Peran agama dalam menjaga lingkungan sebenarnya secara dogmatis telah dinyatakan dalam Al-qur’an. Namun kadangkala manusia menjadi makhluk religius ketika bencana sudah didepan mata. Manusia memang cenderung lupa diri dan sombong.  Ketika mendapat bencana selalu merasa sedang diuji atau sedang mendapat hukuman. Toh,  Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya. Ungkapan ini seolah-seolah menutupi rasa bersalah manusia terhadap ciptaan tuhan lain yakni alam semesta.

“Kuciptakan segala isi bumi untuk hidup manusia”, firman Allah SWT ini memaknai begitu besar nikmat yang diciptakan Allah kepada manusia . Sebaliknya jika ini tidak disyukuri akan menjadi malapetaka yang ditanggung manusia itu sendiri. Manusia seakan-akan punya hak preogratif menentukan kapan, dimana dan berapa besar sumberdaya alam yang akan dimanfaatkan. Sementara nafsu manusia semakin tidak terkendali hingga alam terus mendapat tekanan.

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar (Surat ar-Ruum ayat 41) Juga alam surat al-Baqarah ayat 12 ditegaskan “ …… janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.

Pada tahun 2004,  gelombang tsunami meluluhlantakkan pantai Meulaboh hingga ke pusat Kota Banda Aceh dan merenggut banyak korban jiwa. Dunia tersentak, para ahli lingkungan akhirnya bicara, seandainya gelombang dapat ditahan tentu tsunami tidak sampai menyapu harta benda berharga. Saat ini manusia mulai memperhatikan alam bahkan untuk menjinakkan amukan gelombang. Lalu seberapa jauh manusia berpikir dan mengkaitkan fenomena bencana alam dengan sang penciptanya dan bersikap teologis  terhadap pencemaran lingkungan..

Agama lahir dengan segala perintah dan larangannya untuk menyelamatkan hidup manusia dan diyakni sebagai sebagai ajaran dan pedoman hidup. Ajaran ini diturunkan oleh manusia kedalam tradisi keseimbangan dengan makhluk ciptaaan Tuhan yakni tumbuhah, hewan,  alam hingga makhluk halus. Manusia diperbolehkan memanfaatkannya alam dengan batas-batas yang wajar dan sikap yang manusiawi. Dalam ajaran Hindu Bali dikenal  konsep Tri Karsa Kirana yang menekankan keseimbangan hubungan antar sesame manusia dengan  alam dan Tuhan

Namun ironisnya, mengapa manusia Indonesia yang dikenal beragama justru dikenal pula sebagai perusak lingkungan, Terumbu karang diracuni dengan potas untuk memenuhi permintaan pasar ikan karang tetapi mengabaikan hak anak cucu untuk menikmati kekayaan alam  yang sama dengan generasi terdahulu.

Dalam konteks teologi lingkungan, tidak satupun agama mengabaikan penyelematan lingkungan untuk generasi mendatang. Meski alam diciptakan untuk manusia tetapi ada batas-batas eksploitasi. Sebab amat banyak sumberdaya alam baik yang bisa diperbaharui maupun yang tidak bisa diperbaharui yan dikuras tanpa batas.

Semestinya selain sebagai makhluk beragama, manusia adalah makhluk sosial yang mengedepankan  hubungan keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat  luas. Padahal masalah lingkungan hidup adalah masalah yang menyangkut hidup hari ini dan masa depan manusia. Dengan demikian pengelolaan lingkungan hidup secara manusiawi merupakan syarat ekologis bagi masa depan kehidupan di bumi ini

 

Mengejar pertumbuhan ekonomi

Berlakunya otonomi daerah membuat daerah membaca peta keuangan hingga sampai pada upaya  peningkatan PAD setinggi-tingginya dengan memicu pertumbuhan ekonomi. Karena sebagian besar daerah masih bertumpu pada potensi sumber daya alam tidak pelak sumberdaya alam semakin dikuras. Sayangnya eksploitasi alam seperti melalui sektor pertambangan di satu sisi mengurangi potensi sumberdaya alam berbasis pertanian dan kehutanan di sisi lainnya.

Ahli ekonomi menyadari ada trade off (saling dikorbankan) antara pertumbuhan yang ingin dicapai dan pemerataan yang dapat dirasakan. Dimana hasil atau “kue  pembangunan” tidak bisa dinikmati kelompok miskin sehingga mereka termarginalisasi hari ini dan hari esok. Atas gejala ini pemerintah dituntut untuk menekan investor untuk untuk menerapkan tanggung jawab sosial kepada masyarakat melalui  mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR) yang mengharuskan swasta membiayai infrastruktur sosial masyarakat. Tentunya bukan untuk memuluskan rencana eksploitasi alam di wilayah tersebut tetapi mengupayakan kesejahteraan masyarakat. Karena diantara harta yang dikumpulkan ada hak orang lain yang harus mereka terima. Islam mengenal istilah zakat, infag dan sadaqah

Hampir seluruh negara yang memiliki kekayaan alam tak henti-hentinya dilanda masalah mulai dari perang saudara di Afrika ataupun invasi militer Amerika atas Irak. Sementara  negara-negara industri maju yang harus akan bahan baku terus memproduk barang-barang yang berkonstribusi terhadap pencemaran lingkungan. KTT Bumi memprediksi  kondisi dunia pada 10 tahun mendatang akan meningkatkan emisi gas karbondioksida (gas rumah kaca) global lebih dari sembilan persen. Sementara sejak 1990, kawasan hutan menciut 2,2% dan  sekitar 27% terumbu karang rusak berat karena pencemaran, pemanasan air laut, penambangan dan penangkapan ikan. Alasan, kebijakan,  perhitungan dan manfaat ekonomi yang didapat  pada akhirnya tidak dapat berbicara banyak ketika kerusakan lingkungan harus dipertanggungjawabkan. Hingga saat ini nasib masyarakat Sidoarja yang terkena dampak usaha PT.Lapindo Brantas masih terkatung-katung.

Pengolahan alam tidak berbeda jauh dengan pengolahan keuangan. Islam menekankan konsep keadilan terletak pada usaha untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Konsep ini semestinya juga berlaku dalam mengelola keunangan negara. Pada tahun 1992 belanja luar negeri Indonesia mencapai US$ 69 miliar tetapi pada tahun 2000 menciut menjadi US$ 53 miliar tetapi beban hutang negara berkembang. Negara dalam transisi ekonomi (Eropa Timur) meningkat 34%. Ditengah beban hutan luar negeri yang cukup besar, negeraa di dunia justru meningkatkan belanja militer hingga mencapai lebih dari US$2 milyar per hari. Ironisnya belanja penyelematan lingkungan seperti yang digagas oleh UNEP harus berjuang dengan anggaran terbatas yang hanya US$ 100 juta.

Memang ada binatang yang harus diciptakan sebagai pemangsa. Namun predator alam ini menjaga keseimbangan populasi dan ekosistem. Tetapi tentunya Tuhan memberikan kesempurnaan manusia agar tidak tidak ikut menjadi  predator alam. Semoga  globalisasi pun bukan predator dimasa depan.(Fithrorozi)

About these ads