Laporan Khusus


Konsulat RI Darwin berharap adanya koordinasi terpadu antar instansi pemerintah dalam menyukseskan program “Sail Indonesia” (SI) sehingga kasus penyitaan kapal pesiar asing peserta SI 2008 jalur timur oleh petugas Bea Cukai Kupang dapat diselesaikan dan tidak terulang lagi di kemudian hari.Harapan tersebut disampaikan Sekretaris II Fungsi Pensosbud Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja, kepada ANTARA yang menghubungi dari Brisbane, Selasa, sehubungan dengan penyitaan kapal pesiar “Maralinga” saat merapat di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu dalam pelayaran kembali ke Darwin, Australia.

“Saya kemarin (8/9) menelepon Kepala Dinas Pariwisata Pemprov NTT, Lens Haning, setelah kita (Konsulat RI Darwin) menerima sms (pesan singkat) dari salah satu peserta `Sail Indonesia`. Kita langsung berkoordinasi dengan Pemda NTT. Kita mohon koordinasi yang baik dalam menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Namun dalam pembicaraan per telepon itu Lens Haning mengatakan, pihaknya belum mengetahui adanya kapal yang ditahan dan disita Bea Cukai Kupang, kata Arvinanto. “Sebenarnya masalah ini tidak perlu terjadi karena sudah ada penjamin bagi kapal-kapal pesiar peserta Sail Indonesia 2008, yakni Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso,” katanya.

 

Dengan keluarnya jaminan tersebut, sepatutnya semua pemangku kepentingan bagi suksesnya SI 2008 sebagai bagian dari program pemajuan industri pariwisata bahari Indonesia di Tahun Kunjungan Wisata Indonesia (VIY), termasuk pelaksana teknis Bea Cukai di Kupang, mau berkoordinasi baik dengan pihak lain dan menghargai garansi yang telah diberikan kepada kapal-kapal peserta SI, katanya.

Perihal penahanan dan tuntutan petugas Bea Cukai Indonesia kepada nakhoda kapal pesiar “Maralinga” untuk membayar uang lebih dari Rp 500 juta itu terungkap dalam isi pesan singkat Anthony Meechan, awak kapal, kepada pihak Konsulat RI Darwin, Senin (8/9). Dalam pesan singkatnya yang ditembuskan ke ANTARA di Brisbane itu, Anthony Meechan mengharapkan bantuan Konsulat RI Darwin untuk membantu penyelesaian masalah penyitaan kapal pesiarnya.  

“Saya lagi di Kupang di atas kapal pesiar (yacht) yang disita Bea Cukai. Saya berharap Anda (Konsul) bisa membantu saya. Pihak Bea Cukai meminta uang tetapi kami tidak yakin kenapa bisa begini,” katanya. Anthony Meechan mengatakan pihaknya merupakan peserta Pelayaran Indonesia yang mau kembali ke Darwin, Australia Utara, setelah sebelumnya mengunjungi Ambon, Maluku.

“Bea Cukai meminta lebih dari Rp 500 juta karena kami tidak punya PIB(Pemberitahuan Impor Barang, red) . Tetapi kami tidak mendapat PIB itu dari Ambon,” katanya. PIB adalah semacam persetujuan impor barang sementara karena Pemerintah RI menganggap kapal pesiar (yacht) sebagai barang yang diimpor sementara. Dalam hal ini, setiap nakhoda kapal pesiar asing yang memasuki perairan Indonesia diwajibkan membayar uang jaminan senilai lima hingga 10 persen dari harga kapal.

 

Ancaman penyitaan dan penempelan stiker “segel” oleh para petugas Bea Cukai Kupang, NTT sudah menghantui para peserta “Sail Indonesia” 2008 ketika ratusan kapal peserta jalur barat tiba di Kupang pada 28, 29, 30, dan 31 Juli .

Ketua Panitia “Sail Indonesia” (SI) 2008 di Darwin, David Woodhouse, kepada ANTARA mengatakan aksi petugas Bea Cukai Kupang yang menempelkan stiker “segel” kepada setiap kapal pesiar peserta “Sail Indonesia” (SI) 2008 telah “mencederai” promosi Tahun Kunjungan Wisata Indonesia dan menimbulkan kesalahpahaman, ketakutan serta ketidaknyamanan bagi para petualang bahari dunia.

 

Insiden penempelan stiker segel oleh petugas Bea Cukai Kupang terhadap setiap kapal pesiar peserta SI 2008 yang memasuki Kupang pada 28, 29, 30, dan 31 Juli lalu itu telah menimbulkan kesalahpahaman, kebingungan dan ketidaknyamanan para peserta, katanya.

“Penempelan stiker segel ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah Sail Indonesia, dan ini menjadi `bad publicity` (publisitas buruk) bagi Kupang dan NTT,” kata David Woodhouse.

Akar persoalan penempelan stiker segel oleh petugas Bea Cukai Kupang itu tidak dapat dilepaskan dari terbitnya peraturan baru kantor Bea Cukai yang mewajibkan para nakhoda kapal peserta SI menyerahkan uang deposit sebesar lima sampai 10 persen dari harga kapal.

Hanya saja, panitia menganggap masalah “duty bond” itu sudah selesai setelah Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso, mau “menjadi penjamin” kapal-kapal peserta SI, kata David Woodhouse. 
“(Nakhoda) kapal-kapal peserta Sail Indonesia ini telah berjanji untuk strict(ketat, red) pada tanggal masuk dan tanggal keluar mereka (dari Indonesia) sehingga pihak beacukai mengetahuinya dengan baik,” katanya. Bagi para nakhoda kapal-kapal pesiar peserta SI, peraturan baru Bea Cukai itu tidak hanya mempersulit tetapi juga memunculkan pertanyaan karena mewajibkan mereka menyerahkan uang deposit sebesar lima sampai 10 persen dari harga kapal.
 

Peraturan yang mewajibkan pembayaran uang jaminan pajak itu sepatutnya tidak dibebankan kepada kapal-kapal peserta SI karena mereka bergerak selama tiga bulan dan tidak kemudian menetap di Indonesia. Sesuai dengan informasi panitia SI 2008, kapal pesiar asing yang mengikuti SI jalur timur mengunjungi Saumlaki sebelum ke Tual, Banda, Saparua, Ambon, Ternate dan Manado (15-22 Agustus).

Dari Manado, Sulawesi Utara, mereka menelusuri pantai Sulawesi hingga ke Mamuju, Pare-Pare, dan Makassar. Dari ibukota Sulawesi Selatan ini, kapal-kapal peserta Pelayaran Indonesia Jalur Timur ini bergabung dengan ratusan kapal yang mengikuti rute Jalur Barat Indonesia yang berangkat dari Darwin pada 26 Juli 2008.

 

SI 2008 jalur barat sendiri diikuti 116 kapal pesiar dari Australia, Jerman, Belanda, Inggris, Norwegia, Amerika Serikat, Perancis, Swiss, Kanada, Selandia Baru, Afrika Selatan, Turki, Jepang, Swedia, dan Austria.

Rutenya adalah Darwin (Australia) terus masuk perairan Indonesia lewat Kupang (NTT) – Alor – Lembata – Maumere – Riung – Labuan Bajo – Bali – Karimun Jawa – Kumai – Bangka Belitung dan berakhir di Batam. Dari Batam, kapal-kapal peserta melanjutkan pelayaran ke Singapura dan Pulau Langkawi (Malaysia).

 

Sumber : http://www.wisatanet.com/

Sijuk (WP),  Pengembangan pariwisata sangat terkait dengan upaya membangun pencitraan (wilayah) sehingga berdampak pada peningkatan kunjungan wisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Allah SWT telah memberikan barakoh melalui film Laskar Pelangi sehingga Bangka Belitung dikenal di tingkat nasional bahkan dunia. Pencitraan tentunya membutuhkan upaya dan waktu yang panjang. Karena itu selama dua tahun kedepan (2008-2010) kita berupaya membangunan infrastruktur dan sumberdaya manusia agar pencitraan wisata kita dikenal dunia. Terimakasih  kepada Bapak Menteri Perhubungan (Ir. Jusman Safii Djamal) yang telah memberikan dukungan dalam peningkatan pembangunan pelabuhan udara Hanandjudin Tanjungpandan dan membantu pembangunan infrakstruktur darat dan laut lainnya yang kami butuhkan  ungkap Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Ir.H. Eko Maulana menjelaskan alasan penetapan tahun 2010 dalam sambutannya.

 

Seperti tahun sebelumnya Sail Indonesia 2008, kembali menggelar Lomba Renang Selat Gaspar  yang diikuti 13 anggota marinir dari Satuan Yonif-7, 12 anggota marinir dari Satuan Yonif-8, 15 anggota marinir dari Satuan Yonif-9,   10 anggota marinir dari Yontaifib-2 dan 8 anggota Polairud Kepulauan Bangka Belitung sejauh 3,5 mill dari titik koordinat 02° 30’  26,5 ’’ LS – 107 °42’ 42,6 ’’ BT hingga finish di titik koordinat 02° 33’ 32,7’’ LS – 106° 40’ 08,0 ‘’ BT

 

Dari sepuluh peserta terbaik dari Korps Jalesu Bhumyamca Jayamahe ini, tiga mendapatkan hadiah uang tunai yakni   Pratu Marinir  Budi S dari Satuan Yontaifib-2 (Pemenang I),  Serda Marinir Samsidi dari Satuan Yontaifib-2 (Pemenang  II) dan Prada Marinir  Doni dari Satuan Yonif-7 (Pemenang  III). Menteri Perhubungan RI Ir. Jusman Safii Djamal, Gubernur Provinsi Bangka Belitung Ir.H.Eko Maulana Ali dan Bupati Belitung Haryono Moelyo,SE,MA, Dirjen Pemasaran Dephubpar RI Dr.Sapta Nirwandar tampak memberikan penghargaan kepada pemenang dari sepuluh peserta Lomba Renang Selat Gaspar

 

Perairan Bangka Belitung sejak lama menjadi lintasan pelayaran internasional, banyak kerangka kapal yang ditemui di dasar perairan Bangka Belitung. Hal ini menunjukkan wilayah ini sangat strategis bagi pelayaran internasional. Menurut informasi yang saya terima kurang lebih 76 kapal dari 22 negara yang ikut serta dalam Sail Indonesia 2008 ini. Saya berharap Pemkab/Pemprov dapat bersinergi dengan pemangku kepentingan lain sehingga bisa memanfaatkan event internasional ini. “ Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta Sail Indonesia 2008 dan berharap dapat menikmati (keberagaman) budaya dan (keindahan) alam Indonesia serta Selamat atas penyelenggara Sail Indonesia 2008 ini” ungkap Menteri Perhubungan RI  dalam sambutannya.

 

Dengan mengucapkan Bismillahhirrohmanirrohim Soft Launching Babel Archipelago pun diresmikan oleh Presiden RI yang diwakili Menteri Perhubungan RI, Ir. Jusman Safii Djamal di pantai Wisata Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung.

 

Marching Band Bina Praja Pemkab Belitung dan sanggar tari SMAN 2 Tanjungpandan turut memeriahkan Soft Launching Babel Archi 2010 yang diresmikan Presiden RI melalui Menteri Perhubungan RI, Ir. Jusman Safii Djamal. Launching Babel Archi 2010 dan pelaksanaan Sail Indonesia 2008 ini  juga dihadiri Ketua Umum Sail Indonesia 2008 Kabupaten Belitung, Drs.H.Jasagung Hariyadi, Ketua DPRD Babel, Dandim 0414 Belitung Lektol Jangkung Widyatmoko, Danlanud Tanjungpandan Letkol Pnb Hadezul, Kepala Bappeda Provinsi Ir.Nazalyus, Kadin Perikanan dan Keluatan Provinsi, Dirjen Destinasi Dephubpar RI yang diwakili Drs.Achyarudin. Kadin Pariwisata Babel Yan Megawandi, Kadin Pariwisata Belitung Dra.Hotmaria Ida, Camat Sijuk Drs.Rahmansyah dan unsur masyarakat. Tampak hadir bersama pejabat pusat dan daerah Putri Pariwisata  Babel 2008

 

Kepada Wartapraja,  Kadin Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bangka Ahmad Rizal  usai menerangkan potensi wisata di Bangka kepada dua peserta Sail 2008 mengungkapkan bahwa event ini  penting untuk mempromosikan potensi wisata daerah. Jika Belitung memiliki Laskar Pelangi, kita juga memiliki Pantai Parai sebagai pencitraan wisata Bangka. Banyak wisatawan asing yang datang kesini mempertanyakan bagaimana caranya untuk sampai ke tempat yang menarik itu. Untuk itu kami memiliki media promosi dalam bentuk peta dan informasi dwi bahasa, dan tahun depan akan dibuat informasi berbahasa mandarin” jelas Ahmad Rizal

 

Hal yang sama juga diungkapkan Mula Samosir saat melayani beberapa peserta Sail Indonesia di stand Dinas Perindagkop Kabupaten Belitung” It’s nice, not too sweet “ kata  peserta Sail Indonesia 2008 asal  Kanada mengomentari dodol buatan pelaku usaha kerajinan makanan masyarakat ini. Produk sambal lingkong yang terbuat dari ikan sempat menarik perhatian pasangan suami istri ini “ everything is export product  of Belitung, isn’t ” ujarnya .

 

Sekitar 39 stand yang kebanyakan menjual berbagai makanan dan pakaian dikoordinir Dinas Perindangkap Kabupaten Belitung selain stand pemkab dan pemprov di lingkungan wilayah provinsi Bangka Belitung dan stand dari perusahaan telekomunikasi dan perbankan yang bertambah dibandingkan . Sementara kios solar milik pengusaha minyak asal Tanjungpandan dadakan yang ditempatkan diluar areal utama Sail Indonesia “ it’s seven thousand, Mister ”, ucap penjaga kios  melatih lidahnya agar warga asing bisa tahu harga solar per liter.

 

Sementara Kantor Kecamatan Sijuk menampilkan upacara tradisional Muang Jong dan juga dimerihakan dengan penampilan artis KDI asal Babel Mega-KDI (Bangka) dan Moel-KDI (Belitung) (fithrorozi)

 

Sijuk (WP), “Kehadiran 25 kapal yang berlabuh di perairan Belitung hari ini (12/10) dan keikutsertaan beberapa pemkab dan pemprov Bangka Belitung yang  dihadiri pejabat negara mewakili Presiden RI merupakan bukti keberhasilan dalam menyelenggarakan event pariwisata berskala dunia di Kabupaten Belitung ” ucap Kabag Humas Setda Kabupaten Belitung, Suharyanto S.AP. Sail Indonesia 2008 sekaligus meresmikan soft launching pencanangan Babel Archipelago 2010 oleh Presiden RI yang diwakili Menteri Perhubungan RI Ir. Jusman Safii Djamal. Pada tahun 2007 Sail Indonesia dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddi Numberi.

Namun pemberian sticker terhadap yachter di pintu pertama Rally Sail Indonesia 2008 (Darwin – Kupang- Alor – Lembata – Ende – Riung – Labuan Bajo – Mataram – Makasar – Lovina Bali -Karimun Jawa-Kumai dan di Belitung) oleh pihak Bea Cukai Kupang telah berdampak negatif terhadap pelaksanaan Sail Indonesia 2008. Setidaknya penurunan jumlah peserta terlihat siginifikan di destinasi terakhir, Belitung.

Ditemui di sela-sela persiapan Soft Launching Pencanangan Babel Archipelago 2010 di Tanjung Kelayang, Belitung, Ketua Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI) Raymod Lesmana menyayangkan sikap yang diambil oleh Bea Cukai Kupang. Kejadian ini setidaknya berdampak pada tiga hal penting bagi peserta Sail Indonesia yang telah berlangsung sejak tahun 2001 dan pengembangan wisata bahari di tanah air, yakni physicological effect, penurunan benefit (manfaat) penyelenggaraan rally dan telah menimbulkan pertanyaan mengapa kegiatan pariwisata (bahari) kewenangannya justru Departemen Kelautan dan Perikanan (P2S DKP).

Menurut Staf Kantor Imigrasi Tanjungpandan, Weli Wiguna, pada prinsinya keluar masuk warga negara asing di Indonesia terkait dengan proses Customes, Imigration dan Quarantine (CIO) . Beberapa staff Imigrasi setiap pelaksanaan Sail Indonesia di Belitung menempati posko  di Tanjung Kelayang, “ Hingga saat ini di Belitung tidak ada Tempat Pemerikaan Imigrasi (termasuk warga asing yang datang melalui kapal pribadi)” ujar Weli Wiguna. Indonesia termasuk negara yang paling banyak mengeluarkan Visa (kurang lebih 50 negara) dibandingkan negara-negara di ASEAN. Pada awal tahun 2007 Wapres Yusuf meminta Dephubar mentargetkan  7 juta kunjungan wisman melalui Program Visit Indonesia Year 2008. Dalam cetak biru pemasaran 2007 itu juga disebutkan, target pemasukan devisa tersebut yaitu sebanyak 3,76 miliar dolar Amerika untuk target pesimistis, sebanyak 4,71 miliar dolar Amerika untuk target moderat, 5,82 miliar dolar AS untuk target optimistis dan 5,46 miliar dolar AS untuk target akselerasi. Pada tahun 2008 ditargetkan perolehan devisi sebesar 6,4 milyar dolar AS  (wisatanet.com,21 Des 2007)

Kita akui pemerintah Kabupaten Belitung cukup tanggap membaca peluang Sail Indonesia (2007  dan 2008) ini, namun beberapa koridor pemerintah tidak mungkin menjadi koridor YCBI, demikian sebaliknya. Inilah alasannya kenapa Yayasan tidak dapat optimal bersikap sehubungan keluhan peserta sail atas penyegelan kapal mereka di Kupang Juli yang lalu ” keluh Raymod.

Ide Sail Indonesia berawal ketika tahun 2001 Dirjen DKP Ir.Aji Sularso MM meminta dukungan YCBI untuk mendukung pelaksanaan lomba layar (Darwin Ambon dan Bali Race). Sejak tahun 2001 itulah bentuk race dirubah dalam bentuk rally, ujar Raymond mengenang tujuh tahun sebelum “ironi wisata bahari” terjadi di Kupang. Berdasarkan Clearance Approval For Indonesian Teritory (CAIT), Sail Indonesia 2008 berlangsung selama 3 bulan (Juli hingga Oktober) melewati 16 titik destinasi. Dalam empat tahun terakhir kita sudah berhasil melampai peserta event yang sama di Thailand (hanya diikuti 105 peserta) meskipun ada pembatasan peserta rally.

YCBI lebih terkonsentrasi pada upaya menggelar red carpet (karpet merah) dengan menggelar lintasan rally Sail Indonesia. Pemerintah tentunya bisa memanfaatkan event ini dan menikmati keuntungan sosial ekonomi ” Yayasan tidak menikmati keutungan dari objek wisata yang berkembang. Dengan adanya Sail Indonesia realitas masyarakat terlihat transparan. Ini juga peluang bagi upaya penurunan kemiskinan, media motivasi dan edukasi dunia kebaharian kita “ ucap Raymond berharap pemerintah daerah kreatif dalam memanfaatkan peluang ini.

Menurut Ketua Yayasan Cinta Bahari ini, sebaiknya titik destinasi seperti di Belitung tidak dialihkan ke destinasi lain, mengingat Belitung sudah tercatat di peta bahari dunia, justru yang lebih baik adalah membuat beberapa di destinasi wisata  dunia di dalam satu provinsi. Menurut Raymod  yang perlu dilakukan adalah bagaimana regulasi dapat mendukung pengembangan pawisata selain membenahi masalah infrastruktur ataupun teknologi bahari. Dengan dukungan regulasi maka alur bahari internasional, alur cargo, alur transportasi ataupun akan pelayaran bagi nelayan akan menjadi jelas ” ungkap Raymond (fithrorozi)

Tanjungpandan (WP),  “Selamat Datang Peserta Sail Indonesia 2008” dan “ Peluncuran Babel Archipelago”  dua tema ini terpampang di spanduk besar memasuki kawasan wisata pantai Tanjung Kelayang. Menurut Teguh Staff Humas, Pemkab Belitung menempatkan 4 titik baliho yaitu di  areal pantai wisata Tanjungpendam,  di sudut halaman Kantor Bupati, simpang tiga Tanjung Kelayang dan Lokasi  Tanjung Kelayang. Selain lima banner yang dipasang diantaranya di pusat perbelanjaan Barata Dept Store, Bandar Udara Hanandjuddin dan Kantor Bupati. “ Total titik spanduk yang dipasang di Kota Tanjungpandan berjumlah 7 buah sedangkan sisanya ditempatkan di Tanjung Kelayang. Semendar pemasangan spanduk ditempatkan di Simpang Membalong, Kampong Ujung, Aik Merbau, Tanjungpendam, Tanjung Kelayang, Simpang Kantor Camat (Marakas). Sementara  Pemprov Babel menempatkan 5 baliho  diantaranya di Tanjung Kelayang, Simpang Tanjung Binga,  Bandara Hanandjudiin.

 

Saat liburan hari raya pantai Tanjung Kelayang masih terlihat sampah dan dedaunan. Namun dengan dukungan anggota pramuka, masyarakat (Desa Keciput) pada hari Rabu (10/10) suasana pantai sudah tertata rapi.   Diantara pengunjung tampak pria usia 80-an Yazid membersihkan sampah dibibir pantai. Sisa hidupnya dihabiskan menunggu warung dan menjaga kebersihan pantai Tanjung Kelayang. Malam harinya, pantai Tanjung Kelayang dijaga oleh 3 warga Desa Keciput.

 

Pada Sail Indonesia 2008 ini panitia menambah beberapa fasilitas berupa 1 unit Musholla dan 3 unit kamar mandi sementara kamar bilas yang  ditujukan bagi pengunjung pantai wisata ini yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 3.000 pengunjung. “Pada saat lebaran kemarin saja di Lokasi wisata Pemandian Alam Tirta Marundang mencapai 3000-an pengunjung menggunakan   50-an dan ratusan motor. Untuk memarkir kendaraan pemilik mobil merogok kocek Rp. 2.000, kemungkinan jumlah pengunjung Sail Indonesia ini bisa lebih besar dari pengunjung Tirta Marundang” kata warga Keciput bangga. 

 

“ Momentum ini semestinya dapat kita gunakan untuk menilai seberapa besar dampak Sail Indonesia ini bagi masyarakat  “ kata Dosen UBB Aldino. Multiflier effect ini sudah terlihat dari munculnya kios pedagang makanan yang menjual aneka makanan seperti kelapa muda dijual Rp.4.000 naik dari Rp.3000 tahun yang lalu, ikan bulat dijual seharga Rp.80 ribu per kilo yang disajikan dalam hidangan masakan khas “gangan”. Beberapa makanan bahkan ada yang dijual dengan harga variatif seperti  ikan jebong Rp. 60 ribu tapi di kios yang lain dijual dengan harga yang lebih murah Rp. 45.000.

 

“Variasi harga ini seringkali timbul ditengah tingginya tingkat kunjungan dilokasi wisata, hal ini seringkali dikeluhkan oleh  peserta yang berasal dari mancanegara, apalagi banyak barang yang diperjual belikan tidak memiliki label harga”, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dra.Hotmaria Ida.

 

“Label harga kami memang lebih tinggi dibandingkan harga di Kota Tanjungpandan. Pada Sail Indonesia tahun 2007 yang lalu kita menggunakan “struk” atau tanda bukti  dari cash register, tapi karena beban  biaya yang menjadi tinggi kita cukup menggunakan nota penjualan saja” ujar Awie pemilik SmartKet di Tanjungpandan

 

Pioner minimarket di Belitung ini menyediakan berbagai bahan makanan dari harga termurah Rp. 2.000 hingga Rp. 87.000 (pure dutch butter). Tentunya Jenis barang yang kami sediakan disesuaikan dengan selera atau karakter wisatawan misalnya miras ujar pemilik Izin penjualan miras ini. “ Sayangnya hingga hari ini aliran listrik belum ada hingga  sayuran segar sudah mulai layu bahkan produk ice cream bisa bisa kami jual disini.  Total barang yang disedikan Awie bernilai 10 juta. Awie juga berharap ada peningkatan fasilitas dibandingkan tahun sebelumnya seperti ketersediaan  WC dan rumah penginapan yang layak terutama bagi para pedagang

 

Sementara pemerintah kecamatan juga ikut menyemarakkan kunjungan wisata petualangan ini. “ Rencananya kami akan menampilkan tiga tema kegiatan ”, ujar Camat Sijuk Drs.Rahmansyah kepada Wartapraja. Pertama menyiapkan mempromosikan produk masyarakat kecamatan Sijuk seperti terindak, dodol, kaos oblong, kerupuk, ikan asin, belacan sijuk, aik madu dan industri rumah tangga lainnya. Untuk penjaga stand akan melibatkan 13 anak sma Sijuk yang mahir berbahasa Inggris.  Kedua, upacara Selamatan Laut “Buang Jong” yang akan digelar 12 Oktober. Ketiga, Pihak Kecamatan bersama Dinas Perhubungan  mengelola perpakiran untuk menghindari keluhan masyarakat terkait dengan pengelolaan perparkiran di areal wisata Tanjung Kelayang. Pengunjung tidak lagi dihambat dijalan yang terkesan dikenakan biaya masuk. Dalam rapat warga Desa Keciput beberapa waktu yang lalu besarnya iuran parkir untuk mobil sebesar Rp. 5.000 sedangkan parkir motor Rp. 3.000. Melalui panita kabupaten Sail Indonesia 2008,15 orang warga Keciput juga dilibatkan untuk melayani peserta Sail Indonesia yang ingin merapat kepantai, membersihkan lingkungan pantai  “ ujar Asri warga Desa Keciput (fithrorozi)

 

Halaman Berikutnya »