Jumat, September 19th, 2008


Tanjungpandan (WP), Pada tanggal 23 Oktober 2008 nanti masyarakat Belitung akan menunaikan hak politiknya untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Definitif. Dan proses pendataaan pemilih telah dilaporkan kepada penyelenggara Pemilu Bupati dan Wakil Bupati (KPU Kabupaten Belitung). Beberapa desa telah mempersiapkan diri seperti Desa Perawas yang menempatkan 133 petugas pemilu, 38 tenaga keamanan dan 10 tenaga linmas desa. Tercatat  6.065 mata pilih yang akan memilih 7 pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati di 9 TPS yang terdiri dari 2106 pemilih laki-laki (34,72%), 3443 pemilih perempuan (56,77%) dan  516 pemilih pemula (8,51%)”

Sebagai pribadi maupun Penjabat Bupati, saya berterimakasih atas usaha pemerintah desa yang telah mempersiapkan pelaksanaan Pemkada. Hal ini sejalan dengan amanat yang diberikan Mendagri kepada Haryono Moelyo SE,MA untuk melaksanakan dua agenda penting pada masa kepemimpinannya, yakni meneruskan pemerintah berkaitan dengan pengunduran diri Bupati dan Wakil Bupati yang mencalonkan diri pada Pemkada 23 Oktober nanti dan memperlancar pelaksanaan Pemkada 2008.

Seperti yang dijelasan Kades Perawas Rachmat saat menerima rombongan Safari Ramadhan Penjabat Bupati Belitung di Mesjid Al Muthmainnah Dusun Air Raya I, Perawas , Jum’at (19/9).  Desa Perawas terdiri dari 1768 kepala keluarga  dengan total penduduk mencapai 10.048 jiwa yang terdiri dari 5350  perempuan (53,24%) dan 4698 laki-laki (46,76%)

Dilihat dari sisi kuantitas, aspirasi perempuan diperkirakan berpengaruh signifikan terhadap hasil perolehan suara dalam Pemilu Bupati/Wakil Bupati maupun Pemilu Legislatif nanti. “ Lewat tangan ibu-ibu dan bapak Bupati Definitif nanti terpilih. “ ujar Penjabat Bupati Belitung mengingat jamaah mesjid Al Muthmainnah, Jum’at (19/9).

Mesjid Muthmainnah merupakan salah satu dari 9 Mesjid di Desa Perawas yang menerima bantuan dari Penjabat Bupati belitung berupa Al Qur’an dan terjemahannya, Surat Yasin, beras, kaligrafi dan sajadah. Sedangkan Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Belitung menyerahkan bantuan berupa uang tunai kepada 7 fakir miskin dan 2 orang takmir (nuje).

Dilihat dari lapangan usaha, sebagian besar penduduk desa bekerja disektor informal (buruh lepas), petani dan sebagian bekerja sebagai PNS ataupun karyawan swasta. Sementara sarana pendidikan meliputi 1 unit PAUD, 3 unit TK, 2 SMP, 2 Madrasah, 5 TPA , dan 1 SMA dan 2 SMK. Selain mesjid, Desa Perawas memiliki 4 surau, 1 unit vihara dan 1 unit gereja

Ketersediaaa sarana dan prasarana yang ada memungkinkan Desa Perawas dapat membangun Sumberdaya Manusia yang berkualitas. “Oleh karena itu saya berharap Kades, Camat dan Pemerintah Kabupaten dapat saling berkoordinasi apalagi Desa Perawas berdekatan dengan pusat pemerintahan. Hal ini tidak lain agar Desa Perawas dapat menjaga kualitas SDM dan mengatas berbagai masalah pembangunan yang timbul ” ujar Haryono Moelyo,SE,MA diakhir sambutannya (fithrorozi)

Oleh Drs.Ibnu Haban

  

Sebelum meninggalkan dunia Rasullah berpesan untuk kemajuan ummat Islam dimasa datang.  “Sampaikanlah apa yang kamu ketahui tentang agama, walaupun hanya satu ayat”. Karena itulah tugas menyampaikan tausyiah yang diamanatkan kepada kita untuk selalu disampaikan tidak memandang pengalaman atau tidak berpengalaman. Manusia adalah makhluk yang sempurna namun tidak luput dari kesalahan.

 

Rasullullah bersabda ” Sekiranya umat kita umat mengetahui kemuliaan bulan Ramadhan niscaya mereka akan berharap seluruh bulan adalah bulan Ramadhan”. Begitulah gambaran kemulian dan keberkahan yang terkandung dalam bulan suci Ramadhan  Dengan kebaikan yang diberikan kita harus memperbaiki jasmani dan rohani kita. Pada 10 hari pertama kita diberikan kebaikan,  10 hari kedua Allah SWT memberikan  ampunan dan 10 hari terakhir, Allah memberi keselamatan.

 

Rasullullah dan para sahabatnya menyambut hari-hari terakhir bulan Ramadhan dengan beritikaf  di dalam mesjid. Mereka meninggalkan rumah menuju mesjid. Sehingga di hari-hari terakhir suasana masjid lebih ramai dari biasanya. Sebaliknya di hari-hari terakhir kita justru meninggalkan mesjid dan melakukan aktivitas di rumah, mempersiapkan Lebaran. Padahal dalam Surah Al Baqarah 183, Allah menekankan kewajiban dan ketaqwaan menjalankan ibadah. Dua hal Ini menuntut ibadah kita untuk berkesinambungan hingga semakin hari akan semakin bertambah baik ibadah kita.

 

Puasa mempersiapkan (pembekalan) diri kita untuk memasuki kehidupan akherat nanti. Banyak dari kita justru takut akan kematian namun lupa dengan persiapannya. Umumnya manusia takut pada tiga hal. Pertama, takut gagal yang berlebihan seringkali membuat kita menghalalkan segala cara. Puasa mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri agar tidak mengalami kegagalan, tahan uji dan selalu berpikir positif. Pemimpin pun dituntut untuk mampu menahan diri untuk tidak memperkaya diri ditengah-tengah kemiskinan yang terjadi dalam  masyarakatnya.

Kedua, takut  sakit. Karena itu nikmat sehat harus kita syukuri sebelum datang sakit kita. Puasa mengendalikan (diet) untuk tidak berlebihan mengkonsumsi makanan yang justru membuat kita menjadi sakit.  Makanlah saat kita lapar dan dan berhenti sebelum kenyang. Ini nasehat Rasullullah agar kita terhindar dari penyakit.

Ketiga, takut menghadapi kematian. Mati adalah  peristiwa menakutkan dan gerbang yang menentukan apakah orang itu dalam keadaan terlaknat atau dalam keadaan terhormat. Tanda-tanda kematian biasanya lemas, haus, tidak berfungsinya segala keinginan dan sekarat. Keempat tanda tersebut itu ada pada orang yang berpuasa, namun karena mencari keridhoan apa yang kita rasakan dijalani dengan ikhlas.  Puasa untuk melatih diri, keluarga dan masyarakat untuk memperbaiki diri. Pemahaman ini menuntun ummat untuk memanfaatkan kesempatan ibadah sebelum bulan Ramadhan itu berakhir. Oleh karena itu sebelum ajal menjemput, sebelum waktu berakhir marilah kita beribadah (sholat taraweh) dan ibadah lain yang dijanjikan mendapat ganjaran berlipat ganda. Mereka yang menjalani ibadah akan diberikan pahala seperti pahala yang diberikan kepada para Syuhada dan orang yang Saleh. Allah memberikan pahala (ganjaran) yang berlipat-lipat namun terkadang kita sendiri yang menguranginya. Sebaliknya nikmat yang Allah berikan, janganlah dihitung-hitung, karena sepenuhnya itu adalah hak Allah yang diberikan kepada mereka yang dicintai. Semoga  kita diberikan kekuatan untuk mempersiapkan diri melawan rasa takut, sebelum kita gagal, sebelum sakit datang dan sebelum kematian menjemput, Amin.

 

Tausyiah ini disampaikan Drs.Ibnu Haban pada Safari Ramadhan, Jum’at (19/9) 2008 di Mesjid Muthmainnah, Jl.Hasan Saie Desa Perawas.