea Hirata dan penerbit serta penjual buku itu. Kini film yang diproduksi oleh Miles Productions pun sudah menuai keberkahannya. Angka 1,3 juta penonton sudah tembus. Penonton selalu antri, berdasarkan laporan teman-teman yang mau nonton film itu. Dan beruntung saya menonton film itu selang sehari setelah film itu beredar. Itu juga lewat jalur khusus tanpa harus mengantri.

 

Transtivi Mengulas Belitung

Kemarin Ahad 12 Oktober 2008, saya melihat di Transtivi tema Belitung dan Laskar Pelangi diangkat dalam acara Cerita Anak pukul 07.30 WIB. Dalam acara itu dibahas tentang Belitung saat ini, dengan kejayaan masa lampau saat timah masih mahal dan hasil dari pulau Bangka-Belitung itu merajai dunia. Dalam acara yang juga dipandu oleh anak-anak para pemain film Laskar Pelangi, diceritakan juga saat itu dimana kemudahan mendapatkan uang dengan menambang timah, walau secara liar, itu lebih menarik bagi mereka daripada bersekolah. Sampai saat ini pun, anak-anak yang tinggal dekat ‘kolong’, sebutan tempat bekas penambangan, itu masih sering digali anak-anak sepulang sekolah. Dengan mendapatkan 2 kilogram timah, maka uang yang didapat sejumlah 160 ribu rupiah. Sape tak mau?

Saat ini pulau Belitung menuai keberkahan dari buku dan film tersebut. Saya sendiri juga mendapat keberkahan karena tulisan saya tentang Laskar Pelangi sampai saat tulisan ini dipublikasikan, sudah dibaca oleh 500 orang. Ulasan teman-teman penulis lainnya yang mengulas tentang film itu juga banyak dibaca ratusan orang.

Di Belitung Timur, pemda setempat membuat ‘Tur Laskar Pelangi’, dimana tempat-tempat yang disebutkan dalam buku itu dan juga lokasi syuting, replika sekolah, semuanya bisa dilihat dalam satu paket. Saya belum tahu seperti apa, karena saya sendiri belumlah ke sana. Insya Allah jikalau tidak ada halangan, bulan ini saya bisa ke sana atas undangan pengurus situs wartapraja.com yang ingin agar situs mereka bisa tampil lebih baik sebagai portal berita Belitung daripada sekedar blog. Tapi, sebenarnya portal macam warnaislam ini justru saya bangun berdasarkan konsep blog. Jadi mungkin nanti tepatnya saya desain ulang tata letak situs itu agar tampil seperti portal.

 

Halal Bihalal Babel

Sebuah undangan bersampul putih berlogo kepulauan Bangka Belitung datang ke rumah saya. Oh rupanya undangan acara Halal Bihalal. Orang tua saya diundang oleh Pemprov Babel (Bangka Belitung). Hal ini karena bapak saya memang asli urang Belitong dan kontribusinya, menurut saya, cukup besar bagi Belitung. Karena mereka berdua telah tiada, jadilah saya yang menggantikan untuk hadir di sana. Acara ini adalah sebuah acara tahunan yang biasa diselenggarakan beberapa hari setelah lebaran. Dalam acara itu saya sempat foto-foto. Tapi karena saya hanya punya kamera ala kadarnya, jadi hasil yang diharapkan jauh dari memuaskan. Yah, yang penting ada dokumentasi dari kegiatan ini.

Dalam undangan tertera acara dimulai jam 9 pagi. Tapi teknisnya jam 10 lah baru dimulai. Saya datang bersama Nabila, anak saya. Kami berdua naik taksi, karena memang sudah terlambat berangkat dari Rempoa. Sempat saya mengambil dulu topi berlogokan warnaislam. Yah, sekalian mempromosikan bahwa saya punya situs bagus dimana saya jadi penulisnya dan acara ini mau saya ‘liput’ untuk dituliskan di WI.

Foto ini saya ambil dari balkon atas. Anak saya yang mengajak untuk duduk di sana. Tapi begitu tahu bahwa para pemeran Laskar Pelangi duduk di bawah, serta merta dia minta untuk pindah ke bawah. Tapi, menurut dia, kan yang duduk di bawah hanya undangan VIP? Saya bilang bahwa undangan kita kapasitasnya bisa duduk di bawah. Jadilah kami berdua pindah duduk di bawah.

Sebenarnya sih, yang dibilang vip hanyalah tiga deretan terdepan. Itu ditandai dengan ada bangku sofa yang beda dengan bangku biasa di deretan berikutnya. Nah, sementara para pemeran film Laskar Pelangi duduk tidak dideretan VIP. Saat hadirin tahu bahwa mereka juga ada diundang, berduyun orang bergantian mendatangi mereka untuk foto bersama. Saya juga menyuruh Nabila untuk ikut foto bersama. Tapi karena memang dia pemalu, jadilah dia menolak untuk itu. Satu keputusan yang sangat dia sesali, bahkan sampai di rumah pun dia berulang-ulang menyesali kenapa tidak mau foto bersama.

Acara selama satu jam pertama terasa membosankan, karena diisi oleh tiga hal : sambutan, pidato dan ucapan selamat. Dalam sambutan dan pidato, disebutkan tentang apa yang telah dicapai dan apa yang kini dicita-citakan oleh para pemimpin provinsi ini. Silih berganti mereka menyampaikan. Saya agak kurang memperhatikan karena saya malah sibuk bertemu dengan teman dan saudara dari bapak saya. Sembari saya memperkenalkan diri, kalau-kalau mereka lupa. Wajah-wajah mereka tidaklah asing bagi saya, sementara mereka tentu tidak ingat karena dulu mereka datang sewaktu sama masih remaja. Tapi begitu saya sebutkan, ‘Saya Dewan, anak Alex A. Rachim’ langsung mereka ingat dan menyambut hangat salam saya. Enak juga ya jadi anak orang terkenal? Apalagi dikenal orang karena kebaikannya, ciee.

Saya bertemu dengan Marta Sanjaya, sekretaris IKMB (Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung) dan bendahara IKMB, ibu Heldi. Ibu Heldi ini ternyata juga pengurus majalah Wartapraja . Dia mengingatkan saya bahwa Ahad, tanggal 26 besok ada acara Halal Bihalal IKMB di Departemen Kehakiman. Lho, apa bedanya dengan yang sekarang? Yang jelas, ini acara dari Pemprov Babel sementara tanggal 26 acara urang Belitong. Dan karena bapak saya juga dulu pengurus IKMB, so pasti diundang juga. Cuma kok sampai hari ini belum sampai ya, undangannya? Last minute mungkin.

Saya dan Marta bicara-bicara tentang masa depan pendidikan Belitung. Saat bulan Agustus lalu, Marta dan beberapa rekan dari Belitung menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa Belitung yang mana beasiswa itu didapat dari sponsor. Tujuannya agar mahasiswa berbakat dan berprestasi asal Belitung bisa berkuliah dengan nyaman tanpa harus dipusingkan oleh biaya.

Saat bertemu Marta, saya juga bertemu dengan Kepala Diknas Belitung di Tanjung Pandan, pak Marsudi. Kebetulan pula saya sempat melihat pak Marsudi ini di Transtivi. Jadi kloplah pembicaraannya.

Tema pendidikan juga menjadi isi baik novel maupun film Laskar Pelangi. Dan cerita tentang bagaimana anak-anak kurang berada itu berusaha keras untuk bisa menimba ilmu dalam keterbatasan mereka, menjadi menarik. Seandainya Laskar Pelangi melulu isinya tentang cerita cinta-cintaan atau lucu-lucuan atau serem-sereman, saya tidak yakin bahwa Babel terutama Belitung akan menjadi seterkenal sekarang.

 

Laskar Pelangi

Akhirnya tibalah para pemeran film Laskar Pelangi itu dipanggil untuk naik ke panggung. Dengan sigap mereka beramai-ramai menuju panggung. Kesebelas anak-anak ini, dulunya mereka hanyalah anak-anak biasa. Mereka lolos audisi menyisihkan 3500 peserta lainnya. Nabila hanya berkomentar satu, mereka tidak setinggi yang ia bayangkan dalam film. Iya juga sih.

Saat ditanya kepada yang memerankan Ikal, bagaimana rasanya sekarang menjadi orang terkenal, dengan spontan ia menjawab ‘Tidak enak!’ Bisa dimaklumi, karena memang menjadi selebritis berarti hilang segala privasi. Dulu ia bisa berjalan-jalan dengan seenaknya tanpa harus merasa bahwa semua mata tertuju padanya. Tapi kini hal itu tidak lagi dimungkinkan. Kemanapun mereka berjalan, mereka sudah menjadi bagian publik. Mereka harus siap menerima sambutan yang mulai dari sekedar dicolek-colek sampai dimintai tanda tangan dan foto bersama.

Dari Presiden SBY, mereka mendapatkan banyak bingkisan dan juga mendapatkan kompyuter, demikian ‘Ikal’ mengatakannya. Ya, keberkahan atas film ini merambah mereka semua.

Satu hal yang ‘kurang’ mnenurut saya, Andrea Hirata tidak hadir. Bukan karena saya mau minta tanda tangan dia, hehehe.. Hanya, yah.. saya ingin melihat saja, bagaimana tanggapan dia atas ‘ketidaksengajaan’ ini. Memang sih, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah Allah yang mengaturnya. Tapi, sebagai sebuah kebetulan, efek domino dari novel maupun film ini terasa begitu besar. Kegamangan mungkin terjadi, baik dalam diri Andrea maupun anak-anak pemeran film itu.

Yang menjadi ganjalan saya juga, yang hadir ini kan anak-anak pemeran film. Saya justru ingin sekali bertemu dengan Lintang, Mahar, Samson dll yang aslinya. Karena merekalah yang juga menjadi inspirasi bagi Andrea. Juga ibu Muslimah, guru yang sangat dicintai anak-anak itu, motivator belajar mereka untuk mencapai cita-cita setinggi bintang di langit.

Tapi, nggak dapet aslinye, lumayan dapet bajakannye. Ada seorang teman minta sama saya untuk mendapatkan filmnya. Saya tanya, maksudnya apa? Dia bilang ada nggak link untuk mengunduh (download) film itu? Saya jawab, ada sih. Tinggal kirim imel ke Miles untuk minta link-nya. Yah, nanti adalah sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi dan angka-angka yang harus dibicarakan. Lha wong tinggal nonton di bioskop, layar lebar, palingan cuma bayar 15 ribu. Pelit amat sih, buat nonton karya bangsa sendiri. Lagi pula film ini lebih asyik nonton di bioskop daripada cuma melototin layar monitor.

Acara ditutup dengan suguhan tari dan lagu. Lagi-lagi menjadi satu ganjalan. Nabila bilang, kenapa tidak grup band Nidji, yang tampil membawakan soundtrack film itu yang tampil? Malahan yang tampil adalah Andre Hehanusa dan grup musiknya. Tapi penampilan Andre yang satu ini sangat menghibur dan tidak mengecewakan. Berulang kali Andre minta agar bisa diundang ke Belitung. Yah, mungkin Laskar Pelangi jilid 2 nanti, Andre yang membuatkan soundtrack.

Saat menyanyi itu, tiba-tiba Andre memanggil Gaby, salah seorang peserta Indonesian Idol yang rupanya dia adalah anak Bangka. Andre mengajak Gaby ini untuk berduet bersama menyanyikan lagunya Andre. Wah, menjadi makin menarik acara nyanyi. Dan memang Gaby yang lahir di Bangka tahun 89 dan ketika berumur 3 bulan sudah dibawa ke Bandung dan menetap di sana, suaranya lumayan dan pantas untuk ikut acara macam Indonesian Idol itu.

 

Saya sempat foto bersama dengan Wakil Gubernur Babel, Syamsudin Basari yang biasa saya panggil Bang Sam. Beliau ini masih terhitung dua pupu dari pihak keluarga bapak saya. Yah, dengan kamera ala kadarnya, seperti ini fotonya yang bisa didapat.

Di antara tamu-tamu yang hadir, rupanya ada juga seorang pesulap terkenal yang dia ternyata orang Bangka juga. Namanya Adri Manan yang saat itu datang sendiri karena istrinya, penyanyi Rani, sedang berada di tempat lain untuk satu keperluan. Lagi-lagi dengan kamera ala kadarnya, jadilah foto pas-pasan ini.

 

Penutup

Semoga apa yang saat ini tampak sebagai euphoria, kegembiraan sesaat, atau malah culture shock, gegar budaya, yang dialami baik para pemeran maupun kesiapan Bangka Belitung untuk ‘bangkit kembali’ dari sisi budaya dan pariwisatanya, itu bisa ditanggapi dengan sigap oleh pihak pemda terutama dinas pariwisatanya.

Sayang jikalau momentum akibat meledaknya film ini malah tidak bisa dikelola dengan baik oleh pihak-pihak terkait. Saya sedih mendengar cerita dari sepupu saya di Belitung yang mengatakan bahwa justru film Laskar Pelangi ini tidak bisa dinikmati oleh urang Belitong. Kenapa bisa begitu, karena di Belitung sendiri, terutama Tanjung Pandan, itu tidak ada bioskop..! Gedungnya sudah dihancurkan dan sudah diganti dengan gedung lain. Hal itu memang bisa terjadi karena budaya masyarakat Belitung yang mungkin tidak terlalu suka nonton di bioskop.

Melalui sepupu saya yang bekerja di 21, saya coba tanyakan apa ada kemungkinan untuk misalnya seseorang di Belitung menyewa film itu dan diputar di sebuah gedung misalnya, atau malah jadi layar tencep. Karena kemarin ada seorang yang mempunyai posisi cukup di Belitung, berniat untuk menlakukan hal itu. Yah, insya Allah semua niat baik itu bisa terlaksana, sehingga urang Belitong juga bisa menikmati film itu.

Ada yang memberikan komentar bahwa sekarang Belitung sedang menikmati masa ketenaran. Tapi ia juga menyinggung bahwa jangan lupa, DN. Aidit itu juga orang Belitung. Memang benar sih, bahwa Aidit itu orang Belitung. Tapi, sebagaimana Hitler dengan Nazi-nya, kan tidak serta merta orang Jerman itu Nazi, sebagaimana juga kebetulan cuma Aidit yang ikutan PKI. Bukan berarti semua orang Belitung itu PKI dong..

Semoga bermanfaat, apa yang saya tuliskan ini..

 

Sumber http://warnaislam.com, Senin, 13 Oktober 2008 02:41

 

Oleh HP Hasido

Parpol peserta pemilu 2009 telah dipastikan akan diikuti oleh 44 Parpol. 40 partai nasional dan 4 partai lokal telah siap bersaing mengambil hati para pemilih di Pemilu 2009 yang sudah berada di depan mata. Bahkan, masa kampanye sudah dimulai sejak sekitar lebih dari sebulan yang lalu (8 Juli 2008). Dalam menarik simpati rakyat Indonesia, parpol parpol tersebut secara garis besar menjadikan ideologi dan kader serta utusan mereka sebagai penyalur aspirasi rakyat Indonesia yang plural. Parpol parpol tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian besar bila dilihat dari ruang lingkup pemilu, yaitu partai nasional yang berhak dipilih oleh seluruh rakyat indonesia di 33 provinsi di seluruh Indonesia dan partai lokal yang hanya menjadi peserta pemilu di NAD (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) saja. Partai partai nasional tersebut telah mengambil nomor urut dari nomor 1 hingga 34 dan nomor urut 41 hingga 44, sedangkan partai lokal yang hanya mengikuti pemilu di daerah otonomi khusus NAD yang berjumlah 6 Parpol mengambil nomor urut 35, 36, 37, 38, 39 dan 40.

Bila Parpol tersebut dibedakan berdasarkan persyaratan administratif yang dipenuhi sebagai peserta Pemilu 2009, maka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu Parpol yang telah dipastikan lolos sebagai peserta Pemilu yang berjumlah 16 parpol. Parpol parpol tersebut adalah pemilik kursi di Senayan dari hasil Pemilu 2004 lalu. Sedangkan yang kedua adalah Parpol yang lulus verifikasi KPU sebanyak 18 parpol. Parpol tersebut dinyatakan lulus oleh KPU karena telah memenuhi standar yang telah ditentukan undang-undang (UU) Pemilu dan ketiga adalah 4 parpol yang cukup ‘meramaikan’ suasana Pemilu dengan memenangkan gugatan mereka kepada KPU di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) terkait keputusan KPU yang tidak meloloskan Parpol parpol tersebut. Parpol parpol di atas tidak termasuk Parpol lokal.

Bila dibedakan berdasarkan ideologi atau asas yang dianut Parpol parpol tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Parpol peserta pemilu mengambil dua ideologi dasar yang sudah dikenal rakyat Indonesia sejak Indonesia baru mengecap kemerdekaan, yaitu ideologi yang nasionalis dan Islamis serta ideologi yang telah ‘dimodifikasi’ sedemikian rupa, yang menjadikan ideologi yang dipakai seolah nasionalis, atau seolah islamis, bahkan ideologi yang seolah nasionalis islamis atau islamis nasionalis. Sebenarnya rakyat Indonesia cukup familiar dengan satu ideologi lagi yang telah absen dari perpolitikan Indonesia sejak ditetapkannya sebagai ideologi terlarang dengan adanya TAP MPRS No : XXV/MPRS/1966, yaitu ideologi komunis. Meskipun, sebagian kalangan berpendapat bahwa masih terdapat bibit bibit kecil ideologi komunis di beberapa partai yang menjadi peserta Pemilu 2009.

Berikut adalah Parpol yang berasaskan nasionalis dan atau Pancasila beserta nomor urutnya; nomor 2. PARTAI KARYA PEDULI BANGSA, nomor 3. PARTAI PENGUSAHA DAN PEKERJA INDONESIA, Nomor 4. PARTAI PEDULI RAKYAT NASIONAL, nomor 5. PARTAI GERAKAN RAKYAT INDONESIA RAYA (GERINDRA), nomor 7. PARTAI KEADILAN dan PERSATUAN INDONESIA, nomor 9. PARTAI AMANAT NASIONAL (PAN), nomor 11. PARTAI KEDAULATAN, nomor 12. PARTAI PERSATUAN DAERAH (PPD), nomor 14 PARTAI PEMUDA INDONESIA (PPI), nomor 16. PARTAI DEMOKRASI PEMBARUAN, nomor 17. PARTAI KARYA PERJUANGAN, nomor 19. PARTAI PENEGAK DEMOKRASI INDONESIA, nomor 20. PARTAI DEMOKRASI KEBANGSAAN, nomor 21. PARTAI REPUBLIK NUSANTARA (RepublikaN), nomor 22. PARTAI PELOPOR, nomor 23. PARTAI GOLONGAN KARYA, nomor 25. PARTAI DAMAI SEJAHTERA (PDS), nomor 26. PARTAI NASIONAL BENTENG KERAKYATAN INDONESIA, nomor 28. PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN, nomor 30. PARTAI PATRIOT, nomor 31. PARTAI DEMOKRAT, nomor 32. PARTAI KASIH DEMOKRASI INDONESIA dan nomor 33. PARTAI INDONESIA SEJAHTERA.

Dan Parpol peserta pemilu 2009 yang menyatakan berasaskan Islam beserta nomor urutnya adalah; nomor 8. PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS), nomor 18. PARTAI MATAHARI BANGSA (berasas Islam berkamajuan), nomor 24. PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (PPP), nomor 27. PARTAI BULAN BINTANG, nomor 29. PARTAI BINTANG REFORMASI, dan nomor 34. PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA (yang berasaskan Islam ahlu sunnah wal jamaah).

Sebagaimana dipaparkan di atas, terdapat pula parpol peserta Pemilu yang memiliki asas tanpa embel embel ideologi yang tidak menyatakan apakah Parpol tersebut berasas Nasionalis atau berdasarkan Pancasila atau Islam, namun memiliki visi misi yang disampaikan untuk menunjukkan komitmen mereka sebagai parpol yang mampu berperan bagi Bangsa Indonesia. Parpol parpol tersebut, beserta nomor urutnya adalah; nomor 1. PARTAI HANURA (yang berasas, ciri dan bervisi misi; Ketakwaan, Kemandirian, Kebersamaan, Kerakyatan, Kesederhanaan), nomor 6. PARTAI BARISAN NASIONAL (yang berasas pemuda), nomor 13. PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (PKB) tidak menyatakan asas yang jelas, namun memiliki visi misi yang nasionalis dan agamis karena berbasis massa NU, nomor 15. PARTAI NASIONAL INDONESIA MARHAENISME (yang berasaskan Marhaenisme ajaran Bung Karno), nomor 10 PARTAI PERJUANGAN INDONESIA BARU (yang hanya memberikan penyampaian visi misi yang bersifat nasionalis).

Hingga saat ini, proses pendaftaran partai untuk pemilu 2009 yang telah ditutup KPU masih menyisakan masalah di sana sini, terdapat beberapa partai yang tidak lolos sebgai peserta Pemilu mengajukan gugatan dan keberatannya kepada KPU dan atas keputusan PTUN, telah 4 partai tambahan yang sebelumnya dinyatakan belum sah sebgai peserta Pemilu 2009 disahkan oleh keputusan PTUN. Keempat partai tersebut akhirnya ditetapkan menjadi peserta pemilu. Namun meskipun telah memiliki nomor urut, namun keterangan tentang keempat partai tersebut masih sangat sulit untuk didapat karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh KPU, keempat partai tersebut ialah; PARTAI MERDEKA yang mendapatkan nomor urut 41, PARTAI PERSATUAN NAHDLATUL UMMAH INDONESIA mendapat nomor urut 42, PARTAI SARIKAT INDONESIA mendapat nomor urut 43, dan PARTAI BURUH yang mendapat nomor urut 44. Menurut opini penulis, selain PARTAI PERSATUAN NAHDLATUL UMMAH INDONESIA yang berasas Islam, ketiga partai lainnya berasaskan Nasionalis atau Pancasila.

Banyak partai banyak pilihan, mungkin demikian apa yang ada dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan, meskipun jumlah partai di Indonesia selalu ‘melimpah’, bahwa pada kenyataannya, sebagian dari Parpol parpol tersebut, mau tidak mau akan hanya sekedar menjadi peramai pesta demokrasi di Indonesia semata (tentu saja, tidak ada yang melarang sebuah pesta—dalam hal ini, pesta demokrasi—untuk diramaikan). Hanya saja, keramaian ini justru relatif terlalu ‘ribut’. Dalam keramaian dan keributan ini seperti inilah, yang patut menjadi perhatian adalah bahwa terdapat dua kelompok model pemilih; rakyat Indonesia yang memilih berdasarkan pertimbangan terhadap pilihan mereka. Pertimbangan yang didasarkan pada fakta yang dilihat maupun yang mereka rasakan maupun pertimbangan yang didasarkan dari penilaian pemilih tersebut setelah mempertimbangkan visi misi maupun janji janji rasional atau bahkan harapan harapan yang tidak rasional sekalipun. Di antara pemilih adalah pemilih rasional yang hanya menjadi bagian kecil saja dari bagian terbesar dari rakyat Indonesia, yaitu para pemilih emosional, demikian penulis menyebutnya.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah ideologi partai yang seharusnya menjadi dasar alasan utama seorang kontituen memilih partai tersebut memang telah dipahami oleh rakyat Indonesia, ataukah belum? Bagi partai besar, perkara pemilih rasional ataupun tidak bukanlah hal yang sulit dan rumit. Bisa dibuktikan pada hasil pemilu 2004, bahwa GOLKAR, PDI (yang meskipun telah menjadi PDI perjuangan) dan PPP ternyata masih menduduki peringkat teratas (atau lima besar). Ini menandakan, bahwa Partai Partai Politik besar tidak mudah kehilangan para simpatisan lamanya (tanpa harus menyesuailkan dengan atmosfer reformasi kala itu) semisal Partai Golkar yang tercatat sebagai pengusung ideologi Orba.

Sedangkan bagi partai partai gurem atau sebagian partai baru, sebagian memang sedang berkembang pesat dengan bermodalkan semangat pembaharuan atau reformasi. Namun sebagian masih disibukkan dengan bolak balik KPU, dan sebagian yang lain masih kesulitan untuk mendapatkan kucuran dana untuk sekedar urusan kaos atau menjaring kader kader di seluruh pelosok Indonesia. Sebagian malah masih berharap banyak dari partai partai besar yang telah terpecah, sebut saja, PBR yang pecahan PPP, Partai Hanura yang mencitrakan diri sebagai pecahan Golkar, dan partai lain yang mencitrakan dirinya sebagai pecahan partai besar tertentu demi mengambil massa. Mayoritas dari partai peserta pemilu di Indonesia adalah kategori Gurem, bahkan sebagian bisa dikategorikan masuk dalam kategori sempalan.

Sepintas, keadaan ini tidak jauh berbeda dengan pemilu pemilu yang telah dilalui Indonesia sejak masa reformasi (Pemilu 1999), pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang berperan dalam politik praktis dengan aktif di parpol, masih memandang partai seakan menjadi tempat ‘iseng iseng berhadiah semata’. Dengan kata lain, rakyat Indonesia tidak menjadikan ideologi partai tersebut sebagai landasan dan pilihan pada Parpol tersebut. Bisa jadi, inti persoalannya karena semua perkara hati, batah atau tidak betahnya, membuat mood atau tidaknya, harapan yang tersimpan di hati inilah yang menjadi dasar pilihan pada Parpol panutan. Bahkan, cukup beralasan bila ternyata urgensitas visi misi dan ideologi partai ditetapkan di urutan belakang prioritas. Apakah semua ini adalah pemandangan yang menunjukkan bahwa batas pemahaman kader dan para pemilih yang memberikan suara dan peran serta demi mendapatkan hak demokrasi mereka dengan wadah partai? Atau mungkin hanya merupakan wadah untuk macam macam latar belakang dari demonstrasi (mulai dari demonstasi visi misi dan janji janji, hingga demonstrasi pinggul) atau jangan jangan hanya ‘demi nasi’ semata, di mana bukan rahasia lagi, di mana mana, bahwa partai dijadikan sebagai mata pencarian alternatif, lumayan juga, seorang pengangguran bisa mendapat 100.000 bila besedia rambutnya dicukur sesuai dengan bentuk lambang partai. Dan kita telah maklum bahwa demokrasi yang dipahami oleh rakyat Indonesia mayoritas terbatas pada kalimat berikut; “Demokrasi yang dari, untuk, dan oleh bersama” yang dianggap sarat kebutuhan materiil. Nampaknya, kata kata slogan yang terkenal; “Demokrasi bukan masalah roti atau perut” tidak berlaku lagi bila sampai di sini.

Kita telah mendapati bahwa Parpol yang meramaikan perpolitikan di Indonesia memandang Ideologi bukan prioritas. Lalu, apa fungsi dari partai di mata rakyat Indonesia? Secara umum, Rakyat Indonesia hanya menjadikan partai sebagai pilihan semata mata pilihan. Mayoritas penduduk di Indonesia, bahkan termasuk mayoritas dari kader kader partai itu sendiri hanya mendudukkan ideologi di nomor kesekian, bahkan bisa jadi berada pada urutan di belakang mencari rekan atau relasi baru. Bisa sekedar cari jodoh, cari pengalaman atau alasan materi lainnya. Bahkan, kata kata ‘memilih dengan hati nurani’ masih menjadi kata ampuh bagi iklan perpolitikan Indonesia, jauh melampaui kata kata ‘lihat, dengar, dan amati’. Bahkan sebuah partai baru telah menggunakan nama ‘Hati Nurani’ sebagai nama partai.

Cara main partai, dengan logika, atau nurani? Tidak salah bila menjadikan partai sebagai objek eksplorasi banyak kepentingan, tapi bagaimanapun, ini tidak tepat dan menyeleweng dari maksud utama dibentuknya partai. Memang benar bahwa sisi sisi sosial tidak dapat dilepaskan dari bagian politik, dan masing aspek aspek Negara, Bangsa, dan rakyat saling terkait satu sama lain. Namun alangkah baiknya bila semakin lama Indonesia menjalani proses perpolitikannya, semakin banyak dapat belajar dari proses dan sejarah dengan pengalaman pengalaman tersebut agar pemilu yang telah diadakan dan dirasakan hingga ketujuh kalinya dapat memberikan manfaat lebih banyak pada pemilu 2009 nanti. Sebut saja misalnya pemilu tahun 1955 yang disebut-sebut sebagai pemilu paling demokratis di Indonesia, ternyata telah membentuk pemerintahan pertama dan telah memberikan kesempatan pada para founding father negara ini untuk leluasa memerintah. Namun hasil pemilu pertama ini berujung pada ketidakberdayaan orde lama dalam mengemban amanat rakyat, sehingga rakyat sendiri memberikan pilihan pahit bagi pemerintah.

Dan pemilu berikutnya (pemilu 1971), setelahnya dan setelahnya lagi hanya diwarnai oleh pemandangan yang membosankan dan terkesan itu itu saja, sehingga memberikan pandangan bagi rakyat bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan ‘Demokrasi terbimbing’, yang tak jauh berbeda dengan demokrasi terpimpin yang ambruk sebelumnya. Hingga pada tahun 1998, harapan, pemandangan baru dan angin segar demokrasi berhembus di seluruh Indonesia. Sebuah keadaan yang memberikan kesampatan bagi Rakyat Indonesia, dengan kata lain, Rakyat Indonesia seolah mendapatkan himbauan; “Bagi yang ingin berbendah, maka berbenahlah!” Tapi apa yang kita rasakan sebagai Rakyat Indonesia? Kata kata itu lebih tepat seolah hanya diperuntukkan bagi para pemimpi yang sebelumnya hanya bisa bermimpi untuk berkuasa dapat berkesempatan untuk mencapai mimpi mimpi tersebut.

Saat ini, kebebasan, keterbukaan dan demokrasi semakin terbuka lebar, bagi para calon pemilih, sebenarnya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menjadikan pilihan mereka adalah pilihan bijak, dalam artian, adalah pilihan yang rasional, tidak hanya pilihan yang penuh angan angan dan harapan semata dan bukan pilihan yang sarat perasaan, akan tetapi pilihan yang menunjukkan komitmen sebagai pemilih yang paham apa dan bagaimana pilihan mereka dibuat dan bagi siapa pilihan diberikan.

Menjadi pemilih rasional adalah ideal, sedangkan memilih berdasarkan emosi adalah realitas yang tak terbantahkan, para pemilih emosional memang masih menjadi bagian dari mayoritas Rakyat Indonesia, bahkan untuk beberapa Pemilu pemilu mendatang, Pemilih emosional masih menjadi bagian mayoritas dari seluruh pemilih dalam pemlilihan umum yang digelar. Sehingga mau tidak mau, partai partai, balon maupun calon sebagai peserta pemilu yang mnggantungkan pada keberadaan mereka pada pilihan mereka tentu saja masih memakai ‘jurus lama’, misalkan apakah partai tersebut Islami atau tidak Islamikah? Parpol yang bisa memberikan janji jembatan atau jalan raya atau partai yang hanya mampu memberikan kata kata bukti dan tidak bersedia berjanji, partai yang mampu memberikan ‘efek ngebor’ yang menghibur kesulitan hidup atau tidak pada masa kampanye dan lain lain masih menjadi bagian dari pola pilkir para pemilih, bahkan termasuk sebagian dari kita (pelajar dan mahasiswa) yang dianggap sebagai kelompok intelek. Demikian pula dengan para calon pejabat hingga presiden, faktor calon gubernur ganteng atau gagah (punya basic selebritis atau tidak), calon bupati tamatan luar negeri atau lokal, capres yang banyak pengalaman tau capres newbe, bahkan calon alternatif atau calon bukan alternatif, capres muda atau tua masih menjadi bagian dari kampanye kampanye yang dianggap masih ampuh untuk menarik massa. Namun, bagaimana dengan capres yang mampu menunjukkan royalitas mereka atau kemampuan mereka bagi perbaikan Indonesia ke depannya, setidak tidaknya calon yang analisanya tajam, saat ini masih kalah pamor dibandingkan calon yang dianggap sakti atau suci. Antara pemilih dan dipilih masih dikungkung oleh rasio perasaan sangat sempit dan sentimentil.

Bagiamanapun, peran serta KPU, paserta pemilu, dan para pemilih haruslah saling mendukung satu sama lain, mendukung dalam artian, bagaimanapun pemilu 2009 masih jauh dari ideal, namun ketertiban dan pemilu yang sehat adalah satu hal penting yang tidak bisa ditawar tawar urgensitasnya. Semua ini demi pemerintahan yang sehat pula, pemilu yang tidak sehat akan membentuk pemerintahan yang akan sakit sakitan. Namun pemilu yang sehat akan memberikan setidaknya suntikan dan vaksinasi awal yang baik pula bagi proses demokrasi lima tahunan bangsa kita. Dan bagi sebagian besar kita, para pemilih, tidak memilih bukanlah pilihan yang bijak. Jadilah pemilih rasional, yang memilih karena berfikir, bukan memilih karena berfirasat.

(Penulis adalah mahasiswa Al Azhar jurusan Suari’ah wal Qanun Tk. II)

[polldaddy poll=1041794]

Halaman Berikutnya »