Agustus 2008


 

Tanjungpandan (WP), Kepala Kantor Departement Agama Kabupaten Belitung, Imam Safei S.Ag baru saja  membuka acara menyambut Ramadhan 1429 H  di Rumah Dinas Penjabat Bupati, Minggu (31/8) pukul 19:00 yang akan diawali sholat tarawih yang dipimpin imam H.Marsidi Surdji diikuti sekitar delapan puluh jamaah dengan bilal Ikwan Akhyar.

 

Seusai sholat tarawih, Penjabat Bupati Belitung Haryono Moelyo,SE,MA menyampaikan sambutan tanpa teksnya sekaligus memperkenalkan diri kepada sejumlah unsur muspida, tokoh masyarakat, tokoh agama yang hadir di Rumah Dinas . ”Saya berterimakasih atas sambutan hangat terutama pada saat pelantikan saya sebagai Penjabat Bupati Belitung, mudah-mudahan cita-cita menyelenggarakan pemerintah di Kabupaten Belitung dapat berjalan dengan baik. Tugas kedua adalah menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Belitung Definitif.

 

Pemilik gelar Master of Art (MA) dari univeritas luar negeri yang kini memiliki golongan IV/c ini berharap bekal yang dimiliki cukup mendukung tugas selama enam bulan sebagai Penjabat Bupati Belitung. Suami  dari Ade Haryono dengan tiga putera yakni Dimas Rivia Anggoro, Dimas Arya Nugroho, Dimas Muhammadin dan seorang putri  bernama Rafidah Putri Rabi’ah pernah berkarir di BKKBN, menjadi Kepala Disnakersos Kabupaten Bangka dan Bapeda Kabupaten Bangka. Karinya di pemerintah Provinsi diawali sebagai Kepala Badan Diklat Provinsi dan terakhir menjabat sebagai Staff Ahli Gubernur Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelum menjabat sebagai Penjabat Bupati Belitung yang dilantik oleh Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Syamsudin Basari pada hari Jum’at, 29 Agustus 2008 yang lalu.

 

Keberhasilan pelaksanan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati adalah wujud amanat pelaksanaan pemkada, dimana keberhasilan dalam pelaksanaanya merupakan keberhasilan dan tanggung jawab kita bersama. ”Ketika Pemkada berjalan baik, saya berkeyakinan daerah ini akan diperhitungkan  ditingkat lokal, regional maupun global. Banyaknya resources yang dimiliki bisa dikembangkan dan memancing investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi pengangguran yang akhirnya bermuara pada pengentasan kemiskinan” tegas Haryono Moelyo. Dan yang terpenting lagi kita bisa mengetahui orang-orang miskin yang bisa bantu dan kita angkat dari jurang kemiskinan. Saya pun menjaga untuk tidak melakukan hal-hal yang bersinggungan dengan masalah hukum sebagaimana kita mengendalikan diri kita di bulan suci Ramadhan ini dan meningkatkan silaturahmi agar cita-cita kita bersama bisa terwujud, tambah Penjabat Bupati Belitung Haryono Mulyo  diakhir sambutannya.

 

Kita bersyukur manusia diciptakan sebagai makluk yang paling sempurna dengan fithrah zahir dan fithrah bathin. Secara zahir (fisik) kita diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna tetapi perbuatan yang buruk bisa merusakan kesempurnaan bentuk fisik  itu. Sedangkan fithrah  bathin adalah  akal, hati dan nafsu.  Akal manusia membutuhkan makan dengan ilmu pengetahuan yang positif.  Kedua adalah hati, yang disinari nur Ilahi yang sering disebut hati nurani. Namun ketika dikotori ujub, iri takabur atau dengki maka akan digelapkan dengan perbuatan dosa. Ketiga adalah nafsu atau jiwa atau ruh mendorong kita berbuat, namun seringkali nafsu membawa ke perbuatan jahat. Untuk itu kita berupaya mengendalikan nafsu agar jiwa kita menjadi tenang.

 

Kita menyadari bahwa manusia  tidak pernah lepas dari dosa, yang membuat fithrah kita jadi kotor. Tuhan menyediakan momen-momen untuk melepaskan dosa. Dosa bisa kita lepaskan ketika kita beristiqfar terutama di bulan Rajab yang dikenal dengan Istiqfar Rajab. Dosa yang menempel dihati juga dapat digugurkan di bulan Sya’ban dengan melakukan silaturahmi (saling bermaaf-maafan). Dan tugas kita di bulan Ramadhan adalah membersihkan dosa didalam ruh.

Bulan Ramadhan ini disediakan tahapan untuk membakar dosa, diawali rahmat kasih sayang  pada 10 hari pertama, diberi ampunan pada 10 hari kedua, dan menjadi hari pembebasan pada 10 hari ketiga. Namun ini juga tergantung dengan niat yang baik dalam menjalan ibadah di bulan suci Ramadhan. Semoga akal,hati dan nafsu akan berakhir kepada fitrah, kemuliaan dan kemenangan, Minal Aidzin Wal Faidzin, ujar H.Ucu Sibromil,S.Ag dalam malam pertama ceramah bulan suci Ramadhan 1429 H. 

 

Jadwal Safari Ramadahan tanggal 1 hingga 20 September 2008

 

TANGGAL

TEMPAT/MESJID

IMAM

PENCERAMAH

01-Sep

Rumah Dinas Bupati

H.Marsidi Surdji

H.Ucu Sibromils,S.Ag

04-Sep

Mesjid Lapas Cerucuk

HM.Jamil Zainal

Drs.Ibnu Haban

06-Sep

Nurul Huda Gn,Riting

Drs.Banyamin

Drs.Suhardi

07-Sep

As Sajadah Blh Tumbang

H.Kholik Husin

Supardi,M.Ag

09-Sep

Mukarromah A.Selumar

H.Rozali Dahri,BA

H.Warsito,S.Ag

11-Sep

Mesjid Akbar Kembiri

HM.Siroh,BA

Ir.Harsono H.Katis

13-Sep

Fathul Qorib  Tg.Pendam

Z.Alamsyah Husein

Zainal Abidin

14-Sep

Al Huda Tg.Binga

Drs. Huziadi Husein

Drs.Arham Armuza,S.Ip

16-Sep

Al Mabrur Tg.Pandan

H.Marsidi Surdji

 

18-Sep

As Salam, Pulau Gersik

HM.Jamil Zainal

Farid Wajdi,S.Ag

19-Sep

Al Mutmainnah,Perawas

H.Abdul Kholik Husein

Drs.Ibnu Haban

20-Sep

Rumah Dinas Bupati

HM.Siroh,BA

Supardi,M.Ag

                       Sumber : Setda Kab.Belitung

Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung Ir.Mulgani menitipkan pesan agar seluruh kepala SKPD dapat ikut menyemarakkan bulan suci Ramadhan dengan mengikuti serangkaian jadwal Safari Ramadhan (fithrorozi)

 

Siapa sangka praktisi lingkungan yang menjadi news maker itu adalah seorang nenek. Dijumpai di Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung. Harini Bambang Wahono bersama anaknya Bambang Wirawan sibuk mempersiapkan beragam produk daur ulang mulai dari kertas hingga tas dari bungkus plastik detergen menunggu giliran paparan dalam pelatihan lingkungan hidup yang diadakan Bappedalda Kabupaten Belitung dan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sumatera, Sabtu (30/8). Bambang Wirawan memang selalu mendampingi ibunda yang sudah   tua ini  tetapi diperlukan banyak orang di banyak daerah di Indonesia.

Berangkat dari organisasi akar rumput, Wakil Ketua PKK IV Bidang Lingkungan Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan. Harini justru menjadi bintang diusia senja. Berbagai media di internet mengomentari sepak terjangnya baik media nasional maupun internasional. Kini Harini yang selalu didampingi anaknya Bambang Wirawan disibukkan dengan berbagai aktifivitas sebagai pendidikan disekolah informal yang dibuka di rumahnya, motivator lingkungan diberbagai daerah termasuk berbagi pengalaman dengan guru-guru sekolah dasar di Belitung.

Anak dari Mantri Tani Raden Ngabehi Citro Diwirjo ini, sejak kecil memang akrab dengan alam. Pengalaman masa kecil ini membentuk karakter yang mencintai lingkungan hingga di usia senja sekarang ini. “Sebetulnya sejak tahun 1985 saya sudah terlibat dengan organisasi yang membidangi lingkungan hidup. Namun baru tahun 1992 perhatian saya tercurah sepenuhnya di organisasi lingkungan ini. Nenek yang berusia 78 tahun ini pun menjadi duta wisata. “Saya optimis Bangka-Belitung bisa seperti Bali-Lombok kalau digarap dengan serius”, begitulah kesan Harini pertama kali datang ke Belitung. Tahun 2000 ia meraih Juara Nasional Konservasi Alam dan Penghijauan dari Departemen Pertanian dan Kehutanan. Setahun kemudian mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden Megawati

“ Saya ingin di sisa hidup ini bisa berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Modal saya adalah kepedulian yang ditindaklanjuti dengan keprihatinan. Kepada diri  sendiri, saya sering bertanya, apa yang bisa diperbuat untuk bangsa ini. Saya yakin, sekecil apapun yang kita lakukan pasti berguna termasuk untuk menyelematkan bumi ini “ ujar Nenek tujuh cucu yang  tinggal di Kampung Banjarsari dari tahun 1980-an.
“Kita yang masih muda ini rasanya malu dengan apa yang sudah diperbuat oleh Buk Harini “ kata Maya Hasibuan,SH, Kepala Bapedalda Kabupaten Belitung yang selama dua hari selalu hadir dalam Pelatihan Lingkungan Hidup yang diadakan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera produktif dari tanggal 29-30 Agustus 2008 di  Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung

Menyelematkan Bumi dengan Mengelola Sampah.
Hampir 95% lahan depan rumah di Kampung Banjarsari ditanami berbagai pohon, bunga, dan tanaman obat. yang terletak di RW 08, Kelurahan Cilandak, di Jakarta Selatan yang dihuni sekitar 1.250 jiwa.Karenanya kampung ini mendapat julukan kampung hijau.

Pada 1996, Kampung Banjarsari, Jakarta Selatan resmi dijadikan pilot project oleh UNESCO sebagai pusat pengelolaan sampah padat. Untuk menunjang program tersebut, Harini kemudian membuka pendidikan untuk umum soal limbah padat dengan biaya dari UNESCO. Untuk melakukan pengembangan kegiatan pengelolaan sampah, sejak 2001, UNESCO dan Kampung Banjarsari meminta bantuan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3TL-BPPT). Tujuannya untuk melakukan pembinaan yang berkelanjutan dari aspek teknologi dan manajemen persampahan. Kegiatan utama pengelolaan sampah dimulai dengan pengomposan dan kemudian dilanjutkan dengan penanaman tanaman obat dan penghijauan lingkungan.

“Zaman penjajahan Belanda itu nggak ada sampah yang keluar dari halaman. Masing-masing (keluarga) mengolah sampah dengan sistem gali tutup. Bikin lubang untuk menanam sampah. Terus ditimbun. Kalau sudah penuh ditutup. Selang tiga bulan bisa ditanami pisang. Subur banget,” ujar Harini seperti dipublikasikan dalam situs Voice of Human Right, Februari 2007 yang lalu.

Kepada Wartapraja Harini juga menunjukan konsep sumur resapan hasil temuan IPB Bogor yang sudah dipatenkan.” Saya hanya membantu melalui pelatihan agar  masyarakat dapat mewujudkannya dilahan yang serba sempit dijakarta “ ungkap Harini merendah.

Jika dibandingkan dengan pemukiman di kabupaten Belitung, Kampung Banjarsari yang berada diibukota negara terlampau sulit mengkondisikan karakter masyarakat yang heterogen. Lingkungan dan dukungan masyarakatnya menjadi factor utama sekaligus kendala yang ikut berperan dalam upaya memerangi sampah. Padahal jika melihat penghasilan pemulung yang semakin banyak di Belitung, setiap satu kilo sampah minuman kemasan saja bisa dijual Rp. 5 ribu, belum lagi sampah pasar yang bisa dijadikan pasar dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. “Semoga apa yang disampaikan ibu Harini bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi guru sekolah dasar yang nantinya dapat mengimplementasi ilmu yang didapat melalui anak didik “ kata Husin Samendawai, Kabid Pemulihan Kualitas Lingkungan Bapedalda Kabupaten Belitung disela acara pelatihan (fithrorozi)

Tanjungpandan (WP), Sejak tahun 2002 Yayasan Lupus Indonesia aktif melakukan road show di sejumlah kabupaten/kota di Indonesia antara lain Palembang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Padang dan kini di Kabupaten Belitung, “Rencananya bulan November nanti, kami akan melakukan road show di Medan, Sumatera Utara. Kami berterimakah kepada masyarakat yang selalu mendukung setiap kegiatan kami, baik dukungan moril maupun material terutama kepada putra daerah Belitung, Pak Andreas dari Bio Live  MediLab dan Petrus Kisen dari PT. Avanifarma Karunia Lestari (AKL) ” ujar drg.Anne Gracia dari  Yayasan Lupus Indonesia (YLI) kepada Warta Praja, Sabtu (30/8).

Ditemui seusai acara, Managing Director PT.AKL, Petrus Kisen,MBA  didampingi sahabatnya H.Azahari Ms menjelaskan awal berdirinya Global Lab sebagai salah satu Laboratorium Klinis (LKS) di Tanjungpandan. “ kami (Azahari, Petrus dan Andreas) ini sering bertemu, suatu saat kami menggagas apa yang bisa diperbuat di kampung. Kebetulan Petrus sudah lama berkecimpung di dunia kesehatan. Rupaya pertemuan di rantau ini berkelanjutan hingga berdirilah Global Lab ” kata H.Azhari sahabat kecil Petrus dan Andreas.

Dr.Purwanto AP dari  Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNDIP/RS Dr.Kariadi Semarang menyambut baik kehadiran LKS di Belitung sehingga dapat membantu dokter mendiagnosa penyakit, selain pemeriksaan dini yang sudah banyak dilakukan oleh Puskemas. Senada dengan Dr. Purwanto AP, Petrus Kisen mengungkapkan sebuah laboratorium klinis memiliki tingkatan mulai dari tingkatan pratama, utama hingga laboratorium spesifik yang mampu mengidentifikasi DNA dan RNA. Pria yang lahir di Tanjungpandan dan menyelesaikan studi S2 di Asean Institute Management of Manila yang sudah lama berkecimpung di bidang manajemen rumah sakit ini menjelaskan, diagnosa penyakit diawali dengan proses anamnesa atau semacam tanya jawab antara dokter dengan pasien, kemudian dari dugaan dokter dilakukan pemeriksaan laboratorium. Sambil menunggu hasil, dokter memberi obat simphotomatis, setelah hasil laboratorium keluar baru diberikan pengobatan kausatif yang sesuai dengan penyebab penyakit dan kondisi pasien pun terus dimonitoring.

Dengan kehadiran loboratorium klinis di Belitung bukan saja mendorong penegakan diagnoasa dokter tetapi dapat meringankan pengeluaran biaya masyarakat, karena tidak perlu lagi ke Jakarta. Global Lab yang berada di Apotik Tabah Tanjungpandan  didukung dengan SDM dua orang analis kesehatan dan instrumen laboratorium pendukung untuk memeriksa hematologi, serologi, hepatitis, imunologi, kimia klinik, urinalisasi, petanda tumor, hormon, dan mirobiologi.

 

Road show YLI di Belitung ini selain menggelar seminar ilmiah kesehatan dengan para  dokter dan apoteker kami juga melakukan talkshow baik melalui tatap muka seperti di Ballroom Hotel dan Klub Billiton Tanjungpandan ini maupun melalui media radio lokal ( BFM 104,6 (29/8) dan Musica (senin, 1/9). Sebagai narasumber YLI menghadirkan Dr.Purwanto AP, dr.Irsan Hasan, SpPD, KGEH yang merupakan  Konsulen Gastro Enterologi & Hepatologi, Bagian Penyakit Dalam RSCM – FKUI,  Dr.Purwanto AP, SpPK (K)  yang menjabat sebagai Ketua Bidang Studi Patologi Klinik Universitas Diponegoro, dan Dr Sugiyono Somoastro, konsultan yang menkhususkan diri di bidang pemeriksaan laboratorium pada lupus eritematosus

Sedangkan seminar bagi masyarakat awam dari jam 15:00 hingga 17:00 Wib yang juga melibatkan para odapus dari Bandung, Jakarta dan Belitung yang  diakhiri dengan pemilihan Duta Lupus  (fithrorozi)

Tanjungpandan (WP), Dari 1 pria terdapat 9 wanita yang berpotensi mengidap penyakit Lupus. Penyakit  yang menyerang jaringan dan mengganggu fungsi organ (multi organ) tubuh itu tidak bisa dideteksi seperti halnya hepatitis, HIV ataupun diabetes. Karena setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda. “Setelah adanya gejala barulah bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium” kata Inge (34 tahun), salah satu dari 10 warga Tanjungpandan, Belitung  yang merupakan pasien Lupus sejak tahun 2005.

 

Karena memiliki gejala yang berbeda-beda itulah lupus dikenal penyakit seribu wajah dan si peniru ulang. Gejalanya   bisa timbul dari gangguan pada kulit, jantung dan organ tubuh lain. “Bisa jadi selama menjadi pasien lupus,  orang dideteksi sebagai pasien penyakit jantung dan hanya berkonsultasi masalah jantung, kata  Drs.Suhandri,SPOG sesuai menghadiri seminar ilmiah yang diselenggarakan oleh Yayasan Lupus Indonesia  (YLI) dan Global Lab Tanjungpandan bersama 40 peserta dari dokter dan apoteker di Pulau Belitung.

 

Gejala awal yang dialami saat lupus mulai bersemayam dalam tubuh :

·        Sakit pada sendi

·        Demam berkepenjangan atau panas tinggi bukan karena infeksi

·        Sering merasa cepat lelah, kelemahan berkepanjangan

·        Ruam pada kulit

·        Anemia (kurang darah)

·        Gangguan ginjal (kebocoran ginjal) , protein yang terbuang melalui urin

·        Sakit di dada bila menghirup nafas dalam

 

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun dengan karakterisik adanya autoantibodi terhadap antigen nuklues  yang merusak organ dalam tubuh. “ sederhanya begini, kalo jumlah polisi terlalu banyak tetapi yang diawasi cuma satu orang warga, yang terjadi malah  sesama polisi berantem. Mereka  tidak lagi sebagai pelindung “ kata Tiara Savitri,S.Pd yang kini menjadi Ketua YLI Pusat. Menurut drg.Anne Gracia,  struktur organisasi YLI selain melibatkan pemerhati, dokter juga dijabat oleh para odapus dari umur 3 tahun hingga odapus tertua 78 tahun yang juga anggota dari YLI. Pada tahun 2007, YLI mencatat terdapat 8672 odapus, 90% diantara perempuan dengan usia antara 4 hingga 77 tahun.

 

Selain menyerang organ tubuh penting seperti paru, ginjal, mata, hati, syaraf, jantung, sendi dan darah juga menyerang kulit. Meski dikenal penyakit seribu wajah, wajah penderita Lupus umumnya sering terlihat seperti bulat atau “moon face “ kata Inge yang sejak tahun 2005 diketahui mengidap Lupus. Ini terjadi pada Mujiman (60), pensiunan PT.Timah yang menjadi pasien Lupus sejak 13 tahun yang kini tinggal di Samak Manggar, Belitung Timur wajahnya membesar dan kulitnya hitam seperti orang Afrika yang kini aktif mengalami pengobatan. Sebaliknya mojang Bandung Rini Andriani, wakil YLI Bandung yang ikut hadir di Seminar Ilmiah di Tanjungpandan (30/8),  tidak merusak kecantikan dikulit dan wajahnya hanya saja Lupus telah mengakibatkan organ tubuh (limpa) diangkat dan dulu sering mengucur dara segar dari hidungnya.

 

Inge bersama odapus lain seperti Tiara Savitri, Rini Andriani dan Mujiman merasa senang jika penyakit ini diketahui masyarakat luas atau diseminarkan secara ilmiah, setidaknya masyarakat mengetahui bahwa lupus bukan penyakit menular karena bukan berasal dari bakteri atau virus dan terjalin keakraban hubungan pasien dan dokter. “ Namun kami tidak  mau disebut penderita atau objek. Kami bisa hidup sebagai subjek dalam berbagai aktivitas. Dia (lupus) itu lebih setia dari suami kita sekalipun, dibawa hingga akhir hayat. Oleh karena itu kami disebut Orang Dengan Lupus (Odapus) ”. kata  Tiara Savitri yang sejak tahun 1987 menjadi pasien lupus.

 

Dr Sugiyono Somoastro  menyimpulkan akhir paparannya bahwa sebagian besar pasien lupus dapat diatas namun perlu pengobatan jangka panjang. Hal ini dilihat dari menurunnya angka kematian pasien Lupus. Bahkan lupus yang biasa menyerang wanita usia produktif dapat hamil “ Sebelum suami saya meninggal karena kanker. Saya pernah   divonis tidak bisa hamil dan empat kali mengalami kekagalan kehamilan, tapi sekarang dia (sembari menunjukkan anaknya yang membawa handycam) bisa mendampingi saya jalan-jalan ke Belitung” kata Tiara.

 

Hidup bersama Lupus  harus memperhatikan hal-hal sebagaimana orang yang ingin hidup sehat seperti kontrol berkala ke dokter, minum obat teratur, membiasakan gaya hidup sehat, nutrisi yang seimbang, cukup olahraga, mencegah kelelahan berlebihan, menghindari rokok dan sinar matahari, menghindari situasi stress. Meski odapus tidak ada stigma di masyarakat seperti halnya Oda (orang dengan Aids) namun odapus pun membutuhkan dukungan psikososial. “Pernah dalam delapan bulan saya tidak beranjak dari tempat tidur ada rasa frustasi yang luar biasa saat itu” kata Inge

 

Karena ada upaya mencari tahu penyakit yang dikenal sejak 150 tahun yang lalu ini, para odapus memiliki pengetahuan yang lebih baik dari masyarakat awam yang didapat dari berbagai media informasi. Mereka menjadi teman diskusi yang menyenangkan bahkan bagi para dokter pemerhati Lupus seperti dokter hematologi, rheumatology, ginjal hypertensi ataupun dokter alergi imunology. (fithrorozi)

Halaman Berikutnya »