<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:2.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:1; font-size:18.0pt; font-family:Arial; color:#005D80; mso-font-kerning:18.0pt; font-weight:bold;} h2 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:12.0pt; font-family:Arial; font-weight:bold;} h3 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:14.4pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-ascii-font-family:Arial; mso-hansi-font-family:Arial; mso-bidi-font-family:Arial; color:#006633; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:5.25pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Oleh Fithrorozi
Dari kejauhan sudah terlihat dua pohon beringin yang berusia puluhan tahun, konon jika pohon ditebang maka Pulau Gersik akan tenggelam. Namun meskipun jejeran bola (rumah) sudah nampak jelas, kapal tak kunjung merapat. Setelah dijemput perahu nelayan dan diturunkan dari sampan, rombongan safari ramadhan Pemkab Belitung akhirnya bisa menginjak kaki dipulau terpadat ini meski adzan magrib sudah jauh terlewat. Mardin menunjukkan arah kemana alamat yang ingin dituju, “ “Disini ada 8 rukun tetangga, meski padat bapak bisa mudah mencari alamat ikuti saja countblock ini “ kata Mardin dengan logat Bugisnya. Selain rumah tradisional bugis berpasak tampak rumah besar (gedung) berdinding tegel yang berada dipinggir jalan tanpa dipagari. Hampir 99,9 persen penduduk berasal dari etnis Bugis dan berprofesi sebagai nelayan
Setelah berjalan akhirnya kami tiba di sebuah rumah di depan Mesjid As Salam. Kue dibungkus daun pisang tampak dimeja seolah menyambut kedatangan para tamu. Mereka menyebutnya kue barongko sejenis lepat pisang. Kue khas masyarakat bugis ini terbuat dari irisan pisang yang bagian tengah (tulangnya) dipisahkan. Rasanya lebih lembut karena irisan pisang yang dihaluskan dicampur dengan santan lalu dibungkus dengan daun pisang atau dimasukan dalam loyang cetakan lalu dikukus..
Dermaga dan abrasi merupakan permasalahan utama yang sering dikeluhkan oleh masyarakat Pulau Gersik. Tahun 2008 ini, Direktorat Sumberdaya Air, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengupayakan penanggulangan abrasi dengan dana sebesar Rp. 485,4 juta. Sementara Pemkab Belitung mengalokasikan anggaran lanjutan pembangunan dermaga dengan perkiraan biaya sebesar Rp.1,2 milyar. Hingga kini kami masih berharap dermaga lindung bisa terwujud setelah dermaga di sebelah barat hancur karena hempasan ombak sebelum digunakan, ujar Kades. Gersik Andi Saparudin.
Petta Rapi, kades pertama telah lama merencanakan pembangunan dermaga lindung. Dia memotivasi masyarakat dan bersama-sama mengumpulkan batuan dari pulau kimar. Oleh masyarakat luar Pulau Petta Rapi dikenal sebagai kades pengumpul batu karena kuatnya keinginannya membangun sebuah dermaga disisi timur Pulau. “ saya tidak mengerti kenapa dermaga yang dibangun pemerintah bisa ditempatkan di sebelah barat”, kata Andi Saparudin. Kepeduliannya terhadap pulau ini membuat dirinya disegani dan panutan masyarakat. Petta Rapi berharap ada dermaga lindung yang memudahkan turun naik orang dan barang.
Upaya menanggulangi abrasi juga pernah dilakukan masyarakat bersama ABRI Masuk Desa. Saat itu (tahun 1980-an) masyarakat membuat ratusan balok semen berukuran 1m x 2mx 50 untuk menahan arus gelombang. Namun cara ini tidak efektif “ Untuk menahan gelombang sebaiknya menggunakan bentuk tetraport bukan berbentuk balok” ujar Marwan Syaukani ketika berdialog dengan masyarakat.
Sebaliknya air bersih tidak pernah menjadi masalah yang serius bagi masyarakat pulau kecil ini. Air disini tampak bersih tidak terpengaruh dengan asinnya air laut hingga dapat digunakan untuk mandi dan cuci. “ Itu menandakan filterisasi alam (pasir dan karang) disini cukup baik “ kata Kadin Kelautan dan Perikanan Marwan Syaukani,Msi. Sayangnya meski sudah di bangun WC umum, masyarakat masih saja membuang air besar di tepi pantai. Mereka yang tidak berhati-hati bukan tidak mungkin mendapat “jebakan” yang sering merusak suasana itu.
Wilayah desa Pulau Gresik itu terdiri dari 15 pulau kecil baik yang berpenghuni maupun tidak diantaranya Pulau Kimar, Pulau Aur, Pulau Kalangbau, pulau Bako dan pulau Kuil. “ Kalau menurut definisi, jika dalam kondisi pasang tinggi masih terlihat daratan, itu sudah bisa disebut pulau. Dua pulau di wilayah kami bahkan baru diberi nama, yakni pulau Sunok dan pulau kapal ”, ungkap Kades Andi Saparudin. Potensi gugusan pulau kecil ini tidak terpisahkan dengan kebijakan Etalase Kelautan Bangka Belitung, yang telah diluncurkan pada tanggal 11 Desember 2005 bertepatan dengan dengan Hari Nusantara ke-7.
Pulau ini resmi menjadi Desa sejak tanggal 12 Juli 1967 yang mengangkat Petta Rapi sebagai Kades pertama. Petta Tipe kemudian digantikan oleh Andi Zubair (Petta Tipe) dan dilanjutkan oleh Muje Taba yang memimpin pemerintahan desa selama dua periode sebelum digantikan Andi Saparudin atau Petta Lolo.
Andi Saparudin dilantik bersama 3 kepala desa yang lain di Gedung Serbaguna Kecamatan Selat Nasik pada tanggal 3 Januari 2008 untuk masa jabatan 2007-2013. Pulau dengan luas 20,5 km2 merupakan pulau kecil terpadat di Indonesia yang terdiri dari 2.915 (2007) jiwa dengan rasio laki-laki dan perempuan 60:40 persen. Berdasarkan pendataan rumah tangga miskin tahun 2005 (BPS) terdapat kurang lebih 414 penduduk miskin di Desa Pulau Gersik.
Sekitar 400-an KK berada di Pulau Gersik dan 300-an KK lainnya mendiami sejumlah pulau kecil disekitarnya. Saat pemilihan Gubernur Babel 2007 yang lalu jumlah pemilih sebanyak 1.803 pemilih dengan 6 TPS. Pada tahun 2008 (Pemkada) jumlah pemilih meningkat menjadi 2.015 mata pilih.
Dalam cuaca normal Pulau Gersik dapat ditempuh 4,5 jam perjalanan dari dari pelabuhan Tanjungpandan atau 1,5 jam dari pusat pemerintahan kecamatan Selat Nasik. Meski demikian koordinasi dan komunikasi relatif lebih mudah dibanding beberapa tahun yang lalu terutama sejak dibangunnya 4 unit tower BTS sinyal di Pulau Mendanau, Selat Nasik. Teknologi selular ini pun semakin meluas penggunaanya di kalangan masyarakat pulau Gersik. Rencananya tahun 2009 akan dibangun tower BTS disebelah timur pulau.
Angin dan gelombang yang tidak bersahabat terutama di musim barat daya (Desember hingga Januari) seringkali menganggu jalur perjalanan perahu kecil. Bagi kapal besar seperti tanker yang sering melintas di perairan di pulau Gersik tentu ini tidak masalah. Biasanya di musim barat banyak nelayan melaut hingga berhari-hari. “melaut dimusim barat selain menambah penghasilan juga untuk menyelematkan perahu “ ujar Haji Samsudin. Kondisi dan bakat alam sebagai nelayan dan pedagang membuat warga pulau sering berpindah tempat ringgal. Agustar seringkali mengikuti orang tuanya yang berprofesi sebagai nelayan pindak dari satu pulau ke pulau lain. Di Gersik dulu belum berdiri sekolah, tapi kini sudah ada gedung gedung sekolah (SD dan SMP) . “ Dari Tanjung ada enam guru SD yang mengajar di Pulau Gersik ini “ kata Mamo Saad, guru SD Pulau Gersik.
Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pulau Gersik memang tidak bisa dipisahkan dari dunia bahari. Laut adalah lapangan usaha yang harus dijaga. Selain nelayan, ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan tukang (perahu). Untuk menghasilkan satu unit perahu membutuhkan sekurang-kurangnya 2 orang tenaga kerja selama dua hingga tiga bulan. Untuk perahu berukuran kecil seperti perahu mayang, penyelesaiannya relatif lebih singkat. Keahlian membuat perahu didapat dari bimbingan orang tua .
Pancing dan pukat (mayang atau panja dalam bahasa bugis) adalah alat tangkap yang banyak digunakan nelayan Pulau Gersik. Mereka melarang penangkapan ikan menggunakan bagan. “ kalau ikan sering disinari cahaya lampu (bagan), siangnya akan liar “ ujar Toni yang sejak kecil tidak memiliki kaki yang sempurna. Oleh karena itu sejak lama masyarakat nelayan melarang penggunaan lampu untuk menangkap ikan. Sudah bisa dipastikan mereka yang menggunakan lampu seperti lampu bagan bukan nelayan pulau Gersik seperti dari pulau Celagen (Bangka). Laut adalah lapangan usaha berupa rumah ikan (rumpong). Begitu besar modal ditanamkan hingga mencapai Rp.5 juta untuk satu rumah ikan. “Untuk satu pelepah kelapa satu kami beli Rp. 1.500 yang harus diganti seminggu sekali, belum terhitung tali” kata Haji Akil Api menyebut alasan mahalnya pembuatan rumpong. Seorang nelayan dengan satu perahu ada yang paling sedikit memiliki 10 rumpong. Rumpong yang baik bisa dijual seharga Rp. 10 juta. Biasanya usai subuh mereka menebar pukat (mayang) ditebar disekitar rumpong.
Kalau sekedar memancing dilokasi rumpong, pemilik tidak keberatan tetapi jika mekera melarang keras penggunaan sorotan lampu (bagan) karena membuat ikan bergerak liar di siang hari. Selain mayang, rumpong menjadi sumber penghasilan nelayan dengan begitu ongkos melaut akan rendah. Ketika BBM sulit didapat, nelayan harus mengeluarkan uang Rp. 26-28 ribu per derigen (ukuran 20 liter) dan dijatah, padahal pemilik tambang konvensional saja sudah membeli diatas harga standar tetapi tidak lebih dari Rp. 19 ribu. Sementara BBM juga dibutuhkan untuk menggerakan mesin diesel untuk keperluan penerangan rumah tangga. Menurut Kades Pulau Gersik, saat ini terdapat sekitar 45 unit mesin diesel dimana setiap mesin membutuhkan biaya operasional termasuk BBM sebesar Rp. 400 ribu atau dalam satu bulan warga pulau terdapat ini mengeluarkan biaya sebanyak Rp.18 juta. Oleh karena itu penyediaan energi alternatif sangat membantu masyarakat. Selain diesel, sumber energi saat ini berasal dari PLTS untuk 3 titik lampu. Dan pemakian terbatas (jam 22:00 dimatikan).
Indikator kemajuan ekonomi juga dapat dilihat dari meningkatnya jamaah haji asal Pulau Gersik. Pada tahun 2007 jumlah jamaah haji berasal dari pulau Gersik mencapai 37 jamaah dan terbesar di Kabupaten Belitung. Setiap tahunnya rata-rata 10 jemaah berangkat ke tanah suci. Di Pulau Gersik, gelar haji merupakan gelar terpandang seperti halnya gelar kebangsawanan. Mereka yang pulang dari haji selalu memberikan dorongan ke warga yang lain terutama kepada keluarga. Seperti air sungai yang terus mengalir, jika air itu tersumbat sudah sewajarnya pihak keluarga melepaskan sumbatan (memotivasi).
Sosial Budaya
Sebagian besar masyarakat Pulau Gersik didominasi oleh Bugis Bone dan Bugis Makasar. “Andi” merupakan gelar kebangsawanan dalam suku Bugis “Andi” sedangkan “Daeng” banyak digunakan oleh suku Makassar.
Menurut mahasiswa Akademi Manajemen Belitung ini, gelar Petta derajatnya lebih tinggi dari Daeng dan Andi adalah gelar untuk anak dari seorang yang bergelar Petta. Jika bapaknya bergelar Petta anaknya bergelar Andi semacam pangeran tetapi jika sudah berkeluarga gelarnya menjadi Petta. Tetapi jika perempuan yang bergelar Andi menikah dengan orang biasa gelar kebangsawanannya dengan sendiri hilang.
Nilai kekerabatan dan nilai religius terasa menyelimuti hingga dipojok pulau. Seperti yang diceritakan Drs Arham Armuza,Sip “ Dulu (tahun 1980-an) masih dijumpai anak-anak mengisi waktu Ashar dengan membaca Al qur’an” kata Arham Armuza mengenang saat pertama berkunjung ke pulau ini. Meski kehidupan religius mewarnai kehidupan masyarakat, namun ada beberapa warga yang menuntut ilmu hitam yang tak jarang diturunkan ke keluarga dekat. Mereka menyebutnya dengan istilah Parakang atau Tarekak (bugis).
Kekerabatan yang terjalin karena ada hubungan keluarga diantara warga. didasarkan dari hasil perjodohan sesama keluarga. Seperti Andi Saparudin sang paman menikah bergelar Petta Lelo menikahi keponakannya Andi Muliani dari pihak ibu yang bergelar Andi Tuo
Kendala alam (abrasi dan angin) membuat masyarakat tak henti berharap adanya dermaga lindung. “ Kalau angin sudah datang, jam berapapun kami harus ke laut memindahkan perahu yang ditambatkan” ujar Haji Samsudin. ” tahun 60-an masih ada dua rumah dibibir pantai kini sebagian dari rumah ketigapun sudah mulai tergenang air laut “ kata Andi Saparudin
Kearifan masyarakat
Dengan kondisi demografi yang homogen, hubungan kekerabatan masyarakat cukup kuat. Karenanya masyarakat pulau Gersik selalu memelihara kekerabatan termasuk dalam hal membangun rumah tangga.
Kepada perempuan tugas rumah tangga dibebankan dan tak jarang mereka juga ikut serta mencari ikan, membantu membuat ikan asin dan menyungguhkan aneka makanan seperti rujak ikan yang disebut lawak, kue putu, barongko yang merupakan makanan khas masyarakat Bugis. Sedangkan lawak atau rujak ikan adalah ikan segar yang disantap tanpa dimasak yang dinikmati dengan kelapa bakar yang diparut. Sebelum disantap ikan segar ini dicelupkan kedalam cuka atau asam tujuannya untuk menghilang lendir ikan. Makan ikan segar yang dimasak seadanya juga menjadi santapan nelayan diatas perahu.
Pada Akhir tahun 2005 pulau ini dilanda bencana angin pasang barat daya memporak-porandakan rumah di pesisir barat. Kondisi alam yang tidak bersahabat menuntut masyarakat beradaptasi. “Seringkali kami memindahkan rumah yang terkena abrasi, kalau perlu diangkut bersama-sama dari barat ke sebelah timur Pulau. Pindah rumah (pindah bola) dimungkinkan karena rumah tradisional menggunakan konstruksi pasak tanpa paku “ tambah haji Samsudin. Rumah tradisional berbentuk panggung terdiri dari pusat rumah yang disebut posi bola dan bangunan tambahan disamping ruang utama yang disebut tamping. Antara tiang-tiang menempel satu sama lain yang dikunci dengan pasak (tanpa paku).
Rata-rata setiap bola (rumah) dihuni 3 KK, jarang sekali satu bola ditempati satu keluarga. Kini sebagian rumah tradisional ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semen layaknya rumah di perkotaan. Bentuk dan bahan rumah menunjukkan keberhasilan usaha pemiliknya. “ Rumah di kota bisa menyimpan usaha jika suatu waktu terjadi masalah (bencana) disini “ ujar Haji Samsudin mengungkapkan alasan mengapa warga yang cukup kaya memiliki banyak rumah terutama mereka yang dijuluki juragan (bos) dari usaha perikanan maupun perdagangan.
