Januari 2008


PROFESIONALISME MENUJU KELUARGA SEJAHTERA LAHIR BATHIN

Sebagai mitra pemerintah dalam memberdayakan masyarakat, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan keluarga, peran PKK perlu ditingkatkan dalam upaya menuju keluarga sejahtera lahir dan batin. Peran PKK harus lebih rasional, realistis dan responsif sesuai kapasitas, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki sehingga hasil kerja dan diakui serta berdampak bagi keluarga dan masyarakat pada umumnya. Peningkatan profesionalisme PKK inilah yang menjadi tema peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-35 tahun 2007.

Istilah profesionalisme sudah dikenal luas dikalangan masyarakat. Namun ada kecenderungan pengertian yang muncul dimasyarakat umum seolah-olah hanya diperuntukkan bagi personil tingkat atas, sedangkan sesungguhnya istilah profesional itu berlaku untuk semua personil mulai dari tingkat atas sampai ketingkat paling bawah. Pengertian profesional secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan menurut bidang dan tingkatan masing-masing. Oleh karena itu seseorang atau tenaga profe-sional tidak dapat dimulai dari satu segi saja, tetapi harus dari segala aspek. Di samping keahlian dan keterampilan juga perlu diperhatikan aspek mentalitas. Jadi yang dimaksud tenaga profesional itu ialah tenaga yang benar-benar memiliki keahlian dan keterampilan serta sikap mental terpuji, juga dapat menjamin bahwa segala sesuatunya dari perbuatan dan pekerjaannya berada dalam kondisi yang terbaik dari penilaian semua pihak.

Peningkatan profesionalisme mutlak diperlukan bagi semua jajaran PKK dari tingkat atas hingga tingkat bawah, khususnya bagi unsur yang berbaur langsung dengan masyarakat, yakni kader PKK. Kebutuhan peningkatan profesionalisme tersebut muncul sebagai upaya memenuhi tuntutan dan dinamika perkembangan dan situasi dewasa ini, agar program-program yang dilaksanakan PKK dapat secara nyata dirasakan kontribusinya dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Keanggotaan Tim Penggerak (TP) PKK memiliki kriteria sebagai berikut, a) bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, b) dapat membaca dan menulis. c) relawan, d) peduli terhadap upaya pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, e) bersifat perorangan dan tidak mewakili suatu organisasi, golongan, partai politik, lembaga atau sektor, f) mempunyai waktu yang cukup dan g) memiliki kemauan dan etos kerja yang tinggi.
Dengan adanya dasar kriteria seperti ini, diharapkan seluruh anggota Gerakan PKK dapat menjadi kader yang handal dan profesional dalam menjalankan program-program PKK demi pemberdayaan masyarakat menuju keluarga yang sehat sejahtera.

GERAKAN PKK

Gerakan PKK merupakan Gerakan Nasional yang tumbuh dari bawah (keluarga) dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Tujuan Gerakan PKK tak lain untuk memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan lahir bathin menuju terwujudnya keluarga yang : beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju mandiri, kesetaraan dan keadilan gender, serta berkesadaran hukum dan lingkungan. Pemberdayaan Keluarga meliputi segala upaya bimbingan, pembinaan dan pemberdayaan agar keluarga dapat hidup sejahtera, maju dan mandiri.

Sejalan dengan visi dan misi Gerakan PKK dalam memberdayakan keluarga, sasaran Gerakan PKK adalah seluruh anggota keluarga yang masih perlu ditingkatkan dan dikembangkan kemampuan dan kepribadiannya dalam aspek :
1. Mental spiritual, meliputi sikap dan perilaku sebagai insan hamba Tuhan, anggota masyarakat dan warga negara yang dinamis serta bermanfaat, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
2. Fisik material, meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, kesempatan kerja yang layak serta lingkungan hidup yang sehat dan lestari melalui peningkatan pendidikan,pengetahuan dan keterampilan.

Untuk mewujudkan hal tersebut memang tidaklah semudah membalik telapak tangan, apalagi penyebab masalah sosial, kemiskinan dan penganguran semakin kompleks. Ini menjadi tantangan bagi jajaran Tim Penggerak PKK dengan segenap unsurnya untuk meningkatkan pemberdayaan kesejahteraan keluarga di Indonesia melalui program-programnya.

Di tahun 2007, TP PKK berupaya untuk mengarahkan 10 Program Pokok PKK pada percepatan penanggulangan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Pertama, di bidang ekonomi, TP PKK dapat lebih mendorong upaya peningkatan pendapatan keluarga, melalui program murni kreasi TP PKK maupun program kemitraan dengan berbagai program pemerintah atau pemerintah daerah di bidang ekonomi, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), program pembinaan usaha mikro, pemanfaatan pekarangan usaha produktif, dan berbagai basis variasi program yang ada. Kedua, di bidang sosial budaya, TP PKK diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya keluarga, melalui peningkatan pelayanan kesehatan seperti posyandu yang harus terus direvitalisasi. Di samping itu, TP PKK juga dapat mendorong meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia melalui upaya pendidikan masyarakat, pelatihan keterampilan perempuan, dan pengembangan wawasan yang dibutuhkan.

Di samping itu, seluruh anggota TP PKK beserta kader PKK dapat berpartisipasi dalam upaya mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga dalam berbagai cara dan variasi kegiatan, seperti melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K-PKK, UPPKS), Pengelolaan Warung Obat Desa (WOD)-PKK, Pengelolaan Program Desa Siaga, pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga, remaja putri dan anggota keluarga lainnya, penyuluhan tentang KB, kesehatan reproduksi, tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, dan penyuluhan tentang makanan beragam, bergizi, berimbang serta pemanfaatan tanah pekarangan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga.

Posisi dan peranan gerakan PKK sendiri selaku mitra pemerintah, memang telah diakui melalui Kepmendagri nomor 53 tahun 2000. Dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor : 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah ditegaskan bahwa bilamana pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, melalui peningkatan pelayanan pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu, melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatlkan prinsip demokratisasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem negara kesatuan Republik Indonesia.

Tugas dan fungsi lembaga pemerintah daerah akan efektif apabila didukung oleh seluruh pemangku kepenting (stakeholder) yakni pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Salah satu lembaga kemasyarakatan yang telah ada dan diakui manfaatnya bagi masyarakat terutama dalam upaya meningkatkan keberdayaan dan kesejahteraan keluarga, adalah Gerakan PKK.

Gerakan PKK yang dilaksanakan secara nasional sejak tanggal 27 Desember 1972, telah mendapat pengakuan dan penghargaan baik dalam negeri maupun dari badan internasional. Selama kurun waktu tersebut 10 Program Pokok PKK tidak mengalami perubahan karena dinilai masih relevan. Dalam pelaksanaannya, prioritas 10 Program Pokok PKK, diserahkan kepada daerah, disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kemampuan yang ada, sehingga tidak merupakan “paksaan” dari “atas” melainkan merupakan “kesadaran” dalam membangun keluarga dan daerah.

Di Kabupaten Belitung, Hari Kesatuan Gerak PKK diperingati dengan menggelar berbagai kegiatan dan perlombaan seperti lomba administrasi PKK, Lomba Azan untuk murid SD dan SLTP, Lomba APE, BKB dan UP2K-PKK, Lomba Lingkungan Halaman Rumah Ketua TP PKK Kecamatan dan Desa, Lomba Menu 3 B, Lomba Masakan 3 B, Lomba Menu Olahan Mie, Lomba Kader Posyandu dan Lomba Posyandu.

Sebagian dari kegiatan ini diikutsertakan dalam perlombaan di tingkat Propinsi dan berhasil menyabet gelar juara II, seperti Lomba Menu 3 B, Lomba Alat Permainan Edukatif (APE) yang diwakili Desa Air Saga Kecamatan Tanjungpandan, Lomba Menu 3 B, dan lomba UP2-PKK yang diwakili UP2K-PKK Desa Badau. Prestasi lain diraih oleh M. Anas yang mendapat juara harapan II dalam lomba Dai dan Daiyah.

Selain kegiatan-kegiatan perlombaan, Tim Penggerak PKK Kabupaten Belitung juga melaksanakan kegiatan bhakti sosial seperti memberikan bantuan ibu-ibu dari kelompok pengajian sebanyak 640 orang, sunatan massal untuk 75 orang anak dari keluarga miskin dan anak yatim, pemberian bantuan untuk anak yatim di Pulau Seliu sebanyak 8 orang, pemberian bantuan untuk 75 orang anak yatim di Kecamatan Tanjungpandan, pemberian bantuan untuk penderita TB Paru sebanyak 80 paket dan pemberian bantuan untuk lansia dan keluarga miskin berupa paket sembako di Kecamatan Tanjungpandan dan Badau.

Dalam mendukung program Tanam dan Pelihara Pohon yang dicanangkan pemerintah pusat, Tim Penggerak PKK Belitung mengaktualisasikannya melalui kegiatan Gerakan Tanam dan Pelihara Pohon seluruh Desa se-Kabupaten Belitung. PKK juga turut andil dalam kegiatan Bedah Kampung di Gang Takas, Kecamatan Tanjungpandan.

Puncak dari Hari Kesatuan Gerak PKK ke-35 Tahun 2008 ini dirayakan dengan mengadakan resepsi yang digelar pada tanggal 26 Januari 2008 di Gedung Serba Guna Pemerintah Kabupaten Belitung yang ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Belitung, Ny. Ir. Hj. Titiek Yoesiati Darmansyah.
Bupati Belitung, Ir. H. Darmansyah Husein selaku Dewan Penyantun Gerakan PKK Kabupaten Belitung mengungkapkan bahwa, program-program PKK telah berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Belitung. Salah satunya di bidang kesehatan keluarga dengan adanya kegiatan Posyandu dan program-program perbaikan gizi lainnya.
Di samping itu, menurutnya, Gerakan PKK juga telah banyak berperan dalam pemberdayaan para anggotanya dengan memberikan pengetahun dan pelatihan-pelatihan. Kesemuanya itu, sesuai dengan tema peringatan yaitu “Melalui Hari Kesatuan Gerakan PKK Kita Tingkatkan Profesionalisme Menuju Keluarga Sejahtera Lahir dan Batin.”
Dalam hal ini, Bupati menyatakan dukungannya terhadap pembinaan-pembinaan kader demi meningkatkan kualitas dan profesionalismenya. “Pembinaan kader harus dilakukan terus menerus mengingat kader-kader PKK merupakan ujung tombak dari keberhasilan program-program PKK dalam mendukung program dan kebijakan Pemerintah. Perhatian terhadap kader harus menjadi prioritas,” tegas Bupati.

Pada kesempatan itu, Bupati juga mengajak semua elemen dalam PKK untuk meningkatkan aktivitas dan tanggung jawab seluruh kader PKK dengan bersama-sam melaksanakan program dan tujuan utama, sehingga peranan PKK sebagai mitra pemerintah dapat direalisasikan dengan sebaik mungkin. “Seluruh anggota PKK juga harus lebih progresif dalam menyahuti berbagai persoalan sosial yang terjadi ddi masyarakat, seperti peningkatan kesehatan masyarakat dengan mengubah prilaku masyarakat agar lebih sadar untuk hidup sehat, mengembangkan kemandirian masyarakat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan serta pengembangan kebijakan kependudukan dan keluarga berencana.
Beliau juga berharap agar Gerakan PKK tidak hanya tercermin pada peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK saja, tetapi bisa dilakukan secara kontinu dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan hingga ke tingkat yang paling kecil yaitu keluarga.


Sementara itu, Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Ny. Effi Mardiyanto, dalam sambutannya yang dibacakan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Belitung, Ir. Hj. Titiek Yoesiati Darmansyah menegaskan bahwa para anggota Tim Penggerak PKK maupun kader PKK merupakan relawan yang bekerja secara sukarela, tanpa menerima imbalan apapun serta bekerja tanpa pamrih. Effi berharap, jajaran PKK dapat memperkokoh prinsip kerja TP-PKK dengan membangun jaringan kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendukung program-programnya. “Bangun citra Gerakan PKK, sebagai gerakan yang profesional, memiliki semangat pengabdian, dan mempunyai dedikasi yang tinggi untuk terus berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tegas Effi.

Resepsi Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-35 Kabupaten Belitung ini di meriahkan oleh murid-murid SMAN I Tanjungpandan yang menampilkan Acapela lagu-lagu religius serta tarian dari sanggar seni dan paduan suara TP-PKK Kabupaten Belitung. (Desy Resmita)

Malaysia tidak setengah hati dengan kebijakan biodiesel nasional mereka. Diluncurkan akhir 2005 lalu, pemerintah mewajibkan 40 persen produksi perusahaan sawit negeri jiran ini untuk diolah menjadi biodiesel atau biosolar atau bioenergi.

Tidak hanya itu, seperti dilaporkan majalah Tempo edisi 24 Desember 2006, untuk menunjang kebijakan itu, pemerintah Malaysia menggabungkan tiga perusahaan sawit plat merah Sime Darby Bhd., Golden Hope Plantations, dan Kumpulan Guthrie Bhd., dibawah payung Synergy Drive Sdn. Bhd. Maklum, harga minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil) terus melonjak karena tarik-menarik permintaan industri biodiesel dan industri makanan. Kalau tidak ada katup pengaman, kebijakan biodisel Malaysia bisa terhambat.
Itulah yang dialami Pertamina dua tahun lalu. Sejak meluncurkan produk biosolar-nya pertengahan 2006, brankas perusahaan minyak plat merah ini terkuras Rp 3,5 miliar per bulan. “Kami tekor,” ujar Hanung Budya, Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga PT. Pertamina sebagaimana dikutif Tempo.

Ini terjadi karena kenaikan harga fatty acid methil ester (FAME), bahan campuran solar murni untuk menghasilkan biodiesel yang diekstrasi dari CPO. Padahal biosolar tak mungkin distop karena selain ramah lingkungan, sudah terlanjur dijual di 189 pompa bensin di Jakarta dan 10 pompa bensin di Surabaya.
Untuk mensiati kondisi tersebut, Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (TNPBBN) merekomendasikan Pertamina mengubah strategi bisnisnya, yakni menjual biosolar untuk industri yang kebutuhannya mencapai 13 juta kilo liter per tahun.

Sementara itu M. Ikhsan, Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian, menyarankan jika Pertamina mau menangguk rezeki besar sebaiknya menjajaki kemungkinan penjualan biosolar ke Eropa. “Selain pangsa pasarnya besar, penjualan biosolar di sana bebas pajak karbon,” katanya. Selain itu, pengenaan pajak yang tinggi untuk bahan bakar minyak fosil membuat konsumen lebih memilih bioenergi.
Untuk mempercepat laju program bioenergi, TNPBBN sedang mengkaji penghapusan pajak pertambahan nilai (PPn) penjualan CPO dan FAME di pasar dalam negeri. “Cara ini,” kata Al Hilal Hamdi, Ketua Tim, “untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku biosolar ditengah kecenderungan terus melonjaknya harga CPO.”

Pemerintah sendiri telah merencanakan perluasan lahan perkebunan sawit seluas 5,25 juta hektar. Namun rencana itu tak serta-merta disambut kalangan pengusaha sawit. Sebab, ada ketentuan pabrik biodiesel harus menjual produknya ke Pertamina. Selain itu, untuk mengekspor biodiesel, harus ada remomendasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Aturan ini memberatkan dan menurunkan semangat pengusaha,” ujar Derom Bangun, Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia.
Bila demikian halnya, kenapa pemerintah pusat dan Pertamina tidak membuka peluang perkebunan sawit rakyat sebagai alternatif? Separuh saja dari rencana perluasan 5,25 juta hektar itu diperuntukkan bagi sawit rakyat dan masing-masing petani dibatasi 2 hektar, misalnya, sudah berapa juta petani yang tertolong. Untuk kredit budidaya bisa disalurkan melalui bank pemerintah setempat, untuk pabrik CPO bisa bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dikelola dengan strategi dan manajemen yang baik. Selama ini BUMD yang dikenal masyarakat dalah PDAM, ironisnya sering diplesetkan menjadi Perusahaan Daerah Air Mampet?.

Argumentasi diatas berkesesuaian dengan produksi perkebunan besar Kabupaten Baik TBS, CPO maupun inti sawit mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Berbeda halnya dengan perkebunan rakyat. Dari total lahan sawit rakyat hektar . Desakan dukungan pemerintah semakin mengemuka, warga transmigrasi Dusun Balitung misalnya mendesak adanya bapak angkat dari perusahaan besar yang menampung produksi sawit mereka. “Kalo ini didukung bisa mengalahkan gaji pegawai negeri”, ungkap warga trans Balitung dengan optimis. Total lahan perkebunan sawit rakyat di Kabupaten Belitung telah mencapai 1.528,8 hektar yang telah menghasilkan 360 ton Tandan Buah Segar (TBS) atau 23,55 % dari luas lahan. Sayangnya kemitraan perkebunan besar dan perkebunan rakyat ini belum optimal.

Perusahaan perkebunan besar mengharapkan kemitraan ini ditetapkan dalam sebuah Mou kerjasama agar pasokan TBS ke perkebunan besar tidak sendiri-sendiri. Mekanisme Ini tak lain ditujukan untuk memudahkan perusahaan melakukan pembayaran dan kepastian bersusaha masyarakat.
Agaknya, itulah salah satu aspirasi yang perlu disuarakan wakil daerah yang ada di Senayan, sekiranya mereka “membaca”. (Syafie)

Selain dalam pentas seni budaya tradisional seperti Maras taun, Lagu Belitong disajikan dalam instrumen modern seperti Orkes Melayu. Pengertian orkes melayu sering dihubung-hubungkan dengan Semenanjung Malaka atau Malaya (kini Malaysia). Bentuk sajian musik ini diterima sebagai suatu perkawinan yang memadukan antara alat-alat baku musik barat, seperti biola, akordeon, harmonium, gitar, banjo dan lut ; dengan gendang, rebana atau terbangan, Alat-alat ini digunakan untuk iringan nyanyian berciri laras pentatonik 1-2-3-4-7 (Sidik Jatmika : 2002). Menurut Ensklopedi Musik, Penerbit Cipta Adi Pustaka ,1992. Di kalangan orang Betawi (Melayu Jakarta) juga ada istilah Melayu Joged, yang dipakai dalam kesenian tradisional Betawi, yaitu berupa lagu pengiring tari dan samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”jurus”. Ada pula istilah Melayu Lenggo, yaitu bagian dalam permainan musik tradisional Betawi, samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”saliwe”.

Pendidikan kesenian sering dihadapkan pada persoalan tidak jelasnya batasan antara mata pelajaran kesenian dan budaya (bahasa ) sehingga terjebak dengan persepsi seni adalah seni, budaya adalah budaya. Keaslian sebuah karya ini yang mendasari sebutan Pencipta meskipun terkesan terlalu berlebihan karena Pencipta yang sesungguhnya adalah Tuhan, apalagi sebuah karya rawan ditiru. Kemiripan lagu Kembang Melati dengan lirik lagu Bumi Musi Rawas, menimbulkan pertanyaan seberapa jauh seniman memadukan dan berkreasi dengan nilai-nilai sendiri.

Bumi silampari Bumi silampari
Bumi yang cindo
Tanah Musi Rawas tanah Musi Rawas
Nan aku cinte…………………

Potongan liriklagu Bumi Musi Rawas ini memiliki kemiripan dengan irik lagu Bunga Melati

Bunga Melati, bunga melati
Dari Belitong……..

Untuk mengenal lagu-lagu Belitong, Warta Praja mengupas sosok Abdul Hadi budayawan sekaligus pencipta lagu-lagu Belitong yang berupa untuk memperkuat karakter Budaya Belitong .
Abdul Hadi, anak SD mana yang tidak mengenal namanya, Ketenarannya menunjukkan keberhasilan pendidikan dalam mengangkat nilai lokal dalam. Abdul hadi dilahirkan di Tanjungpandan, 1 Januari 1935. Selain sebagai pencipta lagu, Abdul Hadi adalah guru sekolah dasar perusahaan tambang timah. Jabatan terakhir beliau, Kepala Sekolah SD,beliau telah memberikan ketajaman melihat kearifan tradisi dan pengetahuan lokal. Pemahaman itu didapatkan melalui hubungan kemasyarakatan yang dialaminya secara langsung.

Pak Hadi, sapaan murid SD UPT Bel III Air Ketekok, Tanjungpandan waktu itu adalah sosok yang mencintai budaya kampung halaman. Tak jarang keluar ungkapan istilah Belitong ketika beliau mengajar, “ Keremut “ komentar melihat muridnya menulis terlalu kecil. Bagi murid yang memiliki kepandaian menyanyi tak segan beliau jadikan mitra untuk menguji coba lagu ciptaannya. Alasan ini pula yang membuat lagu-lagu beliau mudah dicerna anak-anak usia sekolah dasar namun tidak terkesan menggurui.

Kawan-kawan banyak ragam bua bang utan
Bua kayu, bua akar, bua la utan
Sepat kelat masam manis kuang demakan
Cube dedengar benar-benar kan kusebutkan
Rukam, kiras, jemang, rangkas, keremuntingan
Landi’ melak, tungking kijang, bua sisilan
Kelinsutan, kelincakan, kelebantuian
Usa ragu usa takut silekan makan

Lirik “Bua Utan” diatas menyiratkan keinginan kuat memperkenalkan sumberdaya (tanaman) Belitong. Seorang peneliti dari IPB bahkan menjadikan lagu Abdul Hadi sebagai rujukan dalam menyusun laporan ilmiah Doktoralnya . Lagu, juga sangat potensial sebagai media sosialisasi dan edukasi. Lagu Kayu Kayan memberikan pemahaman generasi sekarang mengenai tanaman khas Belitung berikut fungsi dan kegunaan, begitu juga dengan Bua Utan memberikan penekanan pentingnya identifikasi terhadap keanekaragaman hayati yang masih ada di Pulau Belitung

Dimasa itu pengetahuan masyarakat terhadap keberagaman hayati belitong memang tidak selangka masa kini. Bisa jadi masih banyak orang yang memahami kegunaan untuk obat misalnya tetapi pendokumentasian sumberdaya hayati lewat lagu menjadikan etnobiologi tanaman Belitong dikenal luas hingga kini. Lagu Kayu Kayan memperkenalkan jenis tanaman hutan Belitong yang sekarang semakin sulit ditemukan. Seandainya Almarhum Abdul Hadi bisa hidup hingga kini bukan mustahil lagu-lagu beliau akan berbicara akan menyentuh aspek fisiologi tumbuhan, fitopatologi (penyakit tumbuhan) dan manfaat bagi kesehatan.
Kebanyakan dari kita yang hidup di era beton bertumbuh, besi penyebar sinyal HP sekarang ini menyepelekan alam.

Jemang samak pelawan kayu marak de tunu
Mendiraman mensirak kayu urang beramu
Nyato seruk pelempang idang urang mengikat
Medang lubang bedare kayu ubat besedu
Bakau nyire teruntum, kayu tumbo de sungai
Renggadaian berumbun kayu tumbo de amau
Akar ijau berebat, idang urang mengikat
Semuenye kusebut agar muda de ingat

Lirik lagu terkadang berbentuk alur cerita dan hanya sedikit karyanya yang menggunakan bahasa Indonesia. Lagu berbahasa Indonesia umumnya bersifat promosi atau untuk memperkenalkan keindahan alam Belitong ke dunia luar seperti yang termuat dalam lirik lagu Gunung Tajam dan Tanjung Kelayang . Kata-kata Belitong biasanya beliau catat dalam buku kecil, setiap kata tertulis tanggal penulisannya . Ada keinginan kuat mengemas kata-kata Belitong itu menjadi Kamus Bahasa Belitong, sayangnya beberapa hari setelah itu Abdul Hadi guru sekaligus Budayawan Belitong menghembuskan nafas terakhir.
Tentu masih banyak perjuangan Sang pendidik yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Satria Tumbang Ganti ini yang belum selesai, karena itu jangan berhenti ” Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, dan jadikan ilmu yang kita miliki berguna bagi orang sekitar kita”. Jangan sampai, kisituk endak kisinek endak buang tangga berayun kaki, sebagaimana nasehat Abdul Hadi dalam lagu Mira-Mira Pinang.(Fithrorozi)

Penguasa dulu kala menancapkan batang malik-malik sembari berucap sumpah “ Barang siapa menguras dan membawa harta Belitong maka harta itu akan hilang ditelan bumi”. Benar tidaknya gosip rakyat, hanya rakyatlah yang tahu.Pengulu sebutan melayu Belitong adalah pemimpin masyarakat yang dianggap ahli memimpin dan mewujudkan hajat seperti pengulu gawai yang mengatur jalannya prosesi perkawinan. Wijmeester adalah isitlah adminstrasi Belanda kepada pemimpin Tionghoa Belitong, mereka mengendalikan pemimpin parit (tambang terbuka) dan dukun-dukun Tionghoa yang disebut Thai Pak serta membina hubungan baik dengan Hoofd Administrateur Belanda. Istilah pimpinan administrasi dalam bahasa Belanda, bahkan diteruskan sebutannya hingga kini. Hoofd….Hoofd kiape kabare.
Istilah pemimpin bisa jadi terus berganti dari pengulu hingga Bupati, dari Bupati Muda hingga Wakil Bupati namun pemimpin lahir hendaknya tidak sekedar mengedepankan kekuasaan tetapi kepedulian terhadap yang dipimpin. (fithrorozi/Komunitas Telinsong Budaya)

Halaman Berikutnya »