Ketuk Hati


Tanjungpandan (WP) Bagi Ali (25) pemuda asal Indramayu yang mengaku sempat tinggal di Pulau Gersik, mudik bukan membuat dirinya nekat membeli tiket, tetapi justru telah membuatnya bersilaturahmi dibalik jeruji besi karena nekat mencuri sepeda motor di Pelabuhan Perikanan Tanjungpandan (20/9). Tersangka pelaku curanmor bukan tidak mungkin bisa kehilangan nyawa jika saja masih nekat. Namun  setelah dilumpuhkan dengan tembakan, Ali tidak berkutik. Suara tembakan itu mengagetkan warga disekitar tempat kejadian.  Tindakan polisi ini dilatarbelakangi laporan kehilangan sepeda motor Honda Kharisma milik Taufik warga Tanjungpandan ke Polres Belitung, Sabtu Sore (20/9). Setelah melacak dan membatasi ruang gerak tersangka. Ali yang ingin mudik ke kampong halaman pun  melintasi Pusat Perbelanjaan (Barata Dept Store).

 

Sesulit itukah kehidupan dirantau (Belitung) hingga Ali mempersiapkan “ hari kemenangan” dengan tindakan kriminal sementara Ipat asal Tegal (Jateng) bekerja keras mempersiapkan bekal mudik.  Sebaliknya pengusaha kerajinan meubel asal Jepara menolak pesanan yang semakin meningkat menjelang H-9  Hari Raya. Thaib beserta 10 pengrajin asal Jepara memutuskan untuk mudik ke Jawa menggunakan pesawat udara pada (H-9) dengan harga Rp.275 – Rp.350 ribu. Sehingga untuk transportasi tenaga pengrajin  saja Thaib mengeluarkan biaya Rp. 3.5 juta 

 

Pemkab Belitung melalui Kepala Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Drs Syafrani Syamsudin AK MM Jumat (12/9) menegaskan tidak akan memberikan THR  kepada 3.400 PNS Pemkab Belitung  sebagaimana dipublikasikan  Harian Pos Belitung. Sebaliknya 13 wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Media Nasional (Forwamenas) mengajukan  “partisipasi” untu THR ke Kepala Daerah. Menurut catatan Bagian Humas Setda Kabupaten Belitung setidaknya ada 50 wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik dari perusahaan yang berbeda

 

Wartawan ataupun bidang profesi lain yang bekerja di perusahaan berbadan hukum  berhak menerima THR. Penetapan besaran THR menurut perjanjian kerja (PK), peraturan perusahaan (PP) atau perjanjian kerja bersama (PKB), atau kebiasaan yang telah dilakukan lebih besar dari THR, maka pembayaran THR yang diberikan selambat-lambatnya 7 hari sebelum Hari Raya  sebagaimana termuat dalam Surat Edaran (SE) Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung Nomor 568/931/D/DSTKT/IX/2008 tanggal 9 September 2008 tentang pembayaran tunjangan hari raya keagamaan bagi pekerja kepada.

 

 

Banyak masyarakat sudah jauh-jauh hari memesan kue-kue lebaran, mengikuti berbagai arisan agar beban Hari Raya menjadi ringan seperti yang dilakukan Murtini (31). Hidup perjuangan, disaat orang sibuk menyambut Hari Raya, Tuhan berkata lain, Murtini yang sempat dirawat di ICU akhirnya dijemput Ajal, tak sempat wanita yang baru melahirkan anak keduanya itu mengambil pesanan kue lebaran. Sebelum meninggal tensi darahnya naik begitu mendengar akan dirawat intensif di ruang gawat darurat. Innalillahi wa innailaihi rojiun- kepada sang pencipta semua berpulang. Keluarga merasakan kesedian akan  silaturahmi makhluknya kepada Sang Pencipta.

 

Silaturahmi sembari bermaaf–maafan menjadi “trademark” masyarakat muslim Indonesia. Islam sendiri memberi makna Idul Fitri sebagai hari kebesaran bagi mereka yang telah berjuang melawan hawa nafsu. Namun banyak orang melupakan makna yang tersirat di balik Hari Raya Idul Fitri. Tukang kayu, pekerja TI menambah target kerja yang tak jarang melalaikan ibadah puasa, karena letih  alasannya.

 

Sementara 1.263 penumpang turun dari kapal KM Leuser milik PT. Pelni yang melalui pelabuhan Tanjungpandan, Minggu Sore (21/9). Sebagian besar penumpang adalah mahasiswa. Karena KM.Leuser tidak bisa merapat, sejumlah penumpang diangkut dengan kapal nelayan sebanyak 200 penumpang sekali jalan yang didatangkan dari Tanjungpandan dan LCT Menumbar VII  sebanyak 500 penumpang sekali jalan. Diprediksi jumlah pemudik ke Belitung akan lebih besar menjelang H-3 dikarenakan  saat itu beberapa perusahaan swasta akan meliburkan karyawan dalam menyambut Hari Raya (fithrorozi)

 

Oleh H. Sjahroelsiman

Tanjungpandan (WP),   Jika dalam pertandingan bola, kedua belah pihak  memiliki aturan yang berbeda tentu akan menyusahkan wasit. Bayangkan jika hal ini terjadi pada umat. Masing-masing ingin menggunakan aturan sendiri dalam menjalankan hidup. Padahal tujuannya sama yakni ingin hidup berbahagia, kaya dan senang.

Kita mungkin banyak mengetahui sudah ada  aturan yang mendahului kitab Al-qur’an, seperti Zend Avesta yang  sudah dipatuhi orang-orang Persi. Ada Gita dan Sri Krisna yang dipatuhi orang-orang India yang beragama Budha, ada lagi Konghochu yang dianut oleh di daratan China. Kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa  untuk kaum Bani Israil, kemudian Zabur untuk umat nabi Daud ataupun Injil bagi bangsa Ibrani. Kitab atau pedoman hidup itu diturunkan sesuai dengan masa dan bangsa sesuai tingkatan pemikiran orang pada waktu itu yang kesemuanya berbicara tentang hubungan ketuhanan dan hubungan kemanusiaan.

 

Karena kebutuhan yang berkembang dan  pemikiran yang meningkat mereka merasa terikat dengan kitab-kitab itu. Lalu mereka rubah sesuai dengan aspirasi mereka sendiri. Hingga buku-buku itu tercemar di mata Allah Jadi kitab itu bersifat lokal untuk bangsa itu sendiri.

Setahun demi tahun sesuai perkembangan zaman, mulailah terasa perlu adanya kitab panutan yang berlaku untuk semua umat (universal) sepanjang zaman. Sebuah ayat atau pengajaran tidak turun dengan mudah kepada seorang manusia. Tentunya Allah akan memilih pribadi yang berkeyakinan, berpengaruh di dalam masyarakat.

Muhammad sejak  kecil sudah memperlihatkan kelebihan baik dalam pribadi, akhlak dan pemikiran dari manusia lain sebelum akhirnya menjadi manusia terpilih untuk menyampaikan wahyu,  Suatu ketika beliau mengasingkan diri kesatu tempat-tempat mencari pemikiran-pemikiran yang baru. Ketika berumur 40 tahun beliau sempat mengasingkan diri di Gua Hira. Disaat itulah datang wahyu pertama yang mengagetkan, Iqra …..lqra …..Iqra. Begitu kagetnya Beliau karena sadar tidak bisa membaca tetapi diperintahkan untuk membaca yang begitu jelas diterimanya.

Perintah itu berulang-ulang hingga sampai 5 ayat. Itulah ajaran yang pertama yang diterima Muhammad SAW. Hari demi hari, ayat demi ayat turun baik melalui jibril, maupun dikarenakan ada permasalahan hidup yang membutuhkan tuntunan . Dalam dalam 22 tahun 2 bulan 22 hari wahyu Allah itu turun yang terdiri dari  114 surah. 86 surah diantaranya turun di Makkah dan 28 surah terakhir turun di Madinah pada waktu Rasulullah hijrah ke Madinah.

Hingga akhirnya turunlah wahyu, “ Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah : 3) Ayat tersebut turun di Padang Arafah ketika Rasullulah melaksanakan Haji Wadah.

Demikianlah ayat-ayat  Al-qur’an telah menjadi pedoman atau petunjuk bagi seluruh umat yang ingin mempelajari tentang cara hidup yang benar. Seandainya ayat-ayat Al-qur’an tidak turun apakah yang akan terjadi ?. Sementara dengan perintah dan pedoman yang jelaspun, seringkali manusia berpaling. Sesungguhnya peringatan Nuzulul Qur’an menjadikan kita untuk kembali dari berpaling hati menginggalkan Al-Quran yang diturunkan pada Malam Lailatul Qodar. Jika peringati Nuzulul Qur’an didasarkan pada saat turunnya ayat suci Al-Qur’an tentunya kita merajut hati dengan malam Lailatul Qadar bukan pada tanggal 17 Ramadhan. Semoga Al-quran tidak sekedar mengingatkan kita terhadap  Wahyu Allah SWT turun tetapi mengingatkan kita bahwa jalan yang kita tempuh sudah jauh berpaling dengan Al-Quranul Kariim, Amien. 

Hikmah Nuzulul Qur’an ini disampaikan H.Sjachroelsiman di Mesjid Al Ihsan Air Raya 16 Septemer 2008

Oleh Drs.Ibnu Haban

  

Sebelum meninggalkan dunia Rasullah berpesan untuk kemajuan ummat Islam dimasa datang.  “Sampaikanlah apa yang kamu ketahui tentang agama, walaupun hanya satu ayat”. Karena itulah tugas menyampaikan tausyiah yang diamanatkan kepada kita untuk selalu disampaikan tidak memandang pengalaman atau tidak berpengalaman. Manusia adalah makhluk yang sempurna namun tidak luput dari kesalahan.

 

Rasullullah bersabda ” Sekiranya umat kita umat mengetahui kemuliaan bulan Ramadhan niscaya mereka akan berharap seluruh bulan adalah bulan Ramadhan”. Begitulah gambaran kemulian dan keberkahan yang terkandung dalam bulan suci Ramadhan  Dengan kebaikan yang diberikan kita harus memperbaiki jasmani dan rohani kita. Pada 10 hari pertama kita diberikan kebaikan,  10 hari kedua Allah SWT memberikan  ampunan dan 10 hari terakhir, Allah memberi keselamatan.

 

Rasullullah dan para sahabatnya menyambut hari-hari terakhir bulan Ramadhan dengan beritikaf  di dalam mesjid. Mereka meninggalkan rumah menuju mesjid. Sehingga di hari-hari terakhir suasana masjid lebih ramai dari biasanya. Sebaliknya di hari-hari terakhir kita justru meninggalkan mesjid dan melakukan aktivitas di rumah, mempersiapkan Lebaran. Padahal dalam Surah Al Baqarah 183, Allah menekankan kewajiban dan ketaqwaan menjalankan ibadah. Dua hal Ini menuntut ibadah kita untuk berkesinambungan hingga semakin hari akan semakin bertambah baik ibadah kita.

 

Puasa mempersiapkan (pembekalan) diri kita untuk memasuki kehidupan akherat nanti. Banyak dari kita justru takut akan kematian namun lupa dengan persiapannya. Umumnya manusia takut pada tiga hal. Pertama, takut gagal yang berlebihan seringkali membuat kita menghalalkan segala cara. Puasa mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri agar tidak mengalami kegagalan, tahan uji dan selalu berpikir positif. Pemimpin pun dituntut untuk mampu menahan diri untuk tidak memperkaya diri ditengah-tengah kemiskinan yang terjadi dalam  masyarakatnya.

Kedua, takut  sakit. Karena itu nikmat sehat harus kita syukuri sebelum datang sakit kita. Puasa mengendalikan (diet) untuk tidak berlebihan mengkonsumsi makanan yang justru membuat kita menjadi sakit.  Makanlah saat kita lapar dan dan berhenti sebelum kenyang. Ini nasehat Rasullullah agar kita terhindar dari penyakit.

Ketiga, takut menghadapi kematian. Mati adalah  peristiwa menakutkan dan gerbang yang menentukan apakah orang itu dalam keadaan terlaknat atau dalam keadaan terhormat. Tanda-tanda kematian biasanya lemas, haus, tidak berfungsinya segala keinginan dan sekarat. Keempat tanda tersebut itu ada pada orang yang berpuasa, namun karena mencari keridhoan apa yang kita rasakan dijalani dengan ikhlas.  Puasa untuk melatih diri, keluarga dan masyarakat untuk memperbaiki diri. Pemahaman ini menuntun ummat untuk memanfaatkan kesempatan ibadah sebelum bulan Ramadhan itu berakhir. Oleh karena itu sebelum ajal menjemput, sebelum waktu berakhir marilah kita beribadah (sholat taraweh) dan ibadah lain yang dijanjikan mendapat ganjaran berlipat ganda. Mereka yang menjalani ibadah akan diberikan pahala seperti pahala yang diberikan kepada para Syuhada dan orang yang Saleh. Allah memberikan pahala (ganjaran) yang berlipat-lipat namun terkadang kita sendiri yang menguranginya. Sebaliknya nikmat yang Allah berikan, janganlah dihitung-hitung, karena sepenuhnya itu adalah hak Allah yang diberikan kepada mereka yang dicintai. Semoga  kita diberikan kekuatan untuk mempersiapkan diri melawan rasa takut, sebelum kita gagal, sebelum sakit datang dan sebelum kematian menjemput, Amin.

 

Tausyiah ini disampaikan Drs.Ibnu Haban pada Safari Ramadhan, Jum’at (19/9) 2008 di Mesjid Muthmainnah, Jl.Hasan Saie Desa Perawas.

Oleh Farid Wajdi,S.Ag

Membalas salam selain wajib juga menunjukkan semangat kita menyambut bulan puasa yang penuh berkah. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu  agar kamu menjadi orang-orang  yang bertaqwa “ (Al-Baqarah : 183)

Tiada lafadz yang paling indah keculai Alhamdulillah. Kepada   Allah SWT yang maha menguasai dan maha memberi kita bersyukur tertuama atas rahmat dan hidayah sehingga kaki kita ringan melangkah, senang hati kita bertemu di Mesjid ini (As-Salam Pulau Gersik). Dan itu dicatat sebagai ibadah dengan beripat ganda, Ikhlas menjalaninya bukan karena sesuatu (bertemu dengan Bupati).

Dalam sepuluh hari berpuasa mudah-mudah ibadah kita mengalami kemajuan, bukan syaff (baris) jamaah yang maju, bukan maju meramaikan pusat-pusat perbelanjaan, bukan. Oleh karena itu marilah kita isi bulan puasa ini dengan mengikuti sunnah Rasul terutam bagi mereka yang bersaksi dn mengaku Muhammad sebagai utusan Allah.

Di bulan puasa ini pula keberkahan itu kita rindukan seperti surga yang merindukan empat golongan manusia seperti suami merindikan istrik, orang tua merindukan anak. Tanda keempat golongan manusia itu :

1.      Ahli kitab yang senantiasa menjadikan Qur’an sebagai pedoman hidup.  Kita bukan hanya dituntut untuk membaca Al-quran tetapi juga mengamalkannya. Begitupun tadarus itu tidak mengenal waktu, tidak dibulan puasa pun kita hendaknya bisa membaca Qu’ran. Dan ini langkah awal kita memahami Al-quran. Oleh karena itu tradisi ramadhan itu hendaknya dilakukan pertama secara berkesinambungan.Kedua dilakukan dengan memahami makna , mengkaji dan mengamalkan ajaran itu sendiri.

Dalam berpuasa pun kita harus mengamalkan sesuai yang diajarkan sehingga ketentuan yang membatalkan puasa secara fisik sesuai dengan pengalaman secara bathin. Seperti waktu kita menerima surat Bupati kita tidak diharapkan mampu membaca surat tetapi mestinya memaknai isi surat karena suatu waktu akan ditanyakan bagaiman pelaksanaan isi surat tersebut.

Iqra, iqra,iqra bacalah atas nama Tuhanmu. Membaca itu membuat kita tahu ilmu yang tersirat dari alam dan ilmu pengetahuan yang tersurat. Pernah suatu ketika orangtua menangisi anaknya yang tidak bisa membaca Al-qu’ran, lantas menangiskah kita ketika kita tidak bisa mengamalkan ajaran qur’an itu? 

2.      Orang yang menjaga lidah (perkataannya). Sadarilah bahwa banyak konflik sosial yang terjadi berawal dari perkataan yang merugikan orang lain. Dibulan ini kita pun dituntut mengendalikan lidah, untuk tidak berkata bohong, menyakiti orang lain dengan kekurangannya dan tidak berkata yang sia-sia. Sebaliknya kita dituntut untuk menyampaikan kebenaran dengan kesabaran.

3.      Orang yang membersihkan hartanya dengan zakat. Kita tahu bahwa kehidupan ini terhadap si kaya dan si miskin. Kepada si kaya hendaknya bisa melindungi si miskin melalui zakat begitu si miskin berupaya agar tidak menggantungkan diri dengan si kaya. Jadi sampaikan hak-hak orang lain (zakat) itu dengan benar, dengan berbagi dan mengajak orang untuk  membantu  si miskin.Harta itu amanah, karena pemilik harta sesungguhnya adalah Allah SWT. Suatu saat harta itu akan diambil dan hanya orang kufurlah yang selalu mengumpulkan harta namun tidak memperhatikan hak orang lain didalamnya. Bahagiakah kita jika harta yang kita kumpulkan justru tidak bisa kita nikmati. Karena diganjar berbagai penyakit kita hanya bisa menikmati sedikit makan dan sedikit minum. Jadi utamakan zakat (yang ditetapkan 2,5 kg beras atau uang sebesar Rp. 16.000 dimana satu kilo beras diharga Rp.6.000)

4.      Orang yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang merugi yang berpuasa hanya dengan menahan haus dan lapar. Dengan ibadah puasa diharapkan a. ibadadah meningkat , b. emosi lebih rendah karena telah berlatih menahan diri c. mengendalikan untuk tidak menikmati sesuatu  dengan berlebih-lebihan. Dengan makan yang cukup maka tidak membuat pikiran kita rendah  dan d. walaupun sudah manusiawi kita memiliki amarah namun bisa memaafkan, begitupun terhadap orang yang kekurangan kita memaafkan dengan membantu dirinya untuk benar (produktif)

Mudah-mudahan ibadah puasa menjadikan kita bagian dari empat golongan tersebut.Thausiyah ini hanyalah menjadi sarana untuk saling menasehati dalam kebenaran. Karena dua puluh enam jam hidup, tidak kita ketahui kapan ajal mencabut nyawa, bisa siang bisa malam. Maka semakin kita jauh berjalan semakin denganlah kita ke tujuan. Oleh karenanya, langkah kita di 10 (sepuluh) hari kedepan dapat diisi dengan ibadah yang membuat kita lebih baik .

Hikmah Ramadhan ini disampaikan Farid Wajdi, S.Ag saat memberikan hikmah Ramadhan di Mesjid Assalam Pulau Gersik 

Halaman Berikutnya »