September 2008


<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:2.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:1; font-size:18.0pt; font-family:Arial; color:#005D80; mso-font-kerning:18.0pt; font-weight:bold;} h2 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:12.0pt; font-family:Arial; font-weight:bold;} h3 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:14.4pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-ascii-font-family:Arial; mso-hansi-font-family:Arial; mso-bidi-font-family:Arial; color:#006633; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:5.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Oleh Fithrorozi

Dari kejauhan sudah terlihat dua pohon beringin yang berusia puluhan tahun, konon jika pohon ditebang maka Pulau Gersik akan tenggelam. Namun meskipun jejeran bola (rumah) sudah nampak jelas, kapal tak kunjung merapat. Setelah dijemput perahu nelayan dan diturunkan dari sampan, rombongan safari ramadhan Pemkab Belitung akhirnya bisa menginjak kaki dipulau terpadat ini meski adzan magrib sudah jauh terlewat. Mardin menunjukkan arah kemana alamat yang ingin dituju, “ “Disini ada 8 rukun tetangga, meski padat bapak bisa mudah mencari alamat ikuti saja countblock ini “ kata Mardin dengan logat Bugisnya. Selain rumah tradisional bugis berpasak tampak rumah besar (gedung) berdinding tegel yang berada dipinggir jalan tanpa dipagari. Hampir 99,9 persen penduduk berasal dari etnis Bugis dan berprofesi sebagai nelayan

Setelah berjalan akhirnya kami tiba di sebuah rumah di depan Mesjid As Salam. Kue dibungkus daun pisang tampak dimeja seolah menyambut kedatangan para tamu. Mereka menyebutnya kue barongko sejenis lepat pisang. Kue khas masyarakat bugis ini terbuat dari irisan pisang yang bagian tengah (tulangnya) dipisahkan. Rasanya lebih lembut karena irisan pisang yang dihaluskan dicampur dengan santan lalu dibungkus dengan daun pisang atau dimasukan dalam loyang cetakan lalu dikukus..

Dermaga dan abrasi merupakan permasalahan utama yang sering dikeluhkan oleh masyarakat Pulau Gersik. Tahun 2008 ini, Direktorat Sumberdaya Air, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengupayakan penanggulangan abrasi dengan dana sebesar Rp. 485,4 juta. Sementara Pemkab Belitung mengalokasikan anggaran lanjutan pembangunan dermaga dengan perkiraan biaya sebesar Rp.1,2 milyar. Hingga kini kami masih berharap dermaga lindung bisa terwujud setelah dermaga di sebelah barat hancur karena hempasan ombak sebelum digunakan, ujar Kades. Gersik Andi Saparudin.

Petta Rapi, kades pertama telah lama merencanakan pembangunan dermaga lindung. Dia memotivasi masyarakat dan bersama-sama mengumpulkan batuan dari pulau kimar. Oleh masyarakat luar Pulau Petta Rapi dikenal sebagai kades pengumpul batu karena kuatnya keinginannya membangun sebuah dermaga disisi timur Pulau. “ saya tidak mengerti kenapa dermaga yang dibangun pemerintah bisa ditempatkan di sebelah barat”, kata Andi Saparudin. Kepeduliannya terhadap pulau ini membuat dirinya disegani dan panutan masyarakat. Petta Rapi berharap ada dermaga lindung yang memudahkan turun naik orang dan barang.

Upaya menanggulangi abrasi juga pernah dilakukan masyarakat bersama ABRI Masuk Desa. Saat itu (tahun 1980-an) masyarakat membuat ratusan balok semen berukuran 1m x 2mx 50 untuk menahan arus gelombang. Namun cara ini tidak efektif “ Untuk menahan gelombang sebaiknya menggunakan bentuk tetraport bukan berbentuk balok” ujar Marwan Syaukani ketika berdialog dengan masyarakat.

Sebaliknya air bersih tidak pernah menjadi masalah yang serius bagi masyarakat pulau kecil ini. Air disini tampak bersih tidak terpengaruh dengan asinnya air laut hingga dapat digunakan untuk mandi dan cuci. “ Itu menandakan filterisasi alam (pasir dan karang) disini cukup baik “ kata Kadin Kelautan dan Perikanan Marwan Syaukani,Msi. Sayangnya meski sudah di bangun WC umum, masyarakat masih saja membuang air besar di tepi pantai. Mereka yang tidak berhati-hati bukan tidak mungkin mendapat “jebakan” yang sering merusak suasana itu.

Wilayah desa Pulau Gresik itu terdiri dari 15 pulau kecil baik yang berpenghuni maupun tidak diantaranya Pulau Kimar, Pulau Aur, Pulau Kalangbau, pulau Bako dan pulau Kuil. “ Kalau menurut definisi, jika dalam kondisi pasang tinggi masih terlihat daratan, itu sudah bisa disebut pulau. Dua pulau di wilayah kami bahkan baru diberi nama, yakni pulau Sunok dan pulau kapal ”, ungkap Kades Andi Saparudin. Potensi gugusan pulau kecil ini tidak terpisahkan dengan kebijakan Etalase Kelautan Bangka Belitung, yang telah diluncurkan pada tanggal 11 Desember 2005 bertepatan dengan dengan Hari Nusantara ke-7.

Pulau ini resmi menjadi Desa sejak tanggal 12 Juli 1967 yang mengangkat Petta Rapi sebagai Kades pertama. Petta Tipe kemudian digantikan oleh Andi Zubair (Petta Tipe) dan dilanjutkan oleh Muje Taba yang memimpin pemerintahan desa selama dua periode sebelum digantikan Andi Saparudin atau Petta Lolo.

Andi Saparudin dilantik bersama 3 kepala desa yang lain di Gedung Serbaguna Kecamatan Selat Nasik pada tanggal 3 Januari 2008 untuk masa jabatan 2007-2013. Pulau dengan luas 20,5 km2 merupakan pulau kecil terpadat di Indonesia yang terdiri dari 2.915 (2007) jiwa dengan rasio laki-laki dan perempuan 60:40 persen. Berdasarkan pendataan rumah tangga miskin tahun 2005 (BPS) terdapat kurang lebih 414 penduduk miskin di Desa Pulau Gersik.

Sekitar 400-an KK berada di Pulau Gersik dan 300-an KK lainnya mendiami sejumlah pulau kecil disekitarnya. Saat pemilihan Gubernur Babel 2007 yang lalu jumlah pemilih sebanyak 1.803 pemilih dengan 6 TPS. Pada tahun 2008 (Pemkada) jumlah pemilih meningkat menjadi 2.015 mata pilih.

Dalam cuaca normal Pulau Gersik dapat ditempuh 4,5 jam perjalanan dari dari pelabuhan Tanjungpandan atau 1,5 jam dari pusat pemerintahan kecamatan Selat Nasik. Meski demikian koordinasi dan komunikasi relatif lebih mudah dibanding beberapa tahun yang lalu terutama sejak dibangunnya 4 unit tower BTS sinyal di Pulau Mendanau, Selat Nasik. Teknologi selular ini pun semakin meluas penggunaanya di kalangan masyarakat pulau Gersik. Rencananya tahun 2009 akan dibangun tower BTS disebelah timur pulau.

Angin dan gelombang yang tidak bersahabat terutama di musim barat daya (Desember hingga Januari) seringkali menganggu jalur perjalanan perahu kecil. Bagi kapal besar seperti tanker yang sering melintas di perairan di pulau Gersik tentu ini tidak masalah. Biasanya di musim barat banyak nelayan melaut hingga berhari-hari. “melaut dimusim barat selain menambah penghasilan juga untuk menyelematkan perahu “ ujar Haji Samsudin. Kondisi dan bakat alam sebagai nelayan dan pedagang membuat warga pulau sering berpindah tempat ringgal. Agustar seringkali mengikuti orang tuanya yang berprofesi sebagai nelayan pindak dari satu pulau ke pulau lain. Di Gersik dulu belum berdiri sekolah, tapi kini sudah ada gedung gedung sekolah (SD dan SMP) . “ Dari Tanjung ada enam guru SD yang mengajar di Pulau Gersik ini “ kata Mamo Saad, guru SD Pulau Gersik.

Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pulau Gersik memang tidak bisa dipisahkan dari dunia bahari. Laut adalah lapangan usaha yang harus dijaga. Selain nelayan, ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan tukang (perahu). Untuk menghasilkan satu unit perahu membutuhkan sekurang-kurangnya 2 orang tenaga kerja selama dua hingga tiga bulan. Untuk perahu berukuran kecil seperti perahu mayang, penyelesaiannya relatif lebih singkat. Keahlian membuat perahu didapat dari bimbingan orang tua .

Pancing dan pukat (mayang atau panja dalam bahasa bugis) adalah alat tangkap yang banyak digunakan nelayan Pulau Gersik. Mereka melarang penangkapan ikan menggunakan bagan. “ kalau ikan sering disinari cahaya lampu (bagan), siangnya akan liar “ ujar Toni yang sejak kecil tidak memiliki kaki yang sempurna. Oleh karena itu sejak lama masyarakat nelayan melarang penggunaan lampu untuk menangkap ikan. Sudah bisa dipastikan mereka yang menggunakan lampu seperti lampu bagan bukan nelayan pulau Gersik seperti dari pulau Celagen (Bangka). Laut adalah lapangan usaha berupa rumah ikan (rumpong). Begitu besar modal ditanamkan hingga mencapai Rp.5 juta untuk satu rumah ikan. “Untuk satu pelepah kelapa satu kami beli Rp. 1.500 yang harus diganti seminggu sekali, belum terhitung tali” kata Haji Akil Api menyebut alasan mahalnya pembuatan rumpong. Seorang nelayan dengan satu perahu ada yang paling sedikit memiliki 10 rumpong. Rumpong yang baik bisa dijual seharga Rp. 10 juta. Biasanya usai subuh mereka menebar pukat (mayang) ditebar disekitar rumpong.

Kalau sekedar memancing dilokasi rumpong, pemilik tidak keberatan tetapi jika mekera melarang keras penggunaan sorotan lampu (bagan) karena membuat ikan bergerak liar di siang hari. Selain mayang, rumpong menjadi sumber penghasilan nelayan dengan begitu ongkos melaut akan rendah. Ketika BBM sulit didapat, nelayan harus mengeluarkan uang Rp. 26-28 ribu per derigen (ukuran 20 liter) dan dijatah, padahal pemilik tambang konvensional saja sudah membeli diatas harga standar tetapi tidak lebih dari Rp. 19 ribu. Sementara BBM juga dibutuhkan untuk menggerakan mesin diesel untuk keperluan penerangan rumah tangga. Menurut Kades Pulau Gersik, saat ini terdapat sekitar 45 unit mesin diesel dimana setiap mesin membutuhkan biaya operasional termasuk BBM sebesar Rp. 400 ribu atau dalam satu bulan warga pulau terdapat ini mengeluarkan biaya sebanyak Rp.18 juta. Oleh karena itu penyediaan energi alternatif sangat membantu masyarakat. Selain diesel, sumber energi saat ini berasal dari PLTS untuk 3 titik lampu. Dan pemakian terbatas (jam 22:00 dimatikan).

Indikator kemajuan ekonomi juga dapat dilihat dari meningkatnya jamaah haji asal Pulau Gersik. Pada tahun 2007 jumlah jamaah haji berasal dari pulau Gersik mencapai 37 jamaah dan terbesar di Kabupaten Belitung. Setiap tahunnya rata-rata 10 jemaah berangkat ke tanah suci. Di Pulau Gersik, gelar haji merupakan gelar terpandang seperti halnya gelar kebangsawanan. Mereka yang pulang dari haji selalu memberikan dorongan ke warga yang lain terutama kepada keluarga. Seperti air sungai yang terus mengalir, jika air itu tersumbat sudah sewajarnya pihak keluarga melepaskan sumbatan (memotivasi).

Sosial Budaya

Sebagian besar masyarakat Pulau Gersik didominasi oleh Bugis Bone dan Bugis Makasar. “Andi” merupakan gelar kebangsawanan dalam suku Bugis “Andi” sedangkan “Daeng” banyak digunakan oleh suku Makassar.

Menurut mahasiswa Akademi Manajemen Belitung ini, gelar Petta derajatnya lebih tinggi dari Daeng dan Andi adalah gelar untuk anak dari seorang yang bergelar Petta. Jika bapaknya bergelar Petta anaknya bergelar Andi semacam pangeran tetapi jika sudah berkeluarga gelarnya menjadi Petta. Tetapi jika perempuan yang bergelar Andi menikah dengan orang biasa gelar kebangsawanannya dengan sendiri hilang.

Nilai kekerabatan dan nilai religius terasa menyelimuti hingga dipojok pulau. Seperti yang diceritakan Drs Arham Armuza,Sip “ Dulu (tahun 1980-an) masih dijumpai anak-anak mengisi waktu Ashar dengan membaca Al qur’an” kata Arham Armuza mengenang saat pertama berkunjung ke pulau ini. Meski kehidupan religius mewarnai kehidupan masyarakat, namun ada beberapa warga yang menuntut ilmu hitam yang tak jarang diturunkan ke keluarga dekat. Mereka menyebutnya dengan istilah Parakang atau Tarekak (bugis).

Kekerabatan yang terjalin karena ada hubungan keluarga diantara warga. didasarkan dari hasil perjodohan sesama keluarga. Seperti Andi Saparudin sang paman menikah bergelar Petta Lelo menikahi keponakannya Andi Muliani dari pihak ibu yang bergelar Andi Tuo

Kendala alam (abrasi dan angin) membuat masyarakat tak henti berharap adanya dermaga lindung. “ Kalau angin sudah datang, jam berapapun kami harus ke laut memindahkan perahu yang ditambatkan” ujar Haji Samsudin. ” tahun 60-an masih ada dua rumah dibibir pantai kini sebagian dari rumah ketigapun sudah mulai tergenang air laut “ kata Andi Saparudin

Kearifan masyarakat

Dengan kondisi demografi yang homogen, hubungan kekerabatan masyarakat cukup kuat. Karenanya masyarakat pulau Gersik selalu memelihara kekerabatan termasuk dalam hal membangun rumah tangga.

Kepada perempuan tugas rumah tangga dibebankan dan tak jarang mereka juga ikut serta mencari ikan, membantu membuat ikan asin dan menyungguhkan aneka makanan seperti rujak ikan yang disebut lawak, kue putu, barongko yang merupakan makanan khas masyarakat Bugis. Sedangkan lawak atau rujak ikan adalah ikan segar yang disantap tanpa dimasak yang dinikmati dengan kelapa bakar yang diparut. Sebelum disantap ikan segar ini dicelupkan kedalam cuka atau asam tujuannya untuk menghilang lendir ikan. Makan ikan segar yang dimasak seadanya juga menjadi santapan nelayan diatas perahu.

Pada Akhir tahun 2005 pulau ini dilanda bencana angin pasang barat daya memporak-porandakan rumah di pesisir barat. Kondisi alam yang tidak bersahabat menuntut masyarakat beradaptasi. “Seringkali kami memindahkan rumah yang terkena abrasi, kalau perlu diangkut bersama-sama dari barat ke sebelah timur Pulau. Pindah rumah (pindah bola) dimungkinkan karena rumah tradisional menggunakan konstruksi pasak tanpa paku “ tambah haji Samsudin. Rumah tradisional berbentuk panggung terdiri dari pusat rumah yang disebut posi bola dan bangunan tambahan disamping ruang utama yang disebut tamping. Antara tiang-tiang menempel satu sama lain yang dikunci dengan pasak (tanpa paku).

Rata-rata setiap bola (rumah) dihuni 3 KK, jarang sekali satu bola ditempati satu keluarga. Kini sebagian rumah tradisional ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semen layaknya rumah di perkotaan. Bentuk dan bahan rumah menunjukkan keberhasilan usaha pemiliknya. “ Rumah di kota bisa menyimpan usaha jika suatu waktu terjadi masalah (bencana) disini “ ujar Haji Samsudin mengungkapkan alasan mengapa warga yang cukup kaya memiliki banyak rumah terutama mereka yang dijuluki juragan (bos) dari usaha perikanan maupun perdagangan.

We have been anchored here along the white powdered beaches of Belitung Island in Indonesia for the last week and we are now looking to our next leg of our voyage, sailing to Singapore and Malaysia.

Belitung has been a surprise since it has turned out to be one of our favorites places in Indonesia. We did not have very much information about this island before we arrived because there is very little information out there about Belitung. This is the first time that the Sail Indonesia Rally has stopped here. So there was no information from previous cruisers. And Belitung is the only place that we have been to that is not covered by the Lonely Planet travel books.

From talking to locals, this rally stop is the biggest thing to ever happen in Belitung. After a week here, from how many people have came up to us just to say “Hello”, or to have a picture taken, we believe them. Going ashore every day is like a Hollywood red carpet entrance , complete with paparazzi! The area ashore where our dinghies are beached is roped off and locals are not allowed in that area. So hundreds of them stand along the ropes all saying “Hello mister. Hello mister” while snapping photos with their cameras and cell phones. Once ashore, as we walk into the crowds, everyone wants us to stop and have a photo taken with us. I am sure that Team Sandpiper will be the wallpaper on many Belitung cell phones for years to come.

I had to go to town the second day we were here to find Internet cafe and an ATM. I hopped on one of the free buses that are provided by the government for rally participants. The town of Tanjungpandan is about 15 miles from here and all along the way were large banners welcoming Sail Indonesia participants to Belitung, and a huge banner in the city center. Once downtown I headed to where I was told might be an Internet cafe. Along the way a man on a motorcycle with his whole family (5 people!) stopped and asked me where I was going. I told him I needed Internet cafe and he told me to keep on walking down the street. Well, I guess I walked a little too far. A few minutes later the same guy came down the street, minus his family that he had dropped off somewhere. He said I had passed the internet and to hop on the back of his motorcycle. Minutes later I was at the Internet cafe!

Very few Westerners ever make it to Belitung. So wherever we go, it is kind of a freak show as everyone wants to stop, say “Hello” to us, and shake our hands.

Every day we have been here there have been events scheduled ashore by Sail Indonesia and the Indonesian Government. This stop is also a holiday time for Indonesians. It is the end of Ramadan. So many people are here to watch the events ashore.
Just today being ashore was a bit entertaining. There are several Indonesian navy ships anchored outside the rally fleet. Today there was an expo by their navy swimmers. The swimmers were dropped 25 kilometers offshore early in the morning. By noon they had arrived at the beach where hundreds of Indonesians were there to cheer them ashore. At the same time this was happening there was supposed to be a demonstration by the Indonesian Armed Forces parachuting on to the beach. A huge squall hit the beach just as this was starting and there was lots of wind, lightning, and thunder. I thought “No way this is going to happen. It is going to be canceled.” Then. just as the rain really started to dump, everyone was looking up at sky. There they were! Dropping down on us right in the middle of the storm. It was a bit crazy as all the parachuters got blown off course. They landed all over the place. One landed out in the water. Several landed far inland. One landed on the beach right in front of us, and another landed right in front of the stage where the announcer was. It was quite chaotic. But all the Indonesians went crazy with excitement, all yelling and screaming as as they surrounded the parachuters as they landed.

After that expo, the Governor of Belitung arrived along with the Indonesian Minister of Fisheries to hand out awards the navy swimmers that had made it to shore. Whats not to like about Belitung? There are many small beach shacks selling really good seafood and cheap Bintangs. What is even better is that you can buy fireworks here and shoot them right off the beach while you are drink a cold Bintang!

The locals love fireworks. After sunset we can see them in every direction being fired off. When we walk to the beach holding a firework, all the kids come running and get all excited as we light them off.

Trying to buy diesel can be interesting. We found that the beach restaurant the we really like also sells diesel, beer, and whatever else you might need. We ordered 30 gallons from Rusty, the restaurant owner. He said that would be out with it in his boat in 30 minutes. So I headed out in the dinghy back to Sandpiper to meet him. Rusty arrived in his 40 foot wooden fishing boat with his whole family of 20 aboard! They were very interested in the Sandpiper and I took them all aboard. They were all over the boat and were amazed at all that we have below decks. The women kept shaking their heads. I am not so sure that they were all that impressed. But all the men crawled around the engine room checking out our motor.

One thing about being so close to the equator, as we mentioned on several entries before, are the crazy squalls that we get here. Since arriving in Belitung, we seem to get one squall just about every day right at noon. They are quite intense. with crazy lightning and wind. Yesterday we kept trying to get ashore to go snorkeling. But every time we left in the dingy, a squall would show up and chase us back to the boat. Rain would dump right behind the dinghy as we raced the squall back to Sandpiper just in time to get on the boat.

I am hoping that these daily storms are more land influenced. I hope that when we get out of here we will be able to avoid being caught in these at sea. Sandpiper has a couple of features that we are hope will keep us from being struck by lightning. We have a lightning dissipater. It looks like a small brush on the top of the mast. It is supposed to break up any static charges at the top of the mast and hopefully prevent a strike.
We also have a lightning rod made by StrikeShield mounted on the top of the mast. It has a grounding cable that is bolted to the bottom of the mast. We hang the other end of it in the water, which creates a path for the energy of a lightning strike to ground straight into the water. We have no idea if these products really work. But we think it is the best setup possible for the conditions here.

Team Sandpiper’s current plans are to leave late this morning with 5 other boats for our next leg of 240 miles. We are hoping that we will make the next anchorage within 48 hours. We are the only boats left here since the rest of the rally fleet has already departed on their way to Singapore.

Several of the boats we are traveling with have had mechanical issues and are all traveling together in case their are any breakdowns along the way. So far Sandpiper is running strong. We have been in Indonesia for 3 months now with very limited facilities for repairs. So most of the boats are looking forward to arriving in Singapore/Malaysia to fix all the things that have broken along the way.

We will also be crossing the equator on our way northwest. The last time we crossed the equator was during our Pacific crossing from Mexico to the Marquesas in French Polynesia (18-April-2006).

Tulisan ini dipulikasikan oleh Tom and Amy pada tanggal 22 Oktober 2007 yang berlabuh di Pulau Belitung (2′33.1 LS dan 107′40.5 BT), http://sandpiper38.blogspot.com/

Tanjungpandan (WP),   Senyum dan wajah adalah pembuka jalan menuju persahabatan. Begitu kata pepatah bijak. Senyum dan wajah tidak melulu menjadi ciri resepsionis. Seorang  polisi patroli jalan raya seperti Pratomo tak kalah ingin  menawarkan pelayanan murah meriah itu  bagi masyarakat pengguna jalan di Pos Pelayanan yang disediakan Polres Belitung.

 

Mewujudkan keamanan memang bukan tanggung jawab petugas keamanan atau sebagian orang saja, tetapi tanggungjawab bersama elemen masyarakat. Untuk itu Polres Belitung melalui Kasat Lantas selalu mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban berkendaraan baik melalui spanduk ataupun pesan radio ataupun  menyampaikan himbauan melalui pengeras suara.  Dalam rangka pengamanan lebaran 2008, Polres Belitung mengupayakan pengendalian tindakan kriminal dan antisipasi kecelakaan lalu lintas melalui operasi “Ketupat Satam 2008” yang didahului dengan rapat koordinasi Polres, Pemkab Belitung dan unsur Muspida lainnya pada hari Senin (22/9). Esoknya (23/9) dilakukan Gelar Pasukan Pengamanan Lebaran Selasa yang melibatkan  sekitar 236 anggota Polres Belitung dibantu sejumlah anggota TNI, anggota Satpol PP. Operasi pengamanan lebaran ini dimulai dari tanggal 23 September hingga 4 Oktober 2008 yang meliputi tiga tahapan operasi yakni tahapan persiapan selama 3 hari (H-3 hingga H-1), tahapan pelaksanaan selama 11 hari (Hari H hingga H+10) dan tahapan konsolidasi selama 5 hari (H+1 hingga H+5)

 

Polres Belitung mengidentifikasi sejumlah titik rawan yang perlu diwaspadai oleh  masyarakat pengguna jalan terutama untuk mengantisipasi peningkatan lalu lintas menjelang Hari Raya Idul Fitri 1429 H

 

Seperti dijelaskan Kabag Operasi Polres Belitung, Kompol Hermawan saat   memantau sejumlah pos pengamanan dan dan pelayanan Operasi Ketupat Satam 2008. Sejumlah titik pengendali kerawanan lalu lintas dan keamanan ditempatkan  yakni

·      Pusat Perbelanjaan seperti Pasar Ikan Jl. RE.Martadinata, Puncak Deptstore, Barata Dept Storeseperti, Simpang Lima Pusat Kota,  Pasar Inpres Jl.Bambang Utoyo, Pasar Hatta-Jl. Hayati Mahim

 

·     Pelaksanaan ibadah Sholat Ied (Mesjid Hidayatullah, Mesjid Al-Ihram-Jl.Melati, Mesjid Agung Al-Mabrur-Jl.Sudirman,Lapangan Bola Kampung Parit,  Halaman Gedung Nasional-Jl.Merdeka, Halaman Mapolres-Jl.Sijuk, Halaman Kantor Bupati-Jl.A.Yani)

 

·     Kawasan Wisata (Pemandian Alam Tirta Marundang, Wisata Pantai Teluk Gembira, Wisata Bukit Berahu, Wisata pantai Tanjung Tinggi dan Pemandian Alam Suci Indah)

 

·     Sejumlah jalan yang dilintasi Pawai Keliling Takbiran Idul Fitri 1429 H yang dimulai dari Gedung Nasional-Jl.Yos Sudarso-Jl.Siburik-Jl.Sriwijaya-Jl.Teuku Umar-Jl.Lettu Mad Daud, Jl.Patimura-Jl.Gatot Subroto-Jl.Sijuk-Jl.Kerjan-Jl.Hasan Saie (Kebun Jeruk)-Jl.Sudirman dan kembali ke halaman Gedung Nasional Tanjungpandan.

 

Selain memantau sejumlah titik lokasi arus mudik Lebaran seperti di Bandara Hanadjuddin, Pelabuhan Tanjungpandan, Pelabuhan Pegantungan dan Terminal Tanjungpandan.

 

Beberapa waktu yang lalu Polres Belitung juga sempat menahan 36 motor yang terjaring saat sejumlah pemuda melakukan lomba “automotif liar” yang tak jauh dari Mesjid Jamiek Al-Mabrur, menahan sekurang-kurang 100-an kendaraan dan merazia sejumlah kendaraan di lokasi rawan kecelakaan.

 

Langkah-langkah antisipasi Polres Belitung menjelang Hari Raya patut dipahami jika mengacu pada tingginya peningkatan jumlah kendaraan yang masuk ke Kabupaten Belitung. “ beberapa hari yang lalu saja ada dua truck yang diperkirakan  bermuatan 40 hingga 50 kendaraan bekas dari luar Belitung belum lagi kendaraan yang masuk ke salah satu agen yang mencapai 1000 kendaraan per bulannya”, kata Haposan yang ikut mendampingi Hermawan dalam pemantauan pos pelayanan dan pengamanan Lebaran 2008 pada  H-5 Hari Raya Idul Firtri 1429 H, Jum’at pagi (26/9). Sementara jumlah kendaraan berbagai jenis di Pulau Belitung yang terdata oleh Polres Belitung  hingga Juli 2008 mencapai 82.788 kendaraan meliputi 2.165 unit mobil penumpang, 4.469 unit mobil beban, 185 unit minibus dan 75.969 unit motor roda dua (Wartapraja,22/8)

 

Berdasarkan data Kecelakaan dan Pelanggaran Lalu Lintas Polres Belitung, dari Januari hingga Juni  2008 telah terjadi 21 kecelakaan lalu lintas yang menelan 18 korban meninggal dunia, 7 korban luka berat, 5 korban luka ringan dan kerugian material diperkiraan mencapai Rp. 59,8 juta . Sedangkan jumlah pelanggaran lalu lintas mencapai 1743 kasus, masing bulan  Januari  208 kasus, Februari 437 kasus, Maret 232 kasus, April 428 kasus, Mei 304 kasus dan Juni 134 kasus

 

Oleh karena itu saya berharap kehadiran anggota (polisi) di sejumlah titik rawan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam berkendaraan, kata Hermawan  kepada Warta Praja. Setiap Pos dikepalai oleh kepala regu yang terdiri dari 3 anggota polisi ditambah dengan personil dari Satpol PP (fithrorozi).

Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle)

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger). Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire). BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

 

Halaman Berikutnya »