Juni 2008


Tanjungpandan (WP), selain sektor pertambangan dan sektor perikanan dan kelautan, Kabupaten Belitung memiliki potensi yang cukup besar di sektor pariwisata. Baik itu wisata alam, wisata budaya maupun wisata kuliner. Untuk menjual potensi wisata setidaknya diperlukan tiga hal, Pertama, pelestarian aset wisata, Kedua, Pengembangan usaha pariwisata dan Ketiga, Promosi wisata .

Bagi finalis Pemilihan Bujang Dayang Belitong Tahun 2008  Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein dalam sambutannya berharap dapat menjadi duta Wisata Kabupaten Belitung untuk mengangkat nama baik daerah. Ini juga momentum untuk meningkatkan kualitas SDM seperti kemampuan berbahasa Inggris.

Sebelumnya 5 (lima) juri melakukan ujian wawancara terhadap 50 peserta Bujang Dayang Belitong 2008, peserta mengikuti ujian tertulis. Kelima juri tersebut, Salim Yah ( Budaya), Wiwih Widaningsih (Tata Rias dan Tata Busana), Rohili (Kepariwisataan), Subandi (Kepribadian) Madi Sungkowo (Bahasa Inggris).

Tanjungpandan mengirimkan 9 bujang dan 10 dayang, Membalong mengirim 4 bujang dan 5 dayang, Selat Nasik 2 bujang dan 2 dayang, Sijuk mengirimkan 4 bujang dan 4 dayang dan Badau mengirimkan 5 bujang dan 5 dayang.

Jones Setiawan dari SMAN 1 Sijuk Kelas 2 dan Agnestia siswa SMAN 2 Tanjungpandan mengungkapkan motivitasi mereka mengikuti pemilihan Bujang Dayang Belitung 2008 tak lain untuk ikut membangkitkan potensi wisata Kabupaten Belitung yang mereka anggap kurang dipromosikan meski memiliki pantai yang bagus.

Hasil ujian tertulis dan wawancara yang dilakukan di Gedung Wanita, pada tanggal 24 Juni 2008 terpilih 10 pasang Bujang Dayang Belitong mewakili 5 kecamatan. Selama dua hari mereka akan dikarantina hingga malam final 27 Juni 2008. “ sayangnya pemahaman mereka terhadap budaya lokal maupun nasional masih rendah “ kata Salim YAH. Hal senada disampaikan Madi Sungkowo “ secara tertulis kemampuan berbahasa Inggris cukup baik tetapi komunikasinya masih lemah”. Madi berharap ada pembinaan kurang lebih satu tahun untuk menjadi duta wisata dan sekolah berperan dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Selain Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein, malam final (27/6) Bujang Dayang Belitong 2008 di Gedung Nasional juga dihadiri Ketua Lembaga Adat Sjachroel Siman, Asisten Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Belitung Ir.Hermanto, Camat Tanjungpandan Azhar SIp, Camat Badau Aidin Dahri, Camat Sijuk Drs.Ramansyah, Camat Membalong Anas Nasito,SH, tokoh masyarakat Mahdani Miram, KA.Rustam Fattah dan sejumlah masyarakat yang memadati ruangan Gedung Nasional.

Dari 20 finalis terpilih pasangan Bujang Dayang Belitong 2008 Dedy Pratama dan Putri Ayu Wandira. Kedua-nya utusan dari Kecamatan Tanjungpandan. Setelah terpilih sebagai Dayang Belitong 2008, Putri Ayu Wandira berharap kemenangan ini sebagai motivasi untuk mengembangkan pribadi dan memajukan dunia Pariwisata Kabupaten Belitung. Finalis lain yang terpilih sebagai Bujang Dayang Belitong untuk berbagai kategori adalah :

  • Bujang Dayang Belitong Wakil I M.Faisal Hoffi (Tanjungpandan) dan Nur Indah Utami (Sijuk),
  • Bujang Dayang Wakil II Iswandi (Tanjungpandan) dan Kamaria (Badau).
  • Bujang Dayang Foto Genik Eddy Paryanto (Sijuk) dan Erita Tiara W (Tanjungpandan).
  • Bujang Dayang Favorit Dedy Pratama (Tanjungpandan) dan Nur Indah Utami (Sijuk),
  • Juara Harapan I Bujang Dayang Belitong Amal Sudtiadi (Tanjungpandan) dan Arnis Meilinda (Tanjungpandan),
  • Juara Harapan II Bujang Dayang Belitong Wira Tribarkah (Tanjungpandan) dan Agestia Dewi (Badau).

Dedy Pratama boleh berbangga karena baik dewan Juri maupun penonton (Favorit) telah memilih Siswa dengan tinggi 172 cm ini sebagai Bujang Tahun 2008. Namun ini baru awal dari perjalanan menjadi Duta Pariwisata tingkat nasional ataupun tingkat Provinsi .

“Kekurangan wawasan seringkali menjadi sandungan untuk dinominasikan dalam Pemilihan Bujang Dayang Bangka Belitung. Rata-Rata peserta memiliki latar pendidikan paling rendah D3 sedangkan kita (Belitung) “ kenang Tini Sudiar mengomentari keikutsertaannya dalam Pemilihan Bujang Dayang Bangka Belitung tahun lalu. “Mudah-mudahan mereka juga dilibatkan nantinya dalam berbagai kegiatan pariwisata tidak sekedar sebagai penyambut tamu saja” tambah Tini penuh harap (fithrorozi)

Membalong (WP), sebagaimana layaknya momentum zirah, sudah sepantasnya kita menundukkan kepala, mengenang pengrobanan dan jasa almarhum KA.Rahad dalam mempertahankan Pulau Belitung dari penetrasi para penjajah dan menjadikan Kota Tanjungpandan sebagai Pusat Pemerintahan.

 

Sebuah dokumen akademis telah menjadi petunjuk beberapa mahasiswa UGM menelusuri sebuah makam bersejarah. Dipandu Pak Tapot warga Desa Kembiri akhirnya  makam KA.Rahad yang tak lain pendiri Kota Tanjungpandan berhasil ditemukan. “Bahkan keluarga Depati Cakraningrat pun tidak tahu (ada makam disana)” jelas KA.Rustam Fattah.

 

Hari ini (27/6) lebih dari seratus peziarah yang dipimpin Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein berziarah ke makam “ Raja “ Belitong ini. Camat Tanjungpandan Azhar Sip dalam sambutannya menjelaskan kegiatan ziarah bersama ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke 170 yang bertitik tolak diakuinya KA. Rahad-Depati Cakranigrat VIII sebagai Wetige Depati pada tanggal 1 Juli 1838 oleh administrateur Belanda.

 

Makan KA.Rahad beserta 7 (tujuh) makam lainnya terletak di areal perkebunan PT.Foresta Lestari. Pagi itu pihak perusahaan, Kades Kembiri Sukirman dan Camat Membalong Anaz Nasito,SH  menerima peziarah. Tampak Wakil Bupati Belitung Andi Saparudin Lanna,SH, Ketua DPRD Drs Suhardi beserta Anggota DPRD, Unsur Muspida, Kepala SKPD Pemkab Belitung, Camat Badau Aidin Dahri,  beberapa Kades dari Tanjungpandan, dan tokoh masyarakat.

 

Wakil keluarga Depati Cakraninggrat VIII KA.Rustam Fattah dalam sambutannya menjelaskan bahwa pada kepemimpinan Ki Gegedeh Yakub (1618-1661) telah berdiri pemerintahan di Belitung dalam bentuk kerajaan. Kepemimpinan pemerintahan  dilanjutkan dengan KA. Abdullah yang bergelar Depati Cakraninggrat II atau Ki Agus Mending (1661-1696) dilanjutkan dengan Depati Cakraninggrat III KA. Gending (1690-1700). Pada saat itu,  Belitung dibagi kedalam empat Ngabeli-semacam kecamatan yakni Ngabehi Badau, Ngabehi Sijuk, Ngabehi Belantu dan Ngabehi Buding. Pada masa Depati Cakraninggrat VII (KA.Mohammad Hatam) masuklah bangsa Belanda dan Cina ke Pulau Belitung tepatnya tanggal 28 Juni 1851.

Masyarakat menerima secara terbuka karena masa itu, baik Raja, Mubaliq, Penghulu serta Lebai tidak memiliki prasangka negatif kepada pendatang bahkan kepada musuh sekalipun termasuk Tengku Akil dari Siak yang akhirnya membunuh KA.Mohammad Hatam (orangtua dari KA.Rahad)

 

Bangsa barat menjalankan siasat adu domba dengan menempatkan Syarif Mohammad dan Syarif Hasan dari Lingga dan menempatkan Mas Agus Mohammad Assik dari Lepar guna melemahkan kekuasaan Depati (Depati Cakraninggrat VII Depati KA.Hatam maupun Depati Cakraninggrat VIII KA.Rahad)

 

Karena tidak berwawasan agressor terkesan masyarakat dan “penguasa” Belitung kala itu terkesan  penakut dan lugu. Sayangnya sikap terbuka dan tidak menyukai kekerasan ini dimanfaatkan dengan  kelicikan untuk  keuntungan bangsa Asing.

 

Pada masa kepemimpinan KA.Rahad, bangsa-bangsa asing membuat pemukiman tersendiri, meski demikian masyarakat lokal mudah melakukan pembauran karena karakter dan adanya hukum adat.  “ Alhamdullilah saat itu sudah terbentuk Lembaga Adat “ tambah KA.Rustam Fattah.

 

Dalam sambutannya Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein bersyukur Lembaga Adat akhirnya terbentuk setelah  delapan tahun di-Perda-kan. “Saya juga berharap rumah adat pun bisa segera diresmikan” tegas Bupati.

 

Sudah selayaknya ini (ziarah bersama) menjadi momentum dan wahana kontemplasi  untuk merenung dan mengevaluasi, sejauh mana kita telah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif sebagai wujud rasa terima kasih kepada para pejuang dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dicurahkan oleh Allah SWT, kata Bupati.

 

Ziarah bersama diakhiri dengan sholat Jum’at di Mesjid Al Fallah Desa Kembiri. Selepas Sholat Kades Kembiri menjamu rombongan dengan makan siang bersama menikmati potensi kuliner Desa Kembiri seperti guring mengkawak (ikan gabus), gangan baong, sambal serai, sayur umbut nangak (masyarakat lokal mengkonsumsi untuk menambah air susu bagi ibu). “ Ini hasil pancingan pak, kalau sungai Titi Jemang dan Kecupak hingga saat ini  belum boleh diambil ikan sebelum dukun kampung memulai “ kata Kades Kembiri Sukirman. Sungai Titi Jemang dan Sungai Kecupak memang sudah menjadi objek wisata Budaya Nirok Nanggok (fithrorozi).

 

Tanjungpandan (WP), Sirine mobil fordwarder memimpin konvoi kendaraan.

Lebih kurang 30 mobil dari aparatur Pemkab Belitung dan sekitar 50 kendaraan roda dua melewati rute konvoi  dimulai dari Kantor Bupati, jalan A.Yani melewati jalan Diponegoro, Sudirman, Gegedek, Patimura,Gatot Subroto, Jalan Sijuk Jalan Kerjan hingga berakhir di Halaman Kantor Bupati Belitung.

 

Masyarakat pengguna jalan pun dihimbau untuk menghidupkan lampu disiang hari sebagai wujud dukungan terhadap upaya penanggulangan narkotika. Hingga bulan April 2008, narapidana narkoba yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cerucuk, Badau sudah berjumlah 12 orang.

 

Oleh karena Badan Narkotika Kabupaten Belitung melalui  surat Nomor 008/BNK/V/2008 tertanggal 9 Mei 2008 mengumumkan ke setiap kecamatan rencana pemberian penghargaan kepada mereka yang berdidikasi luar biasa dalam upaya pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN). Namun sampai batas 22 Mei 2008 data calon nominasi penerima penghargaan dari pihak kecamatan tidak ada.

 

Selain konvoi kendaraan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI ) yang jatuh pada tanggal 26 Juni 2008 akan dimeriahkan dengan Gerak Jalan Santai pada tanggal 6 Juli 2008. Pelaksanaan  HANI 2008 kali ini  menggusung tema “ Jauhkan Narkoba dari Kehidupan dan Lingkungan Anda”.

 

Maksud BNK memperingati HANI 2008, pertama, mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang bahaya narkoba dan pentingnya upaya untuk memberantas peredarannya. Kedua Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap sindikat penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya. Ketiga, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat

 

Badan Narkotika Kabupaten Belitung dibentuk berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 7 tahun 2005 tanggal 14 Juni 2005 tentang Pembentukan Badan Narkotika Kabupaten Belitung yang diketuai oleh Andi Saparudin Lanna, SH didampingil Wakil Ketua I Wakapolres Belitung dan Kasie Pidum Kajari Tanjungpandan sebagai Wakil Ketua II (fithrorozi).

Tanjungpandan (WP), ketika Kolonel Czi Soemarsono menjabat Bupati Belitung jumlah Pegawai Negeri 2.612 (5%), Karyawan UPTBel 9.724 (18,61%), Karyawan Swasta 5.951 (11,39 %), Perdagangan Pengusaha 2.090 (4%), Tani 10,972 (21%), Nelayan 6,792 (13%) dan lain-lain 14.109 (27%). Ini menunjukkan sektor pertanian dan pertambangan menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan.

 

Namun pendapatan yang tinggi tanpa dibarengi perhitungan resiko bukan tidak mungkin akan menurunkan produktivitas tenaga kerja itu sendiri.  Menyadari resiko yang tinggi Dinas Pertambangan dan Energi menyelenggarakan Sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pertambangan Umum.

 

Dalam penerbitan Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD), Pemerintah Kabupaten Belitung senantiasa mempedomani ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum.

 

Selain melakukan pengawasan, terhadap perusahaan pertambangan yang ada di daerah ini, Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan pembinaan, termasuk pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 555.K/26/M.PE/1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.

 

Wakil Bupati Andi Saparudin Lanna,SH dalam sambutannya menghimbau agar potensi sumber daya alam yang ada di Kabupaten Belitung dikelola dengan sebaik-baik-nya untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, tanpa menimbulkan gejolak sosial atau kerusakan lingkungan hidup

 

 

Kegiatan Sosialisasi ini diselenggarakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal  24 hingga 26 Juni 2008 di Pondok Impian. Sosialisasi ini menekankan pengelolaan pertambangan, perencanaan reklamasi, dan pengawasan lingkungan.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Ir.Ubaidillah didepan peserta menegaskan bahwa peserta dari Kepala SKPD terkait merupakan ujung tombak sekaligus bertanggung terhadap kegiatan pertambangan.

 

Selama ini perusahan yang sudah membayar kewajiban lepas dari tanggung jawab padahal ada lagi tanggungjawab terhadap lingkungan termasuk keselematan kerja pekerja tambang. Kegiatan ini juga antara lain dihadiri Kepala Bapedalda Maya Hasibuan, SH, Kepada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Drg. Dian Farida.

 

Meski rentan terhadap kerusakan lingkungan namun disisi lain sektor pertambangan ikut membuka lapangan kerja. Ini membutuhkan keterkaitan sektoral dan kerjasama berbagai pihak agar pertambangan tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pertambangan Dan Energi saja sebagaimana yang disampaikan Ir.Ubaidillah di depan para peserta Sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pertambangan Umum (fithrorozi)

 

 

 

Halaman Berikutnya »