Oktober 2008


Tanjungpandan (WP),  Kepemimpinan merupakan bagian penting dari tujuan sebuah organisasi. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan manajemen yang baik melalui empat aspek utama, yaitu perencanaan (planing), pengorganisasi-an (organizing), pelaksanaan (actuiting), dan pengawasan (controling).

 

Penetapan struktur organisasi  merupakan bagian dari aspek organizing manajemen pemerintahan. Struktur organisasi melahirkan jenjang kepemimpinan, yang bertanggung jawab terhadap tugas pokok dan fungsi satuan, unit, bagian, subbagian, atau seksi masing-masing. Jenjang kepemimpinan inilah yang melahirkan eselonering jabatan dalam struktur organisasi pemerintahan, mulai dari eselon I sampai dengan eselon IV.

 

Demikian disampaikan Penjabat Bupati Belitung yang dibacakan oleh Sumardi Spd pada pembukaan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan ke-5 Kabupaten Belitung Tahun Anggaran 2008. Diklat Kepemimpinan Tingkat IV merupakan persyaratan untuk menduduki jabatan eselon IV.

 

Kepada peserta Penjabat Bupati mengharapkan peserta memiliki pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan kompetensi kemimpinan untuk menduduki jabatan dimaksud, sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Meskipun, diklat ini bukan satu-satunya persyaratan untuk menduduki jabatan eselon IV. Banyak persyaratan lain yang harus Saudara penuhi, baik yang berkaitan dengan disiplin maupun integritas pribadi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Disiplin dan integritas pribadi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi.

 

Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan ke-5 Tahun Anggaran 2008 resmi dibuka oleh Sumardi Spd mewakili Penjabat Bupati Belitung didampingi Kepala Inspektorat Drs.Slamet dan Kepala Kantor Diklat Mirang Uganda SH.

Diklat ini diharapkan akan berdampak terhadap Pengembangan Kualitas Pelayanan Prima Melalui Peningkatan Kompetensi Aparatur Berbasis Pada Kebutuhan Lokal sebagaimana tema DiklatPIM IV Angkata ke-5 ini.

Dalam laporan pelaksanaannya, Mirang Uganda menjelaskan jumlah PNS yang mengikuti diklat sebanyak 40 arang yang berlangsung dari tanggal 27 Oktober hingga 29 November 2008.

 

Kepada Peserta, Sekretaris Diklat Haris Maryono, SE menjelaskan Kompetensi jabatan PNS adalah kemampuan dan karakterisik yang harus dimiliki seorang  PNS berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanana tugas dan jabatannya

Diawali pertemuan antara BKN, Menpan, dan LAN sendiri yang mengundung para pakar kediklatan, pada tahun 2001 Direktorat Pembinaan Umum Aparatur- Lemabaga Administrasi Negara telah menghasilkan naskah akademik standar kompetensi kepemimpinan tingkat I sampai dengan IV berikut matriks standar kompetensi kepemimpinan. Direktorat Pembinaan Diklat Aparatur telah melaksanakan berbagai kegiatan penting dalam upaya pengembangan kualitas Diklat Aparatur. Program-program tersebut menitikberatkan pada perombakan secara menyeluruh dan gradual terhadap kurikulum kediklatan seiring dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintahan tentang Diklat PNS yang baru

Widyaiswara berasal dari Badan Diklat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indoneisa (LAN RI) dan tenaga pengajar dari lingkungan pemkab Belitung. (fithrorozi)

Ahad pagi itu (26/10) saya dan Nabila, anak saya, bersiap untuk menghadiri acara Halal Bihalal Keluarga Masyarakat Belitung di Jakarta. Sebuah acara tahunan yang diselenggarakan sehabis lebaran. Dalam acara kali ini, panitia berupaya untuk menghadirkan para pemeran film Laskar Pelangi. Tapi sayang, karena mereka mau pentas di negeri sendiri malamnya, jadinya mereka tidak bisa hadir. Syukurnya, ibu Muslimah asli yang bisa hadir, mewakili mereka semua. Hmm.. memang ibu ini yang saya tunggu.

Waktu acara Halal Bihalal Babel, menyesal sekali tidak bisa hadir dan baru bisa hadir di acara ini. Sebaliknya, para pemeran film tidak ada satupun yang bisa hadir, termasuk penulis ceritanya.

Nabila saya paksa untuk mau foto bareng. Seperti biasa, awalnya dia malu-malu. Tapi saya bilang padanya bahwa ini kesempatan sekali dalam seumur hidup. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Belum tentu besok-besok masih ada lagi. Dan berangkat dari pengalaman dia yang ogah-ogahan sewaktu foto bareng dengan pemeran film Laskar Pelangi, maka dia mau dengan senang hati.

Ibu Muslimah juga ramah dan friendly dengan semua orang. Yah, dia sekarang sudah menjadi milik semua orang. Jadi selebriti, hihihi.. Kemanapun dia pergi, kini banyak orang yang mengenalinya. Dengan dibalut baju dan kerudung serba putih, beliau tampak masih cantik di usianya yang saya taksir sekitar lima puluhan.

* * *

Acara Halal Bihalal kali ini, bagi saya, tidak terlalu menarik, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan setiap tahun. Yang menarik buat saya justru kumpul-kumpul. Beberapa orang-orang tua yang dulu sahabat bapak saya, sempat saya sapa. Saya perkenalkan diri saya dan saya sebutkan nama bapak saya. Maklum, mereka pasti masih kenal dengan bapak saya. Kalau saya, mana mereka kenal?

Nah, dulu-dulu saat datang ke acara ini saya belum punya misi. Sekarang berbeda, saya datang dengan bendera warnaislam. Niat saya ingin membangkitkan naluri kewartawanan, jurnalistik, menulis, yang dulu menjadi kebiasaan dari bapak saya. Kalau dulu beliau membuat majalah Suara Masyarakat Belitung, saya ‘meneruskan’ jejak beliau dengan membuat majalah atau koran atau media online. Mudah dan murah, tanpa harus pusing-pusiing seperti zaman dulu.

Saya ingat, dulu bapak saya malam-malam mengetik materi artikel sendiri, di kertas stensil. Selama beberapa malam sampai subuh, beliau rajin mengetik, mengoreksi dan sebagainya. Kalau salah, diulangi lagi. Setelah selesai, maka materi stensilan itu dibawanya ke percetakan, kalau tidak salah namanya Furkandi, di jalan Surabaya. Di sana dicetak berlembar-lembar dan disusun sesuai dengan nomor halaman. Selesai dicetak, oleh pak Furkandi dikirim ke rumah. Lalu oleh ibu saya dibantu kami anak-anaknya dan juga ada anak IKPB, dilipat dan dimasukkan amplop, dikirim ke ’para pelanggan’ melalui pos atau dititipkan.

What a wonderful years..!

* * *

Kembali ke acara, setelah beberapa sambutan dan pidato yang diberikan oleh bang Syam, Wakil Gubernur Babel, bung Yusril, mantan menteri Hukum dan Ham, serta ibu Muslimah, acara dilanjutkan dengan hiburan yang diberikan oleh Moel KDI. Ada beberapa sambutan yang lain, tapi sengaja tidak saya foto. Mohon maaf kepada panitia, karena ada beberapa pertimbangan pribadi, hehehe..

Moel KDI, salah seorang kontestan KDI 5, tampil menggoyang dengan lagu dangdut. Sebagai orang yang pernah merasakan gemblengan untuk menjadi juara, kualitas suaranya dan penguasaan cengkok melayunya, tidak mengecewakan. Yah, karena masih kalah dengan penyanyi yang lebih bagus saja mungkin, yang menyebabkan dia kalah.

Tapi, terus terang, saya tidak pernah melihat penampilan dia di KDI sebelumnya. Bukan karena tidak suka lagu dangdut, cuma waktunya saja yang tidak sempat. Tapi sebagai putra Belitung, bangga juga lah ada bisa masuk tivi.

Selain suguhan tadi, ada juga tampilan dari penyanyi dan juga di awal acara ada tarian penyambutan. Acara sayangnya semakin semrawut karena makanan mulai digelar. Peserta jadi terpecah pada konsentrasi acara dan makanan. Saya sendiri juga akhirnya keluar.

Di luar digelar bazaar. Yang dijual macam-macam, mulai dari baju, makanan terutama, suvenir dan VCD lagu-lagu urang Belitong. Sepupu saya yang ada di foto sebelah ini, Siska yang paling kiri, ikut jualan keripik dan sejenis bubur sumsum. Agak jauh di sebelah kiri stand si Siska, ada yang jualan pempek. Rasanya Belitong bangat.

Tapi anak saya bertanya, bukankah pempek itu aslinya dari Palembang? Tidak juga saya bilang. Karena setahu saya hampir seluruh wilayah Sumatera Selatan punya makanan pempek. Dan dulu Bangka belitung itu jadi satu provinsi dengan Sumsel. Dan menurut saya, pempek Belitung itu agak berbeda sedikit dengan yang Palembang. Sedikit lebih kenyal atau liat, dan kalau kurang ahli bikin pempek, hasilnya bisa jadi lonyok atau malah keras.

Saya kehilangan ‘keponakan’ saya si Endah yang waktu itu mengajak nonton Laskar Pelangi. Sampai detik ini tidak ada kabar beritanya, lenyap hilang tertelan bumi. Padahal menurut sepupu saya yang juga panitia penyelenggara, Endah itu waktu menjual buku seri Laskar Pelangi itu, bisa mendapat keuntungan sampai 4 juta rupiah! Bukan jumlah yang sedikit lho! Dan sekarang ini, tidak nongol juga tuh, batang hidungnya itu anak. Ada apa gerangan, ya?

* * *

Acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan bagi ibu Muslimah, yang karena kegigihan beliau untuk mengajar di SD Muhammadiyah Gantong itu, jadi sebab Andrea menuliskan cerita yang kemudian sukses. Setelah itu acara pembagian doorprize. Syukur alhamdulillah, saya dan Nabila tidak dapat. Berarti tahun besok harus ikut lagi nih, biar dapat (lho?)

Acara ditutup dengan bersalam-salaman seluruh peserta. Saya taksir ada sekitar 300 sampai 500 hadirin. Cukup banyak ya? Antusiasme untuk bersalaman dengan para pembesar dari Belitung juga besar. Yang saya pikir, apa tidak pegal ya, bersalaman dengan sekian rauts orang? Apalagi mereka saling kenal mengenal satu sama lain. Jadi selain salaman, tentu ada kata-kata, ‘Eh, apa kabar? Gimane kabar mikak?’ Yah, begitulah kira-kira yang terdengar. Saya sendiri sembari bersalaman,saya perkenalkan diri. ‘Saya Dewan, anak Alex Rachim’. Yang agak tua sudah pasti kenal dan langsung menyalami dengan hangat. Enak juga yah, jadi anak orang terkenal, walaupun terkenal cuma seantero pulau.

Dulu saat PM Jepang Yasuhiro Nakasone datang ke Jakarta, disambut dengan acara pernikahan adat Belitung di anjungan Sumatera Selatan di TMII. Itu sekitar tahun 80an begitu. Saya masih ingat acara itu, karena benar-benar meriah. Waktu itu saya masih SD. Tidak berapa lama acara itu muncul di SMB (Suara Masyarakat Belitung), majalah terbitan bapak saya yang saya ceritakan tadi.

* * *

Yah, semoga saya bisa terus menyambung tali silaturrahim dengan Belitung. Karena dalam tubuh saya mengalir darah Belitung. Dan itu tidak bisa ditinggal begitu saja, apalagi kini Belitung sedang naik daun karena novel yang ditulis Andrea Hirata sudah sangat terkenal dan filmnya disukai banyak orang.

Saya dapat kabar dari sepupu saya di Belitung, bahwa dikarenakan tidak adanya gedung bioskop di sana, terpaksa film ini digelar seperti misbar atau layar tancap. Sangat disayangkan, tapi memang itu keadaannya. Hal itu mungkin disebabkan saat tahun 90an dimana film Indonesia sedemikian memuakkan, sehingga orang Belitung terutama di Tanjung Pandan tidak sudi film ‘begituan’ beredar di sana. Jadi, bioskopnya bangkrut deh, akibat tidak ada pemasukan.

Saya juga berharap semoga pemda dan Diknas Belitung terutama, memang menyorot benar-benar perkara pendidikan di sana. Tapi ini juga himbauan untuk seluruh negeri di negara tercinta ini. Bukan masalah pendidikan itu gratis atau tidak. Bukan karena janji para kepala daerah saja. Tapi itu juga menjadi janji bagi kita sebagai orang tua, bahwa anak kita harus bersekolah. Janji sebagai guru, bahwa anak didiknya harus bersekolah. Janji negara, bahwa anak bangsanya harus bersekolah.

Ingat, pendidikan itu penting, karena Allah saja sedemikian peduli dengan ilmu pengetahuan dan menempatkan sebagai surat dan ayat yang pertama kali turun dalam al-Qur`an. Juga Nabi Adam saat dihidupkan, ia langsung diajarkan nama-nama benda.

Dengan kata lain, tanpa ilmu, kita bisa tersesat di dunia ini untuk bisa kembali pada Allah. Kembali pada keridhoanNya, keberkahanNya dan pengampunanNya. Aamiin.. (Dewantara Rachim)

Tanjungpandan (WP),  Di Bangka, harga pasir/bijih timah basah di tingkat penambang kini hanya mencapai Rp25 ribu/kg dari sebelum terjadi krisis global harganya mencapai Rp90 ribu/kg. Pedagang minyak eceran solar di Pangkalpinang, Sabtu (25/10), mengatakan, harga solar turun menjadi Rp 225 per jerigen (satuan isi 20 liter), jika dibandingkan harga solar sebelum turunnya harga bijih timah Rp 280 ribu per jerigen (Repulika, 26/10)

 

Dampak penurunan harga timah di Bangka tidak berbeda jauh dengan kondisi di Belitung. Penurunan ini praktis membuat aktivitas masyarakat tambang ikut menurun Cafe “semak” tempat hiburan favorit penambang mulai sepi begitupun antrian mobil yang mengantri sejak malam hari sudah tidak terlihat, praktis lebar jalan pun digunakan dengan leluasa. Tidak adanya antrian kendaraan yang memakan badan jalan, lumrah dan memang semestinya menurut orang luar Belitung. Tapi masyarakat Belitung ini pemandangan yang  langka terutama sejak timah-solar saling melengkapi tindakan ambil untung.

 

Dari kekuasaan korporat hingga geliat tambang rakyat, timah menjadi icon ekonomi pulau Belitung, sekaligus menekan aspek kehidupan lain masyarakat ditengah upaya mencari komoditas alternatif pasca tambang. Saat Masyarakat Belitung mengadakan Halal Bihalal di Jakarta (26/10), keluarga (crew dan pemain) Laskar Pelangi justru berada di Belitung memenuhi rasa penasaran warga dan anak Belitong yang mendadak jadi bintang.

 

Saat film Laskar pelangi di putar (26/10) di ballroom hotel Billiton Tanjungpandan, “keluarga” Laskar Pelangi  tengah bernyanyi bersama.  ke Pice…ke Pice ade jeramba gede aik gemuro gemuro bebue-bue...” yang diikuti  goyang “ serampang” para artis pendukung. Riri Reza, Mira Lesmana, Cut Mini, Andrea Herata menyatu dengan 12 anak pameran Laskar Pelangi. Sementara Lukman Sardi, Mathius Muchus memperhatikan sambil senyam senyum. Usai keluarga Laskar Pelangi menjalin ikatan kekeluargaan, Mira Lesmana berbicara dengan para orangtua dari 12 anak pemain film Laskar Pelangi termasuk menyampaikan informasi beasiswa laskar pelangi kepada para orang tua dari Miles Film dan Mizan Production.

 

Kedatangan crew Laskar Pelangi di Belitung ini memenuhi keinginan masyarakat Belitong untuk menonton film yang menurut BY layak ditonton menyusul larisnya film Naga Bonar II dan Ayat-Ayat Cinta. Menurut Presiden film ini telah membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap produksi dalam negeri dan memicu ekonomi kreatif tanah air.

 

Rabu malam (8/10) Presiden sempat menonton film ini Auditorium I Blitz Megaplex. “Saya ingin memberi komentar dan catatan yang tulus dan jujur. Pertama dari sisi estetika film ini luar biasa, saya harus memberi apresiasi yang tinggi, aktingnya para aktornya begitu natural menggambarkan betul situasi di banyak tempat dinegeri kita ini (waktu itu bukan sekarang). Cerminan kehidupan yang serba sulit, apa adanya . Saya anggap ini karya seni yang sangat indah berkualitas tinggi.  Oleh karena itu saya ikut mengiklankan agar banyak lagi saudara-saudara kita yang bisa menonton film Laskar Pelangi . Kedua, catatan saya adalah sangat jelas bagi siapapun, bagi ortua , bagi anak kita (bahwa) pendidikan adalah masa depan. Kita diingatkan oleh anak-anak dengan kondisi yang serba minim, dia sangat gigih, pesan-pesan yang disampaikan guru juga jelas. “ jelas SBY usai menonton film Laskar Pelangi.

 

Membangun ekonomi Kreatif

Jika dilihat dari kondisi pantai Tanjung Tinggi. Ada kesan koordinasi dan komunikasi antara pemda, dan swasta tidak berjalan mulus (dalam pengembangan pariwisata). Inilah yang menyebabkan sektor pariwisata di Belitung agar terlambat. Padahal potensi nya tidak kalah bagus dibandingkan daerah wisata lain di Indonesia. “Permasalahan terletak komunikasi dan hubungan baik (masyarakat-swasta-pemerintah). Bagaimana menumbuhkan  kerjasama berbagai pihak terutama dengan pihak swasta sehingga chemistry-nya berjalan baik ” ujar Mathias Muchus yang sejenak meluangkan waktu mengamati kondisi pusat kota Tanjungpandan.

 

Sebagai orang luar Belitung, Mathias Muchus melihat masyarakat Belitung terkesan agak “tertekan”  baik ekonomi, sosial  maupun kehidupan politiknya. Munculnya film ini, membuat atmosphere masyarakat berbeda, lebih terbuka dan lega. Pada akhirnya ini (film Laskar Pelangi) mengugah berbagai kalangan untuk peduli. Karena semua tahu termasuk pemda (realitas pendidikan dan  dunia pariwisata di Belitung).

 

Saya melihat film ini relevan dan memiliki timing yang sangat pas kondisi ambruknya mental bangsa saat ini. Film in menjadi semacam oase, penyemangat (kondisi sosial ekonomi masyarakat)“, ujar Mathius Muchus kepada Warta Praja di emperen toko Kota Tanjungpandan.

 

Dalam dunia film sudah terbiasa ada loncatan-loncatan (adegan di Gantung pindah ke Tanjung Tinggi) namun adegan yang ada pada film Laskar Pelangi tidak merubah tema utama, tetap dibuatkan utuh. “Di film ini Ikal , Mahar dan Lintang menjadi tokoh sentral sedangkan  adegan yang lain berjalan paralel (beriringan dan saling mendukung)” kata Mathis Muchus.

 

Karakter Belitong yang kuat perlu diangkat (untuk pengembangan pariwisata). “ Untuk menemukan karakteristik dari daerah ini saya pikir perdulu studi, memperhatikan unsur fundamental budaya setempat. Sedangkan pembangunan infrastuktur seperti hotel harus berjalan paralel dengan penguatan budaya setempat. Menurut Mathias Muchus budaya melayu yang cukup kuat membuat Belitung lebih mampu beradaptasi dengan perubahan (sosial ekonomi)

 

Dalam dua hari, tim Laskar Pelangi The Movie menayangkan  film Laskar Pelangi masing-masing dua kali tayang pada setiap titik. Pada tanggal 25 serentak di putar dengan layar Tancap di Gantung dan Manggar. Kemudian pada tanggal 26, ditayangkan di bioskop eks Wisma Ria dari jam 9:00 pagi (untuk guru) dan jam 13:00 (untuk anak-anak pesantren). “ Aku la dua kali nonton film ini “ kata Subastiar yang juga menonton film Laskar Pelangi  di Gantung (25/10). Ruangan di Ballroom Hotel Billiton tampak lengang bahkan beberapa kursi plastik dibiarkan kosong.

Susasana ini berbeda ketika diputar terbuka.” Rasanya tidak ada bioskop yang bisa menyaingi bioskop di halaman Gedung Nasional ini. Aspal menjadi tikar, ada jagung rebus, balon, bakso yang siap saji “ kelakar canda  seorang warga Tanjungpandan. Bioskop Misbar (gerimis bubar) istilah lain dari film  layar tancap dipadati penonton mulai halaman, panggung terbuka hingga balkon  Gedung Nasional. Kepadatan penonton film laskar pelangi ini tidak tidak pernah terlihat dalam berbagai pertunjukan apapun yang pernah digelar di halaman Gedung Nasional.. Film ini  diputar di dua tempat yakni Gedung Nasional dan Padang Bula, Kelurahan Parit, masing-masing  dengan dua kali tayang.

 

Setelah sukses dengan mengangkat novel Laskar Pelangi ke layar lebar. Mira Lesmana berniat mengangkat karya lain Andrea Herata, Tetralogi ke layar lebar.  “ nantinya kami akan melihat lokasi yang sesuai dengan setting dalam novel tersebut..termasuk akan melibatkan lokasi di (pulau) Bangka”  ujar Mira Lesmana  (fithrorozi)

Oleh H.N.Dewantara Rachim

Siapa yang tidak tahu Laskar Pelangi? Saya rasa semua urang Belitong di Jakarte sudah menonton film ini. Dan sampai sekarang, saya lum juak bace bukunye. Demam buku dan film merebak ke semua hal. Ketenaran buku itu bahkan sampai dicontek desain kover oleh buku ‘Rumah Pelangi’. Semangat buku yang bercerita tentang pendidikan, pun juga menggerakkan kru warnaislam untuk menggelar acara Lebaran Bareng Anak Yatim dengan salah satu acara yaitu nonton Laskar Pelangi, Sabtu 4 Oktober 2008 lalu.

Apa yang awalnya oleh Andrea Hirata ditulis sebagai catatan pribadi, bukan sebuah buku yang mau dipublikasikan, akhirnya menjadi fenomenal. Disebabkan keisengan temannyalah, yang mengirimkan naskah buku itu ke penerbit yang lalu oleh penerbit itu disetujui untuk diterbitkan. Dan yang menakjubkan, baru beberapa minggu sudah cetak ulang dan terus sampai sekarang. Keberkahan buku itu kini tidak saja dituai Andrea Hirata dan penerbit serta penjual buku itu. Kini film yang diproduksi oleh Miles Productions pun sudah menuai keberkahannya. Angka 1,3 juta penonton sudah tembus. Penonton selalu antri, berdasarkan laporan teman-teman yang mau nonton film itu. Dan beruntung saya menonton film itu selang sehari setelah film itu beredar. Itu juga lewat jalur khusus tanpa harus mengantri.

 

Transtivi Mengulas Belitung

Kemarin Ahad 12 Oktober 2008, saya melihat di Transtivi tema Belitung dan Laskar Pelangi diangkat dalam acara Cerita Anak pukul 07.30 WIB. Dalam acara itu dibahas tentang Belitung saat ini, dengan kejayaan masa lampau saat timah masih mahal dan hasil dari pulau Bangka-Belitung itu merajai dunia. Dalam acara yang juga dipandu oleh anak-anak para pemain film Laskar Pelangi, diceritakan juga saat itu dimana kemudahan mendapatkan uang dengan menambang timah, walau secara liar, itu lebih menarik bagi mereka daripada bersekolah. Sampai saat ini pun, anak-anak yang tinggal dekat ‘kolong’, sebutan tempat bekas penambangan, itu masih sering digali anak-anak sepulang sekolah. Dengan mendapatkan 2 kilogram timah, maka uang yang didapat sejumlah 160 ribu rupiah. Sape tak mau?

Saat ini pulau Belitung menuai keberkahan dari buku dan film tersebut. Saya sendiri juga mendapat keberkahan karena tulisan saya tentang Laskar Pelangi sampai saat tulisan ini dipublikasikan, sudah dibaca oleh 500 orang. Ulasan teman-teman penulis lainnya yang mengulas tentang film itu juga banyak dibaca ratusan orang.

Di Belitung Timur, pemda setempat membuat ‘Tur Laskar Pelangi’, dimana tempat-tempat yang disebutkan dalam buku itu dan juga lokasi syuting, replika sekolah, semuanya bisa dilihat dalam satu paket. Saya belum tahu seperti apa, karena saya sendiri belumlah ke sana. Insya Allah jikalau tidak ada halangan, bulan ini saya bisa ke sana atas undangan pengurus situs wartapraja.com yang ingin agar situs mereka bisa tampil lebih baik sebagai portal berita Belitung daripada sekedar blog. Tapi, sebenarnya portal macam warnaislam ini justru saya bangun berdasarkan konsep blog. Jadi mungkin nanti tepatnya saya desain ulang tata letak situs itu agar tampil seperti portal.

 

Halal Bihalal Babel

Sebuah undangan bersampul putih berlogo kepulauan Bangka Belitung datang ke rumah saya. Oh rupanya undangan acara Halal Bihalal. Orang tua saya diundang oleh Pemprov Babel (Bangka Belitung). Hal ini karena bapak saya memang asli urang Belitong dan kontribusinya, menurut saya, cukup besar bagi Belitung. Karena mereka berdua telah tiada, jadilah saya yang menggantikan untuk hadir di sana. Acara ini adalah sebuah acara tahunan yang biasa diselenggarakan beberapa hari setelah lebaran. Dalam acara itu saya sempat foto-foto. Tapi karena saya hanya punya kamera ala kadarnya, jadi hasil yang diharapkan jauh dari memuaskan. Yah, yang penting ada dokumentasi dari kegiatan ini.

Dalam undangan tertera acara dimulai jam 9 pagi. Tapi teknisnya jam 10 lah baru dimulai. Saya datang bersama Nabila, anak saya. Kami berdua naik taksi, karena memang sudah terlambat berangkat dari Rempoa. Sempat saya mengambil dulu topi berlogokan warnaislam. Yah, sekalian mempromosikan bahwa saya punya situs bagus dimana saya jadi penulisnya dan acara ini mau saya ‘liput’ untuk dituliskan di WI.

Foto ini saya ambil dari balkon atas. Anak saya yang mengajak untuk duduk di sana. Tapi begitu tahu bahwa para pemeran Laskar Pelangi duduk di bawah, serta merta dia minta untuk pindah ke bawah. Tapi, menurut dia, kan yang duduk di bawah hanya undangan VIP? Saya bilang bahwa undangan kita kapasitasnya bisa duduk di bawah. Jadilah kami berdua pindah duduk di bawah.

Sebenarnya sih, yang dibilang vip hanyalah tiga deretan terdepan. Itu ditandai dengan ada bangku sofa yang beda dengan bangku biasa di deretan berikutnya. Nah, sementara para pemeran film Laskar Pelangi duduk tidak dideretan VIP. Saat hadirin tahu bahwa mereka juga ada diundang, berduyun orang bergantian mendatangi mereka untuk foto bersama. Saya juga menyuruh Nabila untuk ikut foto bersama. Tapi karena memang dia pemalu, jadilah dia menolak untuk itu. Satu keputusan yang sangat dia sesali, bahkan sampai di rumah pun dia berulang-ulang menyesali kenapa tidak mau foto bersama.

Acara selama satu jam pertama terasa membosankan, karena diisi oleh tiga hal : sambutan, pidato dan ucapan selamat. Dalam sambutan dan pidato, disebutkan tentang apa yang telah dicapai dan apa yang kini dicita-citakan oleh para pemimpin provinsi ini. Silih berganti mereka menyampaikan. Saya agak kurang memperhatikan karena saya malah sibuk bertemu dengan teman dan saudara dari bapak saya. Sembari saya memperkenalkan diri, kalau-kalau mereka lupa. Wajah-wajah mereka tidaklah asing bagi saya, sementara mereka tentu tidak ingat karena dulu mereka datang sewaktu sama masih remaja. Tapi begitu saya sebutkan, ‘Saya Dewan, anak Alex A. Rachim’ langsung mereka ingat dan menyambut hangat salam saya. Enak juga ya jadi anak orang terkenal? Apalagi dikenal orang karena kebaikannya, ciee.

Saya bertemu dengan Marta Sanjaya, sekretaris IKMB (Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung) dan bendahara IKMB, ibu Heldi. Ibu Heldi ini ternyata juga pengurus majalah Wartapraja . Dia mengingatkan saya bahwa Ahad, tanggal 26 besok ada acara Halal Bihalal IKMB di Departemen Kehakiman. Lho, apa bedanya dengan yang sekarang? Yang jelas, ini acara dari Pemprov Babel sementara tanggal 26 acara urang Belitong. Dan karena bapak saya juga dulu pengurus IKMB, so pasti diundang juga. Cuma kok sampai hari ini belum sampai ya, undangannya? Last minute mungkin.

Saya dan Marta bicara-bicara tentang masa depan pendidikan Belitung. Saat bulan Agustus lalu, Marta dan beberapa rekan dari Belitung menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa Belitung yang mana beasiswa itu didapat dari sponsor. Tujuannya agar mahasiswa berbakat dan berprestasi asal Belitung bisa berkuliah dengan nyaman tanpa harus dipusingkan oleh biaya.

Saat bertemu Marta, saya juga bertemu dengan Kepala Diknas Belitung di Tanjung Pandan, pak Marsudi. Kebetulan pula saya sempat melihat pak Marsudi ini di Transtivi. Jadi kloplah pembicaraannya.

Tema pendidikan juga menjadi isi baik novel maupun film Laskar Pelangi. Dan cerita tentang bagaimana anak-anak kurang berada itu berusaha keras untuk bisa menimba ilmu dalam keterbatasan mereka, menjadi menarik. Seandainya Laskar Pelangi melulu isinya tentang cerita cinta-cintaan atau lucu-lucuan atau serem-sereman, saya tidak yakin bahwa Babel terutama Belitung akan menjadi seterkenal sekarang.

 

Laskar Pelangi

Akhirnya tibalah para pemeran film Laskar Pelangi itu dipanggil untuk naik ke panggung. Dengan sigap mereka beramai-ramai menuju panggung. Kesebelas anak-anak ini, dulunya mereka hanyalah anak-anak biasa. Mereka lolos audisi menyisihkan 3500 peserta lainnya. Nabila hanya berkomentar satu, mereka tidak setinggi yang ia bayangkan dalam film. Iya juga sih.

Saat ditanya kepada yang memerankan Ikal, bagaimana rasanya sekarang menjadi orang terkenal, dengan spontan ia menjawab ‘Tidak enak!’ Bisa dimaklumi, karena memang menjadi selebritis berarti hilang segala privasi. Dulu ia bisa berjalan-jalan dengan seenaknya tanpa harus merasa bahwa semua mata tertuju padanya. Tapi kini hal itu tidak lagi dimungkinkan. Kemanapun mereka berjalan, mereka sudah menjadi bagian publik. Mereka harus siap menerima sambutan yang mulai dari sekedar dicolek-colek sampai dimintai tanda tangan dan foto bersama.

Dari Presiden SBY, mereka mendapatkan banyak bingkisan dan juga mendapatkan kompyuter, demikian ‘Ikal’ mengatakannya. Ya, keberkahan atas film ini merambah mereka semua.

Satu hal yang ‘kurang’ mnenurut saya, Andrea Hirata tidak hadir. Bukan karena saya mau minta tanda tangan dia, hehehe.. Hanya, yah.. saya ingin melihat saja, bagaimana tanggapan dia atas ‘ketidaksengajaan’ ini. Memang sih, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah Allah yang mengaturnya. Tapi, sebagai sebuah kebetulan, efek domino dari novel maupun film ini terasa begitu besar. Kegamangan mungkin terjadi, baik dalam diri Andrea maupun anak-anak pemeran film itu.

Yang menjadi ganjalan saya juga, yang hadir ini kan anak-anak pemeran film. Saya justru ingin sekali bertemu dengan Lintang, Mahar, Samson dll yang aslinya. Karena merekalah yang juga menjadi inspirasi bagi Andrea. Juga ibu Muslimah, guru yang sangat dicintai anak-anak itu, motivator belajar mereka untuk mencapai cita-cita setinggi bintang di langit.

Tapi, nggak dapet aslinye, lumayan dapet bajakannye. Ada seorang teman minta sama saya untuk mendapatkan filmnya. Saya tanya, maksudnya apa? Dia bilang ada nggak link untuk mengunduh (download) film itu? Saya jawab, ada sih. Tinggal kirim imel ke Miles untuk minta link-nya. Yah, nanti adalah sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi dan angka-angka yang harus dibicarakan. Lha wong tinggal nonton di bioskop, layar lebar, palingan cuma bayar 15 ribu. Pelit amat sih, buat nonton karya bangsa sendiri. Lagi pula film ini lebih asyik nonton di bioskop daripada cuma melototin layar monitor.

Acara ditutup dengan suguhan tari dan lagu. Lagi-lagi menjadi satu ganjalan. Nabila bilang, kenapa tidak grup band Nidji, yang tampil membawakan soundtrack film itu yang tampil? Malahan yang tampil adalah Andre Hehanusa dan grup musiknya. Tapi penampilan Andre yang satu ini sangat menghibur dan tidak mengecewakan. Berulang kali Andre minta agar bisa diundang ke Belitung. Yah, mungkin Laskar Pelangi jilid 2 nanti, Andre yang membuatkan soundtrack.

Saat menyanyi itu, tiba-tiba Andre memanggil Gaby, salah seorang peserta Indonesian Idol yang rupanya dia adalah anak Bangka. Andre mengajak Gaby ini untuk berduet bersama menyanyikan lagunya Andre. Wah, menjadi makin menarik acara nyanyi. Dan memang Gaby yang lahir di Bangka tahun 89 dan ketika berumur 3 bulan sudah dibawa ke Bandung dan menetap di sana, suaranya lumayan dan pantas untuk ikut acara macam Indonesian Idol itu.

 

Saya sempat foto bersama dengan Wakil Gubernur Babel, Syamsudin Basari yang biasa saya panggil Bang Sam. Beliau ini masih terhitung dua pupu dari pihak keluarga bapak saya. Yah, dengan kamera ala kadarnya, seperti ini fotonya yang bisa didapat.

Di antara tamu-tamu yang hadir, rupanya ada juga seorang pesulap terkenal yang dia ternyata orang Bangka juga. Namanya Adri Manan yang saat itu datang sendiri karena istrinya, penyanyi Rani, sedang berada di tempat lain untuk satu keperluan. Lagi-lagi dengan kamera ala kadarnya, jadilah foto pas-pasan ini.

 

Penutup

Semoga apa yang saat ini tampak sebagai euphoria, kegembiraan sesaat, atau malah culture shock, gegar budaya, yang dialami baik para pemeran maupun kesiapan Bangka Belitung untuk ‘bangkit kembali’ dari sisi budaya dan pariwisatanya, itu bisa ditanggapi dengan sigap oleh pihak pemda terutama dinas pariwisatanya.

Sayang jikalau momentum akibat meledaknya film ini malah tidak bisa dikelola dengan baik oleh pihak-pihak terkait. Saya sedih mendengar cerita dari sepupu saya di Belitung yang mengatakan bahwa justru film Laskar Pelangi ini tidak bisa dinikmati oleh urang Belitong. Kenapa bisa begitu, karena di Belitung sendiri, terutama Tanjung Pandan, itu tidak ada bioskop..! Gedungnya sudah dihancurkan dan sudah diganti dengan gedung lain. Hal itu memang bisa terjadi karena budaya masyarakat Belitung yang mungkin tidak terlalu suka nonton di bioskop.

Melalui sepupu saya yang bekerja di 21, saya coba tanyakan apa ada kemungkinan untuk misalnya seseorang di Belitung menyewa film itu dan diputar di sebuah gedung misalnya, atau malah jadi layar tencep. Karena kemarin ada seorang yang mempunyai posisi cukup di Belitung, berniat untuk menlakukan hal itu. Yah, insya Allah semua niat baik itu bisa terlaksana, sehingga urang Belitong juga bisa menikmati film itu.

Ada yang memberikan komentar bahwa sekarang Belitung sedang menikmati masa ketenaran. Tapi ia juga menyinggung bahwa jangan lupa, DN. Aidit itu juga orang Belitung. Memang benar sih, bahwa Aidit itu orang Belitung. Tapi, sebagaimana Hitler dengan Nazi-nya, kan tidak serta merta orang Jerman itu Nazi, sebagaimana juga kebetulan cuma Aidit yang ikutan PKI. Bukan berarti semua orang Belitung itu PKI dong..

Semoga bermanfaat, apa yang saya tuliskan ini..

 

Sumber http://warnaislam.com, Senin, 13 Oktober 2008 02:41

 

Halaman Berikutnya »