Struktur ekonomi Kabupaten Belitung sangat tergantung dengan energi fosil (minyak bumi). Sektor pertambangan bukan saja mendorong peningkatan investasi dan output tetapi juga mendorong permintaan BBM. Sementara kesenjangan antara bahan baku subdisi dan bahan bakar industri yang cukup lebar memicu kenaikan harga-harga yang berasal dari luar Belitung.

Sampai saat ini, investasi di sektor kelistrikan dirasakan masih minim bahkan di wilayah pulau kecil yang merupakan kontributor utama sektor perikanan dan swasta tidak berminat menyediakan energi listrik. Pada tahun 2006, produksi listrik di Kabupaten Belitung yang dihasilkan PLN Cabang Tanjungpandan berjumlah 72.184.194 kWh, menurun dibandingkan tahun 2005 yang menghasilkan 66.814.034 kWh.
Meskipun produksi listrik menurun, namun jumlah pelanggan mengalami peningkatan terutama kelompok rumah tangga kecil. Secara umum pasokan listrik untuk rumah tangga mencapai 92.45 % dari total pelanggan.

Pada tahun 2006 jumlah pelanggan listrik PLN Cabang Tanjungpandan mengalami peningkatan sebesar 39.478 pelanggan dari 39.528 pelanggan pada tahun 2005. Jenis penggunaan listrik terbesar berasal dari rumah tanggal kecil (R1) sebanyak 35.700 pelanggan, keperluan bisnis kecil (B.1) sebanyak 1.300 pelanggan dan keperluan rumah tangga sedang (R2) sebanyak 247 pelanggan. Untuk mengatasi krisis energi yang terjadi, Pemerintah Kabupaten Belitung merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan baku batubara dengan kapasitas 2 x 15 MW. Hal ini ditujukan untuk mendorong output (pertumbuhan ekonomi) dan peningkatan investasi di Kabupaten Belitung.

Sementara kebutuhan listrik untuk fasilitas umum seperti lampu jalan belum merata. Terdapat 1.340 titik titik lampu jalan yang akan menjadi target pergantian dari PLTD ke PLTS dibawah tanggungjawab Dinas Pertambangan dan Energi. Sementara Dinas Perikanan dan Kelautan bertanggungjawab terhadap pemenuhuhan kebutuhan listrik rumah tangga di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Hal-hal tersebut diatas menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengalakkan energi alternatif seperti biodiesel, biomassa, dan produk biofuel lain yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang tak lain bagian dari Visi Pembangunan Kabupaten Belitung 2005-2009 dalam mewujudkan masyarakat maju dan sejahtera berbasis ekonomi kerakyatan. Selain itu, pengembangan energi alternatif diharapkan mendorong penggunaan faktor-faktor produksi secara efektif dan efisien dalam mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan. Beberapa teknologi yang dicanangkan, meliputi :

PLTS untuk Skala Rumah Tangga
Pemerintah Kabupaten Belitung berupaya menyediakan energi bagi masyarakat pesisir berbasis non BBM, yakni tenaga surya. Dalam kurun waktu 2006-2007, pemerintah Kabupaten Belitung mendistribusikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk wilayah pesisir terutama pulau-pulau terpencil yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus Bidang Perikanan dan Kelautan serta Bidang Pertambangan dan Energi.

Pada tahun 2006 Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Belitung menyediakan 230 unit PLTS untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh rumah tangga nelayan di Pulau Gersik dan diperluas hingga ke Pulau Kuil dan Pulau Sumedang yang merupakan pulau terluar Kabupaten Belitung, masing-masing sebanyak 86 unit dan 15 unit. Sedangkan Dinas Pertambangan dan Energi pada tahun 2007 menempatkan 145 unit PLTS yang masing-masing ditempatkan di wilayah daratan sebanyak 90 unit dan di pulau (wilayah pesisir ) sebanyak 55 unit.

Saat ini pemanfaatan PLTS ditujukan untuk penerangan rumah namun bukan mustahil pemanfaatan PLTS ini dapat mendukung peningkatan ekonomi masyarakat pesisir, karena selain ramah lingkungan, ancaman kelangkaan BBM masih menjadi kendala utama peningkatan ekonomi masyarakat .

Bahan Bakar berbasis Sawit
Pada tahun 2004 luas areal tanaman muda perkebunan sawit 4.020,15 hektar, tanaman menghasilkan seluas 15.283,52 hektar. Dari 19.303,67 hektar luas areal perkebunan sawit di Kabupaten Belitung telah menghasilkan 181.241,07 ton. Output yang dihasilkan sektor primer ini mendorong konstribusi yang cukup signifikan di sektor industri pengolahan bagi perekonomian daerah. Pada tahun 2007 realisasi exsport palm oil berjumlah 239.554.984 ton dengan nilai 24.608.347,200 US $ atau meningkat dari 132.029.345 ton dengan nilai 12.238.763,980 US $ pada tahun 2003.
Peningkatan produksi CPO tersebut diatas menunjukkan potensi CPO masih memungkinkan untuk dikembangkan sebagai bahan bakar terbarukan yang selama ini dimanfaatkan untuk memenui kebutuhan listrik perkebunan. Hal ini pula yang menjadi argumen investasi di sektor industri pengolahan berbasis perkebunan tidak terpengaruh dengan keterbatasan listrik yang dipasok oleh PLN Cabang Tanjungpandan. Pemerintah Kabupaten Belitung berupaya mewujudkan kemitraan pemerintah-swasta-masyarakat untuk mengoptimalkan produksi perkebunan kelapa sawit dalam rangka penyediaan energi non PLTD.

Budidaya Jarak Pagar.
Dengan mempertimbangkan kondisi lahan kritis yang cukup luas pasca tambang, tanaman jarak pagar diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi lahan di Kabupaten Belitung. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang ditegaskan dalam Inpres No. 1/2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain (terbarukan).

Pada tahap awal Pemerintah Kabupaten Belitung merencanakan mengembangkan lahan kritis yang diupayakan oleh masyarakat di Pulau Seliu dan bekerjasama dengan BUMN untuk membangun mesin pengolahan penghasil minyak jarak. Rencana ini sekaligus memberikan kepastian harga dan komitmen untuk menghasilkan energi listrik yang pada gilirannya Pulau Seliu akan menjadi Desa Mandiri Energi dan menjadi desa percontohan bagi desa-desa di kecamatan lain. Untuk mengimplementasi rencana pengembangan jarak pagar sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan pemerintah Kabupaten Belitung telah melakukan kajian pembangunan biodisel di Pulau Seliu.

Disamping itu, dalam jangka panjang Kabupaten Belitung akan mengoptimalkan sumberdaya alam dalam mewujudkan energi terbarukan, yakni dengan pengolahan tanaman untuk memproduksi etanol dam pemanfaatan angin untuk mendukung sistem energi hibrid.

Etanol.
Banyak ahli percaya bahwa sumberdaya alam dapat dirancang untuk menghasilkan bahan bakar yang murah, mudah, ramah lingkungan. Untuk memproduksi energi etanol, riset dan pengembangan menjadi mutlak dilakukan pun dengan memasukkan perhitungan ekonomi. Salah satu bahan baku yang sejak lama sudah dihasilkan oleh perkebunan rakyat adalah pohon nira dan ketela pohon. Disamping beragam tanam yang tumbuh alami seperti pohon nipah dan sagu.

Hibrid Power System atau Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH)

Adalah salah satu alternatif dari sistem pembangkit yang memanfaatkan matahari untuk menjadi energi listrik melalui photovolltatic modul (green energy). Dengan pemanfaatan energi matahari yang cukup tersedia, menjadikan PLTH sebagai energi yang ramah lingkungan dan diharapkan mampu digunakan oleh masyarakat.

Limpahan sumberdaya alam yang ada hendaknya direspon pemerintah dan masyarakatnya untuk menghasilkan energi terbarukan terutama dalam meminimalisasi dampak kenaikan BBM terhadap pendapatan masyarakat miskin terutama di wilayah pesisir. Dengan demikian, Pemerintah Kabupaten Belitung merasa perlu menitikberatkan pengelolaan lingkungan hidup sebagai barang publik. Lingkungan hidup memberikan nilai pendukung bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan, yakni nilai guna (user value), nilai pilihan (option value) dan nilai keberadaan (existence value).

Dengan kebijakan fiscal (APBD), pemerintah Kabupaten Belitung terus berupaya menstimulasi produktivitas masyarakat meskipun kendala dan tantangan semakin besar. Oleh karena pembangunan infrakstruktur energi didistribusikan hingga ke pulau-pulau terpencil agar masyarakat dapat mengakses sumberdaya ekonomi yang tersedia. Komitmen pemerintah Kabupaten Belitung dalam mengembangkan produksi biofuel dapat didukung oleh Pemerintah Pusat baik pendanaan maupun strategi pengelolaannya.

Tantangan terbesar adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi bahan baku biofuel dan mendorong minat petani untuk membudidayakan komoditas biofuel. Setidak sejumlah permasalahan yang perlu mendapat perhatian dimaksud terkait nilai jual yang kompetitif, kepastian pasar berikut tata niaganya sebagai mata rantai yang tidak saling terputus yang memungkinkan untuk mendukung produksi bahan bakar terbarukan.

Bagi pemerintah Kabupaten Belitung, peningkatan harga minyak dunia bisa menjadi hikmah untuk mengembangkan bahan bakar terbarukan biodiesel ataupun etanol, dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, yakni meningkatkan produksi CPO, pemanfaatan lahan kritis pasca tambang, meningkatkan pendapatan petani, dan mengintroduksi teknologi ramah lingkungan yang sejalan dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan.(Fithrorozi)