Mei 2008


Jakarta (WP) Perubahan iklim, harga dan produksi dunia saat ini akan berdampak pada pembangunan daerah seperti kenaikan minyak mentah dunia. Begitupun pertumbuhan ekonomi sejumlah negara dikwatirkan akan terjadi tarikan modal, barang dan jasa sehingga mempengaruhi makro ekonomi dunia.Penting kerjasama dan membangunan jaringan dengan dunia luar pun akan membuka peluang dan terhindar dari ego lokal di era otonomi Daerah.
Bupati Belitung, Ir.Darmansyah Husein memandang perlu kegiatan ini diikuti untuk meningkatkan kerjasama dan jaringan internasional yang selama dua hari (25-26 Mei 2008) mengikuti Indonesian Regional Investment Forum (IRIF).

IRIF 2008 ini diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) dibuka oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudohono pada tanggal 26 Mei dan berlangsung hingga 27 Mei 2008. IRIF 2008 diikuti 800 investor, delegasi pemerintah provinsi/kabupaten/kota dengan total peserta 1000 orang. Forum ini menawarkan 200 project investasi bernilai lebih dari 19 milyar dollar Amerika yang berasal dari 40 kabupaten/kota di Indonesia.

Presiden mengilustrasikan forum ini seperti “Mak Comblang” (matchmaker) dimana para investor menemukan peluang investrasi karenanya investor diberi peluang menemukan jodoh. Seminggu terakhir harga minyak mencapai $ 133 dollar per barrel yang membuat pemerintah mengurangi subsidi dan meningkatan harga produksi minyak sebesar 28,7%. Kebijakan ini sungguh sulit dan tidak popular . Tapi ini bukan masalah dan keputusan Jakarta saja ini masalah Indonesia, kabupaten/kota dan kecamatan. Jadi Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

IRIF 2008 ini juga menghadirkan Prof.Dr.Dorojatun KuncorJakti, Dr. Budiono (Menko Ekonomi), Prof.Dr.Ginanjar Kartasasmita (Ketua DPD-RI), Muhammad Lutfi (Ketua BPKM), Tun Musa Hitam (Mantan Wakil PM Malaysia), Dato’ Azman Mokhtar (Direktur Pelaksana Khazanah Nasional) dan dialog pelaku usaha yang dipimpin Tantri Abeng.

Konsep ekonomi pembangunan mendasari beberapa teori mulai dari teori Keynesian, Borderless (tanpa batas), Teknologi Informasi (Cyber) dan Pengganda (matematika). Teori ini mendukung strategi efektif dalam ekonomi baru . Negara melakukan regionalisasi wilayah untuk menciptakan “Unit Strategi Bisnis”. Sementara pemerintah daerah hendaknya dapat menciptakan kawasan strategis (cluster) dengan menyusun daftar prioritas investasi (shortlist) jelas Dr.Kenichi Ohmae yang dijuluki Mr. Strategi

Ditengah kekuatan globalisasi perekonomian desa dapat memainkan perannya dalam perdagangan dunia. Ekonomi di desa bisa lebih tahan terhadap krisis ekonomi dibanding perkotaan. Hal ini disebabkan ekonomi pedesaan mampu melakukan mitigasi terhadap dampak negatif krisis. Menurut Thaksin Shinawatra, ekonomi pedesaan bukannya tidak mampu mengimbangi lajunya pertumbuhan ekonomi di kota. Namun, masyarakat pedesaan tidak memperoleh kesepatan yang sama. Padahal, keseimbangan itulah yang akan mendorong pertumbuhan di kedua wilayah. Mantan Perdana Menteri Thailand ini menjadi pembicara terakhir IRIF 2008 dengan makalah “The Development of Rural and Provicial Economies for National Competitiveness”.

Dampak dan manfaat d IRIF 2008 bagi Pemerintah Kabupaten Belitung adalah :

a. Melalui kegiatan IRIF, pemerintah daerah diharapkan dapat mempelajari bagaimana memperbaiki ilim investasi dan melihat peluang dari projek besar. Pengambil keputusan seperti Presiden dan Wakil Presiden, Menko Ekonomi menjelaskan bagaimana investasi telekomunisi, energi, biofuels dan sector lain dapat memicu pertumbuhan ekonomi Forum ini mempertemukan partner bisnis merupakan peluang untuk memperkenalkan potensi dan meningkatan peluang investasi di daerah.

b. Mengacu pada pandangan Dr.Kenichi Ohmae, untuk mengembangkan potensi sumberdaya, perlu meningkatkan kerjasama kawasan. Indonesia ikut ambil bagian dalam forum BRIC (Brazil,Rusia, India, China) Untuk itu diperlukan visi yang kuat untuk membangun kawasan yang ditetapkan pemerintah seperti kawasan agropolitan Membalong di Kabupaten Belitung. Dari sisi pasokan, kita telah membangunan infrastruktur perdesaan tetpi untuk mendukung pemasaran diperlukan infrastruktur komunikasi sehingga akses pasar dapat lebih terbuka.

c. Kegiatan ini menjadi inspirasi untuk mempromosikan potensi Kabupaten Belitung kepada investor seperti yang dilakukan Kutai Timur di Ritz Cartlon, 26-27 Mei 2008 yang lalu.

Kutai mempromosikan kawasan Pelabuhan Maloy, Kutai Timur dengan letak strategis karena menghadap Selat Makassar tepatnya di Alur Laut Kawasan Indonesia (ALKI) II dengan kedalaman 18 meter-22 meter. Selain itu Kutai Timur berada di kawasan pertumbuhan yakni Kapet Sasamba, Benua Samudra, dan kota perdagangan lainnya di Sulawesi.
Kutai Timur berpotensi di bidang pertambangan yakni ladang minyak bumi seluas 19.000 hektar, gas bumi 20.000 hektar. Cadangan batubara tersedia 3.825.610 MT. Selain itu hasil tambang dari perut bumi seperti emas lime stone, kacilin, frostat, biji besi, gypsum, antimomi, pasir kuarsa. Sektor pertanian telah tersedia sekitar 1,28 juta hektar.

Wapres Jusuf Kalla yang tampil pada hari kedua yakin pada 2010 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8-9% dibandingkan 2008 yang diprediksi hanya 6%. Angka pertumbuhan 8-9%, kata Kalla, dengan mudah bisa dicapai karena saat ini Indonesia memiliki tabungan ekstra yang besarnya hampir mencapai 2 miliar dolar AS. Dana itu disiapkan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

“Dalam tiga tahun kita akan mengerjakan 10 ribu proyek yang dimulai awal tahun ini. Bayangkan, 225 juta penduduk dengan pertumbuhan 8-9% dengan mengurangi subsidi, mengubah gaya hidup, lebih mudah mendapatkan izin dan lebih banyak eksplorasi gas dan energi,”

Kalla berharap investor tidak takut lagi dengan korupsi yang menjadi momok di Indonesia, sebab pemberantasan korupsi kita tidak main-main lagi (fithrorozi).

MARAS TAUN PEREPAT

 

Membalong (WP), Seperti daging, lepat belangkai (besar Red) yang dipersiapkan dengan berat 75 kg, diiris dengan penuh tenaga.  Syamsudin Basari, Wagub Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didaulat untuk memotong sekaligus menyerahkan lepat besar kepada tokoh masyarakat. Simbol melayani ini sekaligus memberi makna penghargaan kepada dukun kampong yang telah menjaga wilayah perdukunan Dusun Rejosari dan Dusun Prepat.

 

Maras (potong bahasa Indonesia) tahun  diartikan sebagai momentum masyarakat kampung memulai tahun baru berusaha. Tanda syukur atas keberhasilan panen padi sudah ada sejak puluhan tahun yang lampau ketika masyarakat mengenal pertanian. Lahan yang subur dan ketersediaan sumber air menjadi titik pusat kegiatan masyarakat. Cluster terkecil dalam tata ruang tradisional disebut Kubok. Satu kubok ditempati beberapa keluarga yang mengolah lahan padi ladang untuk menghasilkan beras baru. Dengan adanya istilah beras baru bukan berarti beras lama yang telah disimpan tidak dimanfaatkan. Masyarakat bukan saja mencadangkan pangan untuk masa-masa sulit tetapi juga mencadangkan lahan untuk ditanami buah-buahan. Lahan tersebut dikenal dengan sebutan Kelekak. Selain menghasilkan buah, kelekak  dimanfaatkan sebagai kawasan cadangan air (catchment area). Kepala Desa Prepat, Hasbi Rachman menjelaskan, dahulu produksi panen padi kami paling tinggi 4 ton/hektar per musim tanam, tetapi pada Agustus 2007 produksi pertanian menjadi 6.3 ton/hektar per musim tanam dan Februari 2008 meningkatn menapai 7,8 ton/hektar per musim tanam. Ini berkat adanya teknologi PTT Padi Terpadu dan bimbingan dari Tim Prima Tani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Memang tidak semua lahan di Belitung ini yang sesuai untuk pertanian, tetapi kita meski mampu mensiati kondisi” ujar Bupati Belitung,Ir.Darmansyah Husein di depan para peternak dan petani. Beberapa komoditas seperti manggis yang disebut-sebut ratunya buah bahkan bisa kita ekspor.  

 

Namun seiring dinamika sosial dan ekonomi yang semakin cepat, aktivitas utama masyarakat tidak lagi bertumpu pada lahan pertanian. Pengamat Sejarah Belitung, Salim YAH melihat ada perubahan fungsi, makna dan cara penyelenggaraan Maras Taun. Dulu maras taun tidak mengenal istilah lepat besar bahkan istilah lepat pengiring, lepat laki dan lepat bini seperti yang disebut  protokol acara Maras Taun pun jarang terdengar. Dengan adanya  Maras Taun diharapkan bukan saja seni tradisional menjadi terpelihara tetapi juga memberikan penekanan kesinambungan strategi ketahanan pangan. Sumbangan beras ketan bahan baku lepat sebagian bagian yang tidak terpisahkan dari ritual Maras Taun yang mengidikasikan adanya kebersamaan, rasa saling mengenal dan simbol produktivitas.  Pada tahun ini setiap wilayah  menyumbang 100 lepat dan 20 lepat dari warga masyarakat. Beras yang menjadi lepat inilah yang akan dimakan bersama-sama pada saat puncak acara maras Taun. Selain aneka hiburan, juga dihidangkan aneka makanan tradisional seperti emping beras, lepat yang dibungkus kantong semar atau ketakong (nepenthes

Hasbi Rachman, Kepala Desa Prepat yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Maras Taun menjelaskan hiburan rakyat yang ditampilkan dalam maras tahun ini ditujukan untuk mengangkat seni barik (seni tradisional) lama antara lain, Beripat-Beregong, Drama tradisional Muluk, Lesong Panjang dan Organ Tunggal. Hiburan rakyat ini diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam dari tanggal 17 hingga 23 Mei 2008.

 

Diiringi musik Sebelum ritual dimulai pembaca acara menyampaikan pengumuman bagi warga yang pindah atau ingin meminta sesuatu karena kendala berusaha diharapkan menemui dukun dan menjelaskan prosesi ritual maras tahun mulai dari memanjat doa selamat, ritual mengunci kampong, nyucor aik sembilan hingga menampilkan hiburan tradisional. Tepat pada pukul 14.00 wib ritual maras taun pun dimulai

 

“ Ndak banyak nok dapat kamek sampaikan, takut ade nok Salah” ujar Dukun Kampong Prepat Jemain didampingi dukun muda pada saat menerima seserahan sejumlah makan oleh tokoh masyarakat. Ritual maras tahun bertempat di rumah Dukun Kampong. Dalam masyarakat Belitung dikenal dua aliran perdukunan, yakni aliran perdukunan Setara Guru dan Dukun Malaikat.

 

Diakhir acara Wakil Gubernur menyerahkan potongan lepat besar kepada dukun kampung, Bupati Belitung, Ir.Darmansyah Husin, Camat Membalong, Anas Nashito, SH, Anggota DPD MPR-RI, Fajar Fachiri Husni, tokoh masyarakat Mahdani Miram, tokoh budaya Salim YAH. Maras tahun kali ini selain meresmikan Kampong Ternak Rejosari juga ditampilkan hasil produksi masyarakat dalam bentuk pameran yang juga ditinjau oleh unsur Muspida. Ritual Maras Taun hendaknya mendorong pengembangan dunia kepariwisataan di Kabupaten Belitung” ungkap Bupati. Sepanjang bulan April dan Mei ini  ritual Maras Tahun diselenggarakan mulai dari Kecamatan Selat Nasik, Membalong dan Badau  bahkan Perawas dan Buluh Tumbang, dua desa yang berada di kecamatan Tanjungpandan ikut melaksanakan Maras Tahun. Ini menunjukkan tingkat kepedulian masyarakat dalam melestarikan seni budaya tradisional semakin hari semakin meningkat. Keinginan untuk menjadikan maras tahun sebagai  agenda wisata daerah juga disampaikan Hasbi Rahman Kepala Desa Prepat melalui pantun.

 

Tanam Telase Bela Dapur

Sekatkan Tiang Berene Paku

Terimakasih kasih baginda Wakil Gubernur

Selamat Datang Warga La Menunggu

 

Berase ketan nyaman de Lida

Beras bebumbun be basoan la Uda

Bila berkenan Tuan Baginda

Maras Taun mohon di agenda

 

Beras betimbun sedeka gawekan

Panen raya padi tuaikan

Maras Taun la Dilaksanakan Peran Baginda kami mohonkan

 

  

 

17-23 Mei

Guna mengangkat kembali ciri khas Seni Budaya masyarakat Membalong, Kabupaten Belitung, pada tanggal 17-23 Mei 2008 digelar kegiatan Maras Taun yang dipusatkan Desa Perpat. Pada tanggal 17 Mei 2008 akan ditampilan Hiburan Rakyat yakni Campak Darat dan Beregong. Pada tanggal 18 mei Bupati direncanakan akan meresmikan kandang ternak (Bulgren) dan Temu Wicara dengan Warga Dusun Karang Asem, pada minggu malam di kediaman Dukun Perpat digelar Beripat Beregong dari Desa Perpat dan Dusun Parang Bulo pada hari Selasa, 20 Mei, kesenian lama Dulmuluk Desa Kembiri akan tampil seetlah penampilan permainan  Lesung Batang sehari sebelumnya. Upacara Maras Tahun yang disebut sebagai gawai gede (perhelatan besar) juga menampilkan Orkes Musik Stania 97 (21 Mei), Orgen Tunggula pada tanggal 22 dan 23 Mei 2008.

15-18 Mei

 Kabupaten Belitung ikut serta  dalam Kabupaten Belitung pada tanggal 15-18 Mei 2008 di Jakarta Convention Centre, Jakarta.  Kabupaten Expo 2008” merupakan serangkaian kegiatan ajang promosi, publikasi, menambah pengetahuan dan sarana pertukaran informasi best practices di antara para anggota Badan Kerjasama Kabupaten Seluruh Indonesia (BKKSI) dengan para kepala daerah/walikota yang berasal dari negara lain.

7-11 Mei

Pameran KUKM Batam Expo tanggal 7-11 Mei 2008, di Gedung SPC (Sumatera Promotion Centre)  Batam Centre menggelar pameran KUKM yang diikuti 130 daerah  yang menampilkan produk UKM 

 8 Mei

 TVRI dialog interkatif dengan sejumlah mahasiswa yang menampilkan tiga narasumber, Walikota Tomohon, Bupati Belitung,Ir.H.Darmansyah Husein,  Menteri Suryadharma Ali mengulas kebijakan pengembangan KUKM di Indonesia, perkembangan UKM Bunga di Kota Tomohon dan UKM berbasis kelautan di Kabupaten Belitung pada Program Acara  Indonesia Bangkit, malam Pukul 20.00 -21.00 wib 

 

Sejak militer mengambil peran, perjalanan hidup berbangsa dan bernegara banyak yang diambil alih oleh militer bahkan nama-nama jalan diganti dengan tokoh-tokoh militer, sebagian besar pejuang kemerdekaan tetapi sebagian lagi karena ada pertentangan politik dan dianggap menentang pemerintah atau sering disebut makar.

Sebelumnya menjadi Jalan Angkasa misalnya dulu mengabadikan nama seorang tokoh. Tapi konon tokoh tersebut diindikasi terlibat dengan organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia maka nama jalan di Jakarta Pusat itu pun diganti.

Nama –nama jalan itu membangkitkan daya ingat orang atas jasa-jasa dimasa hidup. Namun beberapa nama bahkan tidaklah tidak pernah diabadikan dalam bentuk apapun meski perannya juga besar seperti peran Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono dalam sejarah perjuangan masyarakat Belitung.

Marsidi Judono adalah orang Indonesia pertama yang berani bicara soal keluarga berencana (KB). IUD pertama dipasangnya pada 1956. Padahal, ”Secara politis Presiden Soekarno tidak setuju KB, walaupun secara pribadi ia prihatin terhadap kesehatan kaum ibu,” katanya.

 

Tingginya angka kematian bayi membangkitkan jiwa pelayan kesehatan masyarakat ini salah satu motif untuk menggerakkan Keluarga Berencana ” masyarakat umumnya cenderung memiliki banyak anak, untuk cadangan,” ujar Marsidi Judoni, pendiri Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 1957, itu. PKBI inilah yang menjadi cikal bakal Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang ada sekarang. Untuk jasa- jasanya di bidang KB, Oktober 1982, ia menerima Certificate of Merit for Outstanding Contribution to Reproductive Health Care dari World Academy of Sciences.

Meski bergelar dokter, beberapa teman-temannya di Simpang Tige (Belitung Timur kini) memanggilnya Kek Dukun. Secara geografis Simpang Tige berada ditengah-tengah kekuasaan administrasi, yakni Belitung timur (Oost Hook) dan Belitung Barat. Banyak waktu dihabis bapak dari dua anak disana.


Anak kedua dari 10 bersaudara ini berayahkan seorang asisten wedana di masa sebelum Perang. Jabatan ayahnya itu memberinya peluang masuk sekolah khusus untuk anak Eropa (ELS) di Ponorogo. Pendidikan menengah dan tinggi ditempuhnya di Jakarta, sampai meraih predikat Arts (dokter), 1936. Baru 1951, bekas anggota Jong Java dan Indonesia Muda ini mengambil keahlian di bidang kebidanan dan penyakit kandungan pada Universitas Amsterdam, Negeri Belanda. Soal KB didalaminya pada lembaga riset KB Margaret Sanger, New York, AS, 1956.Sebagai dokter pertama kali bertugas di Tambang Timah Bangka. Pada awal Kemerdekaan, Judono pernah menjabat Wakil Kepala Daerah Belitung, sambil merangkap Kepala Dinas Kesehatan setempat.

(Didi) panggilan kecil Marsidi .P.S Yudono ,memiliki dua anak. Seorang bergelar sarjana hukum, seorang lagi sarjana ekonomi yang juga doktor. Si bungsu cukup dikenal sebagai tokoh nasional yakni Billi Joedono. Satrio “Billy” Budihardjo Joedono lahir di Pangkalpinang, Bangka pada 1 Desember 1940 pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan (1993-1995) sebelum Departemen Perdagangan dijadikan satu oleh Presiden Soeharto dengan Departemen Perindustrian menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) pada tahun 1996, serta menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan 1998-2003

Mantan kepala pemerintahan nasional RI di Belitung 1945 ini meninggalkan Pulau Belitung tahun 1952. Kembali ke Jakarta, ia menempati posisi Lektor Kepala FK UI, 1952-1958, dan selama 11 tahun berikutnya menjadi guru besar di UGM, Yogyakarta. Sejak 1977 Judono diangkat sebagai penasihat ahli Kepala BKKBN Pusat, setelah tujuh tahun menduduki jabatan Deputi Ketua.


Rambutnya sudah tidak ada yang berwarna hitam. Giginya juga telah banyak yang palsu. ”Hampir setiap orang ingin berumur panjang, tetapi jarang yang mau berusaha,” katanya. ”Saya ini tidak merokok dan tidak minum alkohol, bukan karena saya haji, tetapi karena ingin sehat dan berumur panjang.” Waktu 24 jam sehari ia bagi untuk tiga kegiatan: bekerja, tidur, dan istirahat, masing-masing selama delapan jam. Dia selalu melakukan olah raga lari pagi selama 30 menit setiap hari, dan berenang tiga kali seminggu.Setelah sekian lama meninggalkan Belitung, pada bulan Oktober 1985 untuk pertama kalinya kembali  mengunjungi tanah kelahiran keduanya. Bersama mantan Sekwilda Idris Sadi (1967-1972), ia  diundang ke DPRD untuk menghadiri serah terima jabatan Bupati Belitung dari Soemarsono ke Kristyanto. Mereka berdua membicarakan kemungkinan ditentukannya Hari Kebangkitan Rakyat Belitung seperti yang dituturkannya dalam Surat yang dikirimkan ke Bupati H.Kristyanto di Tanjungpandan.
 

Sebagaimana Bapak ketahui, sejak beberapa tahun yang lalu, dalam sambutan pada Halal Bihalal Masyarakat Belitung di Jakarta, disinggung gagasan untuk menentukan tanggal 21 Oktober  sebagai hari bersejarah rakyat Belitung yang akan menjadi hari kebanggaannya, Lantas mengapa 21 Oktober, karena pada tanggal 21 oktober 1945 kapal perang Belanda H.M.S. Tromp dengan kedok mewakili “Allied Force” (sekutu-red) berlabuh di Tanjung Pandan untuk melucuti tentara Jepang, namun sebenarnya ingin menduduki Pulau Belitung.

Karena  Kepala Daerah Belitung, K.A. Joesoef tidak berada di tempat maka saya selaku wakilnya menyerahkan secara simbolis tentara Jepang kepada komandan HMS Tromp. Kedatangan kapal Belanda menimbulkan reaksi para pemuda Kampung Parit. Kampung Ujung. Pada malam harinya mereka berkumpul untuk melawan tentara Belanda.

 

Mengenang Masa Berjuang

Judono mengisahkan perjalanannya berkeliling ke beberapa tempat seperti Tanjung Pandan, Simpang Tiga dan Buluh Tumbang, Manggar hingga Gantong mengenang masa-masa berjuang dulu bersama teman-teman dekatnya. 

Dari dokumen yang memuat gagasannya mengenai kemajuan Belitung tidak menampak keinginan untuk mengedepankan kekuasaan terhadap materi. Sebagai pelayan masyarakat dirinya cukup dikenal hingga ke pelosok kampung. Ingatannya sejenak beralih ke pengalaman menarik ketika tentara Jepang membangun lapangan udara di Buluh Tumbang tahun 1945, sebagai dokter saya menolong penduduk yang lengan kirinya putus digigit buaya.

Judono tidak meninggalkan rumah pribadi di Belitung, ketika berkunjung ke Belitung dia menginap di Wisma Timah dibelakang penginapan NV GMB yang dulu menghadap ke pantai. Namun ia sempatkan meninjau rumah yang didiami dari tahun 1943-1947 di Tanjungpandan dan rumah di Manggar  yang ditempatinya tahun 1951  

Tanggal 9 Juli 1989, Judono mengunjungi kampong Simpang Tige dan mencari teman-teman seperjuangannya, namun sahabatnya yang dulu menjabt Lurah Simpang Tige, M.Ali  sudah meninggal dunia lebih dulu. “Simpang Tige adalah desa tempat saya dan kawan-kawan seperjuangan menyelenggarakan PAMURI (Panitia Musyawarah Rakyat Indonesia) bulan Mei 1947 di Balai Kelurahan Simpang Tige.  Lurah M.Ali bersama anak-anaknya Djalil Ali dan Razak Ali, adalah pejuang” ” ujar Judono yang masih sempat menemu  Razak Ali yang tinggal di Kampong Bange’. Razak Ali mantan DPRD yang menjadi pengusaha perkebunan sempat tidak mengenali tokoh perjuangan masyarakat Belitung ini. Tapi Judono punya cara mengulang sejarah. Di tengah kampong seperti ini akan sulit membangkitkan semangat kebersamaan dengan menyebut dirinya professor, tetapi ketika memperkenalkan diri dengan Ki’ Dukun, Razak Ali  pun tersentak. Keduanya berpelukan melepas rindu.

Sore harinya Judono mengunjungi penjara yang dijadikan bangunan Lembaga Pemasyarakatan Tanjungpandan, tempat sel tahanan selama beberapa jam sebelum dipindahkan di sebuah rumah di depan rumah Mayor Textor, komandan serdadu NICA. Kawan lain yang ikut ditahan pada waktu itu (1947) adalah oleh NICA adalah Burhan, Mohommad Saad, Abdul Kadir Mahidin dan K.A. Fattah dan Haji Mas’ud yang nama-namanya tercantum dalam risalah “ Setahun Kenang-Kenangan Indonesia Merdeka di Belitung 17-8-1945 hingga 17-8-1946 “ yang disusun Almarhum Elias.

Selama ditahan NICA, Judono bersama kawan seperjuangannya di masa revolusi dibantu oleh The A Ho, pemilik Gedung Bioskop Tanjungpandan yang ketika berkunjung ke Belitung masih sempat bertemu. Lewat The A Ho dan H.Mas’ud, Judono akhirnya berangkat ke  Jawa untuk bergabung dengan Republik melawan NICA. Waktu itu H.Mas’ud merupakan salah seorang dari sedikit pengusaha pribumi Belitung yang ditugasi mencari dana dukungan.

 

Bangunan Sejarah Yang Hilang

Usai menghadiri seminar ilmiah di Kampus Universitas Indonesia, penulis sempat menyela pembicaaran dua ekonom Indonesia,  Prof. Dorojatun Kunjorojakti dan Prof Billy Judono saat menuruni tangga kampus. Sahabat ditinggalkan, Prof Billy memilih bernostalgia dengan Europesche Lagere School Tanjungpandan yang dulu tempat tempat dia menimba ilmu dan kini digunakan untuk  SMPN 1 Tanjungpandan. Menurut Judono, anaknya juga pernah menimba ilmu di   “Algemene Lagere School “  yang dijadikan Sekolah Rakyat. “Disitu dulunya Didi (Prof.Billy) sekolah, letaknya di depan Mesjid Jami’ sekarang sudah tidak ada lagi “ kata Judono. Orang Belitung mengenalnya sebagai Sekolah Melayu yang terbuat dari papan berlantai semen.

Banyak bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi dirinya dan bagi Belitung tentunya yang sudah hilang. “Pos Polisi didepan kantor GMB dikenal dengan nama Hopwa (dari bahasa Belanda Hooftwacht atau Pusat Penjagaan), sekarang sudah tidak ada lagi.  Begitupun bagian depan klinik sudah menjadi bagian belakang. Tanah kosong dibagian belakang klinik dahulu menghadap ke gunung (permukaan yang tinggi) sekarang sudah penuh bangunan baru seperti rumah Kawilasi, Mesjid dan Gereja baru“ ujar Judono saat itu. Rumah Ir. Verschure, Kepala GMB 1946  yang terletak di belakang Museum Tanjungpandan. Orang Belitung menyebutnya Tuan Kuase. Gunung yang dimaksud Judono sebetulnya hanya permukaannya saja yang tinggi, bangunan ini sudah dibongkar yang ada hanyalah sisa pondasinya, konon bangunan ini angker.

”Kami tidak melihat rumah sakit Pemerintah Daerah sementara rumah-rumah milik UPT Belitung yang tidak dihuni dibiarkan tidak terpelihara. Kami juga mengunjungi Puskesmas  dulunya belum ada. Poliklinik lama Billiton Fonds (milik GMB) sedang diganti dengan poliklinik UPT Belitung yang baru juga melayani rakyat” begitulah Judono mengungkapkan keresarhan hilangnya bangunan-bangunan penting yang mengingatkan kewajiban pemerintah terhadap masyarakatnya.

Di Manggar, tidak berbeda dengan Tanjungpandan. Judono  mendapati Rumah Kepala GMB Manggar Ir. M. Van der Marel diganti menjadi rumah Kawilasi Manggar. Kini sebagian bangunan dirubah untuk keperluan rumah dinas Bupati Belitung Timur. Rumah Kepala GMB ini masih terpelihara dibandingkan dengan bangunan pembangkit listrik Electricshe Centrale (EC) yang hanya meninggalkan pondasi.

Saat keberangkatannya  kembali ke Jakarta, Judono semakian  menaruk harapan besar terhadap kemajuan Belitung di masa datang, dengan melihat potensi dan perkembangannya waktu itu. “ Begitu juga Kota Gantong mengalami banyak kemajuan, kampungnya  bersih dan rumah dari tembok (permanen) bisa dijumpai sepanjang jalan. Rumah sakit GMB lama diganti dengan rumah sakit baru.  Gantong yang kecil juga memiliki Lapangan golf.  Kini tokoh perjuangan masyarakat ini sudah meninggalkan Belitung dan dunia ini. Semoga, keresahannya terhadap bangunan sejarah yang hilang tidak terulang. Bagaimanapun masa lalu menjadi pijakan kita, siapa lagi yang peduli kalau kepada kita yang ditinggalkan. Kepada kitalah Belitung akan mewujudkan harapan besar Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

 

Tulisan ini sebagian dikutip dari Suara Masyarakat Belitung  Nomor 4, Juli-Sept 1989 dan Nomor 5, 12 Juli 1989 (fithrorozi)

Biodata

Nama : Prof. Dr (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

Lahir : Magetan, Jawa Timur, 31 Oktober 1908
Agama : Islam

 

Pendidikan :

·     SD, Ponorogo (1924)

·     SMP, Jakarta (1928)

·     SMA, Jakarta (1929)

·     Geneeskundige Hogeschool, Jakarta (1936)

·     Ginekologi Gemeenteliyke Universiteit Amsterdam Obst (1951)

·     Ahli Keluarga Berencana di Margaret Sanger Research New York (1956)

·     Antoni van Leeuwenhoekhuis Amsterdam (Kanker Instituut) (1965)

·     Radium Hemmet Kankerinstituut Stockholm, (1965)

·     L’Institut Gustave-Roussy Institut Kanker Villejuif, Paris (1965

 

Karir

·     Asisten Bagian Kebidanan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta (1936-1937)

·     Dokter Umum Bangka Tin Winning (1937-1942)

·     Dokter Umum Mitsubishi di Belitung (1942-1945)

·     Dokter di Tanjungpandan (1945-1948)

·     Asisten Gemeentelijke Universiteit Amsterdam (1948-1951)

·     Dokter Ahli GMB Billiton (1951-1952)

·     Lektor Kepala Kebidanan FK UI (1952-1958)

·     Guru Besar UGM (1958-1968) 

·     Staf Ahli Menteri Kesehatan (1968-1969)

·     Deputi Kepala BKKBN (1969-1977)

·     Penasihat Ahli Kepala BKKBN sejak  1977

Halaman Berikutnya »