Cerpen


Oleh Izza Fitriasari

“Rusni, apa kamu sudah mantap untuk mendampingi Elliana?” pertanyaan Mak Lasmi membuyarkan lamunanku. Sambil menyodorkan secangkir kopi wanita renta yang kubayar untuk merawat dan menjaga Elliana itu memberanikan diri mengusik pendirianku.Aku tidak menyalahkan Mak Lasmi,semua rekan-rekan kerjaku akan menanyakan hal serupa bila mereka tahu Aku akan menikahi seorang gadis yang sedikit tergangu jiwanya.Ya… Aku yang seorang akuntan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang real estate ternama di Jakarta berperawakan tegap hanya bisa medapatkan seorang istri yang tidak bisa apa-apa, jangankan mengurus suami, untuk memoleskan lipstik di bibir saja butuh bantuan orang lain.”Elliana Rosenda”, nama itu begitu mendarah daging bagiku.Aku bersyukur pada Tuhan, dengan petunjuknya sampai saat ini Aku masih sangat mencintai gadis yang tiga tahun lalu kubawa kabur dari sebuah rumah sakit jiwa di kota Ampera.

Perjumpaanku dengan gadis itu terjadi di depan sebuah panti jompo.Aku yang baru beberapa hari bertugas di kota yang terkenal dengan jembatannya itu sedang mencari udara segar. Aku melihat di halaman panti ada seorang gadis cantik sedang bercengkerama dengan seorang kakek,hampir setiap hari gadis itu ada di panti. Belakangan kuketahui dari pengurus panti bahwa kakek itu dulunya adalah seorang arsitek terkenal di Sumatera, namun setelah istrinya meninggal anak tungalnya yang menikah dengan orang Australia menitipkannya di panti jompo milik yayasan keagamaan. Setelah dua bulan baru kuketahui gadis cantik itu adalah seorang mahasiswi jurusan arsitektur sebuah universitas swasta keagamaan. Dia sedang melakukan penelitian dan mengumpulkan informasi untuk bahan skripsinya. Ini cukup unik bagiku,rasa penasaranku selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan gadis cantik dan kakek tua itu.Jadilah kebiasaanku setiap ada kesempatan aku mampir dan bercengkerama,tertawa dan terkadang menitikkan air mata. Betapa tidak wanita-wanita dan laki-laki tua renta menghabiskan sisa hidupnya tanpa canda,tawa,tangisan dan sapaan nenek,kakek,opa,oma dari bibir manis generasi yang mereka perjuangkan dengan keringat,cinta dan air mata.Seiring itu juga keakrabanku dengan gadis itu berjalan bak air mengalir, relung hatiku yang kosong sedikit demi sedikit terisi olehnya.

“Elliana,seandainya Tuhanku mengizinkan suatu saat nanti aku ingin menjadi suamimu,apa kamu bersedia?” pertanyaanku meluncur begitu saja dari mulutku. Bagiku jawabannya adalah syarat untuk bisa mendampinginya wisuda nanti. Pertanyaan itu wajar aku lontarkan, melihat keakrabanku dengan gadis itu dan juga keluarganya selama ini.

Gadis cantik keturunan Belanda dari mamanya itu sudah mulai tergantung padaku. Setiap kali mau pergi dia selalu minta izinku. Aku hampir sama dengannya ,bagiku Dia bukan gadis asing lagi tetapi dia adalah calon istriku. Ya… Elliana telah mengiyakan pertanyaanku beberapa waktu yang lalu saat aku diminta mendampinginya wisuda.
Tuhan menguji cintaku dengan Elliana, menjelang akhir tugasku tepatnya tiga bulan sebelum aku dipindahkan ke Jakarta. Gadis itu meminta aku datang ke rumah orangtuanya, permintaannya kuanggap hal biasa. Toh selama ini aku bisa datang kapan saja ke rumah itu dan disambut hangat oleh papa, mama, oma dan saudara-saudaranya. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan, kedatanganku disambut keluarga besarnya dengan segala macam pertanyaan dan tekanan, pilihan-pilihan yang sangat tidak aku sukai diarahkan kepadaku.

Raut kesedihan dan kekhawatiran kutangkap dari wajah cantik gadis beramput pirang itu. Gadis itu terlanjur kukasihi tanpa memandang perbedaan,….ya…perbedaan prinsip hidup yang akan memisahkan kami. Kelelahan mulai aku rasakan,seharian tenaga dan pikiran kuhabiskan di kantor dan kini aku harus memperjuangkan masa depanku.Segala pikiranku tercurah di tengah pengadilan kecil keluarga Elliana. Aku yakinkan mereka takkan kurubah nama Elliana menjadi Fatimah. Aku juga tidak akan menutup seluruh tubuhnya dengan jubah yang hanya menyisakan muka dan aku juga tidak akan melarang Elliana menyentuh makanan, pakaian yang yang ada di rumah keluarga besarnya,tali persaudaraan merekapun tidak akan kuputuskan. Namun semua tidak peduli, jiwa mereka terlalu keras untuk kami sentuh dengan cinta.
Usahaku gagal bahkan apa yang aku takutkan terjadi, gadis itu tak bisa lagi kujumpai. Khabarpun tak lagi kuterima darinya. Doaku hanya satu semoga Elliana tabah. Hari terakhir kudatangi kediaman Elliana, aku harus pamit. Di halaman rumah berlantai dua itu kulihat sebuah mobil ambulan dan diringi sebuah mobil yang sangat aku kenal,” Ada apa gerangan, siapa yang sakit?” tanyaku dalam hati.

Aku mengurungkan niat menemui Elliana, perhatianku tertuju pada iring-iringan mobil ambulan tadi, dari belakang. Akupun mengikuti tepat di depan sebuah rumah sakit jiwa mobilpun berhenti. Astagfirullah jantungku berdegup kencang dan kakiku terasa lemas. Seorang gadis yang sangat kukenal turun dari mobil dengan pakaian lusuh dan berantakan sambil berontak. Gadis riang dan cerdas itu kehilangan jati dirinya, batinku bergejolak, perlakuan petugas dan keluarganya tak bisa kuterima, sangat tidak manusiawi. Dengan sabar aku menunggu sampai keluarga Elliana pulang, sepeninggal mereka aku masuk. Aku berhasil meyakinkan petugas berseragam putih tersebut.

Berat rasanya kakiku melangkah,tetapi demi rasa kemanusiaan aku tidak ingin gadisku menangis kesepian. Perlahan kubuka pintu, hatiku miris melihat keadaan Elliana. Gadis itu hanya diam menatap kosong kearahku. Kugenggam tangannya dengan harapan kehangatan membuatnya tersadar, kubisikkan kata-kata manis ditelinganya.
”Aku akan membawamu ke Jakarta, kita akan tinggal di sana, aku akan membuat rumah yang ada danaunya supaya kamu bisa mendayung sampan bersama anak-anak kita sambil tertawa renyah.”hatiku berkecamuk,Elliana mencoba berteriak. ”Jangan berisik, nanti anak-anakmu bangun……”tak kuat lagi kulanjutkan. Air mataku mengalir deras, Elliana terdiam seakan Ia mengingat sesuatu, kucengkeram erat bahunya. Aku ingin memberikan seluruh kekuatan jiwaku untuknya,walaupun aku sendiri tidak kalah hancur menghadapi kenyataan ini. Sepintas kudengar keributan diluar ruangan. Semua petugas berlarian, tanpa pikir panjang kutarik tangan Elliana keluar dari sarang penderitaan itu. Kesempatanku untuk kabur membawa Elliana terbang jauh ke Jakarta tanpa mengalami banyak rintangan.

Kuakui bukan hal muda menjalani kehidupan dengan Elliana. Dia bukan gadis cantik dan cerdas seperti dulu. Kesulitan dan kesibukan menjadi makananku sehari-hari, mulai dari menyeleksi dokter, pembantu, mengurus rumah serta urusan kantor. Sampai aku menemukan Mak Lasmi. Dengan kelembutan hatinya Elliana cepat akrab dan bisa berkomunikasi dengan baik. Hampir suluruh perhatianku tercurah pada gadis itu. Dengan tabunganku, impian Elliana bisa terwujud. Pekarangan rumah peninggalan orang tua angkatku kusulap menjadi danau kecil lengkap dengan sampannya. Di pinggir danau itulah Elliana menghabiskan hari-harinya, melukis, menggambar dan bernyanyi. Ya…..terkadang aku tidak bisa membedakan antara tawa dan tangisannya,kebiasaan mengurung diri di kamar mandi sudah tidak dilakukannya lagi.

Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari godaan,namun setiap kali aku ingat Elliana hatiku selalu bergetar seakan Tuhan mengingatkanku untuk selalu bersyukur. Semakin hari kejiwaan Elliana semakin stabil, tak pernah lagi kudengar suara tawa dikegelapan malam. Elliana memberikan saputangan disaat ulangtahunku. Senyumannya yang tulus membuatku serasa bermimpi. Bagiku cinta sejati adalah cinta yang tulus tanpa balas kasih, senyum yang tulus dari bibir Elliana setiap kali menyambut kehadiranku melebihi segalanya di dunia ini.

Tiga tahun cukup bagiku untuk menyelami pikiran dan kebiasaan Elliana,akhirnya Aku memutuskan untuk menikahi gadis yang kupisahkan dari keluarganya itu. Diatas sampan di tengah danau kuutarakan maksudku pada Elliana, tangisannya menjadi jawaban buatku. Aku memahami kekhawatirannya padaku. Kusebar sedikit undangan untuk tetangga dan rekan-rekan kerjaku. Sengaja aku tidak menaruh foto Elliana di kartu undangan. Bagiku cukup aku dan Mak Lasmi yang mengagumi kecantikan gadis itu,akad dan resepsi diadakan di rumah. Kupersiapkan segalanya, Elliana minta supaya Mak Lasmi saja yang merias wajahnya….dan saat bersanding aku juga yang menyalami tamu undangan. Elliana akan menggenggam erat tangan kiriku. Ya..begitulah kebiasaannya setiap kali aku mengajaknya ke supermarket. Kehangatan tanganku bisa meredam emosi sang arsitek jiwaku itu.

ELLIANA ROSENDA, dulu kau selalu menanti datangnya bulan purnama dan ketika bulan itu datang kau hanya menangisinya hingga air matamu membasahi bantal. Aku berjanji atas nama Tuhan yang menciptakanku,kedua tanganku akan menyeka air matamu dan kita akan menanti bulan purnama di atas sampan di tengah danau diiringi tawa dan canda bersama.

Begitu terhormat, begitu disegani bapak dalam keluarga. Beliau adalah pemimpin, menjadi tulang punggung keluarga yang pantas dihormati karena  berjuang memberi nafkah keluarga besar ini.  Saking dihormati dalam urusan makanan-pun begitu dimuliakan. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, sudah tersedia sepotong roti diatas meja lengkap dengan mentega dan misis-nya. Ditemani secangkir kopi hangat menambah nikmat suasana pagi. ’’ah..begitu menggiurkan sepotong roti itu’’. Bagiku roti merupakan makanan mewah dan belum satu kalipun aku merasakannya.

 

Pernah suatu aku protes “kenapa bapak saja yang harus memakan roti itu. Apakah anak-anaknya itu tidak boleh, walaupun hanya secuil bu. ’’Nak….roti itu hanya diperuntukkan untuk orang yang telah memberi nafkah kepada kita. Roti itu hanya untuk orang yang bekerja demi keluarga. Dan yang hanya bekerja itu kan bapak “ ujar Ibu beralasan.

 

Aku terdiam, batin ini  meng-gunung-kan keinginan. Suatu  suatu saat sepotong roti itu harus menjadi milikku. Ini berarti aku harus bekerja untuk keluarga. Aku harus cepat menyelesaikan sekolah SMK-ku. Biar aku cepat kerja. Maklum kalau untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bapak tentu tidak akan mampu. Bapak yang bekerja hanya jadi tukang pikul dipasar tentunya tidak punya uang untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang setinggi itu. Untuk meneruskan ke SMK ini saja, aku dibiayai  paman. Apalagi kami merupakan keluarga besar dengan lima orang bersaudara dan aku sebagai anak anak sulung. Adikku sekarang dua orang duduk dibangku SMP,dan dua orang lagi duduk dibangku SD. Jadi sangat berat beban biaya yang bapak tanggung untuk menghidupi keluargaku. Padahal bapak hanya sebagai tukang pikul.

 

Tapi aku salut dan bangga terhadap ibuku. Dia selalu sabar dan selalu memperhatikan pendidikan kami walaupun dalam kondisi kekurangan. Seberapun uang yang dia terima tidak pernah menyajikan sepotong roti untuk bapak sebelum pergi kerja. “ Entah…sejak kapan ibu selalu dapat membeli roti itu, padahal roti itu kan mahal “.

***

 

“Nak.., dengarkan baik-baik. Bapak mau memberi nasihat untukmu semua’’. Bapakku mulai berbicara ketika kami berkumpul bersama di tengah rumah setelah makan malam yang sangat sederhana dengan hanya memakai sambal, sayur bening dan masing-masing sepotong tempe kering. “Nak…jadilah kalian anak yang jujur, sabar, tawakkal, dan menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Biar kita hidup ini miskin, akan tetapi jangan berbuat jahat dan curang. Allah-lah yang mengatur rezeki “, kata bapak sambil melihat secara bergantian kepada anak-anak-nya termasuk aku. ’’Kamu…Surya.. kelak kamu menjadi pengganti bapak, kalau bapak sudah tua dan tidak lagi sanggup bekerja. Kamu harus mampu menjadi tulang punggung keluarga. Bapak ini sudah dimakan usia. Bapak rasakan sudah agak lemah untuk bekerja seberat itu’’. Bapakku memberi nasihat khusus untukku, mungkin dianggap sudah mampu untuk menterjemahkan maksudnya. Bapakku memang selalu menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang baik kepada anak-anaknya.

 

“Nanti suatu saat…. Surya, kamu gantikan posisi bapak ya! ’’, tegas bapak berulang-ulang. Aku terdiam yang kupikirkan adalah bagaiman bisa menyantap roti di pagi hari.

***

 

Bapakku tergolek lemah diatas kasur. Sudah tiga hari ini beliatu tidak dapat bekerja, memikul barang-barang di pasar, karena sakit. Aku menjadi sedih, sekolahku yang tinggal menunggu lulus, untuk sementara ditinggal karena tidak akan mempengaruhi apa-apa, pikirku. Aku yakin,aku pasti lulus, karena selama ini memang aku selalu menjadi nomor satu dikelas dalam hal prestasi. Aku gantikan pekerjaan bapakku untuk menjadi tukang pikul dipasar. Memang terasa berat pekerjaan ini. Apalagi aku masih tergolong muda dan belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Dan penghasilan yang diperoleh pun tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan ini.

 

“Ah.. memang melelahkan sekali pekerjaan ini “, aku bergumam. Pantas saja ibu begitu menaruh hormat yang sangat kepada bapak. Wajar bapak begitu diagung-agungkan dalam keluarga bagaikan pahlawan. Sehingga makanpun harus dibeda-bedakan dengan anggota keluarga lain.

 

Akan tetapi yang membuat aku nekad dan selalu membuat semangat akan kerjaku yang berat itu adalah cita-citaku ingin merasakan ’’sepotong roti’’ itu yang ditemani dengan ’’secangkir kopi’’. Aku bangkit dari duduk, kemudian aku lanjutkan pekerjaanku karena masih ada beberapa karung beras yang belum aku pikul untuk dimasukkan kedalam gudang. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu. Dan aku ingin segera mendapatkan uang hasil upah pikul. Karena memang upah diberikan per hari.

 

Aku pulang kerumah dengan menunggang sepeda bututku itu. Semangatku begitu tinggi karena hari itu aku membawa uang yang lumayan untuk diserahkan kepada ibuku untuk dipakai belanja dan berobat bapak. Dan yang paling membuat aku bergairah lagi adalah besok pagi ketika aku akan pergi kerja sudah tersedia sepotong roti dan secangkir kopi diatas meja. ’’Hmmm…menggiurkanku’’.aku melamun.

 

****

 

Aku sudah bangun pagi-pagi. Aku sudah mandi dan aku sudah brganti baju untuk pergi kerja dipasar itu. Aku selalu teringat akan sepotong roti itu. Dan ternyata sepotong roti itu sudah tersedia beserta secangkir kopi.

 

’’..aha..sekarang giliranku yang melahapnya..’’. Aku sekarang sudah dapat duit. Aku sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Aku sekarang yang bekerja dalam keluarga ini. tidak ada orang yang dapat menyantap roti ini. Ibuku pernah bilang, bahwa yang berhak akan roti ini adalah mereka yang bekerja.

 

Baru saja akan kuambil roti itu dan siap menyantapnya, tanpa sepengetahuanku dari belakang ibuku menegurku. ’’Surya.. ndak baca do’a dulu sebelum makan..? “, aku kaget.

Memang aku lupa karena terbawa semangat untuk segera melahapnya. ’’nak…makan roti itu mentega dengan misisnya aja ya…,ndak usah rotinya’’,ibuku berkata lagi sambil memandangku dengan tajam. Aku kaget. Mengapa ibuku berkata begitu. ’’bu..ibu kan pernah bilang, bahwa yang berhak untuk memakan roti ini adalah orang yang bekerja dalam keluarga kita. Surya kan ..bu.. udah kerja’’.aku mencoba membantah.

 

’’iya.. ibu ngerti nak. Tapi..’’. ibuku menarik nafas. Seperti ada yang mengganjal dan menjadi rahasianya. Terlihat dari sorot matanya yang sembab itu karena sudah mengeluarkan air mata.’’Tapi…kenapa…bu?’’,aku mendesak ibu.

 

Karena aku penasaran, kenapa roti aja tidak boleh dimakan. ’’Nak… coba kamu perhatikan benar-benar roti itu. Coba kamu kuliti dan bersihkan mentega dan misisnya “. Aku ambil roti itu dan kubersihkan mentega dan misis-nya, dan ternyata diluar perkiraanku selama ini.

 

 ’’jadi bu..!’’. aku terpana sambil menatap roti itu. ’’Iya nak..,itu roti palsu. Roti plastik yang ibu beli dipasar. Ibu sengaja beri mentega dan misis-nya  setiap hari seperti roti asli. Ibu berbuat seperti ini, agar kamu..menghargai, jerih payah bapakmu….’’.ibu tidak melanjutkan ucapannya. Ibu meninggalkanku yang melongo.

 

Aku sudah salah duga dan salah terka.  Selama ini, bapak yang kuanggap enak-enak makan roti setiap pagi ternyata….. tipuan belaka. Aku berfikir dan merenung lebih dalam lagi. Aku menjadi lebih dewasa karena sepotong roti. Aku lebih bergairah untuk bekerja karena sepotong roti. Aku dituntut lebih bertanggung jawab karena sepotong roti. Dan aku belajar menghargai orang yang bekerja. Begitu dasyatnya ’’SEPOTONG ROTI’’. (Yasa,SP)

Dear diary…

Beberapa hari ini aku benciiiiii banget ama hidup aku!!! Disekolah,temen-temen pada nyebelin semua.. semua sikapnya pada egois, Cerry juga nyebelin,temenku

disekolah yang sekaligus tetanggaku dirumah, yang biasa selalu maen kerumah sehabis pulang sekolah, sekarang gak pernah datang lagi, yang byasa sering nemenin aku ke kantin waktu istirahat,sekarang gak mau lagi….. Cuma gara-gara  masalah kecil,bysa-bysanya dia gak negur aku selama 2 minggu, bertepatan dengan hari ini genap sudah 2 minggu!

Aku sebeeeel banget ama dia!!!!!

 

Dirumah juga sama nyebelinnya!! Barusan aku berantem sama adek aku,si Elvan,tu anak nyebelin banget sih.. mama yang udah tau kalau Elvan yang salah,tetap aja masih marahin aku, katanya gak bersikap dewasa lah.. mesti ngalah ma adek yang lebih kecil.. aku bosen denger ocehan mama!

Masa mesti selalu aku yang ngalah?! Aku sebel banget sama mama! Udah tiap hari jarang dirumah, sekali dirumah,pastinya selalu ngomelin aku! Aku tau mama kerja,sibuk… tapi setiap orang tua mesti ngertiin anaknya donk,aku juga sibuk ama tugas-tugas disekolah,setiap siang mau pergi kemana-mana pasti gak boleh,disuruh jagain Elvan lah, padahal kan ada biarin, ngapain juga mesti dijagain..

 

Tiap malem, mau nonton tv ,selalu si Elvan yang mau nonton kartun, kalo aku mau nonton yang lain gak bakal bisa deh,si Elvan ntar nangis, trus kasih tau mama, mulai deh mama ngoceh ama aku.. aku sebeeel!!!

Coba papa masih ada, pasti mama gak bakal sering marah-marah kayak gitu.. aku kangen papa… selain papa, udah nggak ada lagi yang sayang ama aku didunia ini.. aku pengen pergi kayak papa, pergi jau kesisi Tuhan, dan nggak bakal menderita lagi..

Aku benci,aku sebeeeel ama semuanya!!

Aku benci hidup ini…

           

Elsa menutup buku hariannya sambil meneteskan air mata. Setetes demi setetes, kemudian matanya pun tertuju pada sebuah cutter dimeja belajarnya. Ia ingin segera meninggalkan dunia yang menurutnya sudah tak bersahabat lagi dengannya dan pergi jauh ketempat papanya.

”Kalo aku mati sekarang,pasti semua orang yang nggak peduli ama aku, bakal menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini,aku juga nggak akan lagi liat muka Cerry yang nyebelin abizz!! Dan dengerin mama yang tiap hari ngomelin aku! 

 

Tapi…” ia berpikir ulang mengenai keputusannya untuk bunuh diri. Ia menatap bintang-bintang lewat jendela kamarnya, berpikir tentang semua kenangan tentang kehidupan yang dijalaninya selama ini.

 

Ayahnya dulu berkata bahwa jika kita merasa mempunyai beban masalah, pikirkanlah sambil menengok keatas langit, karena sinar bintang akan membantumu menyinari hati dan pikiranmu. Setelah pukul 23.30, Elsa merasa mengantuk dan setelah ia memikir ulang keputusannya.

 

”Hmmm.. besok aja deh aku bunuh dirinya,aku masih mau hidup satu hari lagi aja buat bikin kesan yang tak terlupakan buat semua orang yang udah bersikap gak baik ama aku,supaya mereka ngerasa tambah bersalah karena kepergian aku..!” dan malam itu Elsa pun menetapkan bahwa besok, pukul 23.00 ia baru akan melaksanakan rencananya.

 

Besok paginya, pukul 06.00,yang biasanya Elsa dibangunkan tapi sekarang pengen bangun sendiri, merapikan tempat tidur sendiri dan kemudian menuju ke meja makan.

”Pagi ma..,pagi van…!” Elsa begitu ceria menyambut hari yang menurut rencananya akan menjadi hari terakhirnya di dunia. ”Tumben kamu Sa, kok udah bangun? Biasanya mesti mama lagi yang bangunin kamu lagian, ceria banget kamu hari ini?” Tanya mamanya dengan nada heran. ”kesambet kali ma semalem!” cetus Elvan adiknya, Elsa hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya itu,dalam pikirannya,” Van,kamu bakal jadi orang yang paling ngerasa bersalah hari ini karena kepergian aku.. liat aja ntar malem!”

 

Pukul 07.00,sesampainya disekolah,”Pagi Karin..” sapanya pada temannya yang baru saja tiba dikelas dengan senyuman. ”Pa..pagi juga Sa?” Karin menjawab sapaan Elsa dengan nada kaget sekaligus heran, karena dari kelas 10 sampai kelas 12 ini,Karin yang selalu sekelas dengan Elsa, tidak pernah sekalipun disapa oleh Elsa. Dan keanehan juga terjadi hampir diseluruh kelas 12C SMA edelweiss, semua merasa hari ini,elsa tampak begitu berbeda sikapnya,yang biasanya cuek, jutek,suku mengeluh dan marah-marah,kini berubah menjadi sangat ramah,baik,selalu tersenyum,pokonya benar-benar sangat berbeda.

 

Pada saat jam istirahat..,Elsa yang sedang menuju kantin bertemu dengan Cerry, Elsa pun senyum kearah Cerry. Elsa berpikir,tidak ada salahnya ia tersenyum untuk terakhir kalinya kepada seseorang yang pernah bersahabat baik dengannya.

 

Dan setelah Elsa tiba dikantin, ”Sa,maafin aku yah…” tiba-tiba sebuah tangan terjulur pas didepan muka Elsa yang sedang duduk dikantin. ”eh..iya.. aku juga minta maaf yah Cer,aku yang salah..” jawab Elsa sambil berjabat tangan dengan sahabatnya itu. ”sorry ya sa kalau aku gak negurin kamu selama beberapa minggu ini,aku pikir kamu pasti masih marah ama aku”,”aku malah mikir kalau kamu yang masih marah ama aku soal kemaren itu” jawab elsa. Tak terasa dari percakapan mereka dikantin itu,mereka jadi akrab lagi dan bisa tertawa bersama seperti dulu lagi. Dan setelah bel berbunyi,kami berjalan sambil meninggalkan kantin menuju kelas masing-masing,” Sa, aku kekelasku dulu yah,o y! besok dateng kerumah aku yah,mamaku ultah Sa..” Cerry pun menuju kekelasnya.

 

”i.. iya Cer..” Elsa menjawab dengan ragu,karena dalam pikirannya,hari esok kan nggak kan ada untuknya. Sesampainya dirumah,”aduuh..!” sebuah lemparan baju tepat mengenai kepalanya. ”apa-apaan sih kamu Van!! Main lempar-lempar aja!” teriak elsa. ”tuh baju buat kamu! Tadi disekolah ada lomba mewarnai,aku menang lombanya,jadi dapet tuh baju, malah warna pink, buat kamu aja, kamu kan suka warna pink.” Elsa terdiam,ia tak pernah menyangka kalau ternyata adiknya yang paling menyebalkan sedunia itu ternyata tahu juga warna kesukaan kakaknya. ”thanks..” jawab Elsa singkat.

 

Malamnya,selesai makan malam, Elsa menuju ruang tamu,menghampiri mamanya, ”ma.. Elsa sayang banget ama mama..” tiba-tiba Elsa mengejutkan mamanya yang sedang serius membaca majalah,ia berpikir ini mungkin kata-kata terakhir yang ingin ia ucapkan untuk mamanya. Mamanya terdiam,kemudian tersenyum memeluk Elsa,”iya..mama juga sayang Elsa,maaf ya akhir-akhir ini mama jarang merhatiin kamu sama Elvan,mama lagi sibuk banget dikantor,maaf juga kalau mama sering marah sama kamu”. ”iya,gak apa-apa kok ma…” jawab elsa sambil menahan air mata yang hampir jatuh. Dan setelah diam beberapa saat, Elsa masuk kekamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya dan melihat kearah jam,22.00, 1 jam lagi menuju perjalanan jauh yang direncanakan Elsa.

 

Elsa membuka jendela,kembali menatap langit yang penuh bintang dan mulai merenungi kejadian hari ini.. kemudian,beberapa saat mulai menulis diarynya lagi,

 

Dear diary…

Hari ini seharusnya hari terakhir aku didunia ini. Kemarin,aku begitu membenci kehidupan aku. Aku marah sama semua orang disekeliling aku,karena aku ngerasa mereka egois. Tapi hari ini… hari ini aku sadar,selama ini bukan mereka yang egois,tapi aku.. selama ini,aku selalu ngerasa nasib aku yang paling menyedihkan,dan paling menderita didunia ini.. aku selalu berharap kalau orang-orang bisa mengerti perasaan aku… aku yang selalu bersikap egois.

Dan sikap akulah yang sebenarnya salah, tapi aku terus-terusan pengen kalau orang lain yang harus merubah sikapnya… dan hari ini semenjak aku berubah,aku dapat melihat dunia dari sudut pandang yang lain.. ternyata dunia yang Tuhan ciptakan memang indah…,semuanya gak seburuk yang aku pikirkan selama ini.. dan hari ini aku mulai bisa sadar dan bertambah dewasa,duniaku sangatlah indah,dan…. Aku gak mau pergi jauh… aku pengen tetap didunia ini bersama semua orang yang aku sayangi dan semua yang menyayangi aku…

 

Elsa tak dapat menahan tangisnya,kemudian,dia melirik jam,pukul 23.00,waktu yang ditetapkannya untuk melakukan perjalanan jauh tersebut, namun,ia kembali melanjutkan kalimat terakhir yang akan ditulisnya untuk hari ini di buku diarynya…

 

 “…………………Perjalanan jauh Elsa DIBATALKAN  !!!  …………………..”

 

 

ELIZA KOSASI, Penulis adalah siswa SMKN 1 Tanjungpandan

Ah,namanya juga ibu tiri”, gumamku dalam batin. Dia berbuat baik kepadaku karena ingin dipuji olehku dan ingin terpakai oleh bapakku.Mungkin dia berbuat baik karena ada bapakku. Aku sering mendengar cerita dari kawan-kawanku, bahwa ibu tiri itu sama saja kok. Ada pepatah yang mengatakan sebersih-bersihnya air bekas cucian beras, tidak akan sebersih air biasa. Ini mengandung pengertian bahwa kebaikan ibu tiri itu tetap saja  tidak sebanding dengan kebaikan ibu kandung

 

*  *  *  *

Sudah dua tahun yang lalu,bapakku menikah lagi dengan wanita yang lain.Sepeninggal ibuku yang meninggal setelah mengalami sakit yang cukup parah.Bapakku termasuk orang sabar. Ibu kandungku meninggal ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas satu. Kurang lebih empat tahun bapakku menduda.Dan selama itulah aku dirawat bapakku.

 

“Nita, sini ada yang ingin bapak sampaikan!”. Bapakku memanggilku, kelihatan roman mukanya serius. Biasanya bapakku termasuk humoris walaupun dalam keadaan susah. Aku menghampirinya, ”Ada apa Pak?”, Aku terasa deg-degan. Apa gerangan yang ingin disampaikan oleh bapakku. Apa ada yang salah denganku. ”Bapak ingin menyampaikan sesuatu, sekarang kan Nita sudah dewasa dan sudah menjadi seorang gadis.”

 “Maksud bapak?”,tanyaku. ”Begini Nit, bapak kan sudah lama ditinggal ibumu, jadi rasa-rasanya bapak ndak mungkin hidup terus dalam kesendirian.”

“Jadi bapak mau nikah lagi ?”,sergahku. ”Ya……,mungkin begitulah, bapak perlu pendamping hidup untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mungkin kamu bisa mengerti.” “Aku tidak mau punya Ibu Tiri,” bantah aku sambil meninggalkan bapak.

”Nita…..Nita, dengarkan dulu! …….”. Aku tak perduli, aku tinggalkan bapakku yang duduk sendirian di ruang tamu

 

*  *  *  *

 

“Hai…..Nita, tunggu!”. Aku menoleh ke belakang, ternyata kawan-kawan sekolahku Lina, Susi, Tati dan Irma mengejarku dari belakang. ”Ada apa?”. ”Aduh….kok pagi-pagi sudah cemberut anakku sayang…..,ada apa?”, tanya Lina sambil senyam-senyum yang terkenal periang dan sok tahu permasalahan. “ Iya dong cerita sama tante”, timpal Susi sambil cengar-cengir merasa tak ada beban. “ Be-te aku”, cetusku singkat. “ Emang ada apa Nit, kelihatannya ada yang kurang beres ya ?” tanya Tati mencoba memberi perhatian “ Dengar ya, kawan-kawanku yang jelek-jelek, Ibu tiriku itu lho…”

 

“Emang ibu tirimu itu kenapa…….sakit?”, tanya mereka serempak.

“ Bukan sakit ..gimana sih, dengarkan dulu”. “ Iya..ya mari kawan kita sama-sama dengarkan kabar pagi ini dari sohib kita ha…..ha…..ha… Kata Lina cengegesan.  Aku kan minta handphone baru tu ya sama ibu tiriku. Apa jawabnya “ Nita sayang kan bulan yang alu udah diberikana HP yang terbaru, untuk apa beli lagi,…mending kita beli yang lain aja, atau tanya dulu dengan Bapak”. Gitu jawabnya. Dasar ibu tiri ndak tahu diri. Itu kan duit bapakku, bete ndak” “ Oh gitu, Emang ibu tirimu itu terlalu ya….emang itu duit siapanya !. jawab mereka bertiga serempak. Aku merasa tersanjung dan mendapat dukungan dari kawan-kawanku. Irma yang terkenal judes dan jarang ngomong menimpali “ namanya juga ibu tiru gitu lho, disusul dengan ketawa yang lainnya. Ayo kita masuk ….kelas hampir mulai nih, jam pelajaran pertama, potong Susi.

 

*  *  *   *

 

“Nita..ndak belajar malam ini ?” . Tanpa sepengetahuanku ibu tiriku yang kubenci itu udah berdiri dipinggir ranjang kamarku. Aku tambah muak melihatnya “ndak jawabku singkat.

 

” Emang ada apa Nit, lagi kurang sehat ya “, tanyanya lagi “ Lagi malas saja, emangnya ada apa sih, reseh amat”, jawabku ketus tanpa menoleh sedikitpun. “Nita….,ibu sarankan belajar yang rajin ya, ini kan udah hampir Ujian Nasional, nanti nilai kamu turun”, jawab itu tiriku dengan penuh kesabaran. Aku diam saja, persetan dengan nasehat itu, memang siapa sih dia.

Aku anak semata wayang dari seorang bapak yang ditinggal oleh ibu kandungkku,  dari dulu aku selalu dimanja. Sejak ditinggal ibuku, segala permintaanku selalu dikasih. Ini membuat aku jadi manja dan ingin menang sendiri. Ketika hadir orang ketiga, akupun jadi  takut dan semakin tidak mau kalah. Takut kasih sayang bapakku terenggut dariku.

 

*  *  *   *

“Halo … apa betul ini rumah Pak Untung ?”, kata suara dibalik gagang telepon. ”Iya..ya…betul… ini dengan anaknya…. Nita, ini dari siapa ya”,  jawabku agak kaget. Ini dari rumah sakit, kami perawat, kami dapat nomor rumah Pak Untung dari kartu nama yang kami dapatkan dari ibu korban kecelakaan. 

 

“Pak ..pak jangan tutup dulu, siapa yang kecelakaan” tanyaku dengan penuh penasaran. ”Ibu Lasmi tadi kecelakaan didekat pasar, ditabrak mobil” suara telepon terputus.

 

Aku termenung sejenak, aku belum percaya seratus persen atas kejadian ini. Tapi aku cepat sadar dan menelpon bapakku yang sedang dikantor.”Halo…., ini  bapak ya,… Pak cepat ke rumah sakit….ibu kecelakaan, sekarang di rumah sakit.

 

Tanpa sadar aku mengucapakan kata IBU, biasanya diucapkan dengan embel-embeli “TIRI” dibelakangnya. Aku terus nyerocos “ Iya tenang…. ada apa Nita, ceritakan dulu ndak usah panik.

 

“Ibu kecelakaan Pak sekarang di rumah sakit”, jawabku. Entah kenapa batinku jadi tidak tenang dan gelisah. Aku takut ada apa-apa dengan ibu tiriku, baru kali ini aku memanggil “IBU “. Dulu aku gelisah dengan kehadiran ibu tiri karena takut merebut kasih sayang bapak kepadaku, sekarang malah aku gelisah takut ada apa-apa dengan keselamatan ibu tiriku.

 

“Bu..bu….”, tanyaku pelan dekat dengan kuping ibu tiri. Bapakku berdiri disampingku dekat ranjang dimana tergolek seorang ibu yang penuh perban disekujur tangan dan kaki serta sebagian kepala. Hanya mata, hidung dan mulut yang tidak tertutup perban. “Bu…?”, tanyaku pelan. Ada kegundahan dan penyesalan yang menyeruak dalam batinku. Cukup lama ibu tiriku terbaring tetapi belum juga sadar. Aku dan bapakku keluar duduk di depan ruangan. Aku tidak berkata sepatah katapun.

 

Aku tertunduk, aku menerawang ke masa laluku, betapa banyak kesalahan-kesalahan dan umpatan serta cacian terhadap ibu tiriku, padahal dia tetap sabar melayaniku. Dia tetap tersenyum walaupun aku hardik. Anak macam apa aku ini. Aku sebenarnya tidak layak untuk dikatakan anak yang berpendidikan. Dan masih banyak lagi hujatan-hujatan yang lain dalam batinku.

 

”Nita …?”, suara bapakku memecah lamunan. ”Apakah kamu masih menganggap ibu tirimu itu saingan mendapatkan kasih sayang?. “Rasanya sudah sepantasnya dan sewajarnya kamu minta maaf kepada ibu yang kamu anggap ibu tiri,  yang kamu anggap sainganmu. Bapakku pun masuk ruangan opname.

 

Aku masih duduk, termenung dan menyaring kata-kata bapakku. Memang benar kata bapakku. Aku masuk menyusul ayahku ke ruangan opname. Kudapati Ibu tiriku sudah siuman. Dia melihat kedatanganku sewaktu aku masuk” Nita…, terdengar suara parau dan berat karena menahan rasa sakit  dari mulut seorang ibu. Ibu tiriku memberi isyarat agar aku mendekat. Seperti terkena magnet, aku mendekat dan duduk disebelah itu ibu tiriku.

 

 “Nita,….. nak jangan panggil lagi aku dengan panggilan “IBU TIRI”,  panggillah dengan panggilan “IBU”  ya….”, kelihatan dibibirnya yang bengkak itu tersungging senyuman. Aku cuma menganggukkan kepala, aku tak dapat berkata-kata hanya air mata penyesalan yang keluar menyadari telah salah menilai bahwa seorang ibu tiri tidak punya rasa nurani yang bersih dan murni. Maafkan sekali lagi ibu tiriku, aku telah salah menilai. Semoga engkau cepat sembuh an berkumpul lagi dirumah kita, semoga pula kesalahanku diampuni oleh Yang Maha Kuasa, Amien.(Yasa SP)

Halaman Berikutnya »