Kampong Kite


lesung-batang-rijstoogsfeestTanjungpandan (WP), “La lamak kamek dak ngeliat kesenian Belitong, kitu la baik e” ujar seorang warga menyambut baik Pelaksanaan Pagelaran Seni Daerah yang digelar oleh Pemerintah Kecamatan Sijuk. Tabuhan gendang, piul dan lenggak lenggok penari ditampilkan pada hari Sabtu 27 Desember yang berlangsung dari pukul 19:30 hingga menjelang tengah malam di Lapangan Tugu Perjuangan Aik Seruk.

Pagelaran seni ini menampilkan Sanggar Karya Seni (SKS) dari Tanjungpandan, Sanggar Serunai Desa Aik Seruk, Kecamatan Sijuk, Sanggar Pelandok Laki pimpinan Ibu Rohalbani dari Tanjungpandan, Sanggar Lagu Belitung, Sanggar SM Negeri 2 Tanjungpandan, Kesenian Gambus Desa Terong, Kecamatan Sijuk.

Camat Sijuk Drs.Ramansyah mengungkapkan rasa senangnya bisa menampilkan potensi seni dan budaya lokal khususnya dari Desa Aik Seruk. Gelar Seni Daerah ini juga semacam perjuangan untukk membangkitkan budaya daerah. Di sekitar Tugu Perjuangan ini dulu terjadi pertempuran rakyat melawan Belanda dan ketika KNPI diketui oleh Ishak Zainudin (mantan Bupati Belitung) diperjuangkan berdiri tugu peringatan perjuangan rakyat.

Ketua Pelaksana, Sanusi berharap kesenian ini dapat mendukung tumbuh kembangnya dunia kepariwisataan di Kecamatan Sijuk. Dalam kebijakan tata ruang Kabupaten Belitung, Kecamatan Sijuk yang memiliki objek wisata pantai yang cukup dikenal menjadi kawasan Wisata di ujung Utara pulau Belitung. Pada tahun 2001, saat Desa Air Seruk dipimpin oleh Djajadipura B. Sulur jumlah anggaran belanja desa sebesar Rp. 92.305.000, keterbatasan anggaran desa dalam membangun bidang pariwisata tentunya membutuhkan stimulan-stimulan baik berupa ide maupun dana yang mampu mempercepat pembangunan kawasan wisata khususnya di desa Air Seruk sehingga tidak berkutat pada konflik perebutan lahan.

Tampak hadir Bupati Belitung Periode 2003-2008, Ir,Darmansyah Husein yang didaulat sebagai tokoh masyarakat Belitung, unsur Muspika, budayawan, tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. “ Semoga kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda wisata tahunan yang perlu kita dukung dan dimaksimalkan terutama untuk mendukung agenda wisata Kabupaten Sail Indonesia 2009 dan mendukung Visit Babel Archipelago 2010 nanti “ ujar Darmansyah yang diminta memberikan sambutan.

Menurut Camat Sijuk, Drs Ramansyah, maksud pagelaran seni daerah ini, pertaa, menubuknan dan mengembangkan potensi seni daerah Belitungn dan mendukung berkembangnya khazanah Budaya menjelang Sail Indonesia 2009 nanti. Kedua, memberikan motivasi kepada generasi muda untuk memunculkan ide-ide kreatif dalam dunia seni dan budaya. Pihak penyelenggara pun mengundang sanggar seni dari kecamatan lain untuk memotivasi tumbuhnya sanggar seni baru di kecamatan Sijuk yang pada malam pageralan ini menampilkan seni hadra dan gambus khas Sijuk. (Fithrorozi)

Oleh Indra Yustian

Tarsius atau tangkasi oleh masyarakat Belitung disebut Pelile’an, sementara di Bangka disebut Mentiling atau juga Beruk Puar, di Sumatera disebut Kera Buku atapun Binatang Hantu

Ciri Khas
Tarsius merupakan salah satu jenis primata terkecil didunia yang unik. Secara umum dicirikan mempunyai mata besar dan telinga yang lebar dibandingkan dengan ukuran kepalanya. Tarsius dapat memutar kepalanya hampir 180 derajat dan dapat melihat ke belakang tanpa mengubah posisi tubuhnya. Ekornya panjang hampir dua kali lipat panjang tubuhnya.

Kaki merupakan bagian istimewa dari jenis tarsius, bahkan nama yang diberikan ada kaitannya dengan adanya ciri khas dari kaki (tarsus). Panjang kaki jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan panjang tangan atau panjang tubuhnya. Hal ini berkaitan dengan cara bergeraknya, yaitu meloncat.

Perilaku
Tarsius keluar mencari makan dan melakukan aktivitas lainnya pada malam hari (nocturnal), hidup di pohon biasanya pada ketinggian 0,5 sampai 2 meter. Pergerakannya semi menggantung serta meloncat.
Loncatannya dapat berupa loncatan tunggal maupun ganda dan dapat mencapai 3 meter atau lebih. Tarsius sering membuang air kencing pada saat pindah pohon, sebagai tanda daerah jelajahnya. Pada siang hari tidut dibawah kerimbunan daun dan tidak membuat sarang. Penggunaan daerah jelajah tarsius jantan sekitar 8 hingga 11 hektar, sedangkan betina lebih kecil antara 2 sampai 5 hektar.

Status Konservasi
Semenjak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Nomor 266 tahun 1931, diperkuat dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990, serta SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk dalam daftar hewan yang dilarang diperdagangkan dalam Daftar Appendix II CITES.Meskipun demikian IUCN (International Union for Conservation of Nature anda Natural Resources), lembaga dunia yang mengurusi perlindungan alam, masuk memasukkan tarsius khususnya tarsius Belitung , dalam kategori kurang data (data deficient). Hal ini berarti masih diperlukan penelitian-penelitian untuk melengkapi data tersebut sehingga dapat ditingkatkan status konservasinya.

Bagaimana Tarsius Belitung dapat Bertahan Hidup

Tarsius telah banyak kehilangan habitat awalnya. Hutan-hutan primer sudah tidak ada lagi, ditebang untuk diambil kayunya, dijadikan lahan perkebunan, baik perkebunan lada oleh masyarakat maupun perkebunan sawit dalam skala besar, serta pembukaan lahan untuk tambang timah inkonvensional. Primata ini juga sering diperjualbelikan atau bahkan ditembak oleh masyarakat yang pergi berburu, sekedar membuang sial ataupun melepas peluru pada senapan anginnya. Padahal tarsius sama sekali tidak pernah mengganggu ataupun merugikan manusia, pun sama sekali tidak mendatangkan kesialan seperti yang selama ini diyakini oleh penduduk yang pergi berburu.

Kewajiban kitalah sebagai masyarakat pemilik kekayaan alam ini menjaga dan melestarikan hewan yang hanya hidup di daerah kita ini. Keunikan dan penampilannya yang eksotis dapat menjadi daya tarik ekowisata dan sedikit banyak dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

The Rufford Small Grants for Nature Conservation, Unsri dan University of Goettingen.
turut mempublisikan tulisan ini yang dikemas dalam brosur pelestarian tarsius

sjahroelsimanOleh H.Sjachroelsiman
Ketua Lembaga Adat Belitung

Sebelum negeri ini menjadi negara yang berdaulat seperti sekarang ini, adat istiadat dijadikan satu-satunya sumber hukum bagi mereka yang hidup di Pulau Belitong, Begitupun sebelum Islam masuk ke Pulau Belitong adat istiadat sudah berkembang. Ketika Islam menjadi keyakinan hidup urang Belitong, adat istiadat yang ditinggalkan oleh dari nenek moyang masih saja diterapkan. Karena itu banyak adat yang bernuansa Islam begitupun sebaliknya. Islam identik dengan Urang Melayu, menjadi melayu berarti menjadi seorang muslim.

Datangnya bangsa asing yang bermotif usahawan di bidang pertambangan mempengaruhi dinamika sosial ekonomi masyarakat. Dinamika itu pun turut mewarnai hukum adat. Tidak heran kalau ada adat istiadat urang Belitong memiliki kemiripan dengan adat-adat lain di Indonesia. Dalam adat Belitong masyarakat meyakini bagi mereka yang melanggar adat akan terkena sanksi, petaka seperti sakit-penyakit, bencana alam, cemoohan masyarakat atau denda dari Lurah (sekarang Kepala Desa)

PENGGAWE ADAT
Pada umumnya masyarakat desa memiliki penggawe adat atau perangkat adat yang terdiri dari Dukun Kampong, Lurah (Kades), Pengulu,Lebai dan Pengguling (Bidan Desa. Kelima orang inilah keselamatan atau ketentraman warga dan wilayah diserahkan dan masing-masing dari mereka memiliki kewenangan tersendiri. Namun dalam memutuskan suatu perkara kelima orang ini lebih dulu bermufakat .

Begitu hormatnya masyarakat kepada penggawe adat, hingga bila sekelompok pemburu rusa mendapatkan hasil buruannya, penggawe adat selalu diprioritaskan lebih dulu bagiannya, baru kemudian kepala rusa diberikan untuk pemilik jaring, sedangkan daging sepanjang tulang belakang (isik panjang) diberikan kepada mereka yang menemukan atau menunjukkan lokasi rusa (tukang tulat). Sementara pinggul rusa (tungking) diberikan kepada mereka yang mengejar rusa . Sisanya baru dibagikan kepad semua peserta yang ikut dalam perburuan. Adat berburu rusa ini adalah contoh sebuah kesepakatan dan menunjukkan penghormatan kepada penggawe adat yang berlaku sampai saat ini.

Peranan Dukun Kampong
Setiap kampong (desa) harus memiliki dukun kampong, yakni dukun kampong dan wakilnya yang biasa disebut dukun mudak. Dukun kampong diangkat berdasarkan keturunan. Fungsi utamanya sebagai tabib desa. Kepada dukun kamponglah masyarakat bertanya tentang hal ihwal sakit-penyakit. Fungsi kedua adalah menjaga kelestarian hutan. Hutan, air, gunung adalah sumber kehidupan manusia dan diyakini sebagai tempat bersemayam makhluk-mahkluk halus. Karena itu pemanfaatan hutan harus mempertimbangkan keseimbangan hubungan antara makhluk. Disinilah dukun kampong berperan. Jangan coba-coba menggarap areal hutan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Hutan lindung ini dikenal masyarakat adat dengan sebutan Utan Pemalik atau Tali Utan . Diluar hutan terlarang masyarakat boleh memanfaatkannya, tetapi tetap harus memenuhi persyaratan tertentu. Dukun harus mengetahui berapa orang yang terliba, berapa luas serta dimana lokasi hutan yang akan digarap.
Tradisi menggarap hutan diawali dengan menghadap dukun kampong. Bersama dukung kampong, penggarap menunjukkan titik awal serta luasan hutan yang akan digarap. Dukun akan meletakkan tempurung kelapa yang diberi mantra dan diletakkan pada sebatang kayu berbelah tiga. Jika dalam tiga hari terdapat tanda-tandan seperti jatuhnya daun hijau dan benda lain yang bukan masuk kedalam tempurung dengan sendirinya, berarti hutan tersebut dilarang untuk digarap. Dianggap ada seniang (makhluk halus penunggu hutan). Tetapi kalau tidak ada tanda-tanda yang dimaksud, berarti hutan boleh digarap. Pembagian kerja menggarap hutan dimulai dari umur termuda, mulai dari arah kanan. Sekarang penggarapan hutan tidak lagi mengindahkan adat istidat karena banyaknya produk hukum positif namun terkadang dijalankan dari sisi negatif.

Peranan Lurah atau Kades
Urang Belitong amat patuh dengan pemimpin termasuk dengan Lurah. Lurah adalah wakil pemerintah yang menjadi Ulul Amri. Masyarakat bisa patuh karena seorang lurah dianggap masyarakat memiliki kepribadian yang jujur dan membela warganya.

Peranan Pengulu
Pengulu difungsikan sebagai ulama desa. Urusan perkawinan adalah urusan pengulu termasuk segala macam ritual yang menyangkut keagamaan. Pengulu diangkat berdasarkan musyawarah penggawe adat dan orang-orang yang dituakan oleh masyarakat setempat.

Peranan Lebai
Lebai mengurusi orang yang baru saja meninggal dunia hingga jenazah dimakamkan ke liang kubur. Diluar itu, Lebai selalu diberi tugas membacakan doa pada setiap hajatan atau yang menyangkut kegiatan keagamaan seperti sedekah, bilang ari (hari-hari setelah seseorang meninggal dunia) untuk membacakan doa bagi sang arwah. Peran lebai semakin terasa pada musim rua (bulan Sya’ban) menjelang Ramadhan.

Peranan Pengguling
Pada dasarnya pengguling berperan membantu persalinan. Mulai janin berumur tiga bulan dalam kandungan sampai lahir, ibu hamil memeriksakan kehamilannya kepada pengguling. Pengguling akan didengarkan pendapatnya soal makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, terutama bagi wanita yang hamil pertama. Urang Belitong menyebut dengan istilah bunting daring.

MARAS TAUN
Ritual ini dilakukan setiap tahun dalam masyarakat yang mayoritas warganya bermatapencaharian sebagai petani. Karena petani kebanyakan bermukin di tengah daratan pulau Belitung, masyarakat sering menggunakan istilah urang darat bagi mereka yang bermatapencaharian sebagai petani ini. Dalam masyarakat perkotaan atau pesisir mereka melakukan selamatan laut. Kedua ritual ini sebenarnya memiliki kesamaan yakni bagaimana usaha yang dilakukan mendatangkan keselamatan sehingga hasil yang didapat sebanding dengan jerih payah.
Kedua ritual ini selalu dipimpin oleh dukun kampong sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil usaha bagi petani dan nelayan atau keamanan dan sakit penyakit bagi orang kota.

Namun kini baik urang darat maupun mereka yang tinggal dipesisir pun merayakan ritual Maras Taun. Tak jarang maras taun orang pesisir lebih meriah dibandingkan mereka yang sehari-harinya berprofesi sebagai penggarap ladang. Setidaknya ini menunjukkan budaya maras taun adalah budaya masyarakat Belitong yang tinggal di perkotaan, wilayah pertanian maupun wilayah pesisir

Pelaksanaan maras taun dilaksanakan setelah padi ladang usai dipanen. Kegiatan ini dipusatkan dirumah Dukun Kampong. Setiap petani membawa masing-masing lepat dari ketan atau beras baru (dipanen). Biasanya ritual ini ditutup dengan ceramah agama dan pembacaan doa oleh pemuka agama setempat.

ADAT PERKAWINAN
Seiring dengan perkembangan zaman, meluasnya komunikasi, maka tata cara perkawinan beragam. Menurut apa yang dituturkan oleh orang-orang yang berumur diatas 80-an tahun. Perkawinan terlaksana karena adanya paham (kesepakatan). Karena itulah saat merencanakan perkawinan diawali dengan mutuskan paham .

Pihak laki-laki akan mendatangi pihak calon perempuan dengan diwakilkan untuk menyampaikan hajat baik ini. Maksud dari si empunya hajat untuk diwakilkan adalah untuk menjaga hal-hal buruk yang menganggu tali silaturami kedua keluarga calon mempelai.
Tetapi jika diluar kebiasaan, dimana pihak perempuan melamar pihak laki-laki bisa menjadi pertanda telah terjadi perkawinan yang dipaksakan atau masih ada hubungan keluarga sehingga tidak seperti layaknya aturan adat dalam hal minang-meminang.

Saat itu pihak laki-laki membawa barang sebaga tanda ikatan pertunangan dan kedatangan pertama tentulah diterima dengan baik. Pada pertemuan kedua dibicarakan kapan perkawinan bisa dilangsungkan. Dan pertemuan ketiga dirundingkan tanggal dan hari pelaksanaan. Ini disebut mutuskan paham. Selanjutnya akad nikah dilangsungkan di rumah mempelai perempuan.

Perayaan perkawinan ini dipimpin oleh pengulu gawai yang ditentukan ketika berlangsung pembentukan panitia gawai. Pada hari itu, pengantin laki-laki dijemput utusan dari pihak mempelai perempuan yang diarak dengan kesenian hadra. Dalam adat perkawainan urang Belitung, pengantin laki-laki harus melewati tiga pintu (lawang).

DI lawang pertama, tukang tanak nasi menyambut wakil mempelai laki-laki dengan bersilat pantun. Mempelai laki-laki harus melewati tantangan di lawang pertama tetapi rombongan pengiringnya dipersilahkan masuk lebih dulu. Ini adalah simbol sebagai laki-laki harus melewati tantangan perkawinan untuk menafkahkan keluarga.
Di lawang kedua mempelai laki-laki dihadang oleh pengulu gawai. Simbol ini dimaksud agar pengantin laki-laki nantinya dapat melewati bahtera rumah dan memimpin biduk perkawinan. Dan di lawang ketiga, mempelai laki-laki di hadang oleh mak inang (juru rias) . Hal ini merupakan simbol bahwa mempelai laki-laki selain dapat menafkahkan dan memimpin keluarga juga harus mampu menghiasi rumah tangga dengan nuansa kegembiraan dan keindahan.

Setiap melewati lawang-lawang selalu disemarakkan dengan budaya berbalas pantun, memberi simbol tawar menawar, begitulah perkawinan hendaknya mampu mengatasi aral melintang mau menjawab tantangan.

Sebelum rombongan laki-laki meninggalkan rumah mempelai perempuan orang tua kedua belah pihak berseakat menentukan tanggal perayaan yang akan dilangsungkan di rumah pihak mempelai laki-laki yang disebut dengan istilah mulangek runut atau penganten beranjuk. Sekaligus ingin menunjukkan tanda suka cita, orang tua mempelai sedang berbahagia mendapatkan menantu. Oleh kedua orang tua laki-laki diperkenalkan menantu barunya ke keluarga terdekat. Ini dimaksudkan agar jalinan kekeluargaan anggota keluarga yang baru dapat lebih akrab. Menantupun tahu mana yang harus dipanggil Pak Long (tertua), Pak Andak, Pak Cik, Pak Busu dan sebagainya. Begitulah setiap malam selepas waktu sholat Isya acara kenal-mengenal dilakukan.

Adat hubungan keluarga
Pada dasarnya hubungan orangtua dengan anak dengan ajaran Islam. Namun dalam urusan panggil memanggil dalam adat Melayu Belitung tabu untuk dilanggar. Istri atau suami masing-masing tidak boleh memanggil nama, begitupun terhadap saudara istri/suami yang lebih tua walaupun sebelumnya adalah teman seumuran atau lebih mudah dan terbiasa dipanggil nama. Lewat didepan orang tua harus membungkukkan badan dengan sebelah tangan diulurkan kebawah.

MASALAH ADAT DAN LEMBAGANYA
Sebagaimana maksud dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2007 maupun peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 15 Tahun 2000, Lembaga Adat dimintakan untuk dapat membina, melestarikan adat yang tumbuh dalam masyarakat, maka timbul isu pokok atau permasalahan :
1. Adat yang mana yang perlu dilestarikan, atau yang harus dihilangkan ?
2. Apa kriteria adat yang perlu dikembangkan ?

Umumnya adat penuh dengan muatan nilai kearifan lokal yang memotivasi kehidupan bermasyarakat. Itulah pandangan yang perlu kita bangun sekarang ini. Adat berasal dari budi daya manusia yang memberikan penilaian yang baik terhadap suatu perbuatan, sikap dan pemikiran yang patut ditiru. Penilaian baik itu lahir dengan sendirinya sehingga menjadi adat. Karena banyak orang yang melakukannya, dari perbuatan sehari-hari hingga menjadi tradisi atau adat.
Kemudian seiring dengan perkembangan budaya manusia baik jalan pikiran atau masuknya ajaran agama. Lambat laun penilaian terhadap apa yang dulu dianggap biasa atau kebisaan menjadi berubah, menjadi kurang baik padahal itu sudah membuahkan adat. Adat lebih dulu berkembang dalam kehidupan masarakat dibandingkan dengan perkembangan pola pikir dan agama.

Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diingkari bahwa banyak anggota masyarakat yang lebih patuh terhadap adat dibandingkan dengan agama yang dianutnya. Seorang ibu mengingatkan anak menantunya “bulan Ramadhan tinggal tiga hari kenapa kalian belum sedekah ruah (ruahan).”. Sayang…..Ibu ini tidak mengingatkan, sudah lewat jam sebelas berarti waktu shalat Jum’at sudah dekat . Bila suatu waktu anda diundang Ketua Panitia Upacara Buang Jong sebagai Ketua Lembaga Adat lalu dengan segala hormat diminta memutuskan tali jong yang didalamnya berisi sesajen sebagai persembahan bagi hantu laut, sedangkan anda adalah seorang muslim. Apakah kata hati kecil anda terhadap penghormatan ini.

Memang, banyak adat yang bernuansa Islam atau Islam yang bernuansakan adat, tetapi tidak ada Sunnah Rasulullah yang membenarkannya.

Untuk menjawab kedua permasalahan diatas maka pertemuan yang bertema “ Revitalisasi Lembaga Adat Bangka Belitung di Pangkalpinang, Jum’at 19 Desember 2008 menjadi strategis agar kita memiliki persamaan persepsi dalam menindaklanjuti apa yang menjadi kekayaan budaya kita sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2007

Ahad pagi itu (26/10) saya dan Nabila, anak saya, bersiap untuk menghadiri acara Halal Bihalal Keluarga Masyarakat Belitung di Jakarta. Sebuah acara tahunan yang diselenggarakan sehabis lebaran. Dalam acara kali ini, panitia berupaya untuk menghadirkan para pemeran film Laskar Pelangi. Tapi sayang, karena mereka mau pentas di negeri sendiri malamnya, jadinya mereka tidak bisa hadir. Syukurnya, ibu Muslimah asli yang bisa hadir, mewakili mereka semua. Hmm.. memang ibu ini yang saya tunggu.

Waktu acara Halal Bihalal Babel, menyesal sekali tidak bisa hadir dan baru bisa hadir di acara ini. Sebaliknya, para pemeran film tidak ada satupun yang bisa hadir, termasuk penulis ceritanya.

Nabila saya paksa untuk mau foto bareng. Seperti biasa, awalnya dia malu-malu. Tapi saya bilang padanya bahwa ini kesempatan sekali dalam seumur hidup. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Belum tentu besok-besok masih ada lagi. Dan berangkat dari pengalaman dia yang ogah-ogahan sewaktu foto bareng dengan pemeran film Laskar Pelangi, maka dia mau dengan senang hati.

Ibu Muslimah juga ramah dan friendly dengan semua orang. Yah, dia sekarang sudah menjadi milik semua orang. Jadi selebriti, hihihi.. Kemanapun dia pergi, kini banyak orang yang mengenalinya. Dengan dibalut baju dan kerudung serba putih, beliau tampak masih cantik di usianya yang saya taksir sekitar lima puluhan.

* * *

Acara Halal Bihalal kali ini, bagi saya, tidak terlalu menarik, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan setiap tahun. Yang menarik buat saya justru kumpul-kumpul. Beberapa orang-orang tua yang dulu sahabat bapak saya, sempat saya sapa. Saya perkenalkan diri saya dan saya sebutkan nama bapak saya. Maklum, mereka pasti masih kenal dengan bapak saya. Kalau saya, mana mereka kenal?

Nah, dulu-dulu saat datang ke acara ini saya belum punya misi. Sekarang berbeda, saya datang dengan bendera warnaislam. Niat saya ingin membangkitkan naluri kewartawanan, jurnalistik, menulis, yang dulu menjadi kebiasaan dari bapak saya. Kalau dulu beliau membuat majalah Suara Masyarakat Belitung, saya ‘meneruskan’ jejak beliau dengan membuat majalah atau koran atau media online. Mudah dan murah, tanpa harus pusing-pusiing seperti zaman dulu.

Saya ingat, dulu bapak saya malam-malam mengetik materi artikel sendiri, di kertas stensil. Selama beberapa malam sampai subuh, beliau rajin mengetik, mengoreksi dan sebagainya. Kalau salah, diulangi lagi. Setelah selesai, maka materi stensilan itu dibawanya ke percetakan, kalau tidak salah namanya Furkandi, di jalan Surabaya. Di sana dicetak berlembar-lembar dan disusun sesuai dengan nomor halaman. Selesai dicetak, oleh pak Furkandi dikirim ke rumah. Lalu oleh ibu saya dibantu kami anak-anaknya dan juga ada anak IKPB, dilipat dan dimasukkan amplop, dikirim ke ’para pelanggan’ melalui pos atau dititipkan.

What a wonderful years..!

* * *

Kembali ke acara, setelah beberapa sambutan dan pidato yang diberikan oleh bang Syam, Wakil Gubernur Babel, bung Yusril, mantan menteri Hukum dan Ham, serta ibu Muslimah, acara dilanjutkan dengan hiburan yang diberikan oleh Moel KDI. Ada beberapa sambutan yang lain, tapi sengaja tidak saya foto. Mohon maaf kepada panitia, karena ada beberapa pertimbangan pribadi, hehehe..

Moel KDI, salah seorang kontestan KDI 5, tampil menggoyang dengan lagu dangdut. Sebagai orang yang pernah merasakan gemblengan untuk menjadi juara, kualitas suaranya dan penguasaan cengkok melayunya, tidak mengecewakan. Yah, karena masih kalah dengan penyanyi yang lebih bagus saja mungkin, yang menyebabkan dia kalah.

Tapi, terus terang, saya tidak pernah melihat penampilan dia di KDI sebelumnya. Bukan karena tidak suka lagu dangdut, cuma waktunya saja yang tidak sempat. Tapi sebagai putra Belitung, bangga juga lah ada bisa masuk tivi.

Selain suguhan tadi, ada juga tampilan dari penyanyi dan juga di awal acara ada tarian penyambutan. Acara sayangnya semakin semrawut karena makanan mulai digelar. Peserta jadi terpecah pada konsentrasi acara dan makanan. Saya sendiri juga akhirnya keluar.

Di luar digelar bazaar. Yang dijual macam-macam, mulai dari baju, makanan terutama, suvenir dan VCD lagu-lagu urang Belitong. Sepupu saya yang ada di foto sebelah ini, Siska yang paling kiri, ikut jualan keripik dan sejenis bubur sumsum. Agak jauh di sebelah kiri stand si Siska, ada yang jualan pempek. Rasanya Belitong bangat.

Tapi anak saya bertanya, bukankah pempek itu aslinya dari Palembang? Tidak juga saya bilang. Karena setahu saya hampir seluruh wilayah Sumatera Selatan punya makanan pempek. Dan dulu Bangka belitung itu jadi satu provinsi dengan Sumsel. Dan menurut saya, pempek Belitung itu agak berbeda sedikit dengan yang Palembang. Sedikit lebih kenyal atau liat, dan kalau kurang ahli bikin pempek, hasilnya bisa jadi lonyok atau malah keras.

Saya kehilangan ‘keponakan’ saya si Endah yang waktu itu mengajak nonton Laskar Pelangi. Sampai detik ini tidak ada kabar beritanya, lenyap hilang tertelan bumi. Padahal menurut sepupu saya yang juga panitia penyelenggara, Endah itu waktu menjual buku seri Laskar Pelangi itu, bisa mendapat keuntungan sampai 4 juta rupiah! Bukan jumlah yang sedikit lho! Dan sekarang ini, tidak nongol juga tuh, batang hidungnya itu anak. Ada apa gerangan, ya?

* * *

Acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan bagi ibu Muslimah, yang karena kegigihan beliau untuk mengajar di SD Muhammadiyah Gantong itu, jadi sebab Andrea menuliskan cerita yang kemudian sukses. Setelah itu acara pembagian doorprize. Syukur alhamdulillah, saya dan Nabila tidak dapat. Berarti tahun besok harus ikut lagi nih, biar dapat (lho?)

Acara ditutup dengan bersalam-salaman seluruh peserta. Saya taksir ada sekitar 300 sampai 500 hadirin. Cukup banyak ya? Antusiasme untuk bersalaman dengan para pembesar dari Belitung juga besar. Yang saya pikir, apa tidak pegal ya, bersalaman dengan sekian rauts orang? Apalagi mereka saling kenal mengenal satu sama lain. Jadi selain salaman, tentu ada kata-kata, ‘Eh, apa kabar? Gimane kabar mikak?’ Yah, begitulah kira-kira yang terdengar. Saya sendiri sembari bersalaman,saya perkenalkan diri. ‘Saya Dewan, anak Alex Rachim’. Yang agak tua sudah pasti kenal dan langsung menyalami dengan hangat. Enak juga yah, jadi anak orang terkenal, walaupun terkenal cuma seantero pulau.

Dulu saat PM Jepang Yasuhiro Nakasone datang ke Jakarta, disambut dengan acara pernikahan adat Belitung di anjungan Sumatera Selatan di TMII. Itu sekitar tahun 80an begitu. Saya masih ingat acara itu, karena benar-benar meriah. Waktu itu saya masih SD. Tidak berapa lama acara itu muncul di SMB (Suara Masyarakat Belitung), majalah terbitan bapak saya yang saya ceritakan tadi.

* * *

Yah, semoga saya bisa terus menyambung tali silaturrahim dengan Belitung. Karena dalam tubuh saya mengalir darah Belitung. Dan itu tidak bisa ditinggal begitu saja, apalagi kini Belitung sedang naik daun karena novel yang ditulis Andrea Hirata sudah sangat terkenal dan filmnya disukai banyak orang.

Saya dapat kabar dari sepupu saya di Belitung, bahwa dikarenakan tidak adanya gedung bioskop di sana, terpaksa film ini digelar seperti misbar atau layar tancap. Sangat disayangkan, tapi memang itu keadaannya. Hal itu mungkin disebabkan saat tahun 90an dimana film Indonesia sedemikian memuakkan, sehingga orang Belitung terutama di Tanjung Pandan tidak sudi film ‘begituan’ beredar di sana. Jadi, bioskopnya bangkrut deh, akibat tidak ada pemasukan.

Saya juga berharap semoga pemda dan Diknas Belitung terutama, memang menyorot benar-benar perkara pendidikan di sana. Tapi ini juga himbauan untuk seluruh negeri di negara tercinta ini. Bukan masalah pendidikan itu gratis atau tidak. Bukan karena janji para kepala daerah saja. Tapi itu juga menjadi janji bagi kita sebagai orang tua, bahwa anak kita harus bersekolah. Janji sebagai guru, bahwa anak didiknya harus bersekolah. Janji negara, bahwa anak bangsanya harus bersekolah.

Ingat, pendidikan itu penting, karena Allah saja sedemikian peduli dengan ilmu pengetahuan dan menempatkan sebagai surat dan ayat yang pertama kali turun dalam al-Qur`an. Juga Nabi Adam saat dihidupkan, ia langsung diajarkan nama-nama benda.

Dengan kata lain, tanpa ilmu, kita bisa tersesat di dunia ini untuk bisa kembali pada Allah. Kembali pada keridhoanNya, keberkahanNya dan pengampunanNya. Aamiin.. (Dewantara Rachim)

Halaman Berikutnya »