Kampong Kite


Sijuk (WP), Bagi Budin si penjual roti keliling, teriakan “ganti kaset” yang ditujukan untuk dirinya dapat diartikan ejekan. Meskipun banyak diantara mereka memang berharap agar Budin bisa mengantikan usaha atau meningkatkan skala usaha pedagang keliling seperti dirinya agar nasibnya tidak selau dekat dengan keranjang pempang dan sepeda butut. Pedagang seringkali dituntut kreativitas dalam melayani pelanggan dan jangan sungkan menerima kritikan. Komunikasi bisa dilakukan dengan penataan barang, kejelasan menu dan label harga atau komunikasi verbal seperti penjaga toko stand Awie yang menjual aneka minuman dan makanan.

Selain karena memang menyediakan kebutuhan para yachter. Anak buah Awie pun sikap mengajak salah satu yachter dari Australia untuk mengunjungi tokonya. Pasangan suami istri bertolak dari Darwin sejak Juli 2008 menghabiskan masa pensiunnya mengarungi rute Sail Indonesia 2008 dari Darwin – Kupang- Alor – Lembata – Ende – Riung – Labuan Bajo – Mataram – Makasar – Lovina Bali -Karimun Jawa-Kumai dan selama empat hari singgah di Belitung. “ it’s a nice and a beautiful place specially the sand but I don’t have information before” ujarnya. Meskipun kegiatan di pantai wisata Tanjung Kelayang ini baru resmi dibuka jari Jum;at (10.10), sudah ada yachter yang menambatkan yacht-nya di perairan Belitung seperti dua yachter asal Norwegia yang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Tanjungpandan dan pantai wisata Tanjung Pendam.

Hai mister…hai mister….terikan anak-anak desa Keciput disapa ramah yachter. Dengan senyum dan bahasa tubuh mereka saling berkomunikasi. Hans, Teyo dan Robert (Belanda) bersama pasangan mereka masing-masing,  bercengkarama sembari duduk di bawah pondok  kursi kayu beratap rumbia di bibir pantai. Sisi kanan pantai ini relatif lebih sepi dibandingkan dengan sisi kiri pantai yang dijadikan pusat kegiatan Sail Indonesia 2007. Di areal ini dilengkapi information centre, kios bahan bakar dadakan, panggung pertunjukkan, cafetaria besar  dan peta besar pulau Belitung yang dilengkapi dengan lokasi wisata dan nama jalan.  Pada hari pertama ini (10/10) belum tampak  petugas imigrasi dan Yayasan Cinta Bahari yang melayani administrasi pelayaran seperti Sail Indonesia 2007 yang lalu.

Layanan informasi yang dibutuhkan yachter manca negara ini berbeda. Dari tahun kemarin. Sekarang mereka lebih membutuhkan peta kota Tanjungpandan” jelas Koordinator Guide Suwirno. Beberapa hari yang lalu banyak dari mereka yang mencari penyewaan motor untuk pergi ke kota Tanjungpandan, mungkin karena itu mereka membutuhkan informasi bergambar seperti peta tambah Madi Sungkowo. Sementara tiga mobil besar besar milik Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Informatika Kabupaten Belitung masih terparkir rapi didepan pintu masuk areal.

Mudah-mudahan besok peta sudah dilengkapi lokasi atm, tempat perbelanjaan dan lokasi penting lainnya dan itu sudah tersedia di Information Centre” ujar Ketua Umum Sail Indonesia 2008 Drs.H.Jasagung Hariyadi,Msi didampingi Kabag Humas Suharyanto,S.Sos menanggapi kebutuhan tamu terhadap informasi wilayah. Selain kesiapan informasi dan media komunikasi, panitia juga menambahkan daya listrik dengan genset berkapisatasi 40 kilo watt yang disediakan PT.PLN Cabang  Tanjungpandan.

Untuk menambah informasi Wartapra meminjam buku berbahasa Belanda yang dipublikasikan tahun 1922 di Gravenhage (sekarang Deen Haag). Buku ini bercerita tentang proses penambangan timah pertama oleh NV.GMB dan kondisi sosial ekomoni masyarakat di Pulau Belitung. Hans, yachter asal Belanda, tampak antusias memperhatikan gambar-gambar para pioner penambangan seperti K.A.Beemann. Nama ini cukup dikenal dikalangan engineer dikotanya. “look….this is a tipical Dutch’s construction” ujar yachter Belanda ini yang sekian lama berprofesi sebagai ahli mesin sambil menunjuk gambar jembatan sungai Lenggang (Kecamatan Gantung,Beltim). Wartapraja menulis beberapa kata dalam bahasa Belanda yang sering menjadi judul gambar seperti woning (rumah),  leiding (ledeng atau pipa), laan (jalan yang ditumbuhi pohon di kanan-kirinya), hoofd administrateur (kepala administrasi). Gambar prasasti yang berjudul “het gedenkteken “(prasasti) tampak menarik perhatian Istri Hans “ Is it still exist ?”. Tentunya prasasti batu bertulis yang dibuat tahun 28 Juni 1928 untuk memperingati (teer herinnering) ekspedisi tambang timah pertama (28 Juni 1851) masih terlihat di halaman Museum Tanjungpandan (fithrorozi)

Oleh Rizal Merbau

Di kampung kami ada semacam kebiasaan memberi uang lebaran bagi setiap anak kecil yang berkunjung ke rumah (eh, aku dengar kebiasaan ini tidak hanya ada di kampung kami, tetapi juga berlaku di seluruh pelosok negeri ini. Benar tidaknya, Wallahu ‘alam bissawwab). Si pemilik rumah akan merasa bersalah bila tidak memberi, dan si anak akan merasa ada yang aneh bila tidak diberi uang lebaran. Suatu kebiasaan yang mungkin tidak perlu diperdebatkan untung ruginya. Toh, ini hanya terjadi setahun sekali. Hitung-hitung berbagi kasih. Begitulah………..!!!

Namun, pada Hari Raya Idul Fitri kali ini aku punya pengalaman baru mengenai pembagian uang lebaran. Meskipun terkesan sepele, sejujurnya aku mengatakan pengalaman tersebut mungkin akan mempengaruhi sikapku di masa yang akan datang. Aku menyadari, sesuatu yang semula sesuatu yang aku anggap baik belum tentu baik sesungguhnya, bisa saja yang terjadi adalah kebalikannya. 

Ini bermula dari lebaran hari ke-dua. Saat itu, Bang Kulup, salah seorang sahabat dekatku, tengah bersilaturahmi ke rumah kami. Pada saat kami masih mengobrol, datanglah 3 orang anak kecil, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Umur mereka sekitar 7-8 tahun. Setelah bersalaman, anak-anak tadi aku persilahkan duduk sembari mencicipi kue. Kurang lebih 5 menit kemudian, anak-anak pamit, sebagaimana biasa, aku menyiapkan uang lembaran seribu rupiah sebanyak 6 lembar yang akan aku berikan kepada mereka. Pada saat aku akan memberikan uang lebaran kepada anak yang kedua, aku lihat dia menyodorkan tangan kirinya untuk mengambil uang lebaran, secara refleks aku berkata ”Nak, jangan pakai tangan kiri, tangan manisnya mana?” mendengar teguran tersebut, si anak mungkin menyadari kesalahannya. Dia buru-buru menarik tangan kiri dan segera menyodorkan tangan kanan yang biasa disebut sebagai “tangan manis” untuk menerima uang lebaran. Melihat sikapnya itu, ada terbersit rasa bahagia karena sedikit banyak aku merasa telah mengajarkan kepadanya sikap yang baik menurut norma yang berlaku di lingkungan kita. Dua lembar pecahan uang seribu rupiah yang tadi sempat tertahanpun segera berpindah tangan. Anak-anak pergi, tinggallah kami berdua aku dan Bang Kulup.

Saat kami melanjutkan obrolan, Bang Kulup bertanya “Bung, tadi aku lihat Bung sempat menegur anak yang menggunakan tangan kiri untuk menerima uang lebaran. Memangnya kenapa harus tangan kanan?” Aku berkata sambil tertawa didalam hati, “Bang kulup ini ada-ada saja. Masa’ Bang Kulup masih menanyakan sesuatu hal yang jelas-jelas tidak umum dengan adat istiadat bangsa sendiri”. Meskipun demikian, aku mencoba untuk tidak membuatnya tersinggung. Harap maklum, namanya juga manusia, bisa saja dalam hal ini Bang Kulup khilaf. “Iya bang, aku memang sengaja menegur anak tadi, karena kita semua tau, bahwa penggunaan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu yang baik adalah tindakan yang tidak baik. Malah pada kasus tertentu, hal itu merupakan suatu bentuk penghinaan. Bukankah selama ini tangan kiri kita pakai hanya untuk bersih-bersih habis buang air besar maupun kecil saja?” Seakan tidak cukup, penjelasan tadi aku tambahkan dengan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri dan janganlah minum dengan tangan kiri . Sebab setan makan dengan tangan kiri dan minum juga dengan tangan kiri” dan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad “Barang siapa yang makan dengan tangan kiri maka ia makan bersama setan. Barang siapa yang minum dengan tangan kiri maka ia minum bersama setan.” (hi hi hi, ……..kaya’ ustad saja)

Aku lihat Bang Kulup diam mendengar penjelasan yang aku sampaikan, apalagi ditambah dengan mengutip hadits Nabi. Aku yakin, Bang Kulup akan terkesan dengan penjelasanku. Mungkin dia terkejut, orang seperti aku bisa memberikan penjelasan sedemikian rupa. Aku tersenyum dan berkata dalam hati, “aha……..…,sekali ini aku tampak tidak lagi bodoh, bahkan mungkin lebih pintar dari sahabatku sendiri. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi”Setelah aku selesai bicara dan menikmati “kemenangan yang sebelumnya tak pernah terjadi” tadi, gantian Bang Kulup yang bicara “Begini bung, untuk sementara aku tidak membenarkan dan tidak menyalahkan pendapat bung, tapi sebelumnya mungkin dapat aku jelaskan bahwa otak manusia mempunyai dua bagian, yaitu otak bagian kiri dan bagian kanan. Otak bagian kiri kita mengatur pergerakan dominan dari bagian kanan tubuh kita, dan otak bagian kanan mengatur pergerakan dominan dari bagian kiri tubuh. Hampir 80-90% diantaranya akan mengalami dominasi belahan otak sebelah kiri, sehingga anak akan aktif dengan tangan kanan dalam beraktivitas. Sampai saat ini, para ahli belum ada kata sepakat mengapa seseorang anak dapat menjadi kelompok yang 10-20% (mengalami dominasi belahan otak sebelah kanan)”

Seolah tidak mau kalah, aku buru-buru memotong pembicaraannya. “Bang Kulup, mohon maaf, budaya Barat kan berbeda jauh dengan budaya Timur. Sebagai orang Timur kita mempunyai budaya, adat istiadat dan kebiasaan sendiri yang telah ditanamkan secara turun menurun oleh nenek moyang. Dan satu hal yang perlu digarisbawahi, kita mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki mereka, yaitu tuntunan Hadits Nabi Besar Muhammad SAW.”

Bang Kulup tersenyum melihat pembelaan yang aku yakini kebenarannya itu. Sesaat kemudian dia melanjutkan pembicaraannya “Begini Bung, kira-kira 10–20% dari penduduk dewasa adalah kidal. tangan kidal lebih umum ditemukan di kalangan laki-laki daripada perempuan. tangan kidal lebih sering muncul di kalangan kembar identik, dan sejumlah kelompok orang yang mengalami gangguan neurologis. Dari segi statistik, seseorang yang memiliki saudara kembar yang kidal mempunyai 76% kemungkinan untuk juga kidal. Tindakan pemaksaan penggunaan tangan kanan bagi seseorang kidal dapat berefek buruk bagi yang bersangkutan. Dalam beberapa kasus, tindakan ini malahan dapat mengaburkan dominasi fungsi otak. Sebagai contoh korban pemaksaan penggunaan tangan kanan bagi orang kidal adalah George VI dari Kerajaan Inggris. George V memaksa sang anak yang kidal untuk menggunakan tangannya yang kanan untuk mengerjakan sesuatu. Akibatnya, setelah beranjak dewasa George VI menjadi gagap ketika berbicara.Sambil menjemput “jajak rintak” (makanan khas lebaran kampung kami), Bang Kulup meneruskan pembicaraannya “Masalah Hadits yang bung kutip tadi itu tidak salah. Tapi, coba bung simak baik-baik, Rasulullah hanya melarang penggunaan tangan kiri untuk makan dan minum. Hadits lain hanya menyebutkan bahwa Rasulullah selalu mendahulukan bagian sebelah kanan untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Bung harus dapat membedakan arti kata mendahulukan dengan melarang, kecuali untuk 2 hal di atas, yaitu makan dan minum”

Kebahagiaan yang semula sempat terbersit karena merasa telah berjasa memberi pelajaran adab sopan santun kepada anak yang menyodorkan tangan kiri untuk menerima uang lebaran, perlahan-lahan sirna. Kebodohan yang tadi sempat tertutup karena “merasa lebih pintar” dari Bang Kulup, perlahan-lahan mulai muncul lagi. Aku tidak tau harus berkata apa-apa lagi, selain bertanya “Bila dikaitkan dengan penjelasan Bang Kulup tadi, apa yang harus aku perbuat bila di kemudian hari aku mengalami hal yang sama?”

Lagi-lagi Bang Kulup tersenyum sambil menjawab “Semua terserah kepada bung. Aku hanya menyampaikan pendapatku. Tapi tolong perhatikan berita atau film-film dari negara luar yang ditayangkan di televisi, penggunaan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu yang baik tidak pernah menjadi masalah. Sebagai contoh, presiden Amerika Ronald Reagan, George H.W. Bush, dan Bill Clinton adalah orang-orang yang kidal. Leonardo da Vinci, Charlie Chaplin, Tom Cruise, Robert DeNiro, Nicole Kidman, Marilyn Monroe, Robert Redford, Keanu Reeves, Julia Roberts, Slyvester Stallone, Bruce Willis, Oprah Winfrey juga kidal”

Sampai Bang Kulup pamit pulang, aku hanya mampu diam sambil memohon ampun kepada Allah SWT karena telah memaksa seseorang anak menggunakan tangan kanan sementara si anak ternyata kidal. 

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:2.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:1; font-size:18.0pt; font-family:Arial; color:#005D80; mso-font-kerning:18.0pt; font-weight:bold;} h2 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:12.0pt; font-family:Arial; font-weight:bold;} h3 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:14.4pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-ascii-font-family:Arial; mso-hansi-font-family:Arial; mso-bidi-font-family:Arial; color:#006633; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:5.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Oleh Fithrorozi

Dari kejauhan sudah terlihat dua pohon beringin yang berusia puluhan tahun, konon jika pohon ditebang maka Pulau Gersik akan tenggelam. Namun meskipun jejeran bola (rumah) sudah nampak jelas, kapal tak kunjung merapat. Setelah dijemput perahu nelayan dan diturunkan dari sampan, rombongan safari ramadhan Pemkab Belitung akhirnya bisa menginjak kaki dipulau terpadat ini meski adzan magrib sudah jauh terlewat. Mardin menunjukkan arah kemana alamat yang ingin dituju, “ “Disini ada 8 rukun tetangga, meski padat bapak bisa mudah mencari alamat ikuti saja countblock ini “ kata Mardin dengan logat Bugisnya. Selain rumah tradisional bugis berpasak tampak rumah besar (gedung) berdinding tegel yang berada dipinggir jalan tanpa dipagari. Hampir 99,9 persen penduduk berasal dari etnis Bugis dan berprofesi sebagai nelayan

Setelah berjalan akhirnya kami tiba di sebuah rumah di depan Mesjid As Salam. Kue dibungkus daun pisang tampak dimeja seolah menyambut kedatangan para tamu. Mereka menyebutnya kue barongko sejenis lepat pisang. Kue khas masyarakat bugis ini terbuat dari irisan pisang yang bagian tengah (tulangnya) dipisahkan. Rasanya lebih lembut karena irisan pisang yang dihaluskan dicampur dengan santan lalu dibungkus dengan daun pisang atau dimasukan dalam loyang cetakan lalu dikukus..

Dermaga dan abrasi merupakan permasalahan utama yang sering dikeluhkan oleh masyarakat Pulau Gersik. Tahun 2008 ini, Direktorat Sumberdaya Air, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengupayakan penanggulangan abrasi dengan dana sebesar Rp. 485,4 juta. Sementara Pemkab Belitung mengalokasikan anggaran lanjutan pembangunan dermaga dengan perkiraan biaya sebesar Rp.1,2 milyar. Hingga kini kami masih berharap dermaga lindung bisa terwujud setelah dermaga di sebelah barat hancur karena hempasan ombak sebelum digunakan, ujar Kades. Gersik Andi Saparudin.

Petta Rapi, kades pertama telah lama merencanakan pembangunan dermaga lindung. Dia memotivasi masyarakat dan bersama-sama mengumpulkan batuan dari pulau kimar. Oleh masyarakat luar Pulau Petta Rapi dikenal sebagai kades pengumpul batu karena kuatnya keinginannya membangun sebuah dermaga disisi timur Pulau. “ saya tidak mengerti kenapa dermaga yang dibangun pemerintah bisa ditempatkan di sebelah barat”, kata Andi Saparudin. Kepeduliannya terhadap pulau ini membuat dirinya disegani dan panutan masyarakat. Petta Rapi berharap ada dermaga lindung yang memudahkan turun naik orang dan barang.

Upaya menanggulangi abrasi juga pernah dilakukan masyarakat bersama ABRI Masuk Desa. Saat itu (tahun 1980-an) masyarakat membuat ratusan balok semen berukuran 1m x 2mx 50 untuk menahan arus gelombang. Namun cara ini tidak efektif “ Untuk menahan gelombang sebaiknya menggunakan bentuk tetraport bukan berbentuk balok” ujar Marwan Syaukani ketika berdialog dengan masyarakat.

Sebaliknya air bersih tidak pernah menjadi masalah yang serius bagi masyarakat pulau kecil ini. Air disini tampak bersih tidak terpengaruh dengan asinnya air laut hingga dapat digunakan untuk mandi dan cuci. “ Itu menandakan filterisasi alam (pasir dan karang) disini cukup baik “ kata Kadin Kelautan dan Perikanan Marwan Syaukani,Msi. Sayangnya meski sudah di bangun WC umum, masyarakat masih saja membuang air besar di tepi pantai. Mereka yang tidak berhati-hati bukan tidak mungkin mendapat “jebakan” yang sering merusak suasana itu.

Wilayah desa Pulau Gresik itu terdiri dari 15 pulau kecil baik yang berpenghuni maupun tidak diantaranya Pulau Kimar, Pulau Aur, Pulau Kalangbau, pulau Bako dan pulau Kuil. “ Kalau menurut definisi, jika dalam kondisi pasang tinggi masih terlihat daratan, itu sudah bisa disebut pulau. Dua pulau di wilayah kami bahkan baru diberi nama, yakni pulau Sunok dan pulau kapal ”, ungkap Kades Andi Saparudin. Potensi gugusan pulau kecil ini tidak terpisahkan dengan kebijakan Etalase Kelautan Bangka Belitung, yang telah diluncurkan pada tanggal 11 Desember 2005 bertepatan dengan dengan Hari Nusantara ke-7.

Pulau ini resmi menjadi Desa sejak tanggal 12 Juli 1967 yang mengangkat Petta Rapi sebagai Kades pertama. Petta Tipe kemudian digantikan oleh Andi Zubair (Petta Tipe) dan dilanjutkan oleh Muje Taba yang memimpin pemerintahan desa selama dua periode sebelum digantikan Andi Saparudin atau Petta Lolo.

Andi Saparudin dilantik bersama 3 kepala desa yang lain di Gedung Serbaguna Kecamatan Selat Nasik pada tanggal 3 Januari 2008 untuk masa jabatan 2007-2013. Pulau dengan luas 20,5 km2 merupakan pulau kecil terpadat di Indonesia yang terdiri dari 2.915 (2007) jiwa dengan rasio laki-laki dan perempuan 60:40 persen. Berdasarkan pendataan rumah tangga miskin tahun 2005 (BPS) terdapat kurang lebih 414 penduduk miskin di Desa Pulau Gersik.

Sekitar 400-an KK berada di Pulau Gersik dan 300-an KK lainnya mendiami sejumlah pulau kecil disekitarnya. Saat pemilihan Gubernur Babel 2007 yang lalu jumlah pemilih sebanyak 1.803 pemilih dengan 6 TPS. Pada tahun 2008 (Pemkada) jumlah pemilih meningkat menjadi 2.015 mata pilih.

Dalam cuaca normal Pulau Gersik dapat ditempuh 4,5 jam perjalanan dari dari pelabuhan Tanjungpandan atau 1,5 jam dari pusat pemerintahan kecamatan Selat Nasik. Meski demikian koordinasi dan komunikasi relatif lebih mudah dibanding beberapa tahun yang lalu terutama sejak dibangunnya 4 unit tower BTS sinyal di Pulau Mendanau, Selat Nasik. Teknologi selular ini pun semakin meluas penggunaanya di kalangan masyarakat pulau Gersik. Rencananya tahun 2009 akan dibangun tower BTS disebelah timur pulau.

Angin dan gelombang yang tidak bersahabat terutama di musim barat daya (Desember hingga Januari) seringkali menganggu jalur perjalanan perahu kecil. Bagi kapal besar seperti tanker yang sering melintas di perairan di pulau Gersik tentu ini tidak masalah. Biasanya di musim barat banyak nelayan melaut hingga berhari-hari. “melaut dimusim barat selain menambah penghasilan juga untuk menyelematkan perahu “ ujar Haji Samsudin. Kondisi dan bakat alam sebagai nelayan dan pedagang membuat warga pulau sering berpindah tempat ringgal. Agustar seringkali mengikuti orang tuanya yang berprofesi sebagai nelayan pindak dari satu pulau ke pulau lain. Di Gersik dulu belum berdiri sekolah, tapi kini sudah ada gedung gedung sekolah (SD dan SMP) . “ Dari Tanjung ada enam guru SD yang mengajar di Pulau Gersik ini “ kata Mamo Saad, guru SD Pulau Gersik.

Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pulau Gersik memang tidak bisa dipisahkan dari dunia bahari. Laut adalah lapangan usaha yang harus dijaga. Selain nelayan, ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan tukang (perahu). Untuk menghasilkan satu unit perahu membutuhkan sekurang-kurangnya 2 orang tenaga kerja selama dua hingga tiga bulan. Untuk perahu berukuran kecil seperti perahu mayang, penyelesaiannya relatif lebih singkat. Keahlian membuat perahu didapat dari bimbingan orang tua .

Pancing dan pukat (mayang atau panja dalam bahasa bugis) adalah alat tangkap yang banyak digunakan nelayan Pulau Gersik. Mereka melarang penangkapan ikan menggunakan bagan. “ kalau ikan sering disinari cahaya lampu (bagan), siangnya akan liar “ ujar Toni yang sejak kecil tidak memiliki kaki yang sempurna. Oleh karena itu sejak lama masyarakat nelayan melarang penggunaan lampu untuk menangkap ikan. Sudah bisa dipastikan mereka yang menggunakan lampu seperti lampu bagan bukan nelayan pulau Gersik seperti dari pulau Celagen (Bangka). Laut adalah lapangan usaha berupa rumah ikan (rumpong). Begitu besar modal ditanamkan hingga mencapai Rp.5 juta untuk satu rumah ikan. “Untuk satu pelepah kelapa satu kami beli Rp. 1.500 yang harus diganti seminggu sekali, belum terhitung tali” kata Haji Akil Api menyebut alasan mahalnya pembuatan rumpong. Seorang nelayan dengan satu perahu ada yang paling sedikit memiliki 10 rumpong. Rumpong yang baik bisa dijual seharga Rp. 10 juta. Biasanya usai subuh mereka menebar pukat (mayang) ditebar disekitar rumpong.

Kalau sekedar memancing dilokasi rumpong, pemilik tidak keberatan tetapi jika mekera melarang keras penggunaan sorotan lampu (bagan) karena membuat ikan bergerak liar di siang hari. Selain mayang, rumpong menjadi sumber penghasilan nelayan dengan begitu ongkos melaut akan rendah. Ketika BBM sulit didapat, nelayan harus mengeluarkan uang Rp. 26-28 ribu per derigen (ukuran 20 liter) dan dijatah, padahal pemilik tambang konvensional saja sudah membeli diatas harga standar tetapi tidak lebih dari Rp. 19 ribu. Sementara BBM juga dibutuhkan untuk menggerakan mesin diesel untuk keperluan penerangan rumah tangga. Menurut Kades Pulau Gersik, saat ini terdapat sekitar 45 unit mesin diesel dimana setiap mesin membutuhkan biaya operasional termasuk BBM sebesar Rp. 400 ribu atau dalam satu bulan warga pulau terdapat ini mengeluarkan biaya sebanyak Rp.18 juta. Oleh karena itu penyediaan energi alternatif sangat membantu masyarakat. Selain diesel, sumber energi saat ini berasal dari PLTS untuk 3 titik lampu. Dan pemakian terbatas (jam 22:00 dimatikan).

Indikator kemajuan ekonomi juga dapat dilihat dari meningkatnya jamaah haji asal Pulau Gersik. Pada tahun 2007 jumlah jamaah haji berasal dari pulau Gersik mencapai 37 jamaah dan terbesar di Kabupaten Belitung. Setiap tahunnya rata-rata 10 jemaah berangkat ke tanah suci. Di Pulau Gersik, gelar haji merupakan gelar terpandang seperti halnya gelar kebangsawanan. Mereka yang pulang dari haji selalu memberikan dorongan ke warga yang lain terutama kepada keluarga. Seperti air sungai yang terus mengalir, jika air itu tersumbat sudah sewajarnya pihak keluarga melepaskan sumbatan (memotivasi).

Sosial Budaya

Sebagian besar masyarakat Pulau Gersik didominasi oleh Bugis Bone dan Bugis Makasar. “Andi” merupakan gelar kebangsawanan dalam suku Bugis “Andi” sedangkan “Daeng” banyak digunakan oleh suku Makassar.

Menurut mahasiswa Akademi Manajemen Belitung ini, gelar Petta derajatnya lebih tinggi dari Daeng dan Andi adalah gelar untuk anak dari seorang yang bergelar Petta. Jika bapaknya bergelar Petta anaknya bergelar Andi semacam pangeran tetapi jika sudah berkeluarga gelarnya menjadi Petta. Tetapi jika perempuan yang bergelar Andi menikah dengan orang biasa gelar kebangsawanannya dengan sendiri hilang.

Nilai kekerabatan dan nilai religius terasa menyelimuti hingga dipojok pulau. Seperti yang diceritakan Drs Arham Armuza,Sip “ Dulu (tahun 1980-an) masih dijumpai anak-anak mengisi waktu Ashar dengan membaca Al qur’an” kata Arham Armuza mengenang saat pertama berkunjung ke pulau ini. Meski kehidupan religius mewarnai kehidupan masyarakat, namun ada beberapa warga yang menuntut ilmu hitam yang tak jarang diturunkan ke keluarga dekat. Mereka menyebutnya dengan istilah Parakang atau Tarekak (bugis).

Kekerabatan yang terjalin karena ada hubungan keluarga diantara warga. didasarkan dari hasil perjodohan sesama keluarga. Seperti Andi Saparudin sang paman menikah bergelar Petta Lelo menikahi keponakannya Andi Muliani dari pihak ibu yang bergelar Andi Tuo

Kendala alam (abrasi dan angin) membuat masyarakat tak henti berharap adanya dermaga lindung. “ Kalau angin sudah datang, jam berapapun kami harus ke laut memindahkan perahu yang ditambatkan” ujar Haji Samsudin. ” tahun 60-an masih ada dua rumah dibibir pantai kini sebagian dari rumah ketigapun sudah mulai tergenang air laut “ kata Andi Saparudin

Kearifan masyarakat

Dengan kondisi demografi yang homogen, hubungan kekerabatan masyarakat cukup kuat. Karenanya masyarakat pulau Gersik selalu memelihara kekerabatan termasuk dalam hal membangun rumah tangga.

Kepada perempuan tugas rumah tangga dibebankan dan tak jarang mereka juga ikut serta mencari ikan, membantu membuat ikan asin dan menyungguhkan aneka makanan seperti rujak ikan yang disebut lawak, kue putu, barongko yang merupakan makanan khas masyarakat Bugis. Sedangkan lawak atau rujak ikan adalah ikan segar yang disantap tanpa dimasak yang dinikmati dengan kelapa bakar yang diparut. Sebelum disantap ikan segar ini dicelupkan kedalam cuka atau asam tujuannya untuk menghilang lendir ikan. Makan ikan segar yang dimasak seadanya juga menjadi santapan nelayan diatas perahu.

Pada Akhir tahun 2005 pulau ini dilanda bencana angin pasang barat daya memporak-porandakan rumah di pesisir barat. Kondisi alam yang tidak bersahabat menuntut masyarakat beradaptasi. “Seringkali kami memindahkan rumah yang terkena abrasi, kalau perlu diangkut bersama-sama dari barat ke sebelah timur Pulau. Pindah rumah (pindah bola) dimungkinkan karena rumah tradisional menggunakan konstruksi pasak tanpa paku “ tambah haji Samsudin. Rumah tradisional berbentuk panggung terdiri dari pusat rumah yang disebut posi bola dan bangunan tambahan disamping ruang utama yang disebut tamping. Antara tiang-tiang menempel satu sama lain yang dikunci dengan pasak (tanpa paku).

Rata-rata setiap bola (rumah) dihuni 3 KK, jarang sekali satu bola ditempati satu keluarga. Kini sebagian rumah tradisional ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semen layaknya rumah di perkotaan. Bentuk dan bahan rumah menunjukkan keberhasilan usaha pemiliknya. “ Rumah di kota bisa menyimpan usaha jika suatu waktu terjadi masalah (bencana) disini “ ujar Haji Samsudin mengungkapkan alasan mengapa warga yang cukup kaya memiliki banyak rumah terutama mereka yang dijuluki juragan (bos) dari usaha perikanan maupun perdagangan.

Tanjungpandan (WP),   Hubungi Roby di telepon 085222971937 atau email  rbyandhika@yahoo. com atau hubungi telepon (022) 7237234, Asrama Gunong Tajam Jl.Supratman No.106 Bandung untuk mendapatkan tiket pesawat Sriwijaya ekstra tanggal 28 September harga tiket Rp. 800 ribu, “tempat terbatas” .

 

Sementara Teddy Aprilianto menginformasikan tiket kapal perang untuk tanggal 27 September yang juga  Asrama Gunong Tajam Bandung. Ini menjadi alternative mudik murah. Beberapa perantau mengeluhkan tingginya tiket pesawat. “ Kalau perlu DPRD Kab Belitung pansus kenapa tinggi harga”, tulis Rustam Effendi di forum diskusi belitungisland@yahoogroups.com. “Pemda semestinya dapat menyikapi berbagai masalah (mahalnya harga tiker) masyarakat seperti    tradisi mudik tahunan ini “ tambah Awaludian Berwanto dalam emailnya. Perantau yang bekerja di Malaysia ini memutuskan untuk tidak mudik karena tidak bertepatan dengan jadwal libur sekolah anaknya.

 

Mengornisasi diri, setidaknya itulah kesan perantau yang ingin bersilaturahmi setahun sekali dikampung halaman. Seperti mahasiswa, upaya mudik bersama pernah dilakukan Forum Kerukunan Masyarakat Belitung (FKMB) beberapa tahun silam.

 

Saat itu 700 perantau Belitung memilih  kapal perang milik TNI AL melalui Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) menuju Pelabuhan Tanjung Pandan. Setiap penumpang dikenakan biaya tiket Rp 50.000 yang tidak berbeda dari tahun  2005. 

 

Jauh sebelumnya (tahun 2000), PT Pelni tidak menyelenggarakan pelayaran ekstra (tambahan pelayaran) kapal penumpang ke Belitung menjelang dan usai Natal, Idulftri dan Tahun Baru Kepala Cabang PT Pelni Kabupaten Belitung Drs Adi Adenin saat itu memperkirakan  puncak arus penumpang menggunakan kapal Pelni akan terjadi pada H-5  Sedangkan puncak arus balik ke Jakarta pada H+9. Saat itu Pelni menyelenggarakan  empat pelayaran, kapasitas penumpang yang dapat diangkut sebanyak 2.800 orang. 100 penumpang di antaranya diangkut Kapal Lawit dan Tilong Kabila, serta 1.800 penumpang menggunakan Kapal Mahakam dan Cisadane”

 

Pada tahun 2007 terdapat 550 pemudik menumpang KRI TNI AL, belum lagi pemudik yang melalui jalur udara. Begitulah, mudik   menjadi tradisi yang menjalin kekuatan emosial perantau dengan mengunjungi perenggu (sanak saudara) atau memanfaatkan liburan sekolah para mahasiswa.

Meski tidak sesulit perantau yang ingin ke Belitung, Ipat yang merantau ke Belitung sebagi tukang kusen tampak sibuk memenuhi produksi yang ditargetkan pemilik usaha, tentu akan banyak rupiah dibawa ke kampung jika target kerja bisa tercapai. Bedanya tiket di Belitung gampang didapat.    Tukang kusen yang berencana melangsungkan pernikahan setelah lebaran nanti di Tegal rencananya akan kembali bersama istri ke Kampong Baro Pangkallalang,Tanjungpandan. Bersama teman seprofesi, Ipat sudah mendapatkan tiket kapal Lawit untuk keberangkatan tanggal 18 September. Sebaliknya Wirawan Hendra harus meninggalkan kampung halamannya sendiri. Sudah berapa bulan pria yang kini menumpang di rumah orang tuanya meninggalkan anak istri karena perusahaannya menugaskannya menyelesaikan proyek di Belitung yang tak lain kampung halamannya. Romantisme kampung halaman sudah dinikmati tetapi sebagai kepala keluarga kerinduannya berlebaran di kampung halaman mengalahkan keinginannya  bertemu keluarga di Jakarta. Pada tahun 2006 (Idul Fitri 1427 H), Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memperkirakan 30 ribu pendatang kembali ke daerah asalnya Sebagian dari mereka  bekerja di berbagai sektor terutama timah di wilayah Babel (fithrorozi)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.