Juli 2008


Tanjungpandan (WP), Pekerjaan registrasi dan inventarisasi Benda Cagar Budaya (BCB) ini merupakan pekerjaan spesifik yang membutuhkan kapasitas personil yang mampu mengidentifikasi BCB nantinya. Upaya ini sekaligus menjawab atau mengakomodir pertanyaan masyarakat tentang objek bersejarah yang tidak bergerak (tangible heritage) di Pulau Belitung.

Perlu disepakati definisi BCB bukan sekedar objek yang berumur 50 tahun, tapi mempertimbangkan unsur sejarah penting yang mengikutinya. Dari bagian bangunan kita dapat mengidentifikasi adanya akulturasi budaya (eropa, tionghoa, melayu) dari arsitektur bangunannya. Hasil kegiatan minimal dapat dituangkan kedalam sebuah dokumen berikut koordinat, gambar, peta dan kondisi bangunan. Ini (data) menjadi dasar kita menindaklanjuti upaya pemerintah pusat melindungi BCB di daerah.
Hal ini diungkapkan Kadin Pariwisata dan Kebudayaan Dra.Hotmaria Ida pada saat membuka Rapat Rencana Registrasi dan Inventarisasi Benda dan Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Belitung siang (14:00) di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belitung. Rapat ini yang berlangsung pada Kamis (31/7) ini diikuti Salim Y.AH, Rosihan Sahib, Fithrorozi, Alwan Hadi (arkeolog), Ismail Mihad, Azhar, Suhaimi dan Natashia (arkeolog)

Identifikasi BCB mengacu pada UU Nomor 5/1992 tentang  Benda Cagar Budaya dan PP 10/1993 tentang Pelaksanaan UU No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. “Memang dibandingkan BCB tidak bergerak, BCB bergerak lebih sulit mengidentifikasinya. Jika pemkab ingin melindungi BCB sebaiknya diterjemahkan dalam sebuah Peraturan Daerah”, kata Salim YAH. Setidaknya pada siang ini, jadi momentum untuk  pelurusan sejarah. Bangunan eks kantor penerangan milik Kapiten Phang tapi dikenal milik Kapiten Ho A Djun. Padahal rumah milik kapiten pertama Ho A Djun ini dimanfaatkan sebagai Wisma Ria II (sekarang Galeri UMKM). Salim mengkritik sebutan Rumah Gede untuk Rumah Panggung Belitong yang menjadi ciri adat rumah masyarakat Belitung dulu. Sementara bentuk rumah adat itu sendiri sudah di-perda-kan yang dilatarbelakangi sarasehan sejarah bangunan itu sendiri, ungkap Salim.  “Banyak bangunan bersejarah yang digunakan pemerintah justru sudah berubah bentuk. Ini ironis “ kata Pimpinan Kegiatan Ismail Mihad.

Beberapa kerajaan di Belitung telah berpindah-pindah seperti Kerajaan Balok. Kerajaan  Balok awalnya berada di Balok Lama (Badau) kemudian pindah ke Balok Baru, Cerucuk (Kota Tanah) dihulunya terdapat situs Kota Karang yang hancur oleh kapal keruk, Tanjung Simba (Tanjungpandan) sebelum akhirnya menetap di  Kampong Ume (Jl Rahad) atau Kampong Raje.

Dengan demikian perlu perlindungan BCB baik terkait dengan sejarah peradaban maupun dikaitkan statusnya sebagai media edukasi. Dalam kawasan situs Tanah Cerucuk terdapat makam   Moh.Hatam (Depati Cakraningrat VII, 1785-1815) dan kedua anaknya yakni KA.Moh.Saleh dan NA.Kuning.  Konon kawasan makam ini dikelilingi  qur’an yang diyakini masyarakat sebagai pelindung makam, jadi ada keseganan untuk merusak, takut burutan (mengakibatkan penyakit hernia) menurut masyarakat setempat. Oleh karena itu ada papan petunjuk agar kebingungan masyarakat yang ingin berziarah ke Makam KA.Rahad tidak terulang lagi.

Kegiatan ini juga penting untuk menelusuri jejak peradaban atau pembangunan di Kabupaten Belitung dan menjadi indikator maju atau mundur suatu daerah. Sebagai contoh kota pelabuhan dulunya berpusat di Sijuk dan teluk Balok kemudian berkembang ke pusat kota Tanjungpandan. Namun kini struktur ruang tidak memungkinkan pusat kota dilalui truk-truk besar menuju pelabuhan. Untuk itu sarana angkutan laut dikembangkan kearah Tanjung Batu, Kecamatan Badau. Memang Pelabuhan Tanjung Batu belum bisa dikategorikan sebagai BCB tetapi ini menjadi bukti bahwa penelusuran dan inventarisasi benda cagar budaya terkait dengan pembangunan Kabupaten di masa depan. Perpindahan kawasan pelabuhan atau pusat kerajaan dan pemerintah menunjukkan adanya dinamika sebuah peradaban

(fithrorozi)

Tanjungpandan (WP), “Kami percaya anak-anak akan menjadi motor perubahan. Usia anak adalah usia perkembangan yang selayaknya memahami perkembangan bangsa dan negara saat yang sedang menghadapi ujian dan krisis energi. Mereka harus diberi pengertian bahwa bangsa kita miskin karena kita boros. “ kata Deputi Manager Komunikasi PT.PLN (Persero) Wilayah Bangka Belitung Abdurahman.

 

Dengan suasana interaktif dan menampilkan tokoh yang menarik perhatian anak, pemahaman ini akan lebih cepat diserap anak-anak. ‘Kunang-kunang aja kalau siang kalau siang matiin lampu”, ajak panitia kepada anak-anak melalui spanduk Launching Genematrik (Generasi Hemat Listrik) yang bertema “ Menyiapkan Generasi Belia Sejak Dini Agar Menjadi Insan Pelopor Efisien, Cinta Lingkungan Serta Hemat Energi”.

 

Inilah yang menjadi alasan kenapa kampanye hemat energi perlu diterapkan kepada usia dini karena lingkungan sekolah memiliki fungsi strategis merubah perilaku sebuah bangsa. Upaya penghematan ini tidak saja dalam masalah listrik tetapi berbagai masalah  sosial ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat saat ini. Seperti kita ketahui bersama krisis energi dunia berimbas terhadap operasional PLN sebagai penyedia listrik di tanah air” jelas Abdurrahman.

 

Launching Generasi Hemat Listrik ini merupakan kegiatan kedua kalinya setelah yang  pertama di Gedung Hamida  Pangkalpinang lima bulan yang lalu dengan melibatkan 350 anak SD se-Pangkalpinang dan sekitarnya. Sedangkan pelaksanaan launching yang melibatkan 250 anak SD di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur ini serempak diadakan di Ruang Serba Guna Setda Kabupaten Belitung Kamis (31/7) seperti yang dijelaskan Deputi Manager Komunikasi PLN Wilayah Bangka Belitung Abdurahman di Tanjungpandan.

 

Pemerintah daerah menyambut baik rencana pembangunan PLTU, namun peningkatan daya listrik dan ini kegiatan ini merupakan sarana edukasi yang tepat. Saya berharap ini juga bisa ditindaklanjuti hingga ke tingkat SLTP dan SLTA, sebagaimana yang disampaikan Bupati Belitung Ir.Mulgani yang dibacakan Drs.H.Jasagung Hariyadi  Msi.

 

Dalam kesempatan ini, tim kreatif PLN babel juga menyisipkan pesan-pesan hemat energi melalui tayangan video “ Dari masa asalnya listrik” dengan menampikan tokoh imaginatif Bili (Bijak Listrik).

Secara gamblang Abdurahman menjelaskan 1 kwh untuk keperluan 450 VA (rumah tangga ) memerlukan biaya sebesar  Rp.425, jumlah ini jalur lebih murah dibandingkan dengan harga sebungkus mie instan. 1 kWh diperlukan untuk memasak nasi, menyetrika dan lampu penerangan. Sementara harga jual listrik rata-rata per kWH mencapai Rp.629. Dengan kenaikan BBM per Juni 2008 sebesar Rp.10.906,50 per liter tentu akan berdampak terhadap pembangkit listrik dengan menggunakan energi diesel yang ada di Bangka Belitung.

 

PLN Wilayah Babel memberikan  sejumlah tips hemat listrik :

  • Gunakan lampu hemat energi (daya 8 watt yang setara dengan lampu pijar 40 watt), nyalakan lampu pada saat diperlukan. Desainlah tata pengaturan pencahayaan dalam rumah.
  • Gunakan tower tangki air dan isi penuh pada pagi atau siang hari (diluar beban puncak pada jam 17.00 hingga 22.00). Sebaiknya jangan menggunakan pompa air listrik secara otomatis ke kran air karena memboroskan penggunaan listrik.
  • Pilih ukuran kapasitas lemari es yang sesuai dengan kebutuhan, tempatkan jauh dari sumber panas, jangan terlalu sering membuka dan menutup pintu lemari es begitupun dan menyimpan makan yang masih panas karena  akan merubah suhu dan meningkatkan pemakaian listrik.
  • Pilihlah AC sesuai ruangan dan atur suhu AC di kamar pada suhu 25 derajat sebagaimana yang dianjurkan Presiden. Pada saat membangun rumah pertimbangan sirkulasi udara.
  • Gunakan setrika dengan baik dan benar ( sehari sekali, diluar beban puncak, pastikan gangguan yang  menghambat panas).
  • Jika meninggalkan komputer dibawah 10 menit atur komputer dalam posisi “stand by “ atau matikan secara sempurna.   

Dengan mengurangi pemakaian 14 kWH per bulan, berarti 5 liter BBM dapat dihemat. Bila 137.000 pelanggan PLN Babel dapat menghemat 14 kWh/bulan berarti 685.00 liter BBM dapat dihemat atau setara dengan Rp.7,47 milyar setiap bulan. Tentu kalau ini disadari setiap bulannya kita melakukan penghemat dan ikut berperan dalam pembangunan.

 

“ Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka, adalah malam : kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka  (berada dalam) kegelapan”, bunyi Surat Yassin : 27 ini diharapkan menjadi renungan kita bersama ditengah kondisi krisis seperti ini kita harus mengantisipasi kemungkinan kesulitan (kegelapan) yang mungkin kita hadapi nanti (fithrorozi).

 

Tanjungpandan (WP),  Dalam 40 menit di udara dilintasi berbagai pesawat tempur mulai dari F-16, F-5, dan Hawk 109/209, pesawat angkut terdiri dari C-130 H, C-130 B, F-27 TS, CN-235, Boeing 737 Intai, KC-130 B, dan  helikopter SA-330/NAS-332 (SARPUR), dan helikopter stand by SAR. Serangan bertubi-tubi dalam dalam atraksi udara tersebut turut menggetarkan masyarakat Belitung. (17/11/07)

 

Salah satu peristiwa monumental yang akan selalu diperingati oleh warga TNI AU adalah Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU, belatarbelakangkan dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari yaitu pada 29 Juli 1947. Peristiwa Pertama yang terjadi di sebelah pagi yaitu ketika tiga juru terbang kadet TNI AU, Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berjaya melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga lokasi, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Peristiwa Kedua pula, terhempasnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan tiga perintis TNI AU terkorban yaitu Agustinus Adisoetjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo Wiryokusumo.

 

Bertempat di lapangan Mako AU Tanjungpandan, inspektur upacara memimpin upacara peringatan Hari Bhakti TNI AU ke-61 pada tanggal 29 Juli. Dengan peringatan ini setidaknya kita kembali diingatkan bahwa pengamanan wilayah udara Indonesia merupakan bagian yang sangat strategis apalagi Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar.

 

Dalam Peta dunia pulau Belitung berada  garis 107º35’ dan 108 º18’ BT, 2 º32’ dan 3 º15’ LS. Dengan penerbangan Dakota dapat ditempuh 1,5 jam perjalanan ke Jakarta, kini melalui Bandar Udara Hananjoeddin yang mengabadikan nama prajurit TNI AU asal Mempiu, Belitung ini, penerbangna ke Jakarta dapat ditempuh dalam 45 menit dengan lebih dua maskapai penerbangan.

Napak tilas bhakti TNI AU terhadap negeri ini mengingatkan kita terhadap sejarah berdirinya Markas Komando TNI AU di Pulau Belitung dengan  bagian sejarah yang mengikutinya antara lain sejarah dibangunnya Landasan Udara Tanjungpandan, sejarah Skuadron Radar 420 Sungai Padang, Sejarah Lapangan Udara Buluh Tumbang dan Lapangan Udara Air Tembalun di Buding, Kecamatan Kelapa Kampit

 

Pada tahun 1958 dibuka perwakilan kecil AURI di Tanjugpandan dengan status “Detasemen Penghubung” bermarkas (sementara) di Jalan Veteran No.06 Tanjungpandan. ini dipimpin oleh Sersan Udara I (SUI) Danu dengan dibantu oleh beberapa anggota, antara lain KUI Sahidu (Sekretariat, SUI Jono, SUI Maman Kusnadi (Intel/Sandi), SUII Suhanda, KUII Rustam dan dibantu oleh dua orang pekerja dapur PH Djasuli dan PH. Alimin.

 

Lalu lintas jalan raya yang sibuk dan bisa dideteksi saja seringkali membuat jalan raya memakan banyak korban. Seperti halnya lalu lintas udara, sejak berkembangnya teknologi informasi lalu lintas udara semakin sibuk dan ini berpotensi menjadi ancaman pertahanan keamanan nasional. Sayangnya sinyal yang diterima tidak begitu kuat. Oleh karena itu dibutuhkan radar untuk mendeteksi  memperkuat sinyal, kata Liem Tiang Gwan, Ahli Radar kelahiran Malang yang pernah menjabat Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Konsep  di Stuttgart, Jerman.

 

Pada 16 November 1963, ditempatkan sebuah stasiun radar (starad) 2 km sebelah Barat Lapangan Udara Buding untuk mendukung operasi Dwikora. Dalam rangka Operasi Dwikora pada tahun 1963 sebuah pesawat bomber AURI (B-25) mengadakan “touch “ pertamanya di Lapangan Udara Buding

 

Pada tanggal 20 Januari 1965 “STARAD Buding” dipindahkan ke Sungai Padang (skuadron 420). Kini pasukan dan stasiun radar sudah tidak dioperasikan lagi di Pulau Belitung.

 

Selamat Hari Bhakti TNI-AU ke-61, seperti motto TNI AU Swa Bhuana Paksa, semoga TNI -AU tetapa jaya di udara mengamankan wilayah udara NKRI (fithrorozi).

 

 

Tanjungpandan (WP),   Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia, tanpa pendidikan manusia sulit mengembangkan dirinya, yang pada akhirnya akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia

Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, pembangunan pendidikan di Belitung diarahkan pada tiga pilar kebijakan. Salah satu diantaranya perluasan akses pendidikan pada semua jenjang pendidikan dengan fokus utama penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun.

 

Namun pembebanan biaya sekolah tidak berarti biaya pendidikan tidak ada sama sekali. Biaya perlengkapan sekolah seperti pakaian seragam, sepatu, tas, buku dan alat tulis masih menjadi tanggungan orang tua

Menyerahkan 200 paket untuk anak SD dari keluarga kurang mampu, masing-masing kecamatan menerima 40 paket bantuan sebagai wujud kepedulian pemerintah daerah terhadap pendidikan anak

 

Hal ini diungkapkan Asisten III Bidang Administrasi Drs.H.Jasagung Hariyadi yang mewakili Plt. Bupati Belitung Bertempat di Graha Karang Taruna Selasa (29/7) ketika memberikan sambutkan dalam rangka penyerahan paket bantuan perlengkapan sekolah kepada murid SD dari keluarga kurang mampu se-kabupaten Belitung yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kabupaten Belitung.

 

“ Untuk mengidentifikasi mereka yang berhak menerima paket bantuan kerluarga miskin ini, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial bekerja sama dengan pihak pemerintah desa dan sekolah”, jelas Pimpinan Kegiatan Sobari S.Ag. Pada tahun 2007 juga diberikan 100 bantuan alat sekolah namun lebih diprioritaskan bagi anak yatim piatu,  tambah Kabid Rehabilitasi Sosial Disnakersos Kabupaten Belitung Herman HS.

 

Hal ini dibenarkan Bustami,  Kepala Sekolah SDN 12 Membalong Desa Batu Mana ketika mendampingi dua muridnya Minarsih dan Azrab Azizi Maulana .Meski kondisi ekonomi orang tua mereka tidak seberuntung orang tua murid di perkotaan (Tanjungpandan) tetapi  kedua menunjukan prestasi yang membanggakan yang menempati ranking 2 dan 3 di kelasnya.

 

Benny Situmorang yang selama ini menjadi fasilitator Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) berharap bantuan-bantuan seperti ini hendaknya menjadi bagian dari Program Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Belitung. Hal ini ditujukan agar persoalan kemiskinan tidak ditangani secara parsial sehingga apa yang kita lakukan tepat sasaran dan pelaksanaannya didasarkan dari data yang disampaikan oleh masyarakat, tambah Benny.(fithrorozi/syafei)  

Halaman Berikutnya »