Kampong Kite


Tanjungpandan (WP),   Hubungi Roby di telepon 085222971937 atau email  rbyandhika@yahoo. com atau hubungi telepon (022) 7237234, Asrama Gunong Tajam Jl.Supratman No.106 Bandung untuk mendapatkan tiket pesawat Sriwijaya ekstra tanggal 28 September harga tiket Rp. 800 ribu, “tempat terbatas” .

 

Sementara Teddy Aprilianto menginformasikan tiket kapal perang untuk tanggal 27 September yang juga  Asrama Gunong Tajam Bandung. Ini menjadi alternative mudik murah. Beberapa perantau mengeluhkan tingginya tiket pesawat. “ Kalau perlu DPRD Kab Belitung pansus kenapa tinggi harga”, tulis Rustam Effendi di forum diskusi belitungisland@yahoogroups.com. “Pemda semestinya dapat menyikapi berbagai masalah (mahalnya harga tiker) masyarakat seperti    tradisi mudik tahunan ini “ tambah Awaludian Berwanto dalam emailnya. Perantau yang bekerja di Malaysia ini memutuskan untuk tidak mudik karena tidak bertepatan dengan jadwal libur sekolah anaknya.

 

Mengornisasi diri, setidaknya itulah kesan perantau yang ingin bersilaturahmi setahun sekali dikampung halaman. Seperti mahasiswa, upaya mudik bersama pernah dilakukan Forum Kerukunan Masyarakat Belitung (FKMB) beberapa tahun silam.

 

Saat itu 700 perantau Belitung memilih  kapal perang milik TNI AL melalui Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) menuju Pelabuhan Tanjung Pandan. Setiap penumpang dikenakan biaya tiket Rp 50.000 yang tidak berbeda dari tahun  2005. 

 

Jauh sebelumnya (tahun 2000), PT Pelni tidak menyelenggarakan pelayaran ekstra (tambahan pelayaran) kapal penumpang ke Belitung menjelang dan usai Natal, Idulftri dan Tahun Baru Kepala Cabang PT Pelni Kabupaten Belitung Drs Adi Adenin saat itu memperkirakan  puncak arus penumpang menggunakan kapal Pelni akan terjadi pada H-5  Sedangkan puncak arus balik ke Jakarta pada H+9. Saat itu Pelni menyelenggarakan  empat pelayaran, kapasitas penumpang yang dapat diangkut sebanyak 2.800 orang. 100 penumpang di antaranya diangkut Kapal Lawit dan Tilong Kabila, serta 1.800 penumpang menggunakan Kapal Mahakam dan Cisadane”

 

Pada tahun 2007 terdapat 550 pemudik menumpang KRI TNI AL, belum lagi pemudik yang melalui jalur udara. Begitulah, mudik   menjadi tradisi yang menjalin kekuatan emosial perantau dengan mengunjungi perenggu (sanak saudara) atau memanfaatkan liburan sekolah para mahasiswa.

Meski tidak sesulit perantau yang ingin ke Belitung, Ipat yang merantau ke Belitung sebagi tukang kusen tampak sibuk memenuhi produksi yang ditargetkan pemilik usaha, tentu akan banyak rupiah dibawa ke kampung jika target kerja bisa tercapai. Bedanya tiket di Belitung gampang didapat.    Tukang kusen yang berencana melangsungkan pernikahan setelah lebaran nanti di Tegal rencananya akan kembali bersama istri ke Kampong Baro Pangkallalang,Tanjungpandan. Bersama teman seprofesi, Ipat sudah mendapatkan tiket kapal Lawit untuk keberangkatan tanggal 18 September. Sebaliknya Wirawan Hendra harus meninggalkan kampung halamannya sendiri. Sudah berapa bulan pria yang kini menumpang di rumah orang tuanya meninggalkan anak istri karena perusahaannya menugaskannya menyelesaikan proyek di Belitung yang tak lain kampung halamannya. Romantisme kampung halaman sudah dinikmati tetapi sebagai kepala keluarga kerinduannya berlebaran di kampung halaman mengalahkan keinginannya  bertemu keluarga di Jakarta. Pada tahun 2006 (Idul Fitri 1427 H), Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memperkirakan 30 ribu pendatang kembali ke daerah asalnya Sebagian dari mereka  bekerja di berbagai sektor terutama timah di wilayah Babel (fithrorozi)

Tanjungpandan (WP), Olah raga merupakan sarana untuk memelihara kesehatan jasmani. Kesehatan jasmani sumber kesehatan rohani, karena “Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”. Jiwa seperti itulah yang kita butuhkan untuk melanjutkan pembangunan di daerah ini. Atas dasar pemikiran itulah Pemerintah Kabupaten Belitung bersama KONI  dan jajarannya,  terus berupaya mendorong peningkatan prestasi olah raga di daerah ini; baik melalui pembinaan kelembagaan organisasi keolahragaan, maupun melalui penyelenggaraan event olah raga seperti Kejuaran Tenis Lapangan Bupati Club 2008 ungkapan  Staff Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Sosial Zakaria A.Rifaie ketika membacakan Sambutan Plt Bupati Belitung di . Lapangan Tenis Husin Pelti, Tanjungpandan, Kamis (28/8).

Menandai pembukaan Kejuaraan Tenis Lapangan Bupati Cup 2008, digelar pertandingan eksibisi antara  pasangan Danlanud Tanjungpandan Letkol Pnb Deddie R Semet dan Danramil Kelapa Kampit Kapten Inf Hermansyah dengan pasangan Kepala Dinas Perindagkop Hendra Caya SE, MSi dengan Kasdim 0414 Belitung Mayor Inf Y Hartono.

Ketua Panitia Pelaksana Bupati Cup 2008 dan Hari Koperasi ke-61, Wisnoe S, menjelaskan, kejuaraan tenis ini mempertandingkan nomor beregu putra dan diikuti enam klub tenis di Tanjungpandan, masing-masing Rajawali (Kodim), Volta Elektrik (PLN), Primkopad, Ganesha, HTC dan Yustisia.

Pelaksaaan tahun ini jauh lebih menurun secara kuantitas dibandingkan Kejuaraan Tenis Bupati Cup 2006. Tahun 2006 terdapat  124 atlet dari 13 klub yang bernaung dibawah PELTI bertanding di tiga lapangan, Lapangan Tenis Husin, Lapangan Kodim/Rajawali dan lapangan Tenis SMKN2 Tanjungpandan. Sementara pada tahun 2007  Bupati Cup menghadirkan petenis legendaris Suzanna Aggakusuma. Namanya pun dirubah menjadi Kejuaraan Tenis Bupati-Suzana Cup yang lebih menekankan pada upaya membangkitkan kembali semangat atlet lokal untuk  berbicara ditingkat nasional seperti harapan Suzanna yang bersama suami, Tintus Arianto Wibowo datang ke Belitung. Event lokal seperti Kejuaraan Tenis Bupati Cup diharapkan dapat menjadi bagian dari agenda PB-PELTI.

Pengamat tenis, Harmony Ginting pun angkat bicara, bagi yang ingin berprestasi Internasional di cabang olah raga tenis, hampir mutlak untuk dimulai secara konsisten sejak usia dini, 5-6 tahun, karena demikian yang terjadi dinegara maju la  

Suzana terdiam, membiarkan air matanya mengalir melihat tempat dia menempa diri menjadi atlet nasional kini berubah fungsi menjadi lokasi jualan gorengan, soto, sate dan aneka kuliner. Saringga dari duni hingga kini masih tinggal di Kampong Bairok, Kelurahan Kota, Tanjungpandan menemani mantan anak didik.  Pelatih sang legendaris hanya bisa bercerita tentang kondisi olah raga sudah ditinggalkannya. “ Setidaknya inilah awal Suzanna bersama sang suami yang juga mantan petenis nasional datang ke Belitung bersama atlet nasional lainnya.

Dengan kondisi lapangan yang berubah fungsi dan kecenderungan menurunnya kualitas dan kuantitas atlet, rasanya kampong kite akan semakin sulit menggapai bintang. Apalagi berdiri diatas Gunung Tajam yang hanya setinggi 500 meter dari permukaan laut sementara ratusan ribu meter di seberang sana menjulang tinggi, dewasa dengan magma dan kepundan yang besar. Bagi kampong bairok atau dikenal kampong pontinak, kehadiran lapangan tenis sedikit banyaknya telah menarik perhatian sejumlah anak mengasah bakat. Anak-anak kampong  tidak hanya menambah uang jajan menjadi pemungut bola tenis.Karena selalu bermain dilapangan tenis, membuat mereka tertarik untuk bermain bahkan berprestasi. Sebut saja Sobron ataupun Husein yang namanya diabadikan menjadi lapangan tenis yang berada di bekas emplacement (pemukiman) elit karyawan asing PT.Timah Tanjungpendam.

Tetapi olah raga apapun jenis dan kompetisinya harus berjalan. Bupati Cup harus terus menjadi tolok ukur pembinaan atlet-atlet tenis lapangan yang tergabung dalam klub-klub anggota Pengkab Pelti Belitung seperti yang diungkapkan Wisnoe. Kejuaraan yang juga digelar untuk memperingati HUT Kemerdekaan ke-63 RI dan Hari Koperasi ke-61 ini diharapkan dapat menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara penggemar tenis lapangan, merenungkan kondisi kampong kite agar warganya tetap sehat, cerdas sehingga dapat berprestasi, merebut kembali apa yang sudah tertinggal demi mengharumkan kampong halaman (fithrorozi)

 

Tanjungpandan (WP), Menurut mitos Cina, bulan 7 dianggap bulan setan. Menurut warga keturunan Tionghoa, setiap bulan 4 dan 7 pada tanggalan cina rumahnya dimasuki kupu-kupu yang berwarna hitam.  Sementara adat kepercayaan warga Tionghoa, mempercayai pada tanggal lima belas bulan tujuh tahun Imlek, pintu akherat terbuka lebar. Arwah-arwah yang berada di dalamnya akan keluar dan bergentayangan, terlantar dan tidak terawat di dunia. Karena itu manusia yang ada di dunia diharuskan memberikan sesajian sebagai bekal berupa makanan, minuman, buah-buahan, pakaian dan uang-uangan agar para arwah ini tidak mengganggu manusia di dunia.

Masyarakat tionghoa percaya, sesajian yang dihidangkan itu akan dinikmati para arwah menjelang tengah malam. Pada saat itu, prosesi ritual dilanjutkan dengan upacara rebutan sesaji yang berada di atas altar persembahan yang berada di Toa Pek Kong. Toa Pek Kong sendiri artinya para dewa yang dihormati, seperti Tso Su Kong atau Dewa Air, Kwan Iem atau Dewi Welas Asih, Kwan Kong atau Dewa Kejujuran dan Kebajikan, Tyai Tie Pakung atau Dewa Bangunan, Tu Tie Pekong (Bahasa Hokian = Dewa Bumi) atau Hu Tie Pekung (Mandarin) serta dewa-dewa lainnya. Arti harfiah Toa Pek Kong itu sendiri yakni toa itu paling tua sedangkan Pek Kong itu paman yang paling tua. Jadi, Toa Pek Kong itu adalah mereka yang sangat dihormati.

Puncak acara ritual dilakukan dengan membakar patung Dewa Akherat Thai Se Ja pada tengah malam sekitar pukul 24.00 WIB yang menjadi pertanda bahwa  arwah-arwah gentayangan telah kembali ke dunianya lagi dan manusia di dunia kembali dapat melanjutkan hidupnya kembali tanpa takut diganggu arwah-arwah yang gentayangan. Di tangan kanannya , Thai Se Ja memegang alat tulis dan tangan kiri memegang buku. Dengan jubah yang berkilauan, dan sorot mata yang menyeramkan yang tentunya sangat menarik bagi mereka yang hobi fotography. Bersama patung Thai Se Ja, sesaji berupa uang-uangan, baju-baju dari kertas, dan miniatur rumah  dari kertas ikut dibakar. Ini merupakan bagian dari  proses pengiriman sesaji yang digunakan dalam perjalanan bagi para arwah menuju alam akherat.

Tahun-tahun sebelumnya barang-barang persembahan ini diletakkan dipanggung yang tinggi menyerupai balai beregong dalam tradisi melayu. Karena diperebutkan banyak pengunjung panggung ini pun rubuh. Rebutan ini dapat ikuti oleh seluruh pengunjung. Dimulai dengan aba-aba, pengunjung akan saling berebutan untuk mendapatkan apa saja yang ada di atas altar. Karena diperebutkan menjadikan Chit Ngiat Pan terkenal dengan Sembayang Rebut yang dilakukan setiap tanggal lima belas bulan tujuh

 

Kini panggung persembahan tidak setinggi dulu lagi. Di Tanjungpandan ritual, sembayang rebut yang dilaksanakan pada  Jumat malam (15/8), dipusatkan di Klenteng Hok Tek Che Tanjungpandan. Diareal klenteng tampak hok say (meja sembahyang) yang digunakan para pengunjung dari etnis Tionghoa

 

Pengurus Kelenteng Hok Tek Che, Harjo, mengatakan, rangkaian ritual sembahyang rebut telah dimulai Jumat siang yang diawali pembukaan kain selubung penutup wajah Thai Se Ya, patung besar yang terbuat dari kertas. Barang persembahan yang ada berasala dari sumbangan berupa beras, makanan dan minuman, buah-buahan, sembako, mie instant, kue dan peralatan lainnya yang akan digunakan untuk ritual ini. Seluruhnya disimpan dalam wadah keranjang untuk kemudian diperebutkan oleh warga. Sebelum diperebutkan, barang-barang ini diletakkan di tempat tinggi di atas meja kayu untuk disembahyangkan. Setelah itu satu per satu keranjang diturunkan disusun diatas aspal dan diperebutkan. Berbagai atraksi kesenian ditampilkan seperti Barongsai Singa Mas Sakti Belitung atau dulu wayang khas Budaya Tionghoa. Tarian Singa atau barongsai menurut catatan pertama tentang tarian ini dimulai  pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum masehi. Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, penampilannya lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.


 “Beras ini kita bagikan kepada warga yang kurang mampu, sedangkan makanan dan minuman, serta hasil bumi lainnya ini akan diperebutkan para pengunjung yang hadir pada tengah malam nanti,” jelas Pengurus Klenteng Hook Tek Che. Klenteng Hook Tek Che
yang dibangun pada tahun 1868 yang dapat dikategorikan sebagai  benda cagar Budaya. Beberapa ritual masyarakat Tionghoa yang ada di Pulau Belitung diantaranya Sin Cia, Ceng Beng  dan Cap Goh Mei

 

  • SIN CIA itu sebenarnya merupakan awal dari musim semi di daratan Cina. Tetapi, kemudian dijadikan sebagai awal Tahun Baru Cina.

 

  • Cap Goh Mei, upacara ritual yang dilangsungkan 15  hari setelah Hari Raya Imlek (Sin Cia). Biasanya dimeriahkan dengan atraksi naga (liong), Tatung atau Loya sejenis debus dalam tradisi mayarakat Banten

 

  • Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April tahun Masehi, di poupulerkan oleh Nabi Konghucu, Warga Tionghoa berziarah ke makam orang tuanya dan leluhur karenanya disebut Sembayang Kubur.

 

Berbagai ritual  dan atraksi seni budaya yang ditampilkan memiliki daya tarik pencinta fotography ataupun para wisatawan. Namun saat ini ritual ini belum dioptimalkan untuk menarik wisatawan ke Belitung (fithrorozi), Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber

Tanjungpandan (WP),  Menyambut Hari Bhakti ke-61 TNI AU tahun 2008. Selasa (22/7) yang lalu. Wakil Ketua PMI Belitung HA Malik Latif menjelaskan di Belitung rata-rata membutuhkan 200 kantong per bulan. Di Belitung saat ini memiliki sekitar 380 orang anggota donor darah sosial yang rutin mendonorkan darah minimal tiga bulan sekali. Ini membutuhkan peran komponen masyarakat untuk menyumbangkan “harta” untuk kemanusiaan.

 

Setiap bulannya di dua Unit Transfusi Darah (UTDC) yakni di Pulau Bangka dan Pulau Belitung membutuhkan sekitar 400-500 kantong darah. Persediaan darah selalu tidak sebanding dengan kebutuhan. Bank darah yang tersedia kapasitasnya juga masih kecil hingga kurang mampu menampung persediaan darah bila ada kegiatan massal seperti perayaan HUT kantor yang dibarengi kegiatan sosial berupa donor darah. Hal ini diungkapkan pengurus PMI Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Radmida Dawam, Kamis (7/2).

 

Hingga bulan Agustus 2008 ini kegiatan donor darah diwilayah UTDC Belitung :

-         Anggota Alumnis SPG Nasional Tanjungpanda mendonor darah bulan Mei dalam rangka Peringkatan Hari Pendidikan Nasional

-         TNI AU bersama PT.Timah TBK dan PT.Pelindo II Tanjungpandan menyelenggarakan kegiatan bhakti sosial donor darah dalam rangka untuk menyambut Hari Bhakti ke-61 TNI AU tahun 2008 bulan Juli 2008 (22/7)  

-         Donor darah dilakukan dalam rangka Bulan Bhakti HUT PT Timah (Persero) Tbk ke-32 di Kecamatan Gantung, Selasa (28/7).

 

Darah merupakan komponen penting dalam tubuh manusia. Bila manusia mengalami gejala kurang darah atau kehabisan darah sama sekali, keselamatan jiwa manusia bisa terancam. Menyadari pentingnya fungsi darah dalam menjaga keselamatan jiwa manusia, Bapak Palang Merah Jean Henry Dunant terdorong mendirikan Palang Merah untuk menolong mereka yang terluka dalam konflik bersenjata.

Hikmah yang bisa dipetik dari motivasi tersebut luar biasa mendalam, bahwa di tengah pergolakan peperangan sekali pun, kepedulian dan pemeliharaan terhadap nilai-nilai kemanusian serta harkat dan martabat manusia harus senantiasa diupayakan.

 

Persoalannya kemudian, tantangan dan ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta harkat dan martabat manusia, bukan hanya bersumber dari konflik bersenjata atau peperangan. Bencana alam, bencana sosial, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidak pedulian teradap manfaat hidup besih dan sehat, merupakan potensi yang senantiasa mengancam harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kemanusiaan.

 

Sementara itu, pesatnya pertumbuhan industri kenderaan bermotor dan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mentaati peraturan lalu lintas, membuat angka kecelakaan lalu lintas cendrung meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan tidak sedikit di antaranya menyebabkan korban jiwa, sehingga kecelakaan lalu lintas cenderung menjadi “bencana baru” yang setiap saat mengancam keselamatan jiwa manusia.

 

Untuk menangani bencana inilah Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Belitung harus senantiasa siaga memberikan bantuan, baik bantuan tenaga relawan penanganan bencana, maupun bantuan darah sesuai dengan kebutuhan.

 

Dengan latar belakang itulah saya selaku Pelaksana Tugas Bupati Belitung menyambut baik dan menghargai upaya masyarakat membantu PMI menyiapkan stock darah, terlebih melalui kegiatan donor darah berkesinambungan seperti yang dilaksanakan Pemerintah Desa Tanjung Pendam pada kesempatan ini, ungkap Plt.Bupati Belitung Ir.Mulgani dalam sambutannya pada Hari Bhakti Sosial Donor Darah ke-IV Desa Tanjung Pendam (Syafei/Fiet)

Catatan Sejarah ini dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka, Komunitas Telinsong Budaya mengumpulkan catatan dari beberapa buku diantaranya Gedenkboek Billiton 1852-1927, Tweede Deel ‘S-Gravenhage Martinus Nijhoff yang ditulis pada tahun 1927

TANJUNGPANDAN DI MASA KOLONIAL
Perkembangan Kota Tanjungpandan di masa kolonial dijelaskan panjang lebar dalam buku Gedenkboek Billiton 1852-1927 dan dibuktikan dengan peninggalan budaya kolonial seperti Emplassemen dan Juliana Park di Tanjungpendam, Hoofdkantoor (sekarang Barata Dept Store), Landraad (Kantor Dinas Pendidikan), Holand Indische School (SMPN 1 Tanjungpandan) atau gedung Societet.

Perkembangan kota Tanjungpandan masa kolonial diperkirakan mulai dari pertengahan abad XIX –ketika timah mulai dieksplorasi hingga pertengahan abad XX –akhir masa pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Gedung Societeit. yang terletak di ujung utara pertemuan jalan Gegedek dan Jalan Endek sekarang .Gedung soceiteit semula milik ibu Hong Chong Chun. Selain itu ada gedung societeit lain yang dibangun pada tahun 1871. Menurut keterangan masyarakat pada tahun 1918 pernah menjadi pos jaga militer.

Selain pengaruh kolonial, budaya Tionghoa juga mewarnai perkembangan kota seperti Klenteng Hook Tek Che yang dibangun pada tahun 1868 dan rumah Kapiten China Hong Chon Chun (Ho A Jun) yang terletak di jalan Soceiteit Straat (sekarang Jalan Endek). Rumah ini terdiri dari aula dan 8 kamar dilengkapi 8 jendela samping, 7 jendela depan, 1 buah pintu besar dan 2 pintu belakang. Selain sebagai rumah tinggal juga berfungsi sebagai kantor Kapiten Cina dan perkumpulan sosial kaum elit Tionghoa Chung Hwa Hui

Jumlah penduduk Tionghoa dari tahun 1856 sampai 1866 meningkat dari 627 menjadi 2724. Umumnya berasal dari daerah Tiongkok Selatan yang didatangkan oleh Maatschappij sebagai imigran bebas. Selain ikatan kontrak mereka juga diikat dengan pemakaian candu sehingga tahun 1857 hak tunggal penjualan candu dikelola oleh orang Tionghoa.

Perkumpulan ini juga mendirikan sekolah Chung Hua. Pada bulan Mei 1937 dibangun sekolah Tionghoa lain yakni Sekolah Kien Shien yang menjadi lembaga pendidikan Cina terbesar di Tanjungpandan. Di sebelah barat gedung terdapat bekas panggung terbuka tempat orang-orang Cina menggelar kesenian tradisional pada hari-hari besar Konghucu. Sekolah Kien Shien dalam bahasa Hou Kien bermakna “ bangun baru” yang bertujuan untuk kemajuan .

Keberhasilan ekspedisi pertambangan akhirnya mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pulau Belitung terutama ketika dikelola oleh perusahaan GMB (Gemeenschapplijke Mijnbowmaatscppij Billiton )

Sekian lama dibawah pengaruh Belanda, pada tanggal 10 April 1942 sejumlah 2000 orang tentara Jepang mendarat di Tanjung Pandan dengan menggunakan perahu motor dan kapal tunda. Jepang berupaya untuk membumi hanguskan hal-hal yang terkait dengan administrasi dan produksi Belanda termasuk menenggelamkan kapal keruk, tambang dalam Kepala Kampit dengan sengaja dibanjiri sehingga tidak dapat beroperasi. Pada Tahun 1943 terdapat 23 lokasi tambang dengan produksi 633 ton sedangkan dalam tahun 1945 tinggal bekerja 6 tambang saja dengan penurunan produksi yang sangat drastis yakni hanya 51 ton.

Pada saat pemerintahan kolonial Belanda masih menerapkan secara mutlak sistem sentralisasi dalam pemerintahan yaitu Goweten dikepalai Residen, Afdelingen dikepalai oleh Asisten Residen dan Onder Afdelingen dikepalai oleh Controlleur dan pada abad XVIII itu pula khususnya pada periode pemerintahan VOC tahun 1722 termasuk periode pemerintahan Daendless tahun 1808 dan Raffles tahun 1811 diperkenalkan nama-nama pangrehpraja seperti Bupati, Patih, Camat dan Lurah/Kepala Desa.

Selanjutnya dikenal sistem desentralisasi dalam pemerintahan di Indonesia saat diterbitkannya Desentralisasi Wet 1903, yang kemudian setelah 19 tahun diubah dengan Bestuurhervorming Wet yang mengenai tiga tingkat daerah otonom yaitu provinsi (provinsi ordonansi) kabupaten (regensche ordonansi) dan kota (staatsgmente ordonansi). Berdasarkan acuan landasan hukum diatas dengan Staatsblad (STBL) 1933 No.565 Kepulauan Bangka Belitung ditetapkan menjadi Residentie en Orderherichgheiden dengan pulau utama Bangka sebagai Residen dan Belitung sebagai Onder Afderlingen yang dipimpin oleh Asisten Residen

TANJUNGPANDAN DI AWAL KEMERDEKAAN
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia baru diterima oleh Pemerintah Belitung pada tanggal 6 September 1945 yang dikirim oleh Residen Bangka Belitung (Masjarif) kepada Demang KA.Latif yang bertindak sebagai Wakil Pemerintah Guntyo di Tanjungpandan. Keterlambatan maklumat Proklamasi Kemerdekaan ini mengundang persepsi negative terhadap kepemimpinan Demang KA.Latif

Pada tanggal 29 September 1945. K.A. Latif digantikan oleh Muhammad Jusuf dari Bangka sebagai pejabat pemerintah Jepang di Pangkal Pinang (disebut Busyuzityo) yang berpangkat Departements Hoofd. Namun masyarakat menilai, Mohammad Joesoef masih memiliki persepsi dan sikap yang sama terhadap kemerdekaan Republik Indonesia seperti pendahulunya.

Pada tanggal 16 Oktober 1945, Bunsyuzityo mengundang dan mengumpulkan semua pegawai pemerintah untuk kemudian mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Sejak saat itu semua pegawai pemerintah mengangkat sumpah sebagai pegawai Republik Indonesia. Inilah tonggak pertama proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan di Belitung

Akhirnya K.A. Mohammad Joesoef memutuskan untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia di Tanjungpandan pada tanggal 16 Oktober 1945 bertempat di gedung Sekolah Holland Indische School (HIS) yang sekarang SMP Negeri 1 Tanjungpandan dan dilanjutkan dengan pembentukam Komite Nasional Indonesia esok harinya tanggal 18 Oktober 1945 di tempat yang sama. Pada saat yang sama mendarat pesawat terbang Catalina di Pelabuhan Tanjungpandan (muara sungai Cerucuk) yang membawa pegawai NV.GMB Verschure dan Van der Berg.

Selain sebagai pusat pemerintah dan pusat kendali produksi pertambangan, Tanjungpandan juga menjadi bagian sejarah pergerakan politik di Pulau Belitung dari organisasi Muhammadiyah (1924-1950), Partai Nasional Indonesia (1928-1943), Partai Indonesia Raya (1937-19430) hingga Noeroel Islam (1937-1943).

Tanggal 21 Oktober 1945, kapal HMS Admiral Tromp, yang dinakhkodai oleh Kolonel Laut Stamp mendarat di Pelabuhan Tanjungpandan. Dalam kapal tersebut ikut serta tentara NICA (Nederlands Indies Civiel Administration) yang dipimpin oleh Mayor Textor. Tentara NICA langsung menduduki kantor polisi, kantor telegraf, tangsi militer, rumah sakit dan menjaga tempat-tempat strategis lainnya. Pendaratan ini memicu perlawanan. Pada bulan November 1945 pergerakan fisik semakin tidak bisa dihindari. Sejumlah tokoh dari Sjuk antara laini Mad Daud Malik, Muhani Mahran, Kulup Kamarudin, R.Margono terlibat dan menggelorakan pertempuan dan terkonsentrasi ke Tanjungpandan.

Pasca pergerakan fisik, Tanjungpandan masih menjadi bagian dari kegiatan pergerakan politik seperti Partai Indonesia Muda (1946-1951) Panitia Moektamar Rakyat Indonesia (PAMORI) yang diketuai oleh Dr.Marsidi Joedono, Persatuan Kaum Buruh Indonesia atau PERBAKI Belitung (1945-1947) dipelopori oleh Dr.Marsidi Joedono, Latumenten, Asim Idris, Billiton Raad atau Dewan Belitung (1946-1948 )

Kota Tanjungpandan melewati berbagai pergolakan sebelum akhirnya suasana kota menjadi kondusif. Sekitar tahun 1951 Bung Karno dan Bung Hatta mendarat di Pelabuhan Udara Buluh Tumbang. Selama berada di Tanjungpandan, Bung Karno sempat berorasi di Gedung Nasional sementara Bung Hatta meresmikan Pabrik Keramik.

Tanjungpandan berkembang karena memiliki infrastruktur layaknya kota pesisir dan menjadi pusat administrasi dan pusat pertumbuhan di Pulau Belitung. Selain Dipati, Tanjungpandan merupakan kepanjangan dari pemerintah yang berpusat di Bangka.

TANJUNGPANDAN PUSAT PEMERINTAHAN
Penyelenggaran Pemerintahan dari tahun 1950 hingga tahun 2002 (Pembentukan Provinsi Bangka Belitung), Pulau Belitung termasuk Daerah Tingkat II Sumatera Selatan yang beribukota di Tanjungpandan. Pada awalnya terdiri dari 4 wilayah kecamatan, yaitu :
1.Kecamatan Tanjungpandan
2.Kecamatan Manggar
3.Kecamatan Gantung
4.Kecamatan Membalong

Sampai tahun 1971, masyarakat Belitung sangat mengenal dan terikat dengan tiga unsur pokok (Tritunggal) sebagai sesepuh masyarakat desa yaitu Lurah, Penghulu dan Dukun, yang masing-masing mempunyai tanggung jawab sesuai dengan fungsinya dalam masyarakat desa. Pada tahun 1924 mulai dibentuk kelurahan sampai batas tertentu adalah otonomi dimana Belitung Barat terdiri dari 28 kelurahan dan Kewedanaan Belitung Timur dengan 20 kelurahan .

Isu membentuk wilayah pemerintah yang terpisah dari Provinsi Sumatera Selatan pernah muncul ketika mengusulkan membentuk negara federal BABERI (Bangka Belitung Riau). Untuk kepentingan tersebut dikirim utusan untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda pada tahun 1949 yakni Saleh Achmad dan Dr. Lim Chai Lie dari Bangka serta Kiai Agus Yusuf dari Belitung, bersama dengan wakil negara bagian lainnya serta wakil Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masa pemerintahan RIS, KA.Yusuf yang menjabat sebagai Demang (Bupati) bersama Tjhang Tjin Kon mewakili Bangka Belitung dalam delegasi RIS di Konferensi Meja Bundar di Denhaag Belanda, pada tanggal 27 Desember 1949. Sebagai Wakil Kepala Daerah Belitung diangkat Prof.Dr.H.Marsidi Joedono. Selain Joedono (orang tua dari Billy Joedono Mantan Ketua BPK era Presiden Soeharto), jabatan Wakil Kepala Daerah dikekal dengan sebutan Bupati Muda (dijabat Panjaitan) dimasa pemerintahan Bupati Hanandjudin, dan kini (periode 2004-2009) disebut Wakil Bupati.

Namun demikian, setelah pengabungan dengan NKRI, status Bangka Belitung terdegradasi turun menjadi Kabupaten, karena Perpu No.3/1956 menghapuskan status Keresidenan dan melalui UU Darurat No.4 Tahun 1956, Bangka Belitung digabungkan menjadi bagian dari Propinsi Sumatera Selatan.

Masa Ke-Dipati-an telah berakhir, sejumlah Kepala Daerah telah menjadikan Kota Tanjungpandan sebagi pusat pemerintah dan yang pasti tidak lagi di Kampong Raje. Kekhawatiran terhadap muncul “kerajaan kecil “ di otonomi daerah memang selalu ada. Namun mereka yang telah berbuat sudah layak kita hargai , yang salah diperbaiki yang benar ditauladani. Kami, Komunitas Telinsong Budaya hanya mengumpulkan dengan segala hormat catatan ini pun masih butuh koreksi. Kami menghargai dan mentauladani pemimpinan kami, para Bupati maupun pejabat Bupati yang pernah menjabat sebagai Kepala Daerah di Pulau Belitung.

1. Adji Murod (1950-1952)
2. Mustafa Ratu Tunggal (1953-1954)
3. Oemar Said (1955)
4. Zainal Abidin Pagar Alam (1955-1958.)
5. Raden Abdullah (1959-1960)
6. Raden Sumbadjie (1960-1961)
7. Wahab Adjis (1951-1967)
8. Letkol (Purn) TNI AU H.Achmad Sanusi Hananjuddin (1967-1972)
9. Koesnio Hadi (1973-1977)
10.Datuk Lela Siregar, SH (1977-1978.)
11.Mas Sofyan (1978-1980)
12.Cholil Aziz, SH (1980-1981
13.Kolonel (Czi) H.Soemarsono (1981-1986)
14.Kolonel (Czi) H.AS.Kristyanto (1986-1991)
15.Letkol Inf Urip TP.Alam (1991-24 Sep 1998.)
16.Nang Ali Solichin (24 Sep 1998- 6 Maret 1999)
17.Ishak Zainudin, Bsc (1999 – 26 Februari 2004)
18.Ir.H.Darmansyah Husein (2004-2008)


Serangan Raja Akil telah memporak-porandakan kedamaian Belitung, pendatang dari Siak ini membuat KA.Rahat mencari tempat berlindung. Tanjungpandan sekian lama terbebas dari gangguan pendatang. Tanjung Simba dengan permukaan tanah yang tinggi cocok untuk tempat berlindung dari serangan pendatang yang mengincar daya tarik dan tipu muslihat pencari keuntungan.Karena jiwa kepemimpinannya, Depati Cakraningrat IX ini mengembangkan kampong dari arah pesisir hingga ke tengah daratan.

bukan saja strategis bagi pelayaran.

 

Jauh dari pesisir laut masih dijumpai hutan dan tentunya saja belum berkembang. Setelah kedatangan para pioneer Belanda, Tanjungpandan yang terletak pada koordinat 2° 45′ 0″ Lintang Selatan, 107° 39′ 0″ Bujur Timur mulai berkembang pesat, kuli tambang asal Cina mencari peruntungan di tanah harapan. Mesjid Jamiek, Rumah Depati, Kantor Pengadilan dan dibangun. Perusahaan Belanda, GMB menempati rumah kediaman pembesar Cina untuk dijadikan pusat kendali penambangan timah (hoofdkantoor)

 

Dibanding Bangka, konsentrat timah Belitung dipandang sebelah mata. Didekat  Sungai Cerucuk, dibangun benteng di wilayah Tanjung Gunung (Tanjungpandan kini). Komandan militer, de la Motte bertindak sebagai Asistem Residen berkebangsaan Belgia sebelum  digantikan J.R Bierschel.

Dari dulu hingga kini Tanjungpandan tetaplah kota kecil. Sebagian besar kota di Indonesia berkembang diawal dengan pelabuhan orang menyebut Belitung menyebut Boom ada juga lokasi Batu Palembang tempat persinggahan perahu.

Sobron Aidit dalam Catatan Serba-Serbinya mengenang dinamika kota kecil ini. Di depan Tanjungpendam ada sebuah pulau kecil, namanya Kelamoa. Kata orang dulunya namanya Kalamoa, dari kata Kalah Semua. Karena dulunya banyak perompak, bajaklaut yang merampas isi perahu para nelayan dan pedagang. Tetapi dalam pertempuran dekat pulau kecil itu, para bajak laut, perompak dan lanun itu semua dapat dikalahkan. Dan karena itu penduduk, nelayan, para pedagang-nelayan, selalu “mengajak” para bajaklaut dan perompak, lanun itu bertempur dan berkelahi dekat atau di pulau itu. Kata orang, sejak itulah nama pulau kecil itu menjadi Kalamoa, dan Kelemua.

Sekian puluh tahun berlalu, wajah kota Tanjungpandan, ibukota Kabupaten Belitung kembali  muram, sibuk, kumal seperti tidak terurus. Sepanjang  Jalan RE. Martadinata dan Gang Kimting bertemu pendagang dan pembeli yang tak hirau pengguna jalan yang sedang melintas, sampah, gersangnya pohon menjadi masalah disudut-sudut kota .

 

 

Pasca timah, jumlah penduduk kota Tanjung Pandan bertambah berlipat-lipat Selain jadi sebagai pusat usaha (Central Business District) juga menjadi pusat gaya hidup orang besar di kota kecil, pusat konsumsi warga yang secara tidak langsung membangun struktur ekonomi Kabupaten Belitung.

 

Sayangnya kegigihan berusaha semangat melangkah maju bak produk sastra “Deru Campur Debu”, hak dan kewajiban berpindah-pindah posisi, kadang mengabaikan hak-hak orang lain, pejalan kaki risih jalur perjalanannya didesak pedangang kaki lima.  Tapi Mei 2008 awal, pintu-pintu toko sepanjang Gang Kimting yang biasanya tertutup pedagang kaki lima kini terlihat jelas. Sayangnya pemandangan itu hanya sebentar. Dipertigaan, disepanjang Jalan Martadinata terlihat semerawut. Ketika terjadi penertiban kelompok pedagang tidak puas. Pedagang yang dulunya bersepakat untuk tidak berjualan di sepanjang jalan sudah bertambah banyak. Sementara kios penampungan   yang baru selesai dibangun tidak menampung mereka. Menurut PKL sepanjang jalur  muara Sungai Siburik adalah lokasi pengganti yang layak, tetapi kekhawatiran muara sungai kumuh kembali tak kalah menjadi pertimbangan layak tidaknya menjadi lokasi berjualan. Dulu sebelum menjadi taman monas (monumen nanas),  pusat perdagangan tepat dijantung kota. Didepan landmark Jam Gede Hoofdkantoor (kantor pusat PT.Timah), pasar loodsen namanya, kini simpang lima pusat kota sudah tidak nyaman lagi, truk-truk besar bermuatan bahan galian C seringkali menyisakan debu.

 

Ditengah kesulitan ekonomi dan kondisi barang yang melejit, pedagang dan  pelaku usaha kecil harus mampu merebut pelanggan. Karena pengeluaran hari ini akan sangat tergantung dengan berapa besar pendapatan hari. Bagi daerah tingkat konsumsi masyarakat yang begitu besar mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Bangunan cina yang diapit dua naga  kecil diatas menjadi pintu gerbang memasuki pasar tradisional Tanjungpandan. Dilokasi ini terbagi menjadi beberapa lokasi,  pasar ikan, pasar daging, pasar bumbu, pasar sayur tidak jauh dari pusat Kota Tanjungpandan. Hidup memang harus bertoleransi, toleransi terhadap hak dan kewajiban, toleransi terhadap perubahan zaman, toleransi terhadap kepentingan usaha sehingga silaturahmi (baca : integrasi ruang) bisa terjalin, bersahabat dengan keindahan rindu terhadap dengan lingkungan berlabel Kota Adipura. Melangkah terus kota kecilku….tumbuhlah hingga  dewasa dan dewasalah dalam memahami perubahan (fithrorozi)

Konsumsi daging di China meningkat dari 20% menjadi 50% sejak tahun 1985. Sebaliknya tingkat konsumsi daging di Indonesia rendah bahkan dibandingkan dengan Malaysia, Filipina, dan Thailand. Demikian pula dengan produksi pangan hewani yang lain seperti susu, telur, dan ikan pun masih belum menggembirakan. Berdasarkan data statistik peternakan, hampir 90 persen usaha peternakan sapi di Indonesia adalah peternakan rakyat. Namun usaha-usaha pembibitan (breeding) ataupun pembesaran sapi potong komersial (feedlooter) mengalami penurunan sejak terjadinya krisis moneter. Seiring dengan peningkatan komsumsi daging, gairah peternak maupun pengusaha mulai  bangkit kembali.

Menurut Viktor Siagian, peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Palembang, konsumsi daging per kapita pada 2004 sebesar 6,2 kg dengan total konsumsi 1,97 juta ton, sementara produksi daging 2,0 juta ton yang meningkat rata- rata 7,9 persen per tahun dibandingkan 2003.

Pada 2005, produksi daging sapi 463.800 ton dengan populasi ternak sapi potong 10,4 juta ekor (Statistik Peternakan, 2006). Indonesia masih mengimpor daging sapi sekitar 3.500 ton per tahun, sedangkan jumlah sapi bakalan 350.000 ekor per tahun. Untuk itu Departemen Pertanian menerapkan strategi untuk mencapai swasembada daging (sapi)  pada 2010 antara lain dengan melakukan penjaringan betina produktif 150.000-200.000 ekor per tahun. dan  mengintensifkan program Inseminasi Buatan (IB).

 

Rendahnya produksi daging ini menunjukkan peluang investasi di sektor peternakan cukup besar. Jika dilakukan secara intensif dan terintegrasi tentunya akan meningkatkan pendapatan masyarakat karena sebagian besar peternak di Indonesia adalah peternakan rakyat. Pemerintah Kabupaten Belitung. memusatkan kawasan peternakan sapi sebagai bagian pembangunan kawasan agropolitan Membalong di Desa Prepat. Desa dengan penduduk  1.582 jiwa pada awal tahun 2008 atau % dari total 22.180 jiwa penduduk Kecamatan Membalong ini memiliki luas wilayah   97.000 km2

 

Sejak tahun 2004 Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melaksanakan pembangunan Holding Ground (peternakan sapi terpadu) sebagai prasarana dan sarana agropolitan menelan biaya sebesar Rp.76.883.000. Biaya pembangunan ini meningkat menjadi Rp.81.279.000 pada tahun 2005 dan Rp.98.300.000 pada tahun 2006. Pembangunan prasana dan sarana pendukung kawasan agropolitan ini kemudian terfokus pada pembangunan Pusat Pengembangan Ternak Sapi Terpadu di Desa Prepat pada tahun 2007 antara lain dengan membangun kandang sapi 8 unit dilengkapi pagar keliling 500 m’, tower air dan pembuatan jalan akses menuju kawasan ini.

 

Masyarakat desa Prepat khususnya warga transmigrasi Rejosari yang dekat dengan lokasi patut bersyukur, pembangunan kawasan ini bukan saja menciptakan usaha alternatif tetapi juga mendukung pertanian yang selama ini mereka usahakan. Kade Prepat Hasbi A Rachman mengungkapkan sejak BPTP Kepulauan Bangka Belitung membantu  desanya. Dulu  panen padi paling tinggi 4 ton per hektar per musim tanam.  Tetapi sejak Agustus 2007, produksi padi Prepat meningkat menjadi 6,3 ton per hektar per musim tanam dan mencapai 7,8 ton per hektar per musim tanam pada tahun 2008 setelah menerapkan teknologi PPT Padi Terpadu dibawah bimbingan Tim Primatani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung. Atas keberhasilan panen padi, masyarakat lokal merayakan keberhasilan dengan menggelar ritual maras taun yang dimeriahkan aneka hiburan rakyat selama tujuh hari tujuh malam (17 hingga 23 mei 2008) yang lalu.

 

 

Kampong Ternak

Pada tahun 2000, tercatat 12.045 rumah tangga menjadi petani lada. Tanaman lada (Piper nigrum) merupakan tanaman primadona yang dikerjakan turun-menurun sehingga menjadi budaya masyarakat Belitung. Pola pertanian masyarakat kemudian berubah terutama sejak kedatangan transmigrasi di Desa Prepat tahun 80-an. Pertanian padi dikembangkan dengan membangun irigasi di kaki Gunung Kubing untuk mengaliri sawah. Selama ini masyarakat lokal mengusahakan tanaman pangan ini dengan sistem ladang. Kehadiran transmigran ini pun membuat masyarakat bergairah menanam tanaman holtikultura dan menjadi pemasok sayuran di pasar Tanjungpandan.

 

Dengan ditetapkannya Membalong sebagai kawasan agroprolitan dan ketersediaan sumberdaya manusia di bidang pertanian, Desa Prepat ini dikembangkan pula sebagai kawasan peternakan terpadu. Di Indonesia sendiri Kawasan terpadu peternakan lebih banyak dikelola oleh peternak rakyat yang kemudian diperkuat dengan membentuk asosiasi peternak seperti HPDKI (Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia).

Dibandingkan Kawasan Agropolitan, nama kampong ternak memang belum dikenal luas dikalangan masyarakat. Di beberapa daerah seperti di Kabupaten Belitung Timur, kawasan Agropolitan dikenal dengan istilah Kawasan Terpadu Mandiri. Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein  berharap dengan adanya kawasan dapat memicu produktivitas petani.  Delapan kandang yang ada diharapkan menjadi sentra pemasok daging utam di Kabupaten Belitung. Setiap kandang rata-rata  dikelola oleh 3-4 peternak. Sebelum dikirim ke Prepat, sapi-sapi yang didatangkan dari Australia ini diinseminasi dan dikembangkan di Peternakan Lembang, Jawa Barat sebelum dikirim ke kampong ternak Prepat.

Jika diasumsikan kotoran yang dihasilkan 10 kg per sapi per hari maka dengan 570 ekor sapi bisa menghasilkan 5.700 kg kotoran sapi. Ini peluang besar untuk pengembangan biogass dan produksi kompos. Artinya masalah kenaikan harga dan gangguan distribusi BBM ke Kabupaten Belitung, sedikit banyak dapat terselesaikan melalui penciptaan energi alternatif dan peningkatan nilai tambah dan pendapatan peternak. Harus disadari, tidak semua lahan di Pulau  Belitung mampu mendukung produksi pertanian. Dengan kualitas lahan yang terbatas perlu memerlukan seperti yang dilakukan oleh binaan Prima Tani.

 

Menurut Ir.Rinaldi,Msi,Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Babel, kompos-kompos ini dihasilkan atas swadaya masyarakat Kampong Prepat. Tugas Pokok BPTP adalah melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna dan spesifik lokasi. Kompos yang dipamerkan dalam peresmian kampong ternak prepat 18 mei yang lalu,  beratnya bervariasi antara 3 kg hingga 7 kg. Kemasan 3 kg dijual dengan harga Rp.10.00 sedangkan kemasan 7 kg dijual di lokasi seharga Rp. 20.000. Dengan kebutuhan pupuk kandang yang cukup tinggi saat ini, para petani tak jarang mendatangkan kompos dari luar Belitung. Hal ini diungkapkan Bupati Belitung ketika bersama Wakil Gubernur Syamsudin Basar meresmikan Kampong Ternak Prepat.

 

Untuk membantu petani dalam menerapkan teknologi pertanian dan meningkatkan pendatan, BPTP menempatkan beberapa staffnya dan mendirikan di Posko Agribisnis Membalong. Teknologi yang tepat guna dibutuhkan petani seperti dalam memproduksi kompos. Dengan pengolahan biasa, kompos dihasilkan dalam waktu 3 hingga 4 bulan tetapi dengan teknologi menggunakan campuran EM4, waktu pembuatan jauh lebih singkat menjadi 3 hingga 4 minggu. Dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya investasi dari masyarakat yang ingin  menanamkan modal pengembangan sapi, bukan mustahil  Kampong Ternak dapat menghasilkan energi listrik skala rumah tangga melalui teknologi biogass dan menjadi rujukan daerah lain dalam mengembangkan sebuah kawasan pertanian yang produktif . “Untuk menjadikan kawasan rujuan  perlu didukung dengan SDM yang memadai, infrastruktur dan jaringan  pemasaran, kata  Rinaldi optimis (fithrorozi)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.